2Moons Novel – Book I [Chapter 02]

“2 Moons” – Chapter 2

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Tok tok tok

Keesokan harinya, aku terbangun karena seseorang mengetuk pintu. Siapa kah itu? Aktivitas akan mulai jam 9, tapi ini baru jam 6.

Tok tok tok

Masih mengetuk. Dan ketinya aku ingin berteriak (karena aku sangat yakin itu Ming) Tapi ketika aku mendengarnya dengan seksama itu bukan suara ketukan di pintu kamarku, tetapi pintu yang ada di seberang ruanganku. Pasti dindingnya tipis sekali.

Tok tok tok

Cepat buka pintunya. Aku mau tidur lagi.

Dan saat aku mau tidur lagi, aku bisa mendengar seseorang membuka pintu. Sekarang aku benar-benar bisa kembali tidur.

“Oh sepagi ini. Ada apa?” Itu adalah suara perempuan tetanggaku.

“Boleh aku meminjam catatan Neuron? Aku lupa mencatat beberapa bagian. Aku tertidur saat kuliah.”

Suara pria itu terdengar tidak asing. Suaranya pelan tapi mengganggu. Ini suara P’Pha.

“Ok sebentar. Aku pikir kau kesini untuk menjemputku pergi sarapan.”

Dia sedikit tertawa. Tawanya yang plean terdengar saat menggoda seperti orang yang sedang berkencan atau sesuatu seperti itu. Aku duduk dan mengigit kukuku. Aku seorang saintis (Benarkah? Anak baru dan belum mulai belajar? Dan kau memanggil dirimu sainstis?) Ketika aku penasaran, aku harus mencari tahu. Aku menggosok wajahku untuk menyadarkan diriku, berjalan ke pintu dan membukanya sedikit untuk mengintip. Dan aku melihat dia berdiri menghadap sisi lain dari ruanganku.

“Sial.”

Ini lah dia. Aku terkejut, berteriak dan menutup pintuku.

Itu dia. Benar-benar dia, tepat di depan kamarku melihat ke arah kamarku, dia rapi dan tampat dengan pakaian itu.

Aku sekarang paham kenapa dia adalah seorang Bulan Kampus tahun ini. Aura terang dan cerah nya amat kuat. Baju biru dan jeans biru sangat cocok dengan tubuhnya yang sempurna. Dia terlihat berantakan tapi gaya rambutnya menawan. Sial! Jantungku bertedak sangat kencang.

Tok tok tok

Kali ini pintu kamar ku yang di ketuk. Terdengar lebih keras dari biasanya karena aku masih bersandar di pintu.

“Hei kau anak manja sialan. Aku melihatmu. Kenapa kau mengataiku? Keluar sekarang.”

Dia terdengar sangat marah.

Aku tidak mengataimu. Aku terkejut.

“Apa kau akan keluar sekarang atau aku akan mendobraknya?”

“Apa yang kau inginkan?” Dia mungkin berpikir kalo aku manja sialan, buruk, dan tidak punya rasa sopan santun pada orang yang lebih dia seperti dia. Tapi aku tidak akan membiarkan pria yang aku suka melihat ku seperti ini sekarang.

Kaos lama, celana boxer lama, wajah yang belum dicuci, gigi belum disikat, wajah baru bangun tidur.

“Aku bilang buka pintunya.”

Pergil cepat. Kau bisa menjadi orang yang menyebalkan tapi tidak bisa sebaliknya kan?

“Kau bicara dengan siapa? Pha.” Wanita di seberang kamarku bertanya.

“Sapi.” Dia menjawab pertanyaannya. Sapi? Siapa yang sapi sialan? “Hati-hati dengan sapi ini, Pring. Aku pergi dulu. Terima kasih catatannya.”

“Mengatakan hal anrh lagi.”

“Aku akan kembali lagi, dasar kau anak manja sialan. Jangan sampai aku bertemu denganmu dimanapun. Akan ku habisi kau.”

Aku merasa gugup dan mengigit kukuku. Dia pasti tidak berbicara pada P’Pring. Kenapa ini selalu terjadi saat aku bertemu dengannya?

… Tapi aku bisa sedikit tertawa. Sapi? Aku seekor sapi? Hahaha.

Tok tok tok

Apa? Apa dia kembali untuk menghajarku?

“Yo. Sialan. Kenapa kau tidak mengangkat telponku?” Itu Ming. Aku membuka pintu dengan sangat cepat. Kami tumbuh bersama dan kami melihat satu sama lain di setiap keadaan yang sangat buruk, jadi aku tidak khawatir bagaimana penampilanku sekarang. “Hei. Kau sudah bangun. Apa yang kau lakukan?”

“Seharusnya itu pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini? Ini masih pagi.”

“Tidak terlalu pagi. Kita harus berada disana jam 7:30. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak siap-siap?

“Benarkah?” Aku melihat hp ku dan ada 5 misscall dari Ming dan 2 misscall dari Ketua Ging. Dan misscall lain dari Nate Bintang baru dari jurusan Sains. Dia dari jurusa Kimia. “Sial sial sial. Bagaimana kau bisa tau jadwal ini?”

Dia menggaruk kepalanya “Er….r….”

“Kau Bulan dari jurusan Teknik!!!!”

“Iya. Aku mau membantumu soal P’Pha dan menyenangkan untuk mencari tau. Jadi aku harus ikut ke dalam kompetisi di sekolahku. Sial ini tidak mudah. Banyak sekali pria tampan di sekolahku.”

“Kau melakukannya karena aku atau puas dengan keingintahuanmu?”

“Yang terakhit.”

“Kampret.” Aku mau memukul kepalanya tapi dia menangkap tanganku lebih dulu sebelum itu terjadi.

“Mulutmu bau. Bau seperti kotoran. Cepatlah mandi.”

“…”

“P’Pha juga akan ada disana.”

Ini menjelaskan kenapa dia berpakaian rapi hari ini. Aku segera berjalan ke dalam toilet. Aku sangat lega punya teman baikku bersama ku.

Mungkin hubungan kami akan lebih baik dari pada aku yang mengurusnya sendiri.

Meskipun aku hanya seekor sapi baginya.

Kami berada di pertemuan kompetisi melihat banyak sekali Bintang cantik dan Bulan tampan. Kak Ging, pelatih feminim dan chubby pribadiku, memberiku pidato panjang tentang apa masalah yang aku berikan padanya karena tidak menerima telponnya. Tapi setelah dia melihat orang yang mengendarai mobil keluar, dia langsung menhentikan pidatonya.

Ming punya daya tarik yang bisa menarik perhatian gay. Gelap, tinggi dan tampan. Alis dan tubuh yang sempurna. Aku tidak tau kenapa dia bisa jadi teman baikku. Aku lebih berkulit putih ( hampir pucat ) dan bulu mata yang lentik. Sial. Aku seperti seorang bottom. (Aku tau aku tau. Hufff…)

“Apa kalian hanya teman?…” Kak Ging melihat di antara aku dan Ming. “Atau Pacaran?”

“Hahahah.” Ming tertawa tanpa henti. Dia pasti berpikir kalau ini sangat konyol. Dia pasti berpikir lebih baik berkencan dengan anjing dari pada aku.

Tapi aku tau dari cara tertawanya. Sepertinya dia menolaknya. Sial, Ming. Sialan kau.

“Tidak. Ini temanku.” Aku mencoba untuk memperbaiki situasi.

“Oh baguslah. Jadi Yo juga punya teman yang ikut dalam kompetisi ini. Karena tahun ini mungkin akan lebih panjang dari tahun lainnya. Anggarannya besar tahun ini. Kita juga harus mengambil beberapa video outdoor. Terlalu banyak. Seperti sebuah kampanye besar.” Kak Ging mengkomplain. “Tapi ada yang lain, kita punya banyak pria tampan tahun ini.”

Bagaimana dengan Bintang? “Menurut pandanganku. Temanmu orang yang paling berpotensi untuk menjadi Bulan tahun ini. Bulan dari sekolah Teknik.”

Ming melihat sekitar “Dimana P’Pha?” Ming tidak tau dia menawan untuk semua wanita dan pria disekitar sini.

“Itu seharusnya pertanyaanku kan?”

“Aku tau kau akan menanyakannya. Kau sudah mencarinya sejak kita sampai, jadi aku membantumu mencari.”

Aku membencimu… Kau terlalu mengenalku… Teman baikku.

Beruntungnya kak Ging tidak mendenger pembicaraan kami. “Ok, ayo masuk. Kita mulai dengan mengambil foto profil untuk website dan promosi di sosial media. Ini mudah. Cukup tampil menawan setelah berganti pakaian dan make up.”

Aku berada di Universitas dengan pakaian yang sempurna. Aku mencoba untuk optimis disini. Dibandingkan dengan Bulan lain aku tidak buruk. Tapi bagi teman baikku, dia terlihat lebih baik dari ku. Semua orang bilang dia sempurna untuk jadi Bulan kampus tahun ini. Jika dia bisa menang, aku akan sangat bahagia. Memiliki teman baik seorang Bulan kampus dan punya pacar seorang Bulan kampus.

Hah! Lucu!

Ketika aku berkhayal, Aku melihat semua orang melihat ke arah sekelompok pria yang berjalan masuk ke dalam studio kami. Sial! Mereka semua tampan.

Mendengar percakapan dari beberapa staf, kelompok ini adalah senior Bulan kampus dari beberapa sekolah. Dan tentu saja P’Pha ada disana. Wajahnya masih terlihat seperti sialan. Ekspresi wajahnya seperti orang mencium bau yang busuk. Benar-benar tidak bersahat.

Aku hampir bersembunyi dibawah meja sesaat melihat dia berjalan masuk ke dalam studio. Aku tidak tau jika aku khawatir atas apa yang terjadi tadi pagi atau karena aku tidak mau dia tau kalau aku adalah seorang Bulan. Aku datang jauh-jauh dari SMA. Aku sudah mengurus banyak hal soal diriku.

Aku akan memberitahumu nanti.

Tapi percaya padaku. Aku dulu jelek sepanjang hidupku.

Meskipun dengan pakaian rapi dan make up, aku masih sama seperti anak jelek bagi P’Pha. Dia tidak melihat kearahku. Aku tau.

“Baiklah semua Bulan. Dengarkan aku.” Beberapa staf yang terlihat seperti manajer memulai pemberitahuannya, tepat setelah semua Bintang pindah ke ruangan yang lain. “Ucapkan salam pada P’ P’ senior Bulan yang ada disini.”

“Sawasdee Krub.”

“Jika kalian punya pertanyaan, tanyakan saja pada mereka. Mengerti?”

“Iya.”

“Pha. Apa kau mau bilang sesuatu?”

“Tidak. Mungkin yang lain mau melakukannya.” P’Pha pergi begitu saja tanpa keraguan.

Ya, seperti biasa, dan tampan seperti biasa.

Jika saja aku bukan Bulan dari jurusan Sains. Tidak ada cara lagi untukku bisa dekat dengannya. Kami sangat berbeda. Dia akan menjadi dokter dan seorang pemain basket. Tapi aku seorang saintis dan pecandu komik.

“Yo…” Ming menggeser kursinya untuk berbisik padaku. “P’Pha tampan sekali. Aku baru setahun tidak melihatnya, sekarang dia menjadi sangat tampan.”

”aku tidak tau.”

“Bukankah dia punya wanita yang menutupinya? Aku penasaran. Bagaimana kau punya kesempatan untuk melewati nya?” Dia terlihat sangat penasaran.

Terima kasih, sial. Terima kasih sudah menghancurkan harapan kecilku.

Atau P’Pha berpacaran dengan P’pring?

Benar! Kenapa aku tidak pernah memikirkannya? Mustahil kalau dia single.

“siapa namamu?” Mungkin karena aku duduk dan berpikir terlalu lama, aku tidak sadar dia telah berdiri tepat didepanku.

P’Pha melihat ke arahku dan terlihat sedikit tidak senang. Selagi Ming bergeser menjauh dari ku dan P’Pha.

Terima kasih sudah meninggalkanku dalam situasi yang menyeramkan ini. Teman baikku.

“Aku bertanya siapa namamu?”

Harusnya aku senang dia mau tau siapa namaku? “Yo” aku menjawabnya.

P’Pha melihat ke arah susu Pink milikku. “Minuman banci. Susu Pink.”

“WTF! Apakah kami bisa bicara dengan baik satu sama lain? “Minumanku. Urusanku.”

“Penakut. Mengataiku dan menutup pintu tadi pagi. Kenapa kau tidak bicara di depanku?”

Aku tidak mengataimu!!! Aku terkejut!!! “Err.rr… Aku..”

“Kau dari sekolah mana?” Dia berdiri dan menunggu jawabanku.

“Sains”

“Kau keluar. Terlalu pendek.”

Sialannnnnnnnn….

“Sialan kau.” Memang benar aku menyukainya. Tapi aku tidak tahan lagi dengan keburukannya. Ini berlebihan. Bagus. Sekarang aku akan bermain. “Bagaimana jika aku bisa maju ke tahap selanjutnya?”

“Tidak mungkin. Aku orang yang menilai.”

“Tidak adil!”

“Kau bilang apa?”

“Apa kau tidak bisa adil? Kenapa kau tidak bisa sedikit berpikir lebih terbuka?” Aku tersenyum “Mungkin aku bisa lebih terkenal dan lebih baik dari Bulan kampus tahun lalu. Siapa tau?”

P’pha benar-benar tidak senang sekarang.

Kami bebicara seperti anak kecil

Ming terus tertawa di tempat duduknya. Sementara P’Pha terus menatap ke arahku.

“Ya kita lihat saja. Yo dari jurusan Sains.”

“Sialan. P’Pha. Bagaimana bisa aku jatuh cinta padanya? Aku ingin kembali ke 4 tahun lalu dan merubah orang yang aku sukai menjadi orang lain. Dasar sialan. Selalu bertengkar denganku.”

“Aduh Yo.”

“Apa? Ha Ming.”

“Kau bilang kau tidak seharusnya mencintai dia, tapi kau sudah sejam membicarakan dirinya.” Ming mengkomplainku. “Aku sudah tidak sangguk mendengarnya. Berhentilah bahagia.”

“Aku tidak bilang aku bahagia.”

Dia menunjuk ke arahku. “Wajahmu, sialannnnn. Membuat wajah bahagia seperti itu. Dia hanya menanyakan namamu. Dan kebahagian kedua saat dia bertanya kau dari sekolah mana.”

“Aku? Aku tidak memperlihat wajah bahagia.”

“Diam dan cepat habiskan makan siangmu. Kita masih harus melakukan foto kelompok.”

“Ming. Bukankah kita punya aktivitas lain dengan teman-teman?”

“Ia, nanti.” Ming menjawab “Bersabarlah dan tunggu sampai ini selesai. Kau bisa kembali bermain dengan teman perimu di sekolah.”

Ming dan aku makan siang bersama di pusat kantin dengan pakaian dan make up kami ini.

Sekarang kami menjadi pusat perhatian. Aku lupa seberapa tampan Ming. Seharusnya kami tidak kesini.

“Dia bilang dia akan memperhatikanmu.”

“Um…”

“Baik atau tidak. Dia akan memperhatikanmu.”

“…”

“Sebaiknya kalian menikah.”

“Menikah dengan pantatku.” Aku benar-benar mau menemdang bokong temanku. “Aku mau membeli minuman. Kau mau apa?”

“Cola”

“Oke.”

Aku berdiri dan berjalan ke toko yang terkahir. Memalukan berpakaian seperti ini dengan make up, sementara orang lain berpakaian seperti biasa.

Ini seperti kebetulan P’Pha berjalan keluar dari mejanya untuk membeli minuman. Aku tidak sadar dia makan di kantin ini juga.

Aku tidak tau harus apa.

“Bibi. Segelas the Thai.”

Aku melihat ke arahnya. (Sekali lagi, tinggiku 178 cm, tapi aku tetap harus melongo untuk melihat wajahnya)

Oren atau pink tidak membuat perbedaan.

“Kau juga minum minuman banci.” Aku bergumam.

Dia memberiku pandangan marah. “Seperti seorang bajingan.”

“Terserah.”

“Segelas Susu Pink juga.”

“Nah… Kau juga minum susu Pink.” Aku tidak akan membiarkannya memanggilku peminum banci.

“ini untukmu, sialan. Kau mau meminumnya atau tidak?” Dia menggeser susu pink itu kepadaku dan berjalan menjauh setelah membayar minumannya.

Aku terdiam dan tidak tau apa yang terjadi disini.

Aku tidak pernah bertemu dengan orang sepertinya.

Si sialan aneh, tapi penuh dengan kejutan.

“Tidakkah seharusnya buru-buru? Kau harus pergi berfoto dengan yang lain atau kau tidak akan maju ke tahap selanjutnya.” Dia berbicara pelan.

“Aku akan masuk ke tahap selanjutnya.”

“Kita lihat saja.”

Aku bilang aku akan mengubah orang yang aku cintai jika aku bisa kembali ke 4 tahun yang lalu. Aku tarik kembali kata-kata itu. Aku tidak akan pernah mengubah pikiranku.

P’Pha… Cinta dalam hidupku.

[Next Chapter – Chapter 03]

Hanya seorang pria subber BL Series

Tinggalkan Balasan