2Moons Novel – Book I [Chapter 03]

“2 Moons” – Chapter 3

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Siang harinya di pertemuan kompetisi.

Tidak mudah berpura-pura seakan kau tidak berpikir tentang sesuatu ketika kau sedang terobsesi dengannya. Selama waktu pemotretan dan penyiapan seting background, aku harus berpura-pura seperti sama sekali tidak peduli atau melihat kearahnya yang tampan. Dia memiliki aura yang kuat di ruangan ini dibandingkan dengan yang lainnya.

“Apa yang kau kakukan? Yo.” Ini yang ke delapan kalinya hari ini aku bersembunyi di belakang Ming dan melihat ke arah P’Pha.

“Biar kan aku memanfaankan tinggimu.”

“Jika kau sangat ingin melihatnya, kenapa kau tidak melihatnya secara langsung? Semuanya begitu. Tidak bisakah kau melihat wanita disana yang mengaguminya? Berteriak seperti itu.”

“Dia tidak pernah sebaik ini di SMA.”

“Mungkin itu sekolah hanya untuk Pria. Jika seseorang berteriak seperti itu. Itu akan terlihat aneh. Apalagi di SMA itu adalah era kegelapan untuknya. Sama seperti mu.”

“P’Pha tidak pernah jelek sepertiku.” Dulu saja aku terlalu kurus dan punya banyak jerawat juga menggunakan behel. Aku tidak terkejut kalau dia tidak pernah melihatku.

“Bagus kalau kau tau kau itu jelek.” Sekali ini. Sialan.

“Ini dia semuanya. Minuman. Ambil satu.” Banyak sekali minuman di nampan yang P’staf bawa. “P’Pha mentraktir. Tampan dan baik.”

Ming  dan aku mengambil segelar minuman untuk kami sendiri. Ini benar-benar datang dari restoran saat makan siang tadi. Aku melihat sekitar dan semuanya punya sesuatu untuk diminum. Banyak wanita yang minum susu Pink sama seperti milikku!

Phana Kongtorranin… Kau membelikan semua orang minuman. Bukan cuman aku!

… Aku bisa merasakan duniaku yang pink berubah menjadid abu-abu dan bercampur dengan kemarahan yang merah.

Kau sialan. Kenapa kau memberiku harapan dengan membelikanku minuman ini? Menggoda itu nama akhiranmu kan? (Atau mungkin ini salahku. Mungkin dia tidak berpikir sejauh ini.)

“Yo, letakkan. Tumpah.” Ming menarik minuman itu dari tanganku yang gemetar. “Tenanglah.”

“Dia membelikanku minuman karena aku hanya anak baru baginya kan? Tidak lebih kan?”

“Apa? Dia membelikanmu minuman juga?” Nate tidak sengaja mendengarkan perbicaraan kami. Aku lupa aku sedang di kelilingi dengan Bintang dari sekolah lainnya. P’Pha juga mentraktir kami minuman. Kami bersepuluh tadi. Dia baik sekali.”

Sialan…

“Yo, apa kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu?”

Aku mau membunuhnya. Penggoda sialan. Dia itu seperti a… a… a… Sialan.

“Yo kau mau kemana?” Ming bertanya padaku sebelum membiarkanku pergi berjalan keluar.

“Aku akan kembali.” Aku sangat sedih. Aku marah dengan pria itu yang terus bermain dengan hp nya tanpa tau apa kesalahan yang telah ia lakukan padaku.

Ya… Benar… Bagaimana dia bisa tai? Ini terjadi karena aku diam-diam menyukainya. Hanya aku.

“Sialannnnnnn” Aku berterian saat aku meninggalkan studio. Aku tidak bisa pergi lebih jauh. Hanya bisa sampai di depan studio. Aku belum berfoto, jadi jika aku pergi aku tidak bisa kembali tepat waktu. Mati aku. “Ada apa ini?” Seorang senior, Moon dari jurusan Teknik melihat kearahku. Dia sedang mengenakan jaket Teknik seperti yang Ming gunakan. Aku tidak bisa mengingat namanya, tapi aku mengingat wajahnya karena dia baru saja membantu Ming beberapa menit yang lalu. Aku pikir aku sedang sendirian, jadi aku berteriak sangat keras. Apa dia akan membunuhku? Dia terlihat sedikit menyeramkan. Anting, potongan rambut pendek, dan wajah yang terlihat mentah. Dia sangat terlihat seperti anak Teknik.

Aku langsung batuk, aku punya alergi akut pada rokok. Dia pasti merokok. “Sial” Dia menurunkan rokoknya saat aku batuk. “Aku minta maaf. Aku tidak pernah mengira kau akan keluar dan berteriak seperti ini disini.”

“Ini salahku. Lanjutkan saja. Aku minta maaf aku pergi sekarang.

“Hei.” Dia menghentikanku “Kau tetap disini. Aku yang pergi.”

“Kenapa begitu? Kau yang pertama disini,”

“Kau sepertinya butuh tempat untuk sendiri.” Hei kenapa kau tau apa yang aku pikirkan? “Tenangkan dulu dirimu sebelum kau masuk, oke?”

Dia keren. Aku iri dengan Ming sekarang karena dia punya seorang mentor seperti dia. Mentorku? Dia seorang ratu besar. Dia tidak pernah meninggalkan teman-teman Bulannya yang tampan. Dia terlalu menikmatinya.

“Terima kasih P’.” Aku melihat ke arah luar.

“Yo kan?”

“Ya?”

“Tidak ada apa-apa.” Dia akan kembali ke studio. “Aku Forth.”

Dia lebih cocok dengan nama Thailand seperti Somchai. Klaharn, atau yang lainnya. Tapi “Fotrh”

“Ada apa?”

“Aku pikir namamu keren.” Aku tidak bisa berkata jahat sekarang. Dia terlihat menyeramkan terutama tato naga yang ada di dalam kaosnya.

“Atau kau bisa memanggilku Jatuphoom. Jika kau tidak setuju dengan nikku.”

“P’Forth P’Forth” Aku memberi hormat padanya kalau aku minta maaf sudah menilai dia dan saat aku melihat kearahnya aku melihat dia senyuman dimulutnya.

Sial. Dia sangat tampan dan keren. Seperti seorang artis.

“Forth.” Penyebab dari semua masalah berjalan keluar dari studio. Aku sedikit terdiam karena aku tidak menyangka dia ada disini dan aku masih marah, jadi aku melihat ke arah lain.

Marah… iya, aku masih marah padamu… tidak perlu mencoba untuk berbaikan padaku. Karena kau bukan orang yang aku pikirkan sekarang.

“Jika kau ingin menggodanya, aku sarankan untuk berpikir kembali.” P’Pha berbicara dengan nada yang membosankan lagi.”

“Dia ini sialan.”

“Aku tidak menggodanya. Dia sedang kecewa.” Aku sangat menghormati dia sekarang. Bukan hanya karena dia bukan seorang penggoda, tapi dia sangat peka dan tau perasaanku. Penuh perhatian. Dia sangat berbeda dengan sialan ini. Terus merayu orang lain tanpa mengetahui apa yang dia lakukan. Tentu saja, dia tidak tau apa yang dia lakukan, karena itu hanya kepribadiannya yang menawan. Aku membencinya.

“Aku menyarankan untuk lompat dari gedung ini sekarang.” Dia menunjuk ke arah atap gedung ini.

“Pha! Jangan mengejeknya seperti itu.” P’Forth menepuk bahu P’Pha.

“Mereka akan pergi minum-minum malam ini. Apa kau ikut Forth?”

“Tentu saja, aku tidak mau melewatkannya. Kau akan mengajak Beam dan Kit jugakan? Mereka butuh jeda dari belajar.”

“Mereka yang memulainya.”

“Hahahaha. Kalian ini berbeda dan liat. Kelompok murid medis yang gila.”

“Apa kau mau di tusuk dengan pisau bedah?”

Aku tidak ada urusannya dengan pembicaraan itu, kecuali aku tau P’Pha akan pergi minum malam ini dengan temannya, tapi kemana mereka akan pergi? Aku pikir aku punya misi jalan-jalan malam ini.

“Ada apa?” P’Pha berderi di depanku. Dan sekarang kami hanya berdua.

… aku masih marah. Si penggoda sialan ini masih menjadi penyebab perasaan marahku.

“Pergi.”

“Apa orang tua mu berhenti membayarkan biayamu? Atau pacar priamu dari Teknik itu selingkuh?”

“Apa yang kau bicarakan? Dia bukan pacarku.”

“Nong Ming. Oh. Aku pikir pasti dia.”

Sial kau (Aku banyak mengataii dia sial) “Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak benar. Aku suka perempuan!” Satu-satunya pria yang ku suka itu adalah kau…

“Lalu apa yang kau lakukan disini? Mencari perhatian? Foto kelompok akan segera dimulai.”

“Sialan.” Aku ingin membunuhnya sekarang. Aku mengambil uang dari dompetku dan aku berikan padanya. “Ini untuk susu Pink tadi waktu makan siang. Dan…” Aku mengambil uang lagi “…ini untuk minuman yang baru saja aku minum”

“Bukannya kau suka yang gratis?” Dia melihat sekilas ke uang itu tapi tidak menerimanya.

“Bukan begitu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak mau seperti yang lainnya.” P’Pha telihat bingung dan Sial! Barusan apa yang aku katakan? “Aku tidak mau berhutang padamu.”

“Jangan telalu menghawatirkannya.”

“Aku bilang aku tidak mau menjadi seperti yang lain!!!”

P’Pha melihatku dengan tatapan kosong “Kau orang teraneh yang pernah aku temui.”

“…”

“Mulailah. Jangan biarkan yang lain menunggumu.”

“Ambil dulu uangnya.”

“Belikan es krim Magnum.”

“…”

“Anggap aku mentraktirmu lebih. Senang? Kau seseoran sekarang.”

Aku terdian… P’Pha menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi.

Kenapa aku sangat senang seperti ini?

“Kau aneh.”

Aku tidak, tapi kau yang aneh. Siapa bilang kau bisa ikut campur urusanku?

Seperti perasaan senang yang aneh dari perlakuan kecil yang dia lakukan padaku.

Setelah menyelesaikan foto kelompok, Aku pergi meninggalkan Ming penasaran dan pergi ke Seven-Eleven untuk membeli es krim Magnum.

Aku tidak tau dimana P’Pha sekarang dan tidak tau dimana nomer kamarnya. Jadi, aku putuskan untuk membaca komik “naruto” di kamarku, berharap dia akan berubah pikiran dan kembali belajar. Mungkin dia akan datang mengetuk pintu P’Pring.

Kenapa aku sangat optimis? Aku percaya, dia adalah orang yang tidak pernah berpikir untuk belajar sebelum minum. Dan kenapa aku menunggunya disini? Kenapa aku tidak pergi mencarinya? Tuan Yo.

Aku melompat dari kasurku dan menelpon teman baikku. Dengan berpikir seperti itu, dia lebih dulu menelponku. “Hei ada apa?”

“Yo. Minum yuk. Aku di bar Ruang-Laou-Chaw-Nee.”

“Sial. Kenapa kau tidak mengajakku?”

“Aku pikir kau tidak mau mabuk karena minuman beralkohol. Aku pikir kau ingin terlihat segar dan siap untuk kekasihmu.” Sial kenapa dia tau? Benar. Aku baru saja menggunakan masker wajah dan akan mencucinya segera.

“Aku sudah terlihat tampan.”

“Apa kau datang? Tapi aku pergi dengan teman dari jurusan Teknik. Kau tidak apa-apa kan?”

“Bagus. Aku butuh banyak teman pria. Tidak banyak pria di sekolahku.”

“Butuh tumpangan?”

“Tidak perlu. Aku akan menemuimu disana.”

“…”

“Err.rr… ngomong-ngomong, dimana itu?

Aku berpakaian santai dan meninggalkan ruanganku. Berharap bertemu P’Pha saat turun meninggalkan apartemen, tapi itu tidak mungkin. Dia mungkin mabuk diluar sana disalah satu bar. Ketika aku memikirkan dia, aku bertemu orang lain. Dia terlihat akrab.

Buk!

Dia memukul kepalaku ketika aku berjalan melewatinya. Aku berbalik dan cepat memberi hormat padanya. Aku ingat sekarang. Dia satu tahun lebih tua dariku dan dia dulu satu SMA denganku.

“Melihat kau besar dan bahkan tidak berpikir untuk memberi salam? Kau dari kelas mana?” Sial sial sial aku minta maaf.

Mulutku terbuka dan ingat kalau dia itu adalah teman P’Pha. Namanya adalah…

…P’Kit.

Jadi… Ini “Kit” yang P’Pha dan P’Forth bicarakan tadi siang. Aku ingat dia berteman dengan P’Pha sejak SMP. Berdasarkan pembicaraan. Wow, dia juga murid Medis.

“Aku menunggu.”

“Kelas 105.”

“Kau tidak perlu takut denganku. Aku tidak menggigit. Hahaha.” P’Kit tertawa sangat keras. Ini pasti sangat lucu bagimu. “Kau dari sekolah mana? Namamu WaYo kan?”

Aku terdiam…

Bagaimana… bagaimana dia bisa tau? Dia bisa mengingatku? Aku pikir aku sudah banyak mengubah diriku, tapi bagaimana dia masih bisa mengingatku? Bagaimana dengan P’Pha? Ya… aku tidak pernah ada didalam pernglihatannya. Jadi itu biasa kalau dia tidak pernah mengingatku. Bodoh.

“Iya. Sekolah Medis.”

“Sekarang kau terlihat lebih baik.”

“Kita harus mengalami perubahan P’”

“Benar. Tapi aku malah berkurang. Hahaha.” P’Kit lebih pendek dariku. Dia terlihat lebih kecil mungkin karena dia belajar dengan giat. “Apa kau sudah bertemu Pha? Beruntung kau memiliki alumni yang lebih tua di satu apartemen. Kau bisa meminta bantuannya, jika kau membutuhkannya. Dia baik. Jangan khawatir.”

Benar. Aku sudah tau itu. Dia baru saja membelikan aku Es Krim. “Aku punya permintaan.”

“Hm?”

“Tolong jangan memberi tau P’Pha aku dari kelas 105.”

“Kenapa?” P’Kit bertanya.

“Dia sangat kejam padaku. Jika dia tau aku dari alumni yang sama di SMA, aku pasti akan berada dalam masalah besar.” Ini benar. Aku tidak berbohong.

“Apa dia sebodoh itu? Tidak bisa mengingatmu.” P’Kir penasaran. “Tapi ini masuk akal. Karena kau sudah banyak berubah.”

“Tapi tidak juga. Karena kau bisa mengenaliku dari pandangan pertama. Kau hebat.”

“Lebih baik daripada Pha.” Dia sangat ramah dan baik. Tidak seperti temannya. P’Pha si sialan.

“Ngomong-ngomong, bisa aku tau kenapa kau tidak mau dia tau siapa kau?”

“…”

“Atau kau diam diam suka dengannya sejak SMA?”

Sial! Bagaimana dia bisa tau!?!?

“Aku bercanda Hahaha” P’Kit memberikanku Hpnya. “Berikan aku nomer Hpmu, Jikalau aku harus menghubungimu.”

Aku sudah mencari P’Pha dari Jam 11 malam. Sekarang jam 2 pagi dan aku masih tidak beruntung untuk bertemu dengannya. Tentu saja, itu mustahil. Ada banyak sekali bar disekitar sini.

Kenapa aku harus khawatir? Aku punya no HP P’Kit sekarang. Oh yeah! Aku sangat beruntung. Aku bisa menghubunginya untuk bertanya soal P’Pha. Mantap kali?

Besok, di pertemuan kompetisi, kami akan melakukan pemotretan foto outdoor disekitar kampus.

Sial! Seperti sebuah kompetisi besar.

Aku kembali ke ruanganku dan tidur…

P’Kit menelponku… ya… Ini pukul 2 pagi. Aku tidak menjawabnya

“Nong Yo lihat ke kiri… Nong Yo. Jangan bergerak…Yo. Jangan membuat wajah seperti itu.”

Kenapa aku? Kenapa hanya aku? Ming tertawa dari tadi. Tapi aku tidak tertawa. Ini sangat mengganggu. Aku ingin ini segera selesai.

Aku bukan yang paling pendek di kompetisi ini. P’Pha, dia sangat tidak adil. Ini dia. Dia baru saja datang dengan teman-temannya. Bisa kau melihatnya kalau aku bukan orang yang paling pendek.

P’Beam dan P’Kit cukup terkenal. Aku bisa lihat banyak wanita yang melihat kearah mereka sejak mereka bertiga sampai. Aku sangat ingin memberi salam kepada P’Beam dan P’Kit, tapi aku tidak mau P’Pha tau kalau aku dari SMA yang sama dengannya. Saat aku bersembunyi, Ming sudah memberi salam pada mereka. Aku sangat iri sekarang.

Dia bodoh. Dia tidak tau siapa aku. Bagaimana itu mungkin? Tapi ya… dia terlihat sangat terganggu hari ini. Ada apa dengannya?

“P’Kit, Sawadee krub.” Aku memberi salam kepadanya saat P’Pha tidak ada disekitar.

“Hei Yo. Kau terlihat baik hari ini.”

“Maaf aku memberi salam padamu disini.”

“Jangan khawatir. Beam juga tidak mengenalimu. Hahaha”

“Hr?”

“Kau sangat tampan sekarang. Tidak akan ada yang mengenalimu. Ini benar-benar salahmu.” Aku tau dia sedang mengejekku sekarang.

“Oh.. Ngomong-ngomong, apa kau menelponku semalam?”

“Hr?”

“Iya, hampir jam 3 pagi.”

“Oh hahahaha” Dia tertawa sangat keras. “Aku hanya ingin membelikanmu minuman. Itu saja.”

“Jam 3 pagi?”

Kelompok Medis gila.

“Kenapa tidak? Bar tutup jam 5 pagi”

“Maaf. Aku tidur saat kau menelpon.”

“Tidak apa-apa. Tapi lain kali angkat Ok?”

Aku menunduk padanya sebagai tanda maaf dariku. Dan ini dia. P’Pha datang mencari kue untuk dimakan. (Kami dekat dengan meja kue)

“Menggoda Forth dan sekarang kau menggoda temanku juga?” Dia bicara padaku.

… tidak bisakah kau berbicara dengan baik padaku? “Kenapa? Kau mau aku menggodamu juga?”

… DIAM …

Barusan kau bilang apa!!!

“Aku tidak suka dengan orang aneh.” Dia bilang itu padaku dan berjalan ke arah P’Kit mencari kue.

Sialan… Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?

“Aku tidak suka sialan.”

Aneh! Dia tidak marah padaku. Biasanya jika aku berbicara padanya seperti itu, dia pasti mau memukulku.

Saat aku berjalan pergi… aku mendengar P’Kit mengatakan sesuatu pada P’Pha.

“Tadi malam, ketika kau mabuk, apa kau bermain dengan Hp ku?”

[Next Chapter – Chapter 04]

Hanya seorang pria subber BL Series

Tinggalkan Balasan