2Moons Novel – Book I [Chapter 04]

“2 Moons – Chapter 4”

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

“Yo apa kau ikut?”

“Nah.. aku mabuk kemarin. Aku tidak mau lagi hari ini.”

“Minum tidak ada hubungannya dengan kulitmu.”

“Ada. Tidak. Aku tidak mau pergi. Jika akun tidak menjaga diriku, kau tidak akan punya teman seorang Bulan dari sekolah Sains. Kau tau kan?”

“Sudah cukup. Kau mau terlihat bagus karena kau mau mencari perhatian dari P’Pha. Aku tau.”

“Diam.”

“Hahaha.. sampai nanti teman.”

Setelah menutup telponnya, Wayo mencoba untuk tenang dan menggunakan masker mukanya. Dia terlalu capek akibat dari banyaknya aktivitas selama seharian sebagai anak baru dan Bulan dari sekolah Sains.

Setelah beberapa waktu, dia mencoba untuk menutup matanya dengan tenang di kamarnya. Dia mendengar seseorang mengetuk pintu dan sekarang adalah pintunya. Tidak itu pintu P’Pring.

Dia mengintip dari lubang pintu dan dia sejenak terkejut, karena itu adalah Pha yang mengetuk pintu. Sial! Tidak ada waktu untuk membersihkan masker ini sekarang, tapi dia tidak mau Pha melihat dirinya menggunakan masker. Dia sangat bingung dan tidak tau harus apa yang harus dilakukan.

“Susu Pink pendek… Apa kau disana?”

Wayo berpikir. “Sialan. Dia memberiku nama lain lagi. Dia sudah memanggilku pendek, Sapi, dan sekarang si pendek susu pink.”

“Hei!!! Apa kau disana?” (Mengetuk lagi)

Wayo membuka pintu dan melihat Pha berjalan menjauh. Tapi dia berjalan kembali “SIAL”

Dia terkejut.

P’Beam “Sialan!!??”

P’Kit “Ha ha ha ha”

Ini adalah keputusan yang salah… Wayo berpikir. Ini sangat memalukan.

WaYo memberi salam kecuali pada P’Pha.

P’Pha yang masih sedikit terkejut bertanya “Apa yang kau lakukan pada wajahmu?”

WaYo “Bukan urusanmu.”

P’Kit “Tunggu dulu. Dia ikut kompetisi. Ini biasa saja kalau dia harus mengurus dirinya.” (WaYo sangat kagum dengan pria yang sangat keren dan baik ini. Dia pikir kalau dia tidak jatuh cinta pada P’Pha, dia akan pasti akan jatuh cinta pada P’Kit sekarang.)

P’pHa “Untuk dia, ini tidak membantu… ya… ngomong”… bisa kau kembalikan catatan ini pada Pring malam ini? Kami akan belajar bersama untuk kuis, jadi kami tidak bisa menunggu dia kembali.”

P’Pha sudah menghilang beberapa hari dan ini lah alasan kenapa dia menghilang. Ya.. sekolah medis itu sulit dan selalu memulai kalender akademisnya lebih cepat dari yang lain.

WaYo “ Kapan dia kembali?”

P’Pha “Mungkin sebentar lagi. Aku tidak tau.”

WaYo “Aku tidak melakukannya secara gratis.” Dia mulai menawar.

P’Pha “Kau…” (Saat P’Kit mulai tertawa dan P’Beam mencoba untuk mengabaikannya dan mulai membaca catatannya.)

“Mau uang untuk membeli susu Pink?”

WaYo teriam dia tiba-tiba tidak memikirkan susu pink… kau bodoh… aku akan membeli hatimu.

“Ambil ini.” (Pha mengambil sebuah snak M&M dari koceknya)

“Yo.. ayo ke perpustakaan…” P’Kit mengajakku.

“Tapi kelasku belum mulai.”

“Tidak apa-apa. Kau bisa membawa komik untuk dibaca di perpustakaan.” P’Kit menjawab

“Tapi siapa yang akan memberikan catatan ini pada Pring?Kau. Tetap disini… Kau sudah mengambil kuemu, jadi jangan lupa berikan ini pada Pring.” Kata P’Pha.

WaYo “Aku tau.” Dan sebelum mereka pergi aku bilang “Hei…”

P’Pha berhenti, berbalin dan bertanya “Apa lagi? Masih mau susu Pink?”

“Aku cuman mau bilang er… um…”

P’Pha menunggu apa yang akan kukatakan.

“… Semangat!”

“Aku  pintar. Tidak pernah gagal.” P’Pha menjawabmu sebelum dia pergi dengan teman-temennya.

Sekarang jam 10 malam dan WaYo masih menunggu Pring pulang. Dia sudah siap untuk tidur. Kue M&M masih disini. Tepat disamping foto P’Pha. P’Pha dengan potongan rambut murid SMA dan dengan warna kulit gelap tapi manis, dulu seorang pemain basket terkenal. WaYo ingat ada beberapa anak perempuan dari sekolah lain datang untuk melihat dia bermain. Kembali ke SMA, Itu adalah waktu yang berharga untuk WaYo. Karena dia bisa melihat P’Pha kapanpun dia mau dan P’Pha tidak tau siapa dia. Bahkan tidak bicara satu sama lain. Tepat di samping foto, ada sebuah kotak dengan warna velvet yang berisi gelang berwarna hitam. WaYo memilikinya sejak SMA. Itu adalah hadiah kelulusan untuk Pha. Sebenarnya dia sudah meninggalkan kotak itu di meja laci sekolahnya, tapi dia mengambilnya kembali setelah mendengar pembicaraan antara P’Pha dan P’Beam.

“Sial… Aku suka perempuan” kata Pha

“Benarkah? Apa kau tidak akan bilang ia untuk pria?” Beam  bertanya

“Tidak” Pha menjawab.

“Baiklah kita lihat saja” balas Beam.

Dan itulah pertama kalinya bagi WaYo memilih untuk mengubah dirinya dan mulai memperhatikan dirinya sendiri.

Sekarang jam 11.45 dan WaYo mendengar percakapan di luar ruangan.

“Terima kasih Pha sudah mengantarku pulang.”

“Tidak masalah. Ini sudah larut. Tidak aman bagi wanita pulang sendiri.”

WaYo memilih untuk membuka pintunya dan melihat P’Pring di saat pertama. Ia, dia sangat cantik. Sekarang dia merasa kalau dia hanya seekor anjing… Anjing jelek.

“Ini dia.” P’Pha mengambil catatan dari tangan WaYo dan berkata pada Pring “Aku meninggalkan catatan ini pada si pendek. Aku meminta dia untuk memberikannya padamu.”

“Oh Terima kasih” Dia tersenyum padaku

Pha “Ok.. tidur lah. Jangan belajar lagi di malam hari. Kau akan dapat nilai sempurna besok dan dan itu terlalu baik untuk kita. Pha dan teman-temannya.”

(Pertama kalinya WaYo mendengar P’Pha memanggil dirinya sendiri “Pha” untuk semua orang)

Beberapa percakapan perpisahan sebelum P’Pha pergi, dia menggoda P’Pring dengan menyentuh kepalanya dengan kecantikan dan kesempurnaan tangan besarnya sebelum P’Pring masuk ke ruangannya.

Menyakitkan. WaYo merasa seperti anjing jelek yang di buang.

“Ada apa dengan wajahmu? Ada apa?” P’Pha bertanya tapi WaYo tidak menjawab sama sekali.

“Maaf, Jangan marah padaku… Aku tidak mau membuatmu terbangun dan menunggu semalam ini… Kenapa kau masih marah padaku?”

WaYo berteriak di dalam kepalanya (Kau bodoh! Aku tidak marah padamu, tapi aku tidak suka caramu berbicara pada Pring dan caramu memanggil dirimu sendiri “Pha” di depan dia. Sial!!)

“Pendek”

“Berhenti memanggilku pendek. Aku punya nama.”

“Aku tidak mau memanggil namamu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak akan memberitahumu.”

(Sialan)

“Dasar bajingan.”

“Barusan kau bilang apa?”

“Bajingan.”

P’Pha mulai marah “Pendek. Jangan pernah bilang itu lagi.”

“…”

“Aku tidak selalu baik. Ingat itu.”

Ini pertama kalinya WaYo melihat Pha marah seperti ini. Dia berbicara dengan nada suara seperti biasa, tapi wajahnya menunjukkan kalau dia marah.

Iya… Itu semua untuk anjing jelek… Itulah yang bisa kau dapat.

“Aku membelikan susu pink itu untukmu.” Pha menunjuk ke arah segelas susu pink di depan pintu WaYo. “Minumlah” lalu dia pergi.

WaYo tidak bisa benar-benar marah padanya terlalu lama. Setiap kali dia marah, entah bagaimana Pha selalu membuat dia memaafkannya.

Keesokan paginya, saat makan siang dengan teman baiknya… si Ming, WaYo masih memikirkan tentang apa yang terjadi tadi malam. Dia mau berbicara pada P’Kit, tapi dia terlalu takut untuk membuka rahasia itu pada siapapun, tapi… Ming.

“Ada apa?” (Dia selalu saat aku ada dalam masalah)

“Um…”

“Apa!?!?!”

“Apa Pha masih single?”

“Tidak yakin tapi dia tidak segar. Hahahah… Kau tau? Banyak wanita yang mengincaranya. Tapi begitulah. Semua Bintang cantik dari kampus ingin berpacaran dengannya. Dan mereka bilang dia punya pacar. Wanita itu dari Sekolah medis yang sama dengannya.”

WaYo (Yes… Aku tau siapa dia… Aku mau mati sekarang. Mimpiku telah di pukul jauh dari jadi kenyataan sekarang.)

“Apa kau baik-baik saja?”

“Aku akan melewatkan pertemuan kompetisi hari ini.”

“Apa? Kenapa? Bagaimana? Bagaimana aku harus memberi tahu P’Ging?”

“Bilang P’Ging WaYo sudah mati.”

(Kau si sialan tampan si bajungan… Sial! Ini menyakitkan… Iya… Aku bukan seorang perempuan. Tidak bisa punya anak saat bersamamu. Tidak punya payudara. Tidak ada tubuh yang seksi untukmu… Aku hanya anjing jelek…) “Sial kau… Ketampananmu itu sial” WaYo memaki dan melempar batu ke arah air. Ini adalah kolam tenang di belakang kampus. Ini masih terlalu pagi. Tidak ada orang disini.

“Sial!!!” WaYo mau melempar batu lagi, tapi seseorang memegang tangannya. Itu P’Forth Jatuphoom (Bulan dari jurusan Teknik. Si perokok tampan)

“Apa kau sedang mencoba membunuh ikan? Apa kau mencoba untuk membuatku berhenti merokok? Kenapa kau selalun ada disekitarku saat aku mau merokok?”

“Sudah berapa lama kau disini?”

“Aku ada disana.” Forth menunjuk ke arah motornya.

“Aku melihatmu melampari batu ke dalam kolam.”

P’Forth sangat tampan dengan pakaiannya yang biasa dan akso putih.

(Kenapa aku dikelilingi pria tampan? Dan aku hanya seekor anjing yang dibuang?)

“Kau tidak mengikuti pertemuan? Kau sedang bad moodkan?”

“Aku…”

“Jangan seperti ini. Kau tau? Kau adalah wakil dari sekolahmu. Hanya hal buruk yang akan terjadi jika kau tidak bertanggung jawab.”

“Aku merasa tidak nyaman.”

“Tidak nyaman? Karena apa? Apa ada Bintang cantik yang memperebutkanmu?”

“Bukan…”

“Kami bertemu dengan perkelahian wanita tahun lalu. Sungguh kacau. Mereka di hukum dan dikeluarkan dari kompetisi karena berkelahi memperebutkan murid medis bernama Pha.”

(WaYo dengan cepat tersenyum)

“Dia terlalu tampan dan sempurna. Tinggi, pintar, dan sangat kaya. Aku tidak heran kenapa mereka merebutkannya. Hanya dengan tatapannya wanita itu akan langsung datang kepadanya,”

“Benarkah? Memperebutkan P’Pha?”

“Ya dan dia sangat kecewa. Dia bahkan memutuskan untuk keluar, tapi seorang orang memohon padanya untuk kembali dan… Dialah bulan kampus. Kau lihat? Dia mendapatkan waktu yang lebih sulit darimu.”

“…”

“Mau kembali ke pertemuan? Aku akan mengantarmu kesana.”

WaYo memutuskan untuk membuang rasa tidak nyamannya kedalam kolam. “Ya, aku pikir aku akan kembali sekarang. Terima kasih P’Forth. Itu sangat membantu.”

“Belikan aku makan malam.”

“Sains?”

“Ini.”

“Bagaimana dengan Bulanmu? Dimana dia?”

“…”

“Aku disini. Maaf aku terlambar.” WaYo berlari ke pertemuan dan mulai meminta maaf.

“Baiklah kalian semua selanjutkan pemotretan. Setelah kelulusan sekolah.”

P’Forth berjalan bersamanya ke pertemuan. WaYo harus mengganti pakaiannya dengan baju tradisional Thailand.

“Oke fokus ya? Aku akan menemui malam ini. Berikan nomer Hpmu.”

Setelah bertukar nomer HP dan sebelum dia pergi, “Terima kasih P’Forth. Sampai bertemu malam ini.”

“Berhentilah mengangis.”

“Aku tidak menangis.”

“Aku tau hampir menangis.”

“Ia hampir… Sialan kau P’Forth.”

“Hahahah.”

“P’Forth… Kit ingin bertemu dengamu.” P’Pha berjalan kearah kami.

“Oke” P’Forth melambaian sebelum dia pergi.

“Kau terlambat.”

“Tidak.”

P’Pha sedang semmpurna dan berpakaian rapi hari ini…Benar…Dia akan ada kelas kuis. “Kuis?”

“Ia siang ini.”

“Oke”

“Hanya oke?”

“Iya hanya oke.”

“Kemarin kau menyemangatiku… “Semangat” P’Pha seperti berbisik. (Dia seperti bicara pada dirinya sendiri)

“Kau bilang apa?”

“Lupakan… Kau ya kau!” Pha membalas sebelum pergi.

Meninggalkan WaYo berdiri dan bingung. Apa sekarang? Dia tidak mengerti. Apa yang dia lakukan?

Ming mendekati dan berkata “Sial! Seperti sebah drama.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“P’Pha iri sekali Hahahah.”

“Sialan kau. Tidak mungkin.” WaYo mengatakannya tapi pipinya memerah.

“katakan saja apa yang aku katakan.”

“…”

“Dan jika aku benar. Ini akan jadi pertandingan besar. Diantara dua sekolah. Medis dan Teknik.”

“Kau harus berhenti menonton drama.”

“Lihat saja.” Ming menunjuk ke arah susu pink yang hampir meleleh. “Kau pasti sedang diawasinya…”

“Dia membawakan minuman lagi pada semua oran… Seperti biasa.”

“Tidak… Hanya kau.”

“…”

“..Ya. Hanya kau.”

“…”

“Dia membeli ini tepat setelah kau pergi. Dia bilag ‘untuk temanmu.’ ”

WaYo (Sial… Kau tidak perlu melakukan apapun… Aku sudah gila padamu… Kau membuatku gila.) “Ming aku akan kembali.”

“Tunggu…”

P’Pha berjalan sangat cepat. Dia sudah didekat mobil barunya di parkiran. “Ya?”

“Aku…”

“Tidak marah lagi kan padaku?”

(Sejak kapan aku marah padamu bodoh?)

“Bukan maksduku membuatmu menunggu Pring sampai larut. Aku tidak bermaksud bertemu dengannya tadi malam.”

“…”

“Oke… Kau boleh marah padaku. Aku tidak peduli lagi.”

(Ada apa sehingga membuat dia berpikir aku marah padanya karena kejadian tadi malam)

“Semoga beruntung di kuis hari ini.”

Si punggung papan itu berbalik ke WaYo. “Kami akan mendapatkan nilai nya setelah kuis. Bagaimana jika aku mendapatkan nilai terbaik?”

“…”

“Apa hadiah untukku?”

“M&M”

“Dasar pendek… Tidak… Belikan aku shusi malam ini.”

Pha pergi setelah berkata seperti itu dan pergi meninggalkan WaYo berdiri dan tersenyum.

Aha Yeaaaa… Ini adalah kencan pertama bersama P’Pha!?!?!

(Suara notifikasi dari Hp)

Sial!!!!

“Sampai bertemu malam ini di Hot Pot disamping kampus. Jika kau tidak punya uang,

Aku akan membelikanmu makan malam.”’

  • Jatuphoom.”

 

Hanya seorang pria subber BL Series

6 tanggapan untuk “2Moons Novel – Book I [Chapter 04]

  1. Lanjut plis. Sebenernya udh nonton sampe abis, tapi aku gk bs move on. Terus siapa tau ada adegan yg gk tayang di filmnya gitu. Males baca versi inggris. Gak ada kuota buat donlot /ditendang
    Mangat!

  2. Admin, semangat buat ngelanjutin chap 5 dst nya yaaa 😀 aku udah nonton tapi tetap pengen baca versi novelnya hehehe :3

Tinggalkan Balasan