Novel 2 Moons – Chapter 43.A (BEAM)

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Darah! Banyak darah.

 

Meskipun ini bukan dariku. Itu dari seseorang yang penting bagiku!!

 

… … Forth

 

Aku melihat semuanya!

 

Kayu yang aku paku di atap tidak cukup kuat jadi membuat fondasiku lemah dan tidak stabil.

 

Ketika aku menuruni tangga, potongan kayu besar langsung jatuh ke kepala Forth.

 

Dia kemudian jatuh di tanah kehilangan kesadarannya. Pasti ada yang retak di kepalanya karena mulai pendarahan dengan hebatnya.

 

Pendarahan tak berhenti bahkan setelah kami membawanya ke rumah sakit terdekat.

 

aku merasa duniaku ambruk sejenak ketika aku melihatnya jatuh dan tersungkur di tanah.

 

….. Hatiku hancur berantakan melihat dia dalam situasi seperti itu.

 

aku merasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan dan takut akan apa yang mungkin terjadi pada dirinya.

 

Ini salahku!

 

Ini benar-benar kesalahanku! Kalau saja aku mendengarkan dia sejak awal, itu takkan terjadi!

 

Aku tercengang dengan apa yang telah aku lihat! Aku tak bisa melakukan apa pun selain untuk menonton teman-temannya membawa tubuh tidak sadar ke rumah sakit terdekat.

 

Semuanya dalam kekacauan.

 

Aku melihat bagaimana orang lain memandangku, seolah-olah mereka menyalahkan aku atas apa yang terjadi, tapi aku tak peduli.

 

Satu-satunya hal yang aku pedulikan saat ini adalah Forth.

 

Aku sangat ketakutan Seluruh tubuhku gemetar, dan hatiku berdetak tak terkendali! Aku sangat ketakutan.

 

… Takut kehilangan seseorang yang begitu penting bagiku!

 

“Beam! …”

 

Lam berjalan ke arahku dan berbicara.

 

CATATAN: [‘Lam’ dan ‘Sharp’ dari bab sebelumnya adalah orang yang sama]

 

“… sadarkan dirimu dan cepat kemari!” Dia menuntunku memasuki ruangan tempat Forth berada.

 

“brengsek!! “Aku bersuara.

 

Aku merasa seperti seseorang telah memplitir dan meremas hatiku saat melihat Forth di tempat tidurnya tak sadarkan diri.

 

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri!” ~ Lam

 

“Aku tahu Forth tidak akan menyalahkanmu atas apa yang terjadi!” dia menambahkan.

 

“Aku takut …”

 

Aku tahu Lam juga prihatin denganku, tapi bagaimana aku bisa menghilangkan rasa sakit dan ketakutan di dalam diri aku? Ini melemahkan hatiku untuk mengetahui Akulah yang menyebabkan forth penderitaan seperti ini.

 

Bahkan, aku tak peduli jika aku membusuk di penjara karena apa yang terjadi pada dirinya, tapi aku sangat ketakutan saat melihat dia dalam situasi seperti ini karena aku.

 

…… pasti akan menghantui aku sampai mati!

 

Jika aku tahu hal ini akan terjadi, aku takkan bergabung dalam perjalanan ini sejak awal !!!

 

“Jangan khawatir!” Lam lembut menepuk punggungku. “Kami tahu kamu adalah teman baik Forth!”

 

Aku menunggu di sini tepat di depan ruangan tempat ia berbaring sementara dokter sedang memeriksa kondisinya. Semua pikiran-pikiran, kegelisahan, ketakutan, dan pikiran ‘bagaimana jika’, semua pemikiran itu masuk ke kepalaku yang hampir membuatku menjadi gila. Aku melakukan yang terbaik untuk mencoba mengingat kembali kuliah tentang  sistem kerja otak, tapi pikiran-ku tak bisa bekerja apapun. Aku mencoba untuk memikirkan bagian kepala dan otak forth yang mungkin mengalami kerusakan dan efek apa yang bisa ditimbulkannya. Apakah akan melumpuhkannya? Astaga! Aku bisa gila karena hal ini.

 

Setelah dokter masuk meninggalkan ruangan, aku melihat Forth duduk di tempat tidur dengan senyum lebar di wajahnya menatapku. Saat aku melihat itu, tiba-tiba aku merasa lega. Semua kekhawatiran aku akhirnya beralih, begitu banyak kebahagiaan melihatnya terbangun dan baik-baik saja.

 

biarpun demikian, aku masih tak bisa melepaskan fakta bahwa akulah orang yang menyebabkan dia menderita seperti ini. Aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi, dan aku pikir aku tak bisa tahan kalau sesuatu yang lebih buruk terjadi pada dirinya.

 

Jika ada yang tidak beres.

 

Aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menunjukkan perasaanku yang sebenarnya untuk dirinya sejak hari dimana sesuatu terjadi di antara kami berdua.

 

Aku tidak ingin menjadi keras kepala lagi.

 

Aku akan menyerah dan melelehkan kedinginanku (rasa acuh tak acuh/dingin hati).

 

aku tidak ingin mencapai titik di mana aku tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan kepada dirinya, karena aku pasti akan menyesali seluruh hidupku..

 

Aku sedikit berlinang air mata saat melihatnya tersenyum padaku. Senyum itu yang merupakan alasan mengapa aku tidak bisa makan atau tidur setiap kali datang ke pikiran. Senyum yang yang membuat aku sedih jika aku tak bisa melihatnya.

 

Senyum itulah yang sedang aku lihat saat ini.

 

Kurasa akan jauh lebih mudah jika aku mengakuinya.

 

Itu sebabnya ketika dia meminta aku untuk menjadi pacarnya, aku tak akan biarkan dia menunggu lebih lama lagi, aku akan mengatakan ya.

 

“Sepertinya Kamu sedang memikirkan sesuatu.”

 

Pacarku yang masih memiliki perban di kepalanya karena cedera yang dideritanya. Dia hanya duduk di belakang mobil, karena dia tidak bisa menyetir karena kondisinya.

 

Suasananya begitu indah karena sinar matahari yang sudah terbenam.

 

“Gila! Tentu saja tidak!” Aku menyangkalnya

 

Aku melihatnya.

 

kenapa dengan semua kotoran dan lumpur di celana jins dan kemejanya, dia masih terlihat sangat tampan? Dia masih terlihat amat keren! Bagaimana itu mungkin? : 3

 

“Apa masih sakit?” Tanyaku.

 

“Apa yang ingin kamu dengar? Kebenaran atau sesuatu yang menyenangkan untuk didengar?” dia menjawab.

 

“Forth …!”

 

“Tentu saja masih sakit, tapi tidak banyak! Dan selain itu, aku tak bterbiasa mengunakan benda ini yang menempel dikepalaku!” Dia menjawab dengan sedikit kekesalan dalam suaranya.

 

Aku menelan ludah dan mengucapkan, “Maaf …”

 

“Aku ingat sudah berkali-kali memberi tahu kamu untuk tidak melakukan pekerjaan seperti itu, sinar matahari terlalu terik dan kulit putih saljumu akan menjadi kecokelatan. Kamu seharusnya tetap berada di bawah bersama dengan para gadis itu. Selain itu, aku tahu Kamu tidak terbiasa dengan pekerjaan berat semacam ini! ”

 

“Aku menyesal! Aku pernah melakukan itu sebelumnya. Aku tahu betapa sulitnya, tapi aku masih memaksakan diri untuk melakukannya! ”

 

“Tak-apa! Untung bukan kamu, orang yang terkena reruntuhan itu!”

 

“Okay, maaf! Aku sangat menyesal!” Aku pikir aku sudah meminta maaf untuk kesejuta kali.

 

“Sudah cukup!” Dia memegang tanganku. Aku berpikir untuk menyingkirkannya, tapi tiba-tiba dia berkata,

 

“Tak ada alasan bagimu jadi pemalu.”

 

Okey! Baiklah.

 

Aku membiarkan dia memegang tanganku, tapi lengan satunya ada di kepalaku seolah memelukku dari belakang. Kupikir kepalanya masih sakit?

 

“Apa Kau menikmati ini?” Tanyaku. (Ya, seolah-olah aku tidak.)

 

“Tentu saja!” Dia menjawab dan tersenyum. “… istriku bersamaku!”

 

Aku hanya bertanya apakah kamu bahagia. Aku tidak bertanya alasannya.

 

Ketika kami tiba di kamp, ​​aku memarkir mobil di depan sekolah. Setelah kita melangkah keluar dari mobil, gadis-gadis mulai berkerumun di sekitar Forth bertanya kepadanya bagaimana perasaannya atau apakah dia baik-baik saja. Karena itu, aku terdorong menjauh darinya oleh gadis-gadis itu.

 

Jadi aku duduk saja di pojok yang masih merasa bersalah dari apa yang terjadi. Tiba-tiba, Forth berjalan ke arahku dan menepuk bahuku. Ini benar, aku benar-benar tak ingin ini terjadi, tapi tatapan dari mata para gadis membuat aku merasa begitu bersalah tentang hal itu.

 

apa mereka akan memasukkan racun ke dalam makananku malam ini?

 

Aku tahu mereka menyalahkan aku karena aku mendengar beberapa dari mereka mengatakan bahwa aku berniat melakukan apa yang aku lakukan pada Forth. Apakah mereka benar-benar berpikir aku bisa melakukan itu? Aku akan menjadi dokter di masa depan! Mengapa aku melakukan hal seperti itu? ”

 

Brengsek!

 

Selain itu, mereka tidak hanya berbicara tentang ‘seseorang’. Mereka berbicara tentang Forth! Suami aku!

 

Mengapa aku sengaja menyakiti orang yang aku cintai?

 

Aku hanya tidak menunjukkan hal itu sebelumnya karena aku keras kepala, tapi sekarang aku tidak pikir aku masih punya alasan untuk menahannya ketika perasaanku datang pada dia.

 

….. Sebelum waktu makan malam,

 

Para gadis mulai mandi sebelum kami, jadi aku pikir kita akan tidur larut malam karena kita perlu menunggu mereka sampai selesai sebelum kita bisa mandi.

 

Sambil menunggu, Lam tiba-tiba muncul entah dari mana membawa botol minuman keras di tangannya.

 

Apakah ada pesta? Karena mereka sekarang mulai minum.

 

Oh! Bukan hanya mereka. Aku juga termasuk!

 

Aku duduk dengan teman-teman Forth ketika ia tiba.

 

“Aku mencarimu!” Katanya.

 

Dia mendorong temannya yang duduk di sampingku dan duduk disana.

 

“Kupikir kau sudah bergabung dengan para-gadis itu!” dia berkata.

 

“Aku suka apa yang Kamu pikirkan” aku menggodanya sambil memegang sekaleng bir.

 

“Biarkan aku melakukannya!”

 

Setelah mengatakan itu, ia berusaha meraih kaleng bir yang aku pegang, tapi sebelum ia bisa mendapatkannya dari aku, aku memukul tangannya dan berkata,

 

“Kamu tak boleh minum dengan kondisi itu!”

 

“Sial! kenapa?” ia mengeluh. “Aku pikir itu seharusnya baik-baik saja?”

 

“Tidak! Besok kamu masih harus menyetir, kan?”

 

“Tapi….”

 

“Kurasa sebaiknya kau membiarkan dia, Doc Beam!” dikatakan oleh salah satu temannya. “Dia tak akan mabuk untuk sementara waktu karena dia begitu sibuk main-main dengan begitu banyak gadis!”

 

Aku mengangkat alis ke arahnya setelah mendengar apa yang dikatakan temannya.

 

Tiba-tiba, temannya yang lain memukul kepala orang yang mengatakan itu.

 

“Idiot, apakah Kamu ingin Doc Beam kecewa dengan teman kita?” Mereka memberitahunya

 

“Hei, itu tidak benar!” Forth bereaksi.

 

“Melihat kamu sudah cukup bagiku bahkan tanpa minum bir!” Aku merasa malu karena apa yang dia katakan, jadi aku hanya meneguk bir aku sedang ku pegang.

 

“Apakah kamu baik-baik saja?”

 

“Jika aku menangkapmu menggoda orang lain ……”

 

“Dok, mengapa Kamu tak membiarkan teman kita minum?” Temannya bertanya sebelum aku bahkan bisa selesai berbicara.

 

Aku hanya mengangkat bahu dan menyucup bir lagi.

 

Lalu, dia dengan lembut menyentuh tanganku seolah membenarkan apakah aku sekarang mengizinkannya.

 

Aku memukul tangannya lagi. Aku tak benar-benar bermaksud melakukannya. Itu hanya reaksi mendadak yang sudah biasa aku lakukan. Aku rasa itu bagaimana cara sentuhannya mempengaruhi inderaku.

 

Wajahnya menunjukkan sedikit kesedihan. Kurasa itu berarti dia juga merasa malu melihat teman-temannya.

 

Okay! Aku merasa bersalah karenanya!

 

——

 

Sambil makan malam, Forth jadi pendiam. Aku pikir teman-temannya tak punya nyali untuk mendekatinya.

 

Bahkan Lam pun tidak.

 

Sebenarnya, aku tidak punya nyali sekarang untuk berbicara dengan dia baik setelah apa yang aku lakukan untuk dia sebelumnya.

 

Tapi aku tahu itu salahku saat itu, jadi kupikir sebaiknya aku yang mendekatinya dulu.

 

Aku masuk ke dalam kelas dimana barang-barang kami berada. Aku hendak mengambil handuk untuk mandi saat melihat pria itu dengan perban di kepalanya.

 

….. forth

 

Tapi dia hanya melewati aku seperti aku tak terlihat dan berjalan ke luar untuk bergabung dengan teman-temannya.

 

Mereka tampaknya akan pergi ke suatu tempat.

 

Tunggu! Aku tak ingat dia mengatakan apa-pun tentang akan ke tempat lain. Dan selain itu, bukankah mereka kelelahan dengan semua pekerjaan yang mereka lakukan sepanjang hari?

 

“Apakah kalian belum selesai?” Aku bertanya pada pria yang masih di dalam ruangan.

 

“Apakah kamu bicara dengan ku?” Dia bertanya padaku kembali

 

“Iya!”

 

“Aku akan tinggal di sini!”

 

“Bukannya kamu pergi dengan Forth dan yang lainnya?”

 

“Aku tak pergi, aku diperintahkan untuk tinggal di sini,” katanya. “Dan menjagamu. ” Dia menambahkan.

 

Apa? Menjagaku?

 

“Oleh siapa? “Aku bertanya lagi padanya. Aku sekarang hampir melotot padanya.

 

“forth!” Jawabnya cepat seakan mengatakan itu bukan salahnya.

 

Aku bukan anak kecil. Mengapa dia meminta seseorang untuk mengawasiku?

 

Aku kira dia akan baik-baik saja di sini sendirian.

 

disini tak akan ada yang tersisa di ruang kecuali dia karena semua orang-orang pergi ke luar dengan Forth.

 

“Pergilah menjaga barang kita!” Kataku sebelum melangkah keluar untuk mengikuti Forth dan yang lainnya.

 

“tidak perlu mengikuti perintahnya. ” Aku tambahkan. “Aku akan pergi, juga! ”

 

Orang-orang pergi ke pasar desa Klong Thom *.

 

[Catatan * Ini adalah pasar di Klong Thom, Thailand yang sebelumnya dikenal sebagai ‘FlashlightMarket’ karena pembeli perlu membawa obor untuk melihat barangnya (saat berbelanja di malam hari). Ini sangat padat pada hari Sabtu tengah malam. Penuh sesak dengan kios-kios penjual beraneka ragam dan pameran, pasar terkenal karena barang bekas dan pernak-perniknya yang beragam. ]

 

Sebenarnya, aku pikir ini juga baik karena aku sedikit bosan belanja di Bangkok.

 

Ketika aku mengikuti mereka, aku melihat orang-orang di pasar agak takjub melihat remaja-remaja tampan ini berjalan di sepanjang pasar ‘Klong Thom’. Terutama gadis-gadis itu yang berteriak kepada mereka seolah-olah mereka adalah anggota boyband Korea atau sejenisnya. Aku melihat mereka melihat ke arah aku, jadi aku dengan cepat menyembunyikan diri agar mereka tidak melihat aku. Yah, aku benar-benar tak ingin dilihat sekarang, karena mengejar orang itu dengan perban di kepalanya dan seharusnya beristirahat sekarang.

 

“P’!”

 

Ketika aku berbalik untuk melihat siapa yang memanggil aku, aku melihat anak-anak sekolah menengah pertama meminum air merah di dalam kantong plastik kecil. Ada sekitar 3-4 dari mereka menatapku.

 

“Apa itu?” Aku bertanya.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?” Salah satu anak bertanya kembali.

 

Aku pikir mereka bertanya padaku dengan tak curiga dan waswas. Lagi pula, kurasa aku terlihat berbeda.

 

“Aku salah seorang yang diperbaiki sekolah!” Aku menjawab.

 

“Oh, aku juga pernah mendengar dari kepala sekolah kita, apakah ada wanita cantik bersamamu di sana? Aku benar-benar ingin melihat seorang gadis Bangkok!” Salah satu dari mereka berkata.

 

“Kalau begitu pergilah ke sana dan cari sendiri!” Aku menjawab sebelum berjalan pergi.

 

“Bawa kami ke sana!” Anak yang lebih pendek meraih tanganku, “Kami ingin melihatnya!”

 

Sekarang mereka benar-benar membuatku gugup.

 

“Biarkan dia pergi!”

 

Suara itu menyebabkan anak-anak berhenti melecehkan aku.

 

Mereka sangat menyebalkan.

 

Tunggu! Kupikir aku mengenali suara itu.

 

Ketika aku berbalik, aku melihat Forth berdiri di dekat bersama teman-temannya di belakangnya.

 

Penampilannya yang mengerikan menarik perhatian anak-anak itu ditambah perban di kepalanya sehingga dia tampak lebih menakutkan.

 

Ketika anak-anak melihatnya, mereka berlari ke arah yang berbeda seolah-olah mereka melihat monster datang.

 

Aku menatapnya, dan dia menatapku kembali dengan ekspresi hampa di wajahnya.

 

Aku ingat apa yang aku lakukan padanya sebelumnya.

 

Mungkinkah dia masih marah?

 

“Aku… Aku sangat brengsek!” Kataku.

 

Dia hanya berbalik dan berpura-pura dia tak melihatku lagi.

 

Apa?

 

Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu? Aku mengangkat bahu dan mulai mengikutinya lagi.

 

Sial. Aku pikir dia benar-benar marah.

 

Aku minta maaf na!

 

“Hei!” Aku berteriak. Aku akhirnya menyadari hal itu sekarang, tapi aku tak tahu harus berkata apa. “Aku minta maaf! Aku salah!”

 

Brengsek! Aku harus mengakui kesalahan aku hari ini

 

Tapi apa dia tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan? Aku berjalan di belakang mereka, dan mereka tampaknya mengabaikan aku.

 

“Dengarkan aku dulu!” Suaraku semakin keras sekarang.

 

Iya! Aku putus asa. Aku tak peduli tentang orang lain di sekitar lagi.

 

Mereka berbelok ke jalan sempit dengan toko-toko yang bisa, Kamu pilih dari sekitar sembilan ratus sembilan puluh sembilan pilihan kaos.

 

“Maukah kau mendengarkan aku atau tidak?” Aku kesal.

 

Dia hanya terlihat kesamping dan mengabaikan aku lagi.

 

BAIKLAH.

 

Aku berbalik dan hendak pergi begitu saja.

 

Dia meraih tanganku.

 

Akankah aku menjadi keras kepala lagi dan pergi? Atau bolehkah aku minta maaf?

 

Pikirkan Beam! Berpikir!!!

 

Ugh! Lupakan!

 

Aku langsung menghadapinya.

 

Tunggu. Apakah dia… .. Tersenyum?

 

“Katakan padaku!” dia berkata.

 

Aku seharusnya menjadi marah, jadi aku seharunya tak tersenyum, tapi ketika aku melihat dia tersenyum? Aku merasa seperti wajahku otomatis melakukannya.

 

“Aku … aku tahu kenapa kamu marah padaku!” Aku mulai berbicara.

 

Astaga hatiku berdetak kencang sekali.

 

” … Aku tidak seharunya menjadi konyol tentang apa yang aku lakukan. Hanya saja aku masih belum terbiasa saat kamu memegang tanganku di… di depan teman-temanmu. Aku..aku .. hanya malu saat itu! itu sebabnya aku memukul tanganmu, tapi tolong jangan tinggal jauh dariku. aku tidak memahaminya, tapi …. aku takut!” Aku menjelaskan dengan suara serak.

 

Setelah apa yang aku katakan, dia tertawa. Dia tertawa begitu keras! Apakah dia benar-benar menggodaku?

 

“kenapa kamu tertawa?”

 

“Apa kamu berpura-pura baik?”

 

“…”

 

“Tolong sekali lagi!”

 

Bajingan! Tapi oke! Kali ini aku akan berpura-pura aku tidak mendengarnya.

 

“Tapi … kamu sangat unyu!” Dia berbisik, mencolekku dari samping, dan tersenyum padaku.

 

Aku merasa seperti ribuan volt listrik menghanttamku.

 

“Ini tidak baik sama sekali, tapi aku mengerti! Hanya saja kamu begitu unyu!”

 

Bagus. Aku mulai benar-benar marah.

 

Tapi,

 

Aku diam-diam tersenyum. Aku senang dia mengerti. Aku takut ia akan marah padaku untuk waktu yang lama.

 

 

“Aku akan membeli kaos ini! dan aku beli dua!” Forth menyebutkan kepada wanita di kios itu.

 

Wanita itu kemudian masuk untuk mengambil stok barang dan melipat kaos yang dipesan Forth sebelum dia menatap kami.

 

“Aku juga ingin piyama ini. aku beli dua ini!” Forth sebutkan lagi.

 

“Apa?” Aku berteriak. Mengapa dia membeli begitu banyak? Aku pikir kami berada di sini hanya untuk membeli sesuatu yang nyaman untuk dipakai malam ini seperti sepasang boxer, kaos tanpa lengan, atau piyama?

 

“kenapa kita tak membeli kaos tanpa lengan ini ditambah celana boxer. Aku yakin disana cukup panas! Aku pikir ini lebih nyaman dipakai!” kataku.

 

Dia kemudian menatapku, berpikir sejenak dan berbicara,

 

 

“Tidak! Aku tak suka ide ittu! Mereka akan melihat kakimu, dan aku tidak ingin itu!” Katanya dan menggelengkan kepalanya untuk tidak setuju. “… Dan selain itu semua teman-temanku pria! Aku yakin mereka akan senang jika mereka melihatmu mengenakan celana boxer dan menunjukkan kaki putihmu, jadi .. Tidak!!” Dia bergumam

 

Ya benar! Aku yakin aku akan berkeringat seperti di neraka malam ini karena suamiku posesif.

 

“Kita ambil dua pasang piyama ini!” Katanya lagi pada wanita itu

 

“Tunggu! Kenapa mereka berdua merona? tidakkah kamu takut jika mereka akan menggoda kita memakai barang couple?” Aku mengeluh.

 

Aku akan meraih yang biru, tapi Forth mengambilnya dari tanganku.

 

“Aku tak ingin hantu menghantui-mu, jadi Kamu harus memakai merah!” dia menjelaskan.

 

[Itu adalah kepercayaan Thailand yang mengatakan bahwa Kamu tidak akan dihantui hantu pada malam hari jika Kamu mengenakan warna merah]

 

Bagus! Dia benar-benar menyukai pepatah itu!

 

“Kita ambil yang merah!” Katanya pada wanita itu

 

“Kamu begitu egois!” Teriakku.

 

Aku mencoba untuk meraih benda-benda yang kami membeli dari tangan Forth, tapi ia tak membiarkanku. Dia memelukku erat-erat agar tidak bisa bergerak.

 

Ok aku menyerah! Aku pikir aku tak punya pilihan selain mengikuti apa yang dia inginkan.

 

Dia menghadapku dan tersenyum kepadaku seperti orang gila karena dia tahu jika dia menang melawan aku. Lagi.

 

Aku tak memilih tempat untuk tidur. Aku benar-benar ingin tidur di bawah kipas angin, tapi akhirnya aku berbaring di sebelah dinding di sampingnya. Dia benar-benar seorang diktator, tapi aku benar-benar tak ingin berdebat dengan dia lagi. Dan jika aku mencoba melakukan itu, dia hanya berpura-pura kesakitan. (Haruskah aku menggunakan kayu itu dan memukulnya lagi?)

 

Itu saja untuk saat ini. haruskah aku membiarkan dia menang kali ini? Tunggu! Biarkan aku berpikir tentang hal itu. Apakah aku akan kalah dari dia berulang kali? bagus. Ini double resiko. Selain aku kalah, ini juga jadi sangat panas di daerahku. Ini benar-benar tidak nyaman,

 

“Tidur?” Dia berbisik.

 

Aku tidak mengatakan apapun. Bagaimana dia tahu? Bisakah dia mendengar detak jantungku?

 

“ya!” Aku bohong.

 

“Apa yang kamu pikirkan” dia bertanya.

 

“Kaki Bukit!” Aku bercanda.

 

“LoL!”

 

Aku mengintip orang yang tidur di sampingku dalam kegelapan.

 

“Bagaimana aku bisa tidur?” Tanyaku padanya.

 

“Hitung domba!”

 

“Dua belas ribu lima ratus enam belas …. tujuh belas sekarang!” Aku berkata, tapi aku tidak benar-benar melakukannya.

 

“Bernyanyilah untukku!” dia berkata.

 

“Aku tak ingin bernyanyi!”

 

“Bagaimana kamu bisa tidur? Aku harus bangun pagi untuk mengurus para maba!”

 

“Oke, tunggu, aku akan tidur!” kataku padanya dan memejamkan mata.

 

Aku merasakan bibir lembut di dahiku.

 

Aku membuka mataku untuk melihatnya.

 

“Bangsat!” Aku hampir berteriak. Kurasa aku mengatakannya sedikit lebih keras.

 

“Shhhh! Jangan keras-keras!” Bisiknya.

 

Aku hampir membangunkan seluruh ruangan. Tentu saja, aku kaget dengan ‘serangan kejutan’ suamiku.

 

“Aku tidak benar-benar keberatan!” Bisikku lagi

 

“Aku akan bermimpi indah!” Dia berbisik dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

Dia menciumku lagi, tapi kali ini, itu di bibir.

 

Jangan memperkosa aku di sini !!

 

“Cukup!” Aku berbisik dan mendorongnya pergi.

 

Dia hanya tertawa.

 

Itu gelap, tapi aku bisa merasa wajahku begitu merah sekarang.

 

Anehnya, suasana di sekitar aku mulai mendinginkan. Aku pikir aku begitu lelah.

 

Mataku perlahan-lahan tertutup sedikit demi sedikit. Aku tiba-tiba merasa nyaman, tapi itu bukan karena ciumannya. Itu membantu, tapi itu tidak sepenuhnya benar.

 

itu karena perasanku jauh lebih santai sekarang,

 

…… Aku pikir itu karena dari tangan yang menggenggam ‘itu’ di bawah selimut.

 

*Selamat malam

 


 

 

<<<Back   Daftar isi     Next>>>

Ordinary guy.

3 tanggapan untuk “Novel 2 Moons – Chapter 43.A (BEAM)

Tinggalkan Balasan