FOD [Book 2.08] – Chapter 020

Author: Fengliu Shudai {風流書呆}

Translators: keztranslations

Novel Ing Versi Web

Novel Ing Versi Wattpad

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Du Xu Lang hanyalah serangkaian data yang disusun oleh Dewa, Du Xu Lang tidak seperti dirinya, jiwa yang abadi, bagaimana dia bisa mengikutiku? Merokok adalah kebiasaan normal, dan gerak tubuh yang serupa juga normal.

 

Zhou Yun Sheng meyakinkan dirinya sendiri, tapi kepahitan hatinya tak terkatakan.

 

Tapi tidak lama kemudian dia tidak sempat memikirkannya. Fu Xuan menelponnya dan berulang kali mengingatkannya untuk memulai lukisan cat minyaknya untuk mendapatkan hadiah besar, nadanya terlalu menyembunyikan niat tertentu.

 

Fu Xuan di departemen lukisan cat minyak memiliki latar belakang yang sangat kuat. Ayahnya adalah presiden dari C Country Painting and Calligraphy Association, ibunya adalah pelukis minyak internasional yang terkenal, ahli dalam lukisan pemandangan. Karya besarnya “Wheat Wave” dijual seharga 7,5 juta di rumah lelang Deli Jia. Fu Xuan mewarisi dari gen halus orang tuanya, pada usia enam tahun dia menggelar pameran pribadinya, dia adalah seorang pelukis yang terampil.

 

Tapi di kelas atas Zhongyong Tidak biasa dan sayangkan, Fu Xuan sangat khas. Sebagai hasil dari kesuksesan prematur, ia menjadi sombong. Ditambah dengan sangat angkuh, ia berangsur-angsur kehilangan ambisinya. Dia tidak hanya berhenti mempelajari keahliannya, tapi juga kecanduan makan dan minum.

 

* Zhongyong – Arti dasar merupakan ajaran Confusion yang di moderasi. Menjadi kaya sukar untuk menjadi orang moderat.

 

Keterampilan melukis perlu dipoles. Setelah mengabaikan kuas, inspirasi dan keterampilan akan dicuci dengan berlalunya waktu. Saat Fu Xuan mendapati dirinya berdiri di depan kanvas yang tidak lagi bisa menggambar garis lurus, akhirnya dia panik.

 

Tapi reaksinya bukan memaksakan dirinya untuk mencintai kuasnya lagi, tapi memperkerjakan pesuruh. Setiap kali instruktur mengatur pekerjaan rumah atau entri, dia akan membiarkan orang lain melakukannya. Sekolah seni tidak kekurangan siswa berbakat tapi miskin. Fu Xuan menemukan anak yang paling dekat, sangat membutuhkan uang, dan murid-murid yang tidak biasa. Ajaibnya, dia tidak hanya berhasil mencapai tahun senior, dia juga menjadi salah satu siswa terbaik di mata guru.

 

Tapi Kompetisi Lukisan Minyak Internasional diadakan setiap lima tahun sekali, ini adalah salah satu peristiwa terpenting di dunia seni. Pesuruh Fu Xuan juga memiliki batasan, mereka ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi terkenal sehingga mereka secara alami menolaknya. Fu Xuan panik, tapi kemudian Wei Xiyan muncul dalam pikirannya.

 

Karakter Wei Xiyan ditarik, tidak mencolok, dan Wei Xiyan jarang berinteraksi dengan para siswa. Fu Xuan alami tidak tahu latar belakang keluarganya, tapi ia tahu Wei Xiyan adalah seorang yatim piatu sehingga ia memilih Wei Xiyan sebagai sasarannya. Lukisan itu adalah hasil dari kehancuran Xiyan. Dia mencurahkan semua keengganan, rasa sakit, kerinduan, kesedihan, dan kebingungannya. Dia telah memecahkan gaya halusnya yang biasa, menyempurnakan estetikaisme klasik dan abstraksi bersama. Itu sangat menakjubkan.

 

Dengan karya ini, Wei Xiyan berkesempatan menjadi salah satu pelukis minyak terbaik. Tapi Fu Xuan mencuri lukisannya, dan berani juga membawa Wei Xiyan ke pengadilan saat dia keberatan.

 

Wei Xiyan yang diusir dari rumah Ning secara alami tidak bisa melawan. Dia dipaksa puas dengan Fu Xuan dari keputusan pengadilan dan diperintahkan untuk keluar dari industri lukisan cat minyak selamanya. Wei Xiyan yang tidak bisa lagi mengangkat kuas kesayangannya menderita rasa sakit yang tak terbayangkan dan kehilangan keinginannya untuk hidup.

 

Sekarang Zhou Yun Sheng telah mengambil alih, lukisannya juga ada di studio miliknya sendiri, sehingga membuat Fu Xuan sulit untuk menjiplak. Melihat batas waktu pengajuan pekerjaan semakin dekat, dia akhirnya cemas, dia terus-menerus menelepon, dan bahkan memberi tahu Zhou Yunsheng bahwa instruktur tersebut menugaskan Fu Xuan untuk mengumpulkan kiriman.

 

Zhou Yun Sheng berjanji dan menutup telepon dengan mata gelap.

 

Dengan hati-hati ia melihat pekerjaan pada gantungan itu, memodifikasi beberapa tempat di mana ia tidak puas, dan membawanya ke ruang kerja Ning Si Nian setelah dikeringkan.

 

Itu adalah akhir pekan jadi Ning Si Nian berada di rumah untuk mengerjakan kerjaan kantor-nya. Dengan hati-hati ia membaca sebuah arsip tebal, setiap sepuluh menit ia melihat monitor itu, mendapati anak laki-laki seperti biasa berdiri dan melukis, ini membuat hatinya merasa sangat aman. Anak laki-laki itu tidak akan tiba-tiba pergi, dia akan selalu berdiri di tempat dan menunggunya.

 

Gagasan itu datang tiba-tiba, tapi itu membuatnya merasa lebih baik.

 

Ketika kembali dari pikirannya, studio itu kosong dan perasaan cemas yang familier kembali ke hatinya. Jika dia berada di kantor perusahaan-nya, dia pasti segera menelepon Zhao Jun untuk mencari anak laki-laki itu. Tapi dia ada di sini untuk melakukannya sendiri.

 

Tepat saat dia meletakkan arsipnya, pintu itu diketuk. Ning Si dengan tidak sabar bertanya, “Siapa?”

 

“Ini aku.” Suara anak laki-laki itu tajam dan manis.

 

Ning Si Nian kaku sesaat, lalu dengan segera mematikan monitor komputer, merapikan file yang berantakan dan berjalan cepat ke pintu. Dia berhenti di depan pintu untuk memperbaiki rambutnya di cermin rak buku, setelah dia puas dengan penampilannya, dia tersenyum dan membuka pintu, “Wei Xiyan masuklah.”

 

Dia secara alami meraih pergelangan tangan yang putih pada anak laki-laki itu dan membawanya ke sofa ganda. Dia ingin menuangkan secangkir kopi kepadanya, tapi entah bagaimana dia merasa bahwa minumannya tidak tepat, dan turun ke dapur untuk menuangkan segelas susu. Ketika dia kembali, dia dengan hati-hati menyerahkannya kepada Wei Xiyan.

 

Zhou Yun Sheng merasa nyaman menunggu, tapi dia menambahkan ekspresi tersanjung. Pipi sedikit merah, ditemani sepasang mata persik yang jernih dan lembab, si penggemar fanatik Ning Si hampir tidak bisa menahan diri.

 

Dengan terengah-engah, Ning Si Nian duduk di samping anak itu dan dengan lembut bertanya, “Apa ada yang ingin kamu katakan kepadaku?” Jika tidak ada, anak itu tidak mungkin mau berinisiatif untuk mendekati dirinya.

 

“aku ingin mengambil bagian dalam kompetisi lukisan cat minyak,” kata Zhou Yunsheng, dengan takut-takut mengawasinya dan berbisik dengan bibirnya yang kemerahan.

 

“Aku tahu … apa kamu tidak mendapat undangan? Aku akan segera mencarikan satu. Sebenarnya, aku akan memasukkan kamu langsung ke final.” Ini adalah kesempatan bagus untuk menunjukkan kesungguhannya, bagaimana mungkin Ning Si Nian bisa melewatkan nya bergitu saja? Sebelum selesai berbicara, tangannya sudah menelpon serangkaian nomor.

 

Kelompok Ning adalah sponsor terbesar dari acara seni ini, membawanya ke final merupan hal yang mudah.

 

“Tidak, tidak.” Zhou Yunsheng dengan cepat meraih lengannya, wajahnya yang kecil memerah, “aku punya undangan.”

 

Ning Si Nian menariknya ke pelukannya, sambil membelai rambutnya yang lembut, dia bertanya, “Kalau begitu, kenapa kamu mencariku?”

 

Si mesum, benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyentuhku ah. Zhou Yunsheng diam-diam menggertakkan giginya, kepalanya turun dengan samar-samar berkata, “Bisakah aku memasukan gambar ini?”

 

Ning Si Nian akhirnya melihat bingkai 22 × 14 di kakinya. Dia membuka penutup pelindung dan wajah si kecil gemuk Ning Wangshu muncul, terlihat agak gemuk.

 

Anak kecil berjongkok di tanah, mengenakan kemeja putih yang sangat besar, lengan ditarik tinggi-tinggi. Dia mengangkat kedua tangannya yang gemuk, sehingga orang-orang yang melihat lukisan itu melihat pigmennya menutupi telapak tangan. Di kanvas yang mencetak kakinya dengan sedikit bekas luka, di matanya itu jelas sebuah mahakarya, jadi dia tertawa terbahak-bahak, bahkan sinar matahari yang mekar di latar belakang tidak sebanding.

 

Lukisan itu penuh dengan cinta dan kelembutan di setiap goresannya. Kualitas hangat hampir memenuhi seluruh kanvas – harapan, kegembiraan, ketenangan, semangat, vitalitas dan kebahagiaan mengalir keluar dari kanvas.

 

Ning Si Nian menatap. Dia hampir lupa saat terakhir kali dia melihat senyum anaknya.

 

“Dapatkah aku membawa gambar ini ke persidangan?” Zhou Yunsheng dengan lembut menyentuh lengannya.

 

“Tentu saja kamu bisa” katanya. Dia berhenti sebentar, menambahkan, “Maukah kamu membantu menggambar potret diriku?”

 

Dia tidak akan pernah mengakui bahwa dia merasa sedikit cemburu pada anaknya sendiri.

 

“Aku akan melakukannya.” Zhou Yunsheng mengangguk, dengan hati-hati meletakkan penutup pelindung di bingkai.

 

——-

 

Fu Xuan menatap Zhou Yunsheng yang membawa lukisan itu seperti dia adalah penyelamat. Dia membuka kanvas dan menatapnya lama sekali, mendengar bocah yang didalam lukisan itu hanya imajinasinya, Akhirnya dia merasa gugup. Dia tahu bahwa lukisan itu akan menonjol, warnanya terlalu cerdas, penuh pesona dan emosi, dilukis dengan susah payah.

 

Matanya tidak bisa menyembunyikan keserakahannya. Zhou Yun Sheng tahu bahwa dia telah mengambil umpannya.

 

Saat pulang ke rumah, Ning Wangshu sedang tidur siang. Zhou Yunsheng membantunya menyelipkan, mencium wajah kecilnya yang gemuk dan berbisik, “aku minta maaf untuk memanfaatkan kamu, tapi aku akan tinggal bersamamu selama sisa hidupku sampai kau tua.”

 

Setelah dia meninggalkan ruangan, Ning Si Nian menelepon, bertanya kepadanya tentang keberadaannya hari ini, termasuk siapa yang dia temui, apa yang dia bicarakan, apa yang dia lakukan dan sebagainya. Keinginannya yang semakin intens untuk mengendalikan dan posesif membuat Zhou Yun Sheng terperangah.

 

“Wei Xiyan, apa kau di sana?” Zhao Xinfang memanggil ke luar pintu.

 

Zhou Yunsheng menutup telepon, dengan cepat mengganti pakaiannya, membuka pintu dan diam menatapnya.

 

Zhao Xinfang berpakaian rapi, menyoroti sepasang mata almondnya yang besar dan terang. Meski sudah menjelang musim gugur, ia mengenakan gaun putih murni. Dia sengaja menarik kerahnya sehingga tidak bisa menutupi belahan dadanya yang dalam. Sepasang paha putih ramping sedikit bersatu dalam postur tubuh yang seksi. Pakaianannya sangat terkesan.

 

… .. Apakah kamu siap untuk merayuku? Menarik aku ke dalam rawa perzinahan? Tatapan Zhou Yunsheng bergeser.

 

Zhao Xinfang melihat anak itu jelas menghindari memandangnya, hatinya cukup bangga. Dia sangat berpenggalaman tentang sumber kejatuhan pria. Dengan sedikit tiruan dan kepandaian, bahkan ikan besar seperti Ning Si Nian bisa ditangkap, belum lagi Wei Xiyan anak tak berdosa ini. Anak yatim piatu dan anak laki-laki yang seperti Wei Xiyan adalah yang paling bersemangat untuk kehangatan ibu. Selama dia tersenyum, berkata beberapa kata, yang lain patuh mengikuti permintaannya.

 

Orangtua Wei Xiyan meninggalkan warisan besar untuk dirinya, meski tidak bisa dibandingkan dengan Ning Group, cukup bagi orang biasa untuk makan, minum dan menikmati beberapa pakain. Zhao Xinfang berpikir untuk waktu yang lama, dan akhirnya memutuskan untuk membawa Wei Xiyan ke bawah sayapnya untuk digunakan sendiri.

 

Tidak hanya wanita, pria juga tidak pernah melupakan cinta pertama mereka dan untuk pertama kalinya. Zhao Xinfang rencananya akan menjadi Wei Xiyan yang pertama.

 

“Saudi ipar, apa kamu butuh sesuatu?” Zhou Yun Sheng terdorong ke pojok oleh Zhao Xinfang. Bagian atas dan kiri rak buku masing-masing memiliki kamera, gambarnya akan sangat jelas, dan juga tampilan close-up.

 

Zhao Xinfang tidak sadar, kedua tangannya berada di dinding di kedua sisi pipi anak laki-laki itu. Dada penuhnya menggosoknya, suaranya malas dan menawan: “aku sendiri yang sedang mencari-mu untuk mengobrol. Saudara-mu tidak ada di rumah sepanjang hari, aku sangat kesepian. ”

 

Zhou Yun Sheng merasa jijik. Dia enggan tersipu, lalu mengecilkan lehernya dan merunduk di bawah ketiak Zhao Xinfang.

 

“Apa yang kamu takutkan? Takut aku akan memakanmu?” Zhao Xinfang tertawa. Dia menariknya kembali, menahan rahangnya dan menciumnya. Ciuman ini sangat singkat, karena dalam dua detik remaja itu berjuang keras dan mendorongnya pergi. Dia menangis dan berlari langsung ke kamar mandi. Menghadapi toilet dia mulai muntah, bahkan tidak berhenti saat hanya empedu yang keluar.

 

Sialan, karena itulah dia tidak suka berhubungan intim dengan wanita.

 

Langit-langit kamar mandi dilengkapi dengan kamera, diam-diam menembaki adegan ini.

 

Wajah Zhao Xinfang tiba-tiba pucat. Bahkan jika kamu mengancam akan membunuhnya, dia tidak akan pernah mengantisipasi reaksi ini. Tidakkah seharusnya orang normal menekannya di lantai untuk melakukan apapun yang mereka inginkan?

 

Dia merasa malu, marah, tapi kebanyakan panik. Dia mengancam melalui pintu, “Wei Xiyan, jika kamu berani mengatakan pada Ning Si apa yang terjadi hari ini, aku akan mengatakan kepadanya bahwa kamu bermaksud memperkosaku. aku adalah istrinya, kamu hanya seorang saudara laki-laki brengsek – kamu tahu siapa yang akan dia percayai. ”

 

Anak laki-laki itu menegang, terbaring di toilet sambil menggigil, sepertinya ia takut dan menangis begitu Zhao Xinfang pergi. Setelah sekian lama ia perlahan mendongak, memperlihatkan wajah pucat dan mata memerah.

 

=======================

 

 

End of The Chapter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.