Novel 2 Moons – Chapter 26 (KIT)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Di mal setelah kuliah…

 

“Sial! kenapa aku harus berkencan dengan temanku sendiri sepulang kuliah seperti ini? Kit, kamu butuh kencan. Serius.” Beam mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

 

Kit hanya meminta Beam untuk memberinya tumpangan untuk membeli beberapa alat tulis, tapi Beam mengeluh seperti Kit telah merampas seluruh hidupnya.

 

Maafkan Aku jika aku merampas satu atau dua jam kencan mu dengan Nong Fha.
gumam Kit dalam hati, merasa tidak enak.

 

Seharusnya bukan masalah besar bagi Beam. Dan Kit yakin itu.

 

Sebenarnya Kit benci pergi ke mal sendirian. Di samping Kit lah satu-satunya orang di kelompok nya yang tidak dapat melakukan apapun sendirian. Kit butuh teman atau kencan.

 

Sekarang Kit tidak punya siapa-siapa, dan karena itulah Kit mengajak Beam untuk menemaninya pergi ke mal.

 

“Tidak, aku tidak menginginkannya sekarang.” Kit menjawab sambil mencoba pena biru yang dipegangnga untuk kuliahnya.

 

“Tentu saja, karena sekarang kamu memiliki ‘Bulan Kampus’ yang rela menjadi pelayananmu.” Beam menggoda Ki dan tertawa tentang lelucon ini.

 

Tapi saat Kit terlihat tidak bereaksi apa-apa, Beam bisa melihat ada yang salah dengan Kit.

 

Kit kembali teringat pembicaraan manis antara Ming dan mantan pacarnya pada beberapa hari terakhir. Perasaan aneh yang tidak bisa Kit jelaskan. Setelah Ming menjelaskan semuanya kepada Kit dan kemudian Kit berpikir dan merasa aneh sendiri.

 

Ketika Ming mengatakan yang sebenarnya. Alih-alih mempercayainya, Kit merasa lebih aneh lagi. Kit merasa tidak ingin mempercayainya. Saat itu Ming tampak seperti sudah terbiasa dengan semua yang terjadi antara Ming dengan Moo Wan.

 

“Apa yang terjadi denganmu? Lihatlah wajahmu sekarang juga.” Beam menusukku dengan pena. “Bicaralah padaku luapkan semuanya padaku.”

 

“Tidak ada.” Jawab Kit cepat.

 

Beam selalu usil. Kit dan Beam sudah sama-sama tahu, karena keduanya adalah sahabat baik.

 

“Aku tidak percaya, kita berteman sejak lama, aku tahu, aku bisa melihatnya, ada sesuatu yang mengganggu mu.” ujar Beam tidak begitu saja percaya pada Kit.

 

“Sungguh tidak ada. Aku sudah selesai memilih. Apa kamu menginginkan sesuatu?.” Kit mengalihkan topik pembicaraan.

 

“Sial Kit, jangan mengubah pokok pembicaraan, lupakan hal lain, bicaralah.” Beam memegang bahu Kit dengan lengannya.

 

Kit merasa risih dengan kelakuan Beam. Begitu banyak orang dan begitu banyak wanita di sekitar situ.

 

“Apa kamu ingin mengatakannya atau tidak? Jika tidak, maka aku tidak akan mengatarmu pulang ke asrama, kamu harus kembali ke asrama sendiri.” ancam Beam.

 

“Beam. Lepaskan aku.” ujar Kit.

 

“Ayo cerita.” desak Beam.

 

“Lepaskan aku dulu, aku tidak bisa bernapas.” seru Kit.

 

“P’Kit”

 

Tiba-tiba seseorang memanggil nama Kit. Kit terbatuk tepat setelah Beam melepaskannya. Kit menatap ke sumber suara.

 

Ming. ‘Bulan Kampus’ yang baru. Sumber masalah yang selalu membuat Kit pusing telah berdiri di depannya.

 

“Sampai nanti di kasir.” Alih-alih memberi salam, Kit memutuskan untuk menjauh dari Ming.

 

Kit merasa itu kasar dan aneh, Kit tahu, tapi ini semua karena Ming dia menghindar.

 

“Hei, Kit?!.” seru Beam melihat Kit berlalu begitu saja. “Salam ‘Bulan Kampus’ baru.” Beam mulai menyapa.

 

Ming membalas salam Beam, Ming segera menyusul Kit ke kasir.

 

Beam segera kabur setelah sebelumnya bertanya pada Kit.

 

“Sial, apa kalian sudah menjadi pasangan sekarang?” seru Beam bertanya menggoda Kit. Kemudian dia pergi meninggalkan Kit dan Ming di kasir.

 

Kit rasanya ingin membanting keranjang yang dipegangnya ke kepala Beam sekarang juga.

 

“P’…” panggil Ming.

 

“Berapa ?” tanya Kit pada kasir tidak menghiraukan Ming.

 

Si kasir terus menatap Ming alih-alih bekerja dan memberi tahu Kit harganya. Kit harus bertanya lagi pada si kasir. Kit merasa si kasir menyebalkan karena si kasir sama sekali belum memindai kode bar yang ada di barang. Jadi terpaksa Kit harus diam dan mendengarkan Ming memanggilnya.

 

“Ada apa? Kenapa P’ tidak membalas pesan ku?” tanya Ming.

 

Tanpa basa-basi Ming langsung ke inti masalahnya. Suara lembut dan memohon yang keluar dari mulut Ming membuat si kasir melihat ke belakang dan ke depan menatap wajah Kit dan Ming bergantian.

 

“Aku sedang terburu-buru, bisakah sedikit lebih cepat.” ujar Kit pada si kasir.

 

Kit tidak tahu apa yang si kasir pikirkan.

 

Ming meraih sesuatu dan meletakkannya di atas meja kasir dan berkata…

 

“Tambah ini, jadi semuanya berapa?.” tanya Ming pada si kasir.

 

Terpaksa Kit harus mulai berbicara dengan Ming.

 

“Apa ini? aku tidak akan membayarkannya.” ujar Kit ketus.

 

“Aku yang akan membayarnya, P’ jangan khawatir.” ujar Ming. “Akhirnya P’ mau berbicara dengan ku, Sungguh, Apa yang terjadi dengan P’ dalam beberapa hari ini?” tanya Ming.

 

Kit menghela nafas panjang.

 

“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Tolong beritahu aku P’, aku memang sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa mengenai P’.” rengek Ming.

 

Kata-kata Ming sedikit menghambat Kit. Kit tidak tahu harus berkata apa karena Kit bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Kit juga membenci perasaannya sekarang. Biasanya Kit selalu berbicara atau mengatai Ming. Tapi ketika sampai pada hari ini, itu sama sekali tidak bisa berjalan seperti biasanya.

 

“Totalnya 1037 baht.” ujar si kasir memberitahu jumlah yang harus dibayar.

 

Kit sedikit kaget mendengar jumlah yang harus dibayar. Dia menghitungnya lagi seharusnya tidak lebih mahal dari 400 baht. Kemudian mengambil uang tunai dari dompetnya. Tapi…

 

Ming mengeluarkan Platinum Card nya dan sudah membayarkan belanjaan Kit.

 

“P’ bisa membayar semua belanjaan P’ padaku nanti.” ujar Ming, “Jadi… setelah ini, P’ harus mentraktirku minum Starbuck, Bagaimana?” ajak Ming.

 

Belanjaan Kit sekarang berada di tangan Ming.

 

Ming tidak sebodoh apa yang Kit pikir. Dia mengerjai Kit dan sekarag Kit harus membelikannya secangkir kopi.

 

“Sial. Aku akan membayar belanjaanku sekarang juga.” Kit mencoba membayar belanjaannya dengan uang tunai.

 

Tapi tiba-tiba Ming meraih punggung Kit dan berjalan mengajaknya pergi.

 

Kit akan menggunakan pena itu malam ini. Dia tidak bisa meninggalkannya bersama Ming.

 

Kit menghela napas dalam-dalam sebelum mengikuti Ming dengan terpaksa. Kit saat itu, sama sekali tidak melihat Beam.

 

Setelah sampai di kedai kopi Starbuck, Kit merasa ingin pergi saja. Kopinya memang enak, tapi orang yang duduk tepat di depan Kit saat ini yang membuat kopinya menjadi sedikitcpahit.

 

Ming yang meminta secangkir kopi, tapi dia sama sekali tidak menyentuhnya. Hanya duduk di sana dan menatap Kit.

 

Kit merasa sangat canggung dan tidak tahu harus berbuat apa. Kit merasa sangat tidak nyaman.

 

“Bisakah P’ ceritakan sekarang kenapa P’ tidak membalas pesan ku?.” tanya Ming.

 

Kit menyeruput kopi sedikit sebelum menjawab.

 

“Sibuk” jawab Kit singkat.

 

“Sibuk?” tanya Ming.

 

“Iya.” jawab Kit

 

“Apa sibuk sekali?” Mata Ming terlihat sedih. “Sibuk atau tidak mau bicara denganku lagi?”.

 

Sial Kenapa aku harus merasa bersalah? Kenapa juga dia harus memasang wajah sedih di hadapanku? Itu bukan masalah besar. Itu hanya sebuah pesan.
gumam Kit dalam hati.

 

“Apa aku mengganggu mu P’?.” tanya Ming lagi.

 

Ming seharusnya tidak menjadi orang yang sedih karena Kit. cukup hanya dengan tersenyum dan orang-orang akan berkerumun padanya.

 

“Aku akan berkata jujur ​​denganmu.” Kit pikir dia harus mengatakannya.

 

“Apa?” tanya Ming penasaran.

 

“Mmmm….”

 

“Tunggu sebentar” Ming mengacungkan jari telunjuknya untuk menghentikan Kit. “Aku harus bersiap-siap sebelum P’ menghancurkan hatiku.”

 

Ming meminum kopinya dan menarik napas dalam-dalam.

 

“Memangnya menurut kamu, apa yang akan aku katakan?” Kit penasaran.

 

“P’ akan mengatakan; ‘Pergilah dariku, Aku tidak akan pernah menyukaimu, kamu playboy, kamu pembohong palsu dan tidak pernah tulus kepada siapapun’.” Ming menirukan gaya Kit sambil berbicara secara emosional. “Apa aku benar?”

 

Ming berbicara dan ekspresi wajahnya yang tadi tampak emosional menjadi sedih lagi.

 

Kit akhirnya tertawa kecil melihat kelakuan Ming barusan.

 

“Apa? Berhenti menertawakan ku.” ujar Ming.

 

“Tapi kamu lucu.” ujar Kit.

 

“Jadi, apa aku benar?.” tanya Ming.

 

“Sebagian.” jawab Kit.

 

Ming terdiam sejenak sebelum berkata.

 

“Bagian mana yang benar? Tolong jangan pada dua kalimat pertama.” Ming hampir berdoa keras di Starbucks.

 

“Hmm… kamu ini.” Kit menghela napas. “Kamu harus berhenti bicara dan mendengarkanku saja, Ok?”

 

Kit memutuskan untuk membuat Ming diam sebelum dia mulai berbicara lagi.

 

“Dari cerita yang aku dengar dari mu malam itu, kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu sudah tidak ada hubungan lagi degan Moo Wan. Kamu putus dengannya karena aku, dan selama berkencan dengannya, apakah kamu tidak suka atau tidak mencintainya sama sekali? Aku merasa kasihan padanya. Dan hal itu membuatku berpikir jika kita benar-benar berkencan dan kamu kebetulan memiliki perasaan yang sangat istimewa kepada orang lain. Apa aku akan menjadi … ”

 

Belum selesai Kit berbicara, Ming sudah memotongnya.

 

“Apa P’ mau berkencan dengan ku?” Ming berteriak keras.

 

Akhirnya Kit terpaksa harus menggunakan taggannya untuk menutup mulutnya.

 

“Sial Ming, aku bilang jangan bicara.” seru Kit.

 

Kit mulai menyesal sekarang. Kit mulai merasa bahwa itu adalah keputusan yang salah. Tapi Ming terus saja tersenyum lebar.

 

“P’ mengatakan itu sepertinya P’ ingin mengujiku sebelum kita berkencan.” ujar Ming.

 

“Aku tidak pernah mengatakan kakau aku akan berkencan denganmu.” seru Kit.

 

“Tapi P’ tadi memikirkannya, memikirkan tentangku.” ujar Ming.

 

“Sial!.” Kit mengumpat.

 

“Untuk beberapa hari…” Ming mulai bicara lagi.

 

“Diam.” seru Kit.

 

“Tidak membalas pesanku, ternyata P’ sedang memikirkan hal ini.” ujar Ming melanjutkan. “Karena P’ khawatir aku tidak bersikap tulus kepada P’. Oh! sial. Aku sangat bahagia sekarang!.” seru Ming.

 

“Kamu seharusnya merasa sedih.” Kit mengeluh. “Kamu bilang kamu bodoh dihadapanku, tapi sekarang kamu bisa dengan jelas menganalisa pikiranku, sial!.”

 

“Setidaknya P’ memberi aku kesempatan untuk membuktikan nya, bukan?” Ming terlihat bahagia dia bertingkah seperti orang bodoh daripada memikirkannya atau menganggapnya serius.

 

Kit menghela napas dalam dan sangat menyesal. Ini semua tidak terlalu jelas dan tidak banyak membantu.

 

Memang benar apa yang dikatakan Ming, bahwa lebih dari setengah dari apa yang dia tebak tentang Kit benar. Kit tidak ingin membiarkan Ming tahu. Itu karena Kit tidak ingin patah hati.

 

“Hey Kit” Beam berjalan tepat ke arah Kit entah dari mana saja dia.

 

“Siap pulang ke asrama?.” tanya Beam.

 

“Apa? Mmmm… ” Kit belum benar-benar siap.

 

Beam hanya muncul di tengah pembicaraan antara Kit dan Ming.

 

“Harus sekarang?” tanya Kit.

 

“Ya, kamu sudah selesai dengan urusanmu bukan?” ujar Beam.

 

Apa yang ada di pikiran Beam sekarang. Kit melihat sahabatnya sendiri terlihat agak marah dan kesal.

 

Kit berdiri dan meraih kopinya sebelum meninggalkan kedai kopi Starbucks.

 

“Aku bisa memberi P’Kit tumpangan.” Ming berbicara dan tersenyum kepada Beam.

 

“Tidak terima kasih.” Balas Beam.

 

Kata-kata dari Beam Itu mengejutkan Ming karena dia tidak pernah melihat Beam dalam keadaan seperti itu.

 

“Dia pergi denganku, jadi dia harus pulang bersamaku.” seru Beam.

 

“Apa kamu tidak menemui Nong Fha?” Kit berbisik kepada Beam. “Kamu bilang ingin pulang bersamanya.”

 

“Tidak.” jawab Kit singkat. “Ayo pulang denganku.” ajak Beam.

 

“Hey, apa yang salah denganmu?” tanya Kit heran dengan sikap Beam.

 

Beam menarik Kit keluar dari kedai kopi itu dan bahkan tidak membiarkan Kit berbicara kepada Ming.

 

 

Sesampainya di asrama, Kit langsung bertanya pada Beam. Kit merasa sangat penasaran bagaimana bisa Beam bersikap tidak ramah seperti tadi.

 

“Apa yang salah denganmu Kenapa kamu sangat kesal? Atau Nong Fha membatalkan kencanmu?” tanya Kit.

 

Begitu sampai di kamar, Kit mulai mencecar Beam dengan pertanyaan. Karena dalam perjalanan pulang, Beam bahkan tidak berbicara dengan Kit sepatah kata pun. Hanya terlihat wajah murung. Sepertinya Beam sedikit mabuk.

 

Setelah membuka kamar, Beam berjalan masuk ke dalam kamar Kit.

 

Beam datang ke ruangan yang salah saat dia sedang mabuk. Dia melempar tas punggungnya ke sudut ruangan.

 

Kit tidak bisa membiarkan buku-bukunya berserakan seperti itu. Jadi Kit memutuskan untuk membereskan ransel Beam.

 

“Ada masalah apa?.” Kit melepaskan dasi dan bertanya-tanya pada Beam.

 

“Kamu …” Beam mengoceh sedikit sebelum memutuskan untuk bertanya kepada Kit. “Aku sudah menyuruh mu untuk mencari pacar, tapi aku tidak pernah berpikir kalau kamu akan mendapatkannya secepat ini.” gumam Beam.

 

“Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Kit heran.

 

“Aku sudah mendengarkan percakapan antara kamu dengan Ming, aku merasa kamu juga memiliki perasaan lebih untuknya.” ujar Beam.

 

“Diam, apa kamu sudah gila? Aku suka wanita. Wanita dengan payudara.” Kit berkikah.

 

“Oh benarkah?” Beam terdengar tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kit.

 

Beam tertawa.

 

Kit benci tawa sarkastis itu. Beam tidak pernah percayanya.

 

“Jadi, apa yang membuat mu marah?” tanya Kit.

 

“Aku mendengar kalian kalimat demi kalimat. Awalnya, Ming sangat baik, tapi ketika aku mendengar cerita itu dari mu…” Beam menarik nafas berat. “Aku tidak ingin kamu terluka.” lanjut Beam.

 

Mata Kit berkedip melihat Beam di tempat tidurnya. Beam tidak pernah mengatakan hal seperti ini pada Kit. Tidak pernah sama sekali.

 

“Terima kasih” ujar Kit.

 

“Tidak bisakah kamu melihat wajahnya? Hanya satu kedipan, wanita akan berbaris untuknya, mungkin antreannya tidak akan sepanjang seperti Phana, tapi percayalah, dia berbahaya.” lanjut Beam.

 

Kit benar-benar kaget dengan apa yang barusan Beam katakn. Kit tidak pernah tahu kalau Beam sangat memperhatikannya.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Kit.

 

Kit bisa sangat pintar untuk semua orang, tapi tidak untuk dirinya sendiri. Kit berpikir dia sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa.

 

Tok!… Tok!… Tok!…

 

Seseorang mengetuk pintu sebelum Beam memberi tahu pada Kit jawabannya. Beam memberi sebuah tanda untuk menghentikan Kit membuka pintu.

 

Beam ingin membukanya sendiri.

 

Hey bukankah ini kamarku?
pikir Kit.

 

Orang yang datang ke kamar Kit ternyata adalah Phana. Dan yang berada di belakangnya adalah …

 

Ming

 

“Aku melihatnya duduk dan menunggu di depan apartemen mu, jadi aku memutuskan untuk membawanya kesini.” Phana menatap Kit dan Beam bergantian. “Apa yang terjadi dengan kalian berdua?” tanya Phana.

 

“Senang kamu ada di sini.” Beam berbicara dengan Phana. “Dan kamu juga.” Beam menatap Ming.

 

Ming juga memiliki wajah yang terlihat heran. Tapi Ming lebih tertarik menatap Kit.

 

“Apa yang terjadi?” tanya Phana lagi.

 

“Aku berkencan dengan Kit.” jawab Beam enteng.

 

Apa-apaan??!?!?

 

Kit kaget dengan apa yang dikatakan Beam barusan.

 

“Apa?!.” seru Kit.

 

“Apa yang sedang terjadi?” Phana masih tidak percaya.

 

Ming hanya berdiri tanpa suara.

 

“Sebentar sebelum kalian masuk, Kit?.” Beam berpaling menatap pada Kit.

 

Sementara Kit masih diam mematung, dan tidak bisa berkata apa-apa.

 

Dia pasti sudah gila.
pikir Kit.

 

“Jadi saya harus memberi tahumu kalau sekarang dua sahabat baik mu saling menjalin hubungan. Semoga ini tidak mengejutkan mu.” Beam berbicara kepada Phana sebelum beralih menatap Ming.

 

“Dan untukmu Ming, karena sekarang Kit adalah pacarku, sebaiknya kau menjauh darinya.” seru Beam pada Ming.

 

“Sial Beam …” Phana melongo.

 

“P’Kit …” Ming sangat terkejut dan dia berbalik untuk bertanya kepada Kit.

 

“Apakah ini benar? Kamu sedang bercanda kan? Karena kita baru saja bicara beberapa waktu yang lalu.” Ming terlihat sedih.

 

Kit mencoba menjawab bahwa itu tidak benar, tapi Beam mencubit punggungnya dengan keras.

 

“Sial… Aduh!”seru Kit.

 

Ming bahkan tidak mau mendengar jawabannya. Ming berjalan keluar ruangan dan terlihat sangat marah.

 

“Sial Beam!” Kit berteriak pada Beam. “Apa yang kamu lakukan? Ini tidak lucu. permainan cinta segitiga? Tidak lucu.”

 

“Kamu terlihat frustrasi, jadi aku membantumu.” jawab Beam santai.

 

“Bagaimana bisa? kamu membuat ini menjadi semakin terburuk.” seru Kit.

 

“Pria seperti dia layak mendapat pelajaran, apa menurut mu hanya mantan pacarnya saja yang pantas terluka? Dia pasti melakukannya pada 10 atau 20 wanita yang kecewa karena dia pemainkan.” jelas Beam.

 

“Tapi itu masa lalu, bukan?” tanya Kit.

 

“Kenapa kamu membelanya?.” tanya Beam.

 

“Aku tidak tahu mengapa ini berhubungan denganmu?” tanya Kit masih belum mengerti.

 

“Kamu benar, kenapa?” Beam meraih tas punggungnya dan meninggalkan ruangan.

 

Beam menutup pintu dengan keras.

 

Phana menatap Kit saat Kit sedang merasa stres dan tidak bisa bicara apa-apa.

 

“Saya hanya ingin mengambil kertas-kertasku….” Phana berjalan untuk meraih lembaran kertas itu di meja Kit. “Dan satu lagi, sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sudah sejak lama, tapi tidak pernah memiliki kesempatan.” lanjut Phana.

 

“Apa?.” tanya Kit.

 

“Kurasa Beam diam-diam jatuh cinta padamu.”

 


 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.