Novel 2 Moons – Chapter 27 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Phana mengirim pesan pada Yo.

 

Phana :
P’ harus pergi ke asrama Beam dan Kit, P’ akan segera kembali.

 

Phana memberi tahu Yo melalui pesan yang dikirimkannya. Yo mengiriminya stiker ‘Oke’ tapi itu sepertinya sudah satu jam yang lalu. Sampai sekarang Phana belum kembali.

 

Yo tidak menunggu Phana. Sungguh. Yo hanya melakukan kegiatan lain seperti biasanya sementara Phana pergi. Agar tidak merasa bosan, Yo berguling-guling di atas tempat tidurnya, membaca Manga sambil menunggu, bermain dengan standing figure nya tapi belum melihat tanda-tanda Phana akan datang.

 

Seharusnya Yo belajar, karena ini adalah awal semester baru dan dua bulan lagi sebelum Ujian tengah semester dilaksanakan. Jadi Yo bisa santai sedikit.

 

Tapi waktu santai Yo tidak berlangsung lama. Karena sekarang masalahnya ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Yo segera membuka kan pintu.

 

Ternyata didepannya sudah berdiri sahabatnya Ming.

 

Yo tidak tahu dari mana saja dia, sejak keduanya pergi makan malam hari ini.

 

“Dari mana saja kamu?” Yo mencoba bertanya kepada Ming. Tapi Ming terlihat tidak benar-benar mendengarkan pertanyaan dari Yo.

 

Ming berjalan melewati Yo masuk ke dalam ruangan dan berbaring di tempat tidur Yo. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang salah dengan Ming.

 

“Apa yang telah terjadi?” Yo langsung bertanya kepada Ming. “Ada apa? Tentang P’Kit?”

 

“Ummm … m …” jawab Ming.

 

“Apa masalahnya?” tanya Yo lagi.

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi lagi, aku hampa dan tidak tahu harus merasakannya seperti apa.” jawab Ming.

 

“Ayo ceritakan padaku.” Yo menarik baju Ming untuk memaksanya duduk.

 

Wajah Ming sekarang terlihat sangat sedih dan tidak tampan seperti biasanya.

 

“Aku pergi menemui P’Kit di asramanya. P’Pha juga ada di sana.” jelas Ming memulai.

 

“Oke, Lalu?.” tanya Yo penasaran.

 

“P’Beam bilang dia sedang berkencan dengan P’Kit.” lanjut Ming.

 

“Apa… !?!?!?!” Yo berteriak keras.

 

Yo merasa teriakannya cukup keras hingga Pring dari kamar sebelah bisa mendengarnya.

 

“Tidak mungkin.” seru Yo.

 

“Aku tahu, aku sangat bingung.” Ming menjatuhkan tubuhnya di ranjang lagi.

 

“Mereka pasti sedang mengerjaimu, mereka itu berteman.” jelas Yo.

 

“Sial Yo, mereka pacaran!.” Ming berteriak keras seperti sedang kesurupan.

 

“Sialan, kami sudah bicara sebelumnya dan P’Kit membuatku merasa dia punya perasaan untukku, atau apakah aku salah Yo?.” wajah Ming terlihat kecewa.

 

“Hey Ming, tenanglah.” Yo berusaha menenangkan Ming.

 

“Tenang? Bagaimana bisa? Hatiku sudah hancur berkeping-keping.” seru Ming.

 

“Ini aneh, tidakkah kamu merasa ini semua sungguh aneh?” ujar Yo.

 

“Aku tidak tahu.” jawab Ming.

 

Ya. Yo juga sebenarnya tidak tahu apa yang tengah terjadi antara Ming, Kit dan Beam. Yo tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisaYo lakukan hanyalah menepuk punggung Ming mengusapnya dengan lembut mencoba memberi rasa nyaman karena wajahnya sekarang terlihat bingung, sedih, dan frustrasi.

 

“Pasti ini karma untukku.” Ming menyebutkan tentang Karma. “Kencan dengan seseorang, tapi meninggalkannya untuk orang lain.”

 

“Mmmm…” Yo bingung harus berkata apa.

 

“Sekarang aku sangat iri padamu dan P’Pha.” Ming menepuk kepalaku. “Aku pergi dulu, tolong pegang telepon ku dulu, Ok?” ujar Ming pamit.

 

“Kemana kamu akan pergi?” tanya Yo.

 

“Minum.” jawab Ming singkat.

 

“Aku akan pergi bersamamu.” seru Yo.

 

“Tidak apa-apa, aku akan pergi dengan teman-teman fakultas Teknik, mereka akan menerkm mu kalau kamu ikut, bukankah kamu takut?” ujar Ming.

 

Yo terdiam setelah mendengar kata-kata dari Ming tadi itu. Yo Masih ingat teman-teman Ming pada saat malam kompetisi. Mereka agak menakutkan bagi Yo.

 

Dan satu hal lagi, Phana sudah kembali. sangat.

 

“Ming, apa kamu baik-baik saja?” Phana bertanya pada Ming.

 

“Aku tidak tahu, tapi …” Ming mengangkat bahunya. “Tolong jaga teman saya di sini. Oh iya, Ngomong ngomong, titik lemahnya ada di paha dekat dengan …”

 

“Ming, tutup mulutmu!.” Yo berteriak menghentikan perkataan Ming.

 

“Bye…” Ming pamitan.

 

Ming menepuk bahu Phana dan berlari keluar ruangan.

 

Phana terlihat terdiam sejenak sebelum menutup pintu kamar Yo.

 

Yo berkedip dan menatap Phana.

 

Phana menatap Yo dengan penuh rasa ingin tahu.

 

“Apa yang harus P’ pikirkan terlebih dahulu? Antara bagaimana Ming tahu tentang titik kelemahan mu dan apa Ming berkata benar tentang titik kelemahan mu?.” Phana menjatuhkan dirinya duduk tepat di samping Yo.

 

“Saat kamping sekolah, dia memegangku dengan erat dan menggodaku.” Yo memalingkan mukanya.

 

“Sungguh? Hanya menggoda?” Phana mendekatkan wajahnya pada Yo.

 

“Ya, sungguh, hanya menggoda.” Yo mendorong wajah Phana menjauh.

 

Wajah Phana terlihat seperti ingin menerkam Yo.

 

“Kenapa Yo begitu takut pada P’? Sekarang kita sudah resmi berpacaran. Ingat?” Phana tertawa.

 

“Lihatlah wajah P’ sekarang, Menakutkan.” jawab Yo.

 

“Masih malu-malu di depanku?” suara Phana terdengar sedang mengendus di pipi Yo.

 

Tidak mencium tapi mengendus. Itu bahkan membuat wajah Yo tersipu lebih dari sekedar berciuman.

 

“P’Pha … Hentikan.” seru Yo merasa geli.

 

“Jelas, Yo tidak hanya memiliki titik lemah di paha.” ujar Phana.

 

“Dimana lagi?” tanya Yo.

 

“P’. P’ adalah titik lemah Yo.” Phana menggombal.

 

Yo akan membiarkannya untuk yang satu ini. Phana memang benar-benar. Yo menggunakan bantal untuk mendorong wajah Phana. Yo kemudian berbaring.

 

Phana melempar bantalnya ke lantai dan merangkak tidur di sebelah Yo. Phana membuka lembaran kertas yang diambilnya dari Kit. Inilah kebiasaan khas Mahasiswa tingkat atas. Belajar sepanjang waktu tidak perduli dimana pun dan kapan pun.

 

“Belajar dengan giat.” ujar Yo.

 

“Jika P’ malas, bagaimana P’ bisa menjagamu di masa depan.” jawab Phana.

 

“Oi, apa P’ serius?” tanya Yo.

 

“P’ sangat serius, jika P’ dokter yang bodoh dan malas, pasti P’ tidak bisa mengurus anak kaya sepertimu.” jawab Phana.

 

Yo tertawa terbahak-bahak.

 

Phana mengubah posisinya. Sekarang dia tidur di atas perut Yo dan terus belajar.

 

“Hei … ini perutku bukan bantal.” Yo protes.

 

“Sungguh, sangat lembut, P’ kira ini bantal.” ujar Phana.

 

“P’Pha …” Yo mengacak-acak rambut Phana, sementara Phana tertawa tak henti-hentinya.

 

Yo sangat senang sekarang memiliki Phana bersamanya saat ini. Tapi Yo sangat khawatir juga dengan Ming.

 

“P’Pha.” ujar Yo.

 

“Ya.. ?” tanya Phana lembut.

 

“P’Beam dan P’Kit, apakah mereka benar-benar pacaran?” Phana meletakkan kertas-kertasnya dan berbalik menata Yo.

 

“Entahlah.” jawab Phana.

 

“Bagaimana bisa …?” tanya Yo lagi.

 

“P’ merasa aneh, tadi P’ pergi untuk berbicara dengan Beam sebelum kembali ke sini.” Phana mulai menelaskan.

 

“Apa yang dia katakan?” tanya Yo.

 

Phana mengetuk kepala Yo.

 

“Jika P’ katakan, Yo akan memberi tahu teman mu.” lanjut Phana.

 

“Bukankah itu informasi yang harus kukatakan pada Ming?” ujar Yo.

 

“Jangan khawatir.” Phana mendekatkan wajahnya ke wajah Yo. Hampir mencium Yo kali ini.

 

Yo hanya bisa menatap dan berkedip ke arah Phana.

 

“Semuanya akan baik-baik saja.” Phana menatap Yo seperti sedang memikirkan sesuatu.

 

Kali ini Phana tersenyum mesum.

 

“Benarkah Yo memiliki kelemahan di paha?” tanya Phana tiba-tiba.

 

Yo kaget.

 

Phana mulai menyentuh kaki Yo. Tiba-tiba Yo merinding dan mencoba meghindar dari Phana, tapi sebenarnya Yo tidak bisa ke mana-mana. Tempat tidurnya sangat kecil.

 

“Biarkan P’ mencobanya…” ujar Phana lirih.

 

“P’Pha… tidak bisakah kau lihat? Aku merinding!.” Yo berteriak pada Phana seraya memukul kepalanya tapi tidak terlalu keras selama dua atau tiga kali untuk menghentikan aksi Phana.

 

Tapi itu tidak berhasil. Phana menggunakan jari-jarinya untuk menelusuri kaki Yo.

 

“Sial. jangan sentuh itu!” Teriak Yo.

 

“Oi sudah sampai Ha Ha Ha.” Phana tertawa.

 

Kali ini dia memegang kaki Yo dan menempelkan wajahnya tepat di sebelah wajahku.

 

Kenapa dia suka menggodaku di tempat tidur sesering ini? Sejak kita pergi ke pantai saat pemotretan.
pikir Yo.

 

“Apa P’ tidak mau melakukan hal lain?”
Yo bertanya kepada Phana setelah dia menggoda Yo.

 

Phana berbaring di samping Yo dan menatapnya.

 

Jujur saja, jika Phana bukan orang yang istimewa di hati Yo, berbaring disebelahnya mungkin Yo tidak akan merasakan apa-apa. Tapi di sini berbeda, Phana begitu tampan dengan wajah malaikat. Kulit wajahnya sempurna, hidungnya sempurna, dan alisnya pun sempurna.

 

Orang-orang akan iri karena Phana terlahir dengan penampilan sempurna seperti ini.

 

Tidak hanya Phana yang menatap Yo, sekarang Yo juga menatap Phana. Keduanya saling tatap satu sama lain sekarang.

 

“Bisakah P’ membawa Yo pulang?” Phana bertanya. “P’ benar-benar ingin membawa Yo ke kamar P’.”

 

“Apa P’ sedang membicarakan boneka ini?” Yo mengubah topik pembicaraan dengan menunjuk hewan-hewan boneka yang ada di tempat tidur Yo.

 

Phana melirik boneka-boneka itu dan menggeser boneka-boneka itu ke lantai.

 

“P’Pha …” Aku menjerit. “Apa yang kamu lakukan?”

 

“Aku hanya butuh bonekaku yang sekarang berada di tempat tidur, mengerti?” ujar Phana.

 

“Tidak” seru Yo.

 

“Setuju.” Phana menyimpulkan jawaban Yo olehnya sendiri.

 

Phana mendekatkan wajahnya ke wajah Yo lagi.

 

Jika P’Pha terus melakukan ini pada ku, kenapa dia tidak menciumku sekalian.
pikir Yo dalam hatinya.

 

“Bolehkah P’ mencium Yo?.” ujar Phana lembut.

 

Setelah Phana bertanya, tanpa menunggu jawaban dari Yo, dia langsung menciumnya. Tidak seperti sedang berciuman. Itu lebih seperti kecupan, dengan bibir Phana yang menyentuh bibir Yo ciuman itu berlangsung dengan sangat cepat. Dan kemudian Phana mengulanginya lagi dan lagi.

 

Chup… Chup… Chup dan Chup…

 

Detak jantung Yo meningkat ketika hal itu dilakukan Phana padanya.

 

“Sudah cukup.” Yo mendorong Phana agar dia berhenti.

 

“Bibir Yo lembut.” ujar Phana.

 

“Berhenti” seru Yo.

 

“Kenapa?” tanya Phana.

 

“Ini bukan ciuman, ini kecupan.” Yo mengajari Phana seperti dia masih anak kelas satu.

 

“Kenapa? Yo ingin ciuman yang sebenarnya?” tanya Phana menggoda Yo.

 

Yo sebenarnya tidak bermaksud untuk mengatakan itu.

 

“Baiklah kalau begitu…” ujar Phana lagi.

 

Jika Phana ingin mencium Yo, maka Phana tidak perlu bertanya lagi.

 

Mata Yo mulai tertutup saat Phana menciumnya. Ini adalah ciuman termanis yang membuat Yo merasa ‘meleleh’.

 

Phana memang enciumm yang sangat baik.

 

Tiba-tiba ponsel Yo berdering. Yo mendorong Phana menjauh dari wajahnya untuk menerima telepon, tapi Phana tidak membiarkan Yo jauh darinya. Bahkan tidak untuk melepaskan bibirnya dari bibir Yo.

 

“Berhenti …” seru Yo. “Cukup.”

 

“Ini.” Phana menggunakan lengannya yang panjang untuk meraih ponsel dari meja dan memberikannya kepada Yo. Kemudian Phana mencium Yo lagi.

 

“Angkat teleponnya.” Phana tidak berhenti menciumi Yo.

 

“Ah!” Yo mulai merinding saat Phana mencium telinganya, tapi Yo akhirnya bisa mengangkat teleponnya.

 

“Ha … Halo.” Yo mulai menyapa.

 

Yo memukul pundak Phana karena dia sepertinya sedang ‘memakanku’ dan tidak berhenti melakukan itu. Yo merasa sangat ‘meleleh’ dibuatnya.

 

“Ada apa?” tanya Yo.

 

Suara seorang pria yang terdengar familiar.

 

“P’Forth?” Yo menebak.

 

Phana segera berhenti melakukan aksinya setelah mendengar Yo menyebutkan nama itu.

 

Yo tidak tahu, dan merasa bingung karena panggilan dari Forth atau karena Phana berhenti mencium nya.

 

“Ya, ini aku, bagaimana hari pertama di kampus?” taya Forth.

 

“Ini …”

 

Belum sempat Yo meneruskan bicaranya, Phana mencoba menghentikan perbincangan Yo dan Forth di telepon dengan mengunci bibir Yo melalui sebuah ciuman panas. Kali ini Phana menggunakan lidahnya masuk ke rongga mulut Yo, dan tentu saja, Yo tidak bisa bicara apa-apa lagi.

 

Yo memukul Phana keras kali ini, tapi Phana masih belum berhenti.

 

“Halo … Halo … apa yang sedang kamu lakukan?” Forth bertanya seperti sedang keheranan.

 

Setelah Phana merasa puas, dia berhenti, memberi saya satu tanda dengan mengangkat satu alis, dan membiarkan Yo kembali bisa melanjutkan bicara ditelepon.

 

Tapi Phana tidak benar-benar berhenti, karena dia masih bermain dengan hidung, pipi, dan dimana-mana.

 

Yo tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

 

“Mmm… aku akan tidur rr… r…” Yo mencoba menjawab walau masih terasa gugup bercampur geli karena ciuman Phana.

 

“Oh, waktu yang salah, maafkan P’.” ujar Forth.

 

Tutup. Dokter mesum itu menggerakkan bibirnya memberi isyarat berbicara tanpa suara agar Yo segera menutup teleponnya.

 

“Aku benar-benar minta maaf P’Forth, Yo harus pergi tidur.” Yo menutup telepon dengan cepat.

 

Yo menatap Phana, wajahnya sedikit cemberut.

 

“Kenapa P’ melakukan itu? Yo tidak bisa menjawabnya dengan benar.” protes Yo.

 

“Menceritakan kepada Forth jika kita sedang bercinta bisa menyakiti perasaannya, jadi P’ harus menunjukkan kepadanya apa yang sedang kita lakukan.” Phana mengangkat bahunya.

 

“Puas?” Yo bertanya.

 

“Puas apa?” Phana balik bertanya.

 

“Dari …”

 

Apa yang P’Pha lakukan padaku.
jawab Yo dalam hati.

 

“Ah … P’ tidak akan pernah puas.” Phana mengusap hidung Yo. “P’ berencana untuk pergi dari sini sebenarnya, tapi ada seseorang yang menggoda dan juga terkenal disini, jadi P’ harus mengurungkan kembali niat P’, karena orang yang menggoda itu mungkin bisa melupakan status kita.” ujar Phana panjang lebar.

 

Phana mendekat lagi pada Yo, tapi kali ini Yo mencegahnya.

 

“Sudah cukup, Yo tidak bisa bernafas.” ujar Yo.

 

“Katakan siapa pacarmu?” tanya Phana.

 

“Apa?” Yo sedikit kaget melihat kelakuan Phana.

 

“Katakan pada P’ sekarang Siapa pacar Yo. Katakan. atau P’ akan terus ‘bermain-main’ denganmu sepanjang malam.” lanjut Phana.

 

Yo tahu Phana akan melakukan apa yang dia katakan, jika Yo bermain-main dengan Phana.

 

“Katakan sekarang.” desak Phana.

 

“Kenapa P’ harus bertanya?” ujar Yo.

 

“P’ hanya ingin mendengarnya.” jawab Phana.

 

Yo menarik nafas lalu tersenyum.

 

“Yo pacar P’Pha~ senang sekarang?” tanya Yo.

 

“Bagus” jawab Phana.

 

Phana mengacak-acak rambut Yo sebelum akhirnya berdiri dari tempat tidur.

 

Yo menatap tubuh tegap Phana.

 

Tapi tunggu sebentar….

 

Yo bisamelihat ‘sesuatu’ yang menyembul dari balik celananya. Itu jelas keras dan tidak kecil sama sekali.

 

“Lembar kertas? Dimana kertas-kertas P’?” Phana tampak tergesa-gesa.

 

“P’Pha.” ujar Yo.

 

“Hmmm… ?” tanya Phana.

 

“Mmmm… mm… itu ..” Yo menatap ‘sesuatu’ yang menonjol di selangkangan Phana.

 

Yo belum pernah melihatnya sebelumnya. Benda itu kini tercetak kelas dalam celana Phana.

 

“Hei … berhenti menatap.” Phana menggunakan bantal lain untuk menutup wajah Yo. “P’ akan kembali ke kamar P’ sekarang, selamat mala, My Love. Love You.”

 

Phana terlihat sangat malu. Yo bisa mendengar Phana tanpa sengaja menendang dan menabrak benda-benda di sekitarnya sebelum dia pergi.

 

Yo mengambil bantal dan tersenyum pada dirinya sendiri. Yo melirik ke bawah dan… Ya… Yo juga ‘memilikinya’. Tapi ukurannya jelas berbeda. Yo tidak ingin membayangkan betapa sulit jadinya, jika suatu saat mereka berdua ‘melakukannya’.

 

Itu tentang masa depan. Seharusnya Yo tidak memikirkannya sekarang. Tidak seharusnya.

 

Sesuatu membuat Yo berhenti memikirkan semua itu. Yo mencoba menyingkirkannya dari kepala nya. Yo bisa melihat telepon Phana tergeletak di mejanya.

 

Phana lupa dengan teleponnya lagi.

 

Saat Yo akan berlari ke kamar Phana dan mengembalikan nya, Yo menatap layar ponsel milik Phana. Yo bisa melihat begitu banyak pemberitahuan di lock screen.

 

Yo tidak ingin membukanya, tapi secara singkat tertera di layar ponsel, dan itu membuat Yo ingin tahu lebih banyak.

 

BEAM MED#41 : Telepon aku!

 

PLOYYII : Apa kamu serius?

 

JJ : Apa kamu sudah memiliki seseorang?

 

JJ : Pha… kamu tidak pernah membalas pesanku akhir-akhir ini.

 

Pesan-pesan tersebut terlihat sangat menarik bagi Yo. Dan sepertinya Phana belum tahu bahwa dia telah meninggalkan teleponnya di kamar Yo.

 

Ayolah… P’Pha tidak akan tahu…
Yo berpikir.

 

Akhirnya Yo memutuskan untuk membuka telepon milik Phana. Tapi Yo terhenti di layar utama, Phana menggunakan kata sandi.
Yo mulai mengarang dengan hari kelahiran Phana. Tahun lahir. 4 digit terakhir dari teleponnya. Semua salah. Apa yang harus Yo lakukan. Tanggal Ulang tahun Yo. Yo mulai memasukkannya, dan…

 

Berhasil!!!!!!

 

Sekarang Yo bisa mengotak-atik ponsel Phana sampai puas. Sampai nanti akhirnya Phana menyadari jika ponselnya tertinggaldi kamar Yo.

 

Di messenger, 500 pesan belum dibaca.
Semuanya wanita. Phana sungguh luar biasa.
Aku menggeser ke atas dan ke bawah. Sepertinya mereka mengeluh pada Phana.

 

Apa boleh membaca beberapa dari pesan itu?
pikir Yo.

 

Dan Akhirnya Yo pun melakukannya. dan membacanya beberapa.

 

Phana :
Maaf, Aku mempunyai seseorang.

 

PLOYYII :
Apa kamu serius?.

 

Phana :
Maaf aku sudah mempunyai seseorang.

 

Mackie :
Apa? Kenapa aku tidak tahu berita ini?
Mackie :
Apa kamu sedang bercanda?

 

Phana :
Aku sudah mempunyai seseorang. Berhenti meneleponku terus.

 

NOEY XOXO :
T_______T

 

Phana :
Tolong jangan menggangguku. Aku ada yang punya. Sungguh.

 

CHF’CAKE :
Sungguh? Benarkah? Aku tidak percaya.

 

Terus dan terus. Phana menjawab semuanya dengan pesan yang sama. ‘Aku sudah punya seseorang’.

 

Yo bisa melihat jika Phana mulai mengirimkan pesan-pesan itu pada hari ketika mereka berdua memutuskan untuk menjadi pacar.

 

Yo sangat senang dan terkesan.

 

 

Malam itu, Phana ingat bahwa dia lupa ponselnya ada di kamar Yo. Jadi, dia membuka kamar Yo dan mengambil ponselnya.

 

Phana perlahan menyelimuti tubuh Yo sebelum akhirnya mencium kening Yo.

 

“Yo sudah tidur belum?” tanya Phana berbisik.

 

Yo sebenarnya belum tidur, tapi Yo tidak menjawab apapun. Hanya khawatir jika Phana akan menggodanya lagi. Ini sudah larut malam dan mereka berdua ada kelas pagi besok.

 

“Sayangku.” Phana berbicara sendiri, dia menepuk kepala Yo lembut dan meninggalkan kamar Yo.

 

Yo berharap Phana bisa melihat wallpaper baru di ponselnya. Yo membuatnya istimewa untuk ponsel Phana, sebuah foto dengan pesan untuk Phana bertuliskan…

 

WAYO’S

 

Itu berarti…

 

‘Dia milikku’

 

‘Dia WAYO’

 

Yo Masa bodoh dengan apa yang telah dia lakukan. Ha ha ha.

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.