Novel 2 Moons – Chapter 28 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Bukankah kamu tidak ada kelas sore ini?” tanya Ming pada Yo.

 

“Tidak.” jawab Yo.

 

Ok, aku akan menemuimu.” ujar Ming.

 

Ming bahkan tidak mendengarkan jawaban dari Yo terlebih dahulu. Jika Ming datang ke fakultas Yo pasti dia akan menjadi ‘makanan lezat’ untuk teman-teman geng angel nya.

 

Karena Yo dan geng angel akan mengadakan pertemuan di lab, membahas mengenai peralatan, dan buku-buku yang akan mereka gunakan.

 

Ming tidak betah menunggu di luar, jadi dia memutuskan untuk masuk dan duduk di dalam laboratorium tepat di sebelah Yo sekarang.

 

Kegaduhan segera dimulai.

 

Yo sekarang tidak ada artinya untuk mereka. Kecuali Tote angel nomor 1 yang suka menyentuh selangkangan Yo saat Yo sedang lengah.

 

“Ming … menurutmu siapa yang jauh lebih cantik? Aku atau dia?” Imon menunjuk ke arah Tote angel Nomor 1.

 

Geng angel akan memperebutkan Ming lagi. Mereka menjadi bahan lelucon bagi semua orang di ruangan itu.

 

“Mmmm….” Ming bingung, sebenarnya dia malas menjawab.

 

“Kamu bisa mengatakannya, aku tidak keberatan, Kamu bisa mengatakan kalau aku cantik, jika kamu memilihku, aku mempunyai hadiah untuk mu.” angel nomor 1 mencoba merayu Ming agar memilihnya.

 

“Hadiah? apa aku boleh untuk tidak memilih?.” Ming mencoba mengatakannya, tapi sayang tidak ada yang mendengarkannya.

 

“Kenapa dia berbohong Tote, Aku jauh lebih cantik dari kamu. Meskipun payudara ku lebih kecil dari punyamu. Tunggu beberapa tahun lagi Ming. Aku akan menabung untuk memperbesar payudaraku untukmu.” ujar Imon.

 

“Diam, Imon. Dasar payudara kecil!.” ledek Tote.

 

“Diam kamu. Dasar hidung pesek!.” Tote membalas.

 

“Apa kamu benar-benar ingin bertengkar dengan ku? jalang!.” seru Imon.

 

“Aku siap, dasar jalang!.” tantang Tote.

 

Ini bukan apa-apa. Mereka tidak pernah serius bertengkar sehebat itu. Mereka hanya terlibat perang mulut saja.

 

Yo tersenyum melihat mereka, tapi seseorang tidak menganggapnya lucu. Yo tahu bahwa saat ini Ming memiliki masalah yang mengganjal dalam pikirannya dan itulah mengapa dia membutuhkan Yo. Dan itu tentang Kit.

 

Ming hampir tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depan umum. Dia biasanya menjadi sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya seperti itu. Dulu waktu di SMA, dia berkencan dengan beberapa wanita hanya untuk pamer. Bagi yang lainnya menganggap gosip itu sungguhan, tapi kenyataannya tidak. Dan masih banyak lagi gosip yang lain tentang Ming.

 

Ming tidak pernah mengalami kesulitan seperti sekarang ini dan Ming belum pernah merasakan apa yang namanya patah hati sebelumnya.

 

Ming terus mengatakan kepada Yo bahwa ‘Ini tidak benar, ini tidak mungkin, sekarang P’Beam dan P’Kit akan menjadi pacar’.

 

Sebenarnya bukan tugas Yo untuk berkomentar. Sahabat sejati akan selalu mendengaran keluh kesah dan akan selalu ada untuk sahabatnya.

 

Apa yang Ming rasakan sekarang sama seperti saat Yo di SMA. Yo mengorbankan seluruh pikirannya hanya untuk memikirkan Phana saja. Yang ada dimatanya saat itu hanya Phana, Phana dan Phana. Dan Ming selalu ada di sana untuk Yo. Ming melakukan hal yang sama seperti apa yang sedang Yo lakukan sekarang padanya.

 

Yo juga merasakan rasa sakit yang sedang dialami oleh Ming sekarang. Merasakan jika sekarang Ming tidak mempunyai jalan keluar atau solusi untuk masalah nya.

 

“Kapan kamu akan selesai?” Ming bertanya.

 

“Kemana kamu akan membawaku?” tanya Yo.

 

“Gedung pusat fakultas kedokteran.” jawab Ming singkat.

 

Mata Yo terbelalak wajahnya melongo

 

Yo juga merasakan rasa sakit yang sedang dialami oleh Ming sekarang. Merasakan jika sekarang Ming tidak mempunyai jalan keluar atau solusi untuk masalah nya.

 

“Kapan kamu akan selesai?” Ming bertanya.

 

“Kemana kamu akan membawaku?” tanya Yo.

 

“Gedung pusat fakultas kedokteran.” jawab Ming singkat.

 

Mata Yo terbelalak wajahnya melongo.

 

“Apa? kamu tahu jika mereka ada kelas sepanjang hari.” ujar Yo.

 

“Aku tidak tahu, aku tidak ada kelas hari ini.” jawab Ming.

 

“Lalu kenapa aku harus pergi bersamamu?” tanya Yo lagi.

 

“Bagaimana jika … aku tidak tahu … Bagaimana jika P’Beam dan P’Kit benar-benar menjalin hubungan, bagaimana bisa aku pergi ke sana untuk menemui P’Kit? Tetapi aku akan beralasan jika aku kesana mengantarmu menemui P’Pha.” Ming bingung mencari alasan.

 

Yo merasa dimanfaatkan. Tapi tidak apa-apa jika demi sahabatnya.

 

“Kamu tahu aku, bukan? Aku tidak akan mudah percaya dengan semua ini.” ujar Ming.

 

“Bagaimana caramu untuk membuktikannya? Apa kamu akan bertanya pada mereka secara langsung?” tanya Yo.

 

“Apa ada ide yang lebih baik lagi, istri P’Pha?.” Ming masih sempat-sempatnya bercanda.

 

“Sial, Berhenti memanggilku seperti itu.” seru Yo. “Yang harus kamu tanya adalah P’Kit, benar atau tidak, dia akan menjadi orang yang tepat untuk memperoleh jawaban. Jadi, bicaralah padanya.” Yo memberi Ming sedikit saran. “Tapi apa kamu yakin ini ide yang bagus? Menemuinya saat P’Kit berada di kelas?.”

 

“Aku juga tidak tahu.” Ming menggigit kukunya tanda dia tidak yakin dengan idenya.

 

Yo sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.

 

Ming terlihat sangat tertekan dengan hal ini.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” Ming bergumam.

 

Sementara Ming mengoceh, buku lab telah sampai. Mereka menmbagikan buku-buku itu pada siswa yang lain dan mereka membayarnya. Setelah selesai Ming mengajak Yo pergi. Geng angel akan bertengkar lagi karena Ming. Para siswa dari lab sebelah juga sudah selesai dan berjalan keluar dari lab. Mereka melihat Ming dan merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan ‘Bulan Kampus’ di Gedung Fakultas sains.

 

“Mungkin dia sedang mencoba berkencan dengan Yo?”

 

Mereka mulai berbisik bergosip tentang Yo dan Ming lagi.

 

“Kurasa tidak, mereka berdua tampak seperti anak laki-laki normal.”

 

“Ming mungkin iya, tapi Yo pasti tidak. Aku yakin dia suka Pria.”

 

Sial. Aku hanya mencintai satu orang saja. Aku tidak suka orang lain.
Yo berteriak dalam hatinya.

 

Yo berjalan sambil menatap Ming. Yo sangat khawatir dengan nya.

 

Tiba-tiba kepala Yo menabrak sesuatu.

 

Ming menarik Yo sebelum terjatuh.

 

Yo melihat apa yang telah dia tabrak. Ternyata Yo menabrak seseorang yang meminta nomor telepon nya. Pria yang Yo temui di kamar mandi di mall beberapa hari yang lalu. Terlalu banyak kebetulan dan Yo sama sekali tidak menyukai tatapan matanya.

 

Yo masih berpikir apakah dia meminta nomor teleponnya benar-benar untuk temannya atau untuk dirinya sendiri.

 

“Nah itu dia.” Teman-temannya memanggil pria dengan keras dari belakang. Orang-orang itu berasal dari Fisika, begitu juga dia.

 

“Berganti pasangan?” tanya pria itu.

 

Dia tersenyum menunjukkan giginya yang sempurna. Dia pria tampan, tapi saat dia tersenyum itu benar-benar membuat Yo berdebar. Yo benar-benar rasa apa itu.

 

“Berkencan dengan pria beberapa hari yang lalu, hari ini berkencan dengan yang lain, hebat, kamu hanya berkencan dengan ‘Bulan Kampus’.” ujar pria itu terdengar sinis.

 

“Siapa dia?” tanya Ming.

 

Ming tidak menyukai cara pria itu berbicara dan Ming terlihat mulai kesal.

 

“Aku tidak tahu.” jawab Yo.

 

“Izinkan aku secara resmi memperkenalkan diri kepada mu. nama saya Park, saya dari jurusan Fisika.” pria itu memberitahu namanya.

 

Ming menatap Park tajam. Dia tidak suka dengan pria itu.

 

“Um … aku harus pergi. Bye.” jawab Yo.

 

Yo menarik tangan Ming untuk pergi karena sekarang dia menatap mata Park dan sepertinya siap bertengkar. Yo tidak ingin ada masalah sekarang. Karena kini mereka sedang berada di depan lift. Semua orang bisa melihatnya.

 

Park dan Ming sama-sama memiliki wajah tampan dan menjadi pusat perhatian sekarang.

 

“Yo” Park berteriak dari belakang.

 

Yo memejamkan matanya dan berharap Park tidak akan menimbulkan masalah baginya.

 

“Aku mempunyai nomor telepon mu.” seru Park.

 

Ming menatap Yo dan dia terlihat sangat penasaran.

 

“Pegang ponselku. Aku akan menghajarnya.” ujar Ming.

 

Yo menarik lengan Ming dan berjalan cepat sebisa mungkin. Park sangat mengerikan. Yo tahu bahwa ini tidak adil menilai seseorang dengan cepat ini. Yo sudah terang-terangan mengatakan kepada Park jika Yo tidak menyukainya dan tidak ingin berkencan dengannya. Tapi Park tidak perduli. Yo merasakan hal yang buruk akan terjadi.

 

“Dasar orang gila!” Ming menyumpahi Park. “Apa-apaan itu? Yo” tanya Ming.

 

“Aku tidak tahu.” jawab Yo.

 

“Kamu ingin aku dan teman-temanku menghajarnya untukmu?.” tanya Ming, sepertinya dia sudah sangat kesal dengan tingkah Park.

 

“Diamlah.” Yo menghentikan idenya. ” Aku tidak ingin menyebabkan perkelahian antara fakultas sains dengan fakultas Teknik. Sama sekali jangan berpikir tentang hal itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” ujar Yo.

 

“Aku harap kamu benar, aku bukan P’Pha, aku bisa merasakan sesuatu yang aneh, tapi aku tidak posesif.” seru Ming.

 

“Aw manis sekali… tapi apa maksudmu?” tanya Yo.

 

“Sial. kamu bukan KitKat-ku. jadi diamlah.” seru Ming.

 

“Oke aku minta maaf.” ujar Yo sedikit menggoda Ming. “Jadi … apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” tanya Yo.

 

“Aku …”

 

Sebelum Ming mengatakan sesuatu, ponsel Ming mulai berdering.

 

“Ya Moo Wan, aku lupa, maafkan aku, Iya iya, aku akan ke sana sekarang, Apa namanya?.” Ming sibuk dengan teleponnya.

 

Sepertinya akan lebih banyak masalah, dan Itu adalah mantan pacarn Ming, Yo mengingatnya. Dia yang menyebabkan Ming berbicara seperti orang idiot selama berbulan-bulan.

 

“Di kampus? iya iya, aku akan pergi sekarang, tunggu saja aku di sana.” Ming menutup teleponnya dan menatap Yo. “Aku sangat bingung.”

 

“Apa ada yang salah?” tanya Yo.

 

“Moo Wan datang menemuiku.” jawab Ming.

 

“Apa?” Yo merasakan kebingungan yang sedang Ming rasakan.

 

“Dia di fakultasku sekarang, dia sedang menungguku di sana.” Ming terlihat panik.

 

“Kalian sudah ada janji untuk bertemu hari ini?” tanya Yo.

 

“Tidak sama sekali.” jawab Ming.

 

“Cepatlah, lihat apa yang terjadi, jika membuat wanita itu menunggu.” Yo mendorong Ming untuk pergi.

 

“Sebenarnya aku ada pemotretan untuk fakultas hari ini. P’Forth hanya menelepon untuk mengingatkanku. Sial kenapa bisa jadi kacau seperti ini. Banyak hal yang harus aku lakukan.” Ming menggaruk kepalanya sedikit kesal dan meraih pundak Yo. “Yo aku mencintaimu.”

 

Tentu saja, kata-kata yang sama, tapi begitu berbeda jika dikatakan oleh Phana. Ming mengatakannya tidak bermasuk apa-apa tapi sedang merayu Yo agar mau membantu menyelesaikan permasalahannya.

 

“Temani aku pergi ke fakultas ku. Aku mohon.” Ming memelas.

 

Yo tidak tahu untuk apa Yo berada di fakultas Ming. Tapi yang pasti saat Yo keluar dari mobil Ming, Yo bisa melihat wanita mantan pacar Ming melambaikan tangannya dari kejauhan.

 

Yo sedikit kaget, sekarang Moo Wan jauh lebih cantik dari saat dia masih sekolah. Dari seorang gadis sekolah dengan dua kucir rambut kuda poni menjadi seorang gadis yang seksi dengan seragam yang pas.

 

Moo Wan tampak bugar dan menunjukkan tubuhnya yang seksi seperti model dan kini dia memakai rok super pendek.

 

Tentu saja Moo Wan membuat mata anak laki-laki Teknik meneteskan air liurnya.

 

Tapi itu tidak berpengaruh untuk Ming. Ming menganggap Moo Wan sebagai pembawa masalah.

 

Sementara Moo Wan benar-benar senang melihat Ming. Pastinya dia masih punya perasaan untuk Ming. Tapi Ming tampak sangat kesal melihatnya.

 

“Kenapa kamu tidak memberi tahuku sebelumnya jika kamu akan datang?” tanya Ming sedikit ketus.

 

“Aku bilang pada Waww jika aku akan tidur di kamar nya malam ini.” jawab Moo Wan.

 

“Oh … kamu ingat Yo, kan?” Ming mengenalkan Yo pada Moo Wan.

 

“Hey… Yo … Tentu saja, tapi sekarang kamu terlihat banyak berubah sekarang.” Moo Wan menatap Yo dari ujung rambut sampai ujung kaki dan terkejut.

 

Yo memberi sedikit senyuman padanya.

 

“Tunggu di sini bersama Yo ya… aku harus pergi, ada pemotretan untuk fakultas.” Ming tampak tidak nyaman, tapi sekarang Yo tahu mengapa dia membawanya.

 

Kamu berutang semangkuk besar Shabu-Shabu padaku, Ming!
ujar Yo dalam hati.

 

“Bisakah aku pergi denganmu?” Moo Wan memohon pada Ming dengan sikap manjanya. “Aku meninggalkan kelas untuk melihat mu hari ini.”

 

“Mmmm…. itu…” Ming tidak punya pilihan. “Ok, kamu bisa ikut, tapi aku tidak tahu kapan akan selesai.”

 

“Sweetheart, bawa aku makan malam setelahnya ya… aku mohon…” Moo Wan memohon.

 

“Oke baiklah.” jawab Ming.

 

“Oke setuju!” Moo Wan menggandenf lengan Ming dan mulai berjalan.

 

Mahasiswa teknik terlihat iri pada mereka.

 

Yo bingung jika begitu kenapa Ming membawa Yo kesitu. Yo menggaruk kepalanya seraya melihat sahabatku dan mantan pacaranya berjalan memasuki gedung fakultas.

 

Bagaimana dengan P’Pha? Apa dia sudah selesai dengan kelasnya?.
pikir Yo.

 

Yo menelepon Phana dua atau tiga kali, tapi Phana tidak mengangkatnya. Pasti Phana sedang berada di laboratorium sekarang.

 

 

“Aku tidak pernah berpikir jika kamu akan datang.” Ucap Forth pada Yo.

 

Yo tersenyum.

 

“Wow, siapa wanita cantik ini?” Forth bertanya setelah melihat Moo Wan duduk tepat di samping Ming.

 

Moo Wan hanya menatap Ming tanpa mempedulikan orang di sekitarnya.

 

“Temanku P’.” Yo menjawab sambil melihat foto Ming di sebuah studio yang sangat menakjubkan di fakultas teknik.

 

“Mantan pacar.” Ming berbisik di telinga Forth.

 

“Oh, Wow, mantan pacaramu ini cantik juga, bagaimana kencannya nanti?” tanya Forth.

 

Forth duduk tepat di samping Yo tapi di sisi lain.

 

Jika Kit mengatakan Ya, maka Yo akan mengatakannya ‘Benar-benar berbeda’.

 

“Apa yang terjadi tadi malam? Sinyal telepon yang buruk?” tanya Forth.

 

Tadi malam Forth menelepon sementara Phana sedang bercumbu dengan Yo, tapi Yo tidak bisa benar-benar mengatakan yang sebenarnya pada Forth.

 

“Ya seperti itu P’.” jawab Yo.

 

“Suaramu terdengar aneh.” ujar Forth.

 

Yo merasa gila. Bagaimana dia bisa mengatakan kepada Forth jika Yo tadi malam saat sedang berbicara Yo dicium Phana. Yo tidak tahu bagaimana cara memberi tahu Forth tentang hal ini.

 

Forth tertawa sedikit sebelum berkata…

 

“Ini benar-benar salahku untuk menelepon dan mengganggumu.” ujar Forth.

 

“P’Forth …”

 

“Aku tahu jika aku seharusnya tidak meneleponmu tapi aku tidak bisa menahan diri.” Forth mengangkat bahunya.

 

Yo bisa melihat kesedihan di mata Forth. Yo benar-benar minta maaf padanya, tapi Yo tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Jika aku adalah dia, aku akan melakukan hal yang sama seperti dia untuk mu.” ujar Yo.

 

“Melakukan apa? Apa yang harus dilakukan? Apa yang sedang P’ bicarakan?” tanya Yo bertubi-tubi.

 

“Menghiburmu.” jawabnya.

 

Yo bersumpah bahwa semua bulu ditubuhnya berdiri. merinding di sekujur tubuh Yo.

 

“Lihatlah dirimu. Kecil, pendek, putih dan kulit yang lembut, dan tubuh itu … Wow … Seksi” puji Forth.

 

“Akulah satu-satunya yang bisa berbicara seperti itu pada Yo. Sial Forth.”

 

Yo hampir melompat mendengar suara itu. Phana nampaknya sangat marah dan siap melempar pukulan pada Forth kapan pun dia mau.

 

“P’Pha, bagaimana kau ada di sini?” Yo bertanya.

 

“Kenapa kamu terkejut? sedang berkencan dengan Forth?” P’Pha menatap Forth dengan marah.

 

“Tentu saja Yo terkejut, bagaimana P’ tahu jika Yo ada di sini? Kita belum bicara.” Yo menjelaskan.

 

Wajah Phana terlihat aneh.

 

“Aku bertanya pada teman Yo, apakah kamu hanya punya teman agel?.”

 

“Apa P’ pergi menemui Yo di kampus?.” tanya Yo.

 

“Iya, P’ lupa membawa ponsel P’ pagi hari ini, jadi P’ memutuskan pergi ke sana untuk menemui mu setelah kelas selesai. Tapi Yo tidak ada di sana malah duduk di sini berbicara dengan Forth.” jelas Phana ada nada cemburu dari perkataannya.

 

“Hei Hei Hei.” Forth mencoba menenangkan Phana. “Aku tahu hal itu, tapi kenyataannya tidak demikian. Jadi berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak benar.”

 

“Kamu menganggapku pembohong?!.” Phana sedang mencoba melempar pukulan, tapi Yo meraih lengannya erat-erat.

 

Apa yang membuatnya semarah itu sebelum dia datang ke sini?
pikir Yo.

 

“P’ tenanglah” ujar Yo.

 

“P’ percaya, tapi, seperti yang sudah P’ katakan, tolong jangan hentikan P’ bersikap posesif, itu tidak mungkin.” ujar Phana pada Yo.

 

“Cemburu?” Forth nampaknya siap berkelahi dengan Phana.

 

“Ayo kita lanjutkan!” Phana hendak memukul Forth.

 

“Berhenti!” Kit baru saja tiba dan mencoba memisahkan keduanya. “Biasanya kalian berteman, tapi lihat kalian berdua sekarang. Berkelahi memperebutkan seorang ‘gadis’. Mmm… maksudku lebih dari anak laki-laki.” ujar Kit.

 

“Dia brengsek.” Phana masih menatap Forth dengan tatapan penuh amarah.

 

“Dia menyalahkan Yo tanpa alasan.” wajah Forth juga terlihat memerah sekarang.

 

“Cukup, kalian berdua, hentikan kegilaan ini.” Kit menghentikan keduanya. “Kalian adalah orang yang baik dan Pha tidak akan pernah menusukmu dari belakang, Forth. Kamu harus menghentikan ini. Nong Yo sekarang milik Pha, Bukan untukmu lagi. ”
Setelah kata terakhir Kit. Semua orang di ruangan itu terdiam. Sunyi.

 

Yo hanya berdiri dan mematung tanpa bisa berbuat apa-apa. Yo melihat dua teman baik berkelahi gara-gara dia adalah hal terburuk yang tidak pernah Yo inginkan.

 

Kit benar. Phana dan Forth harus melakukan persis seperti yang Kit sarankan.

 

Ming baru saja mengambil gambar dan masuk ke ruangan itu. Dia benar-benar terkejut melihat Kit berdiri di sana di antara orang-orang di ruangan itu. Seseorang yang ingin sering Ming lihat sedang berdiri di situ.

 

Satu-satunya yang tidak peduli dengan pertengkaran Phana dan Forth adalah Moo Wan.

 

“Sayang, bagaimana kabarmu? Apa kamu lelah? minum air disini, sayang.” Moo Wan memberi Ming segelas air.

 

Dan, ya, Kit melihat semuanya.

 

Yo bisa melihat gerakan bibir Ming dengan jelas mengatakan ‘Sial!!!’.

 

Phana menarik tangan Yo ke luar dari ruangan, sementara Yo mencoba berdoa semoga Ming menemukan keberuntungannya.

 

Yo bisa melihat bahwa sahabatnya benar-benar dalam masalah sekarang.

 

 

Yo juga tengah menghadapi masalah sekarang.

 

Phana dan Yo sekarang sudah berada di balkon agak jauh dari studio pemotretan Ming.

 

Yo berdiri tepat di depan Phana. Bukan seperti sedang bertengkar, tapi lebih seperti sedang bercengkrama.

 

“Kenapa kita harus membicarakan masalah ini, kita baru saja memulai hubungan kita beberapa hari yang lalu?” Phana meletakkan telapak tangannya di dahinya. “Apa Yo terlalu menarik atau P’ yang terlalu posesif?”

 

“Yo tidak tahu.” jawab Yo. “P’Pha… P’Forth benar, P’ tahu? Yo tidak pernah memiliki perasaan untuknya.” jelas Yo.

 

“Berarti benar … P’ terlalu posesif.” ujar Phana.

 

Yo terdiam menatap wajah tampan Phana.

 

“Lihatlah, sekarang Yo begitu banyak orang mencoba mendekatimu. Bagaimana P’ tidak bersikap posesif?” Phana mengacak-acak rambut Yo. “Mulai besok, Yo harus memakai kacamata.”

 

“TIDAK! Yo akan terlihat jelek sekali.” Yo protes.

 

“P’ melihat Yo sejak Yo memakai kacamata itu, ingat?” ujar Phan.

 

Phana ada benarnya.

 

“Yo imut untuk P’ saja itu sudah cukup, tidak perlu mencari siapa pun, mengerti?.” tanya Phana.

 

Yo belum mengatakan apapun. Ada suara beberapa orang yang berjalan turun dari studio. Itu adalah sahabat Yo dan Kit. Yo menarik tangan Phana untuk bersembunyi di balik kabinet tua.

 

“Apa yang sedang Yo lakukan?” Phana tidak mengerti dengan tingkah Yo.

 

“Memata-matai mereka. Shhhhh …” jawab Yo seraya menempelkan telunjuk di mulut kecilnya.

 

“P’ tidak pernah tahu jika Yo ternyata usil juga.” ujar Phana.

 

“Apa? Yo tidak usil.” protes Yo. “Apa P’ ingin tahu juga?” tanya Yo.

 

“Tentu saja, Kit adalah temanku.” jawab Phana.

 

Lihat? sekarang Kita sama.
ujar Yo dalam hati.

 

Chup…

 

Phana tiba-tiba mencium pipi Yo.

 

Yo Mencoba memukul Phana, tapi dia tidak peduli.

 

“P’ tidak tahan, wangi Yo enak sekali.” Phana menggoda Yo.

 

“Aku tidak punya ssiaa-siapa untuk diajak bicara.” Kit terlihat sangat marah.

 

Yo belum pernah melihat Kit semarah itu sebelumnya.

 

Kit dulu seperti pria yang mudah bergaul, dewasa, dan selalu punya alasan untuk semuanya. Ini sangat tak terduga.

 

“Tapi aku ingin bicara dengan P’.” Ming sangat peduli pada Kit. “P’Kit …” Ming mencoba meraih lengan Kit, tapi Kit menghempaskannya begitu keras.

 

Yo bersembunyi dan melihat semuanya. Mulut Yo menganga. Yo tidak pernah berpikir ini akan sering terjadi.

 

Phana menatap Yo dan menggoda dengan menarik bibir bawah milik Yo.

 

“Lepaskan aku.” seru Kit.

 

“P’ mau pergi kemana?.” tanya Ming.

 

“Aku buru-buru.” jawab Kit.

 

“Untuk bertemu dengan P’Beam?” tanya Ming menebak.

 

Kit diam saja.

 

Begitu juga Phana. Dia berhenti menggoda Yo dan menatap ke arah Kit dan Ming.

 

“Mmm …” Kit terlihat bingung.

 

Setelah jawaban itu, wajah Ming terlihat mengerikan.

 

“Jadi … benar, P’Beam dan P’Kit sekarang pacaran?!.” tanya Ming emosi.

 

Yo tidak bisa melihat wajah Kit dengan jelas, karena dia berdiri membelakangi tempat Yo dan Pehana bersembunyi, jadi Yo tidak tahu bagaimana perasaan Kit saat itu. Tapi Yo. bisa melihat wajah sahabatnya, Ming dengan jelas.

 

“Mmmm ….” sekali lagi Kit tidak bisa berkata apa-apa. “Sekarang kamu tahu itu. dan tinggalkan aku sendiri.”

 

Yo sangat berharap bisa membantu Ming.

 

Kit berjalan menjauh meninggalkan Ming sendiri, meninggalkan sahabat Yo yang tinggi dan tampan berdiri kecewa di sana.

 

Ming hampir seperti akan jatuh.

 

“Pergilah temui gadis Sweet Pork mu.” teriak Kit pada Ming seraya pergi menjauh.

 

Phana terlihat menarik nafas panjang dan meraih tangan Yo sepertinya Phana tahu apa yang akan Yo lakukan.

 

Yo menatap Ming dan terlihat sangat khawatir. Jika keduanya keluar dari tempat persembunyian sekarang, pasti Ming akan merasa lebih terpuruk lagi.

 

Ini merupakan pukulan yang cukup keras untuk Ming dari hal buruk yang pernah Ming lakukan sebelumnya.

 

Yo sangat kasihan melihat sahabatnya itu.

 

“Aku tidak bisa melakukan itu Aku tidak bisa meninggalkanmu aku benar-benar tidak bisa!.” seru Ming.

 


 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan