Novel 2 Moons – Chapter 29 (KIT)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Kit masih marah pada Beam. Bahkan tidak berbicara sama sekali dengannya setelah pengumuman jika mereka telah resmi pacaran. Kit menganggap itu semua hanya omong kosong. Tidak hanya itu, Kit juga merasa marah pada dirinya sendiri karena banyak kebohongan yang telah Kit lakukan.

 

“Sialan!” Kit berteriak dan membuat Phana, yang masih di kamarnya sekarang, kaget.

 

“Apa-apaan ini?” tanya Phana heran.

 

“Aku sangat marah.” ujar Kit.

 

“Oke, baiklah, tapi untuk apa kali ini kamu marah?.” tanya Phana.

 

“Lupakan.” jawab Kit singkat.

 

Kit hanya ingin memukul semua yang di lihat olehnya. Kit benci perasaannya sekarang. Kit benar-benar tidak bisa mengendalikannya.

 

Mengapa? Mengapa? Mengapa? Kenapa aku harus seperti ini?
jerit Kit dalam hati.

 

“Pha.” panggil Kit.

 

“Ada apa?” Phana memalingkan pandangannya dari lembaran kertas belajarnya untuk menatap Kit.

 

“Apa kamu sudah berbicara dengan Beam? Ada masalah apa dengan dia? Dia tidak ada di rumah dan dia tidak menerima telepon ku.” tanya Kit.

 

“Apa kamu frustrasi karena Beam?” pandangan Phana beralih ke lembar kertas belajarnya.

 

“Aku juga tidak tahu, jika dia menghilang lama seperti ini, mungkin dia pulang lagi ke rumahnya.” Kit menebak. “Hei…” seru Kit.

 

Phana masih saja berkutat dengan lembar kertas belajarnya.

 

“Aku tidak tahu, mungkin saja begitu.” jawab Phana.

 

Ini semua membuat Kit gila. Kit perlu minum-minum.

 

“Ayo kita minum minuman malam ini, sayangku…” Aku meraih lengan Phana.

 

“Apa kamu sedang bercanda, Kita akanada kuis dua hari lagi untuk kelas Profesor Planee, Aku sama sekali tidak mendengarkan pelajarannya tadi.” jelas Phana.

 

“Aku akan mengulang pelajarannya untukmu.” Kit hanya berbicara saja.

 

Sebenarnya Kit juga melewatkan beberapa kuliahnya.

 

“Ayolah, aku yang akan mentraktirmu.” ujar Kit membujuk Phana agar menemaninya.

 

Sesuatu yang gratis memang selalu berhasil. Sepertinya Phana juga ingin minum.

 

“Ke mana kita pergi? Aku akan menelepon Yo.” tanya Phana.

 

“Mmmm … bar yang seperti biasa di sebelah kampus.” jawab Kit.

 

Kit akan mencoba mencairkan perasaan nya. Kit merasa telah ‘tersesat’ pada kedua teman baiknya dan teman pacar teman nya.

 

Sial. Dia seharusnya tidak ada hubungannya dengan hidupku. Apa yang sedang terjadi denganku sekarang?
pikir Kit.

 

 

Di bar itu pukul 21:00

 

Ini telihat sangat aneh Kit dan Phana duduk di bar hanya mereka berdua. Biasanya mereka datang bertiga. Tapi hari ini hanya ada Kit dan Phana saja.

 

Ki memang sudah mencoba menelepon Beam. Kit ingin sekali berbicara dan bertanya tentang semua kekacauan ini, tapi Beam tidak mengangkat telepon dari Kit.

 

Kit bingung, dia harus berbuat apa. Kit memesan minuman segera setelah keduanya tiba. Saat minuman, Kit memutuskan untuk minum sebanyak dia bisa hingga menghilangkan semua masalah yang ada dalam kepalanya.

 

Phana terkejut dengan kelakuan Kit dan mencoba menghentikanKit dari kegilaan itu.

 

“Sial Kit, apa kamu ingin aku membawamu ke apartemenmu lebih awal?.” Phana mengeluh. “Tenanglah, santai saja.”

 

“Diam, aku ingin meminum semuanya.” jawab Kit.

 

“Ini gila.” Phana menyerah dan membiarkan Kit melakukannya.

 

“Kamu minum seperti kamu sedang patah hati.” ujar Phana.

 

“Apa katamu?” Alih-alih membuat Kit merasa lebih baik, Phana malah mengungkit kembali masalah yang sedang Kit hadapi. “Tidak, tidak, itu omong kosong, berhenti berkata seperti itu.”

 

“Apa kamu sedang menggertak ku.” Phana menggelengkan kepalanya. “Kamulah yang mempermainkan hati seseorang, tapi lihatlah kamu sekarang. Kamu sendiri yang kacau.”

 

Kit tidak peduli lagi dengan perkataan Phana. Saat itu Kit hanya ingin minum dan minum.

 

Phana tidak terlalu banyak minum seperti Kit, karena dia harus menyetir.

 

Kit sangat siap untuk benar-benar mabuk berat. Kit sadar itu semua tidak benar-benar memecahkan masalahnya, tapi jika Kit mabuk, mungkin Kit bisa melupakan semua masalahnya untuk sementara waktu.

 

“Apa kamu tahu? Aku tidak pernah berpikir jika sahabatku jatuh cinta padaku, dia selalu menggoda anak perempuan, dia kecanduan payudara besar. Bagaimana aku tahu? aku tidak menyangka.” ujar Kit dalam keadaan mabuk.

 

Kit tidak yakin apakah Phana sedang mendengarkan nya atau tidak, tapi yang pasti malam ini bar sangat sepi, hanya beberapa lagu yang diputar. Kit suka bar itu, tidak terlalu berisik. Bar ini lebih seperti sebuah bar tempat teman bisa bertemu dan mengobrol.

 

“Dan tepat setelah dia mengatakan bahwa dia memiliki perasaan padaku, dia pergi begitu saja, menghilang tanpa kabar berita.” Kit terus mengeluh. “Ming sialanjuga seperti itu!”

 

“Bukankah sekarang kamu sudah menjadi seorang Casanova?” tanya Phana.

 

“Casanova apanya… ” jawab Kit.

 

“Kamu baru saja berbicara tentang seorang pria, lalu beralih ke pria yang lain. Bukankah kamu harus memilih salah satu dari mereka?.” tanya Phana.

 

“Aku kesal, apa kamu tidak mengerti?” ujar Kit.

 

Kit berterimakasih pada minuman yang ia minum. Kit cukup berani sekarang untuk mengatakannya dengan lantang.

 

“Aku sangat bingung, apa kamu merasa bingung juga? Tentang Beam dan si Ming sialan itu.” seru Kit.

 

“Aku tidak merasa heran, kenapa dia bisa terlihat aneh seperti itu. Beam memang terkadang bersikap aneh, tapi dia tidak pernah menunjukkannya saja didepanmu.” jelas Phana.

 

“Aku tidak yakin tentang hal itu.” ujae Kit.

 

“Bagaimana dengan menghilangnya dia setelah mengatakan bahwa dia menyukaimu? Bagaimana kamu menjelaskan hal itu? Bukannya itu karena dia tidak kuasa melihat mu? Kita sudah menjadi teman bertahun-tahun dan sekarang dia mengatakan jika dia menyukaimu. Apa kamu pikir dia bisa tenang dan bahagia berada didekatmu?.” Phana mengajukan banyak pertanyaan yang harus Kit pikirkan dengan matang.

 

Kit terdiam, Kit tidak tahu harus berkata apa. Kit menarik nafas panjang. Seperti yang Kit pernah katakan sebelumnya, Kit merasa Beam tidak seharusnya berpikir Kit seperti itu. Phana mungkin saja berkata Iya, tapi pada hari itu, ketika Beam mengatakan jika dia dan Kit pacaran di depan Ming, Kit merasa itu bukan seperti apa yang ada dipikirkan Phana.

 

Kit merasa ada yang tidak beres. Kit mengeluh dengan kehidupannya sekarang yang ia rasa sangat kacau.

 

“Tapi menurutku yang paling mengganggu pikiranmu bakan Beam, tapi teman Nong Yo. Apa aku benar?” tanya Phana.

 

Phana mencoba memancing Kit untuk menjawab pertanyaan itu. Biasanya, sahabat adalah yang utama. Tapi sekarang seseorang menjadi lebih penting daripada sahabat. Kit sangat tidak ingin memikirkan orang itu sekarang.

 

“SIAL!!” Kit kembali meneguk minuman yang sudah dicampur dengan minuman lain.

 

Tiba-tiba seseorang muncul dan bergabung. Dia duduk tepat di sebelah Phana. Kit bahkan tidak ingin melihat wajahnya sekarang. Selain itu orangitu terlihat sangat marah dengan sesuatu.

 

“Apa kamu punya sesuatu hal untuk dibicarakan dengan ku, Beam?.” tanya Kit.

 

 

Ming berpikir kenapa semua ini bisa terjadi padanya. Hal-hal yang sulit semakin sulit dan sulit.

 

“Apa kamu sedang berada di kamar Waww sekarang? Bisakah kita berbicara? Aku akan menjemputmu jam 9:30 malam ini, Ok? Sampai jumpa.”

 

Ming menutup telepon setelah berbicara dengan Moo Wan. Sekarang Ming sedang berbaring di ranjang Yo. Yo adalah Sahabat Ming yang paling mengerti dengan keadaannya sekarang.

 

Yo duduk di mejanya, tidak belajar, tapi menatap lurus ke arah Ming.

 

“Bagaimana keadaanmu?” Yo benar-benar peduli dengan Ming.

 

“Aku merasa seperti … sedang sekarat.” ujar Ming. “Aku sudah menceritakan semuanya kepada P’Kit, aku mengatakan kepadanya bahwa tidak ada apa-apa antara aku dan Moo Wan. Yo, tapi apa kamu mengerti aku? Aku tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian di kampus. Aku mengkhawatirkannya. Dia perempuan, apakah kamu mengerti aku.” tanya Ming sedih.

 

“Sudah, aku mengerti, kampusmu hampir seperti kampus yang berisi para pria normal.” jawab Yo.

 

“Aku tidak tahu P’Kit akan berpikiran seperti apa tentang aku dan Moo Wansekarang.” ujar Ming, wajahnya masih terlihat kacau.

 

“Apa kamu khawatir pada perkataan P’Kit, jika itu ternyata benar adanya? Dia mengakui bahwa dia adalah pacar P’Beam.” tanya Yo.

 

Ming sedih, kenapa Yo berkata seperti itu padanya.

 

“Aku tahu …” ujar Ming seraya menunduk.

 

“Kamu sedang patah hati.” ujar Yo.

 

“Diam. Yo!.” Ming berteriak pada Yo.

 

Ming tahu jika Yo sedang menggodanya dan mencoba bercanda, tapi Ming berpikir itu bukan saat yang tepat.

 

Ming masih tidak percaya. Tidak mungkin pikirnya. Dia tidak akan menyerah. Ming sangat siap membiarkan Beam membunuhku, jika itu benar.

 

“Kamu akan pergi menemui Moo Wan malam ini untuk membereskan semuanya, bukan?” tanya Yo.

 

“Ya.” jawab Ming yakin.

 

“Bagaimana jika dia tidak mau putus?.” tanya Yo.

 

“Sebenarnya, aku sudah membicarakannya dengan dia.” ujar Ming.

 

“Kamu harus lebih serius mengatakan semuanya dan lebih tegas lagi padanya. Mungkin bisa membantu.” saran Yo.

 

“Ini salah saya, tidak pernah berpikir bahwa dia akan tiba-tiba muncul.” Mingterlihat menyesal.

 

“Dengar, Ming… .” Yo menatap ke arah Ming dan dengan sungguh-sungguh berbicara. “Kamu harus serius di depan Moo Wan, jangan menatap wajahnya, dia adalah seorang gadis cantik. Dia bisa mendapatkan pria lain dalam waktu singkat.” ujar Yo.

 

“Mmmm …. Aku juga sudah berbicara seperti itu padanya.” ujar Ming.

 

Ming hanya berguling-guling di tempat tidur Yo dan waktu menjukkan hampir jam 9:30 malam. Kemudian Ming berangkat untuk menjemput Moo Wan.

 

 

Tepat setelah Moo Wan tahu bahwa Ming akan menjemputnya malam itu, dia berpakaian lebih cantik dari biasanya.

 

“Apa yang terjadi? kamu terlihat serius.” tanya Moo Wan.

 

“Nanti saja atau kita bicara di sini sekarang juga?.” tanya Ming

 

Wajah Moo Wan terlihat sedikit khawatir.

 

Ming menarik nafas panjang dan mencoba untuk tidak menatap wajah Moo Wan, kini pandangannya lurus ke depan.

 

“Aku sudah pernah bilang, bahwa aku sama sekali tidak merasakan apa-apa lagi denganmu.” Ming berkata Seperti itu.

 

Wajah Moo Wan mulai siap menangis dalam beberapa menit.

 

“Aku ingat, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sangat merindukanmu dan ingin bertemu denganmu, aku masih berharap bisa kembali bersama lagi seperti dulu… ” Moo Wan berteriak keras.

 

“Maaf, tapi … tidak … tidak mungkin kita bisa kembali, sama sekali tidak. Kita hanya bisa berteman.” ujar Ming.

 

Tidak ada lagi pembicaraan manis antara keduanya.

 

“Jangan membuat hal ini lebih sulit dari sebelumnya, Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal.” lanjut Ming.

 

Moo wan mendorong Ming begitu keras sampai punggung Ming menyentuh pintu mobil.

 

“Kurang ajar…” Mo Wan menangis dan menyalahkan Ming. “Walaupun waktu terus berputar, kamu tidak akan pernah berubah.”

 

“Sebenarnya aku sudah berubah, aku baru saja berubah, sekarang aku mengerti bagaimana perasaan dan pikiranmu.” jawab Ming.

 

Tentu saja Ming tahu bagaimana rasa sakit ketika ditolak.

 

“Maafkan aku, tolong jaga dirimu.” lanjut Ming.

 

Ming memotong pembicaraan dengan egois dan masuk ke mobil lalu pergi. Ming sudah tidak punya perasaan lembut padanya lagi. Tidak setelah Moo Wan membawa masalah besar pada Ming di kampusnya. Dan masalah itu masih membuat Ming pusing sampai sekarang.

 

Ming ingin menghela nafas untuk selamanya. Mengapa dia harus masuk ke dalam kekacauan ini. Mengapa dia harus merasa seperti dada saya akan meledak.
Mengapa dia harus menolak Moo Wan untuk seseorang yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. Seseorang yang sudah mempunyai pacar.

 

Sial! Aku butuh minum. Aku akan bolos kuliah besok.
pikir Ming.

 

 

“Apa?” tanya Beam.

 

“Apa kamu mendengarku.” seru Kit “Sialan!” Kit sangat marah dan akan berniat memukul Beam di wajahnya “Ini tidak lucu, aku tidak tertawa.”

 

“Ha Ha Ha Ha. Pha, apa kamu melihat wajahnya?” Beam tertawa seperti orang gila. “Hei … aku pintar menyembunyikan kebohongan ini, aku bahkan melewatkan kelas untuk berpura-pura seperti Aku sedang marah.”

 

“Aku akan membunuhmu.” Kit mencoba menendang Beam, tapi Phana menahan Kit untuk melakukannya dan mencoba menenangkan Kit.

 

“Kenapa kamu melakukan semua itu? aku kaget dan bingung. Kenapa kamu melakukan itu Beam?.” tanya Kit kesal.

 

“Aku tidak bisa menahannya, seseorang mencoba untuk mendapatkan hati sahabat saya. Aku melakukan semua ini utuk mengujinya.” jelas Beam.

 

“Sebelumnya kamu selalu membelanya.” tanya Kit.

 

“Aku tidak tahu jika dia seorang playboy.” jawab Beam.

 

“Sialan!” Kit terlihat masih marah pada teman nya itu.

 

“Oh… ayolah aku minta maaf, aku tidak akan melakukan ini padamu lagi, aku janji.” Beam menyembah Kit dan memohon pada saat bersamaan. “Aku tidak menyukaimu, aku mencintaimu, kamu adalah sahabat terbaikku, kamu senang sekarang?”

 

“Pha … apakah kamu juga tahu tentang rencana ini?” Kit berpaling menatap Phana.

 

“Tidak. Aku tidak tahu apa-apa, aku sedang berbicara dengan pacaru.” Phana menunjukkan ponselnya pada Kit.

 

“Omong kosong, berhentilah mengubah topik pembicaraan.” seru Kit.

 

“Bagaimana aku tahu? cinta segitiga mu berantakan, jadi aku memutuskan untuk mundur dan tidak mau ikut terlibat.” Phana berbicara seperti hal itu bukan masalah besar untuknya.

 

“Kalian berdua adalah sahabatku sudah sejak lama, omong kosong apa yang terjadi pada kalian berdua, aku masih berpihak pada kalian.” seru Kit.

 

“Jika kedua sahabatmu jatuh cinta, itu juga tidak apa-apa buatmu, bukan?” Beam masih menganggapnya lucu.

 

Kit menggunakan sendok untuk memukul kepala Beam.

 

“Sialan! Tutup mulutmu. Cukup! itu tidak lucu.” seru Kit.

 

“Hei, tapi kamu harus pura-pura terus di depan Ming. Khususnya sekarang, dia sudah percaya bahwa kita adalah sepasang kekasih.” ujar Beam.

 

Tentu saja, Ming harus berpikir seperti itu karena Kit lahcyang mengatakan hal itu pada Ming.

 

“Jika kamu ingin membodohi orang lain, kamu harus bisa membodohi orang di sekitarmu terlebih dahulu, Bagaimana rencanaku? Keren, bukan? Aku hanya membutuhkan 5 menit untuk menemukan ide gila ini di Starbucks waktu itu.” lanjut Beam.

 

“Sialan Beam! kamu pikir itu lucu? Hah?” Kit masih marah pada Beam.

 

“Bagaimana dengan Yo?” Beam berbalik bertanya pada Phana.

 

“Yo berkata dia berat karena dia tidak menyerahkan semuanya.” jawab Phana asal berniat menggoda Kit.

 

“Pha Cukup dengan lelucon idiotmu, itu tidak lucu.” seru Beam.

 

“Oh … Ok, maaf.” Phana mengangkat bahunya. “Ide yang cukup gila, sepertinya Ming telah kehilangan auranya. Tidak ada lagi aura ‘Bulan Kampus’ di sekelilingnya, tepat setelah ‘bom’ yang kamu terjatuh padanya. Kamu melihat ekspresi wajahnya kan?.”

 

Kit menarik nafas berat. Semua tindakan mempunyai konsekuensi. Apapun yang terjadi mulai sekarang Kit harus menerimanya. Kit tidak bisa menebak-nebak hasil akhirnya akan seperti apa.

 

“Sial!” Beam berteriak tiba-tiba.

 

“Apa?” Kit bertanya.

 

“Dia di sini.” seru Beam.

 

Kit melihat ke arah pintu dan melihat Ming berjalan ke bar dengan wajah paling menyedihkan yang pernah Kit lihat.

 

Kit tidak tahu di mana harus bersembunyi, tapi Ming hanya berjalan melewati meja Kit tanpa melihat. Sepertinya ada banyak hal dalam pikiran Ming sekarang.

 

Ming berjalan ke kanan ke arah ke arah bar dan memesan Vodka dan Martini satu dari masing-masing jenis minuman itu. Ming minum satu gelas sekaligus dan mesanan satu set lagi.

 

“Dia tidak akan berhenti, kan?” Beam mengoceh. “Mungkin aku berhasil menipunya.”

 

“Mungkin itu bukan masalah tentang aku.” Kit juga minum wiski nya.

 

“Tapi aku pikir masalahnya tentang kamu.” Phana menebak.

 

“Tidak” jawab Kit.

 

“Ingin tahu?” tanya Kit.

 

“Hey apa yang kau lakukan?” seru Kit.

 

“Sepertinya kamu juga ingin tahu.” Beam hendak berdiri, tapi Kit menariknya untuk duduk.

 

“Biarkan dia sendiri.” ujar Kit.

 

“Ck Ck Ck” Beam tersenyum “Aku akan pergisekarang. tidak ada permainan bodoh lagi, ini sudah tidak menarik lagi, aku harus kembali belajar sekarang, aku harus mengejar kuliah yang sudah aku lewatkan.”

 

“Oke semoga sukses.” ujar Kit.

 

“Sampai jumpa” Beam pamit.

 

Beam berjalan keluar dari bar.

 

Kit masih tidak percaya dia bisa membodohinya dan membuat kepala Kit serasa akan pecah.

 

Kit menatap Ming yg sedang minum di bar dan menghela napas. Ming masih minum minuman keras dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan segera berhenti.

 

“Apa selanjutnya?” Phana bertanya.

 

Sepertinya Phana sudah membaca permainan Kit.

 

“Apa maksudmu? Apa selanjutnya…?.” Kit heran dengan maksud Phana.

 

“Pergi sekarang atau aku akan membawanya kesini bergabung dengan kita?.” jawab Phana.

 

“Bawa apanya…” Kit kesal.

 

“Aku yang memberimu tumpangan, jadi aku harus tahu dulu apa yang sebenarnya kamu inginkan.” jelas Phana.

 

“Duduklah sebentar lagi.” ujar Kit.

 

Kit berpura-pura minum lebih banyak. Sebenarnya Kit khawatir pada Ming. Dia minum begitu banyak sekarang. Dia bisa roboh sebentar lagi. Dan mungkin akan ada beberapa gadis yang membawanya pulang.

 

Kit terus menatap Ming. Dan Phana juga bisa melihat itu.

 

Ming memukul bar dengan sangat keras berulang kali, tanpa henti. Dia terlihat sangat mabuk sekarang.

 

“Kit…” teriak Ming.

 

Kit memegang gelasnya begitu kencang, saat dia melihat Ming duduk tak terkendali.

 

“Sial, Kit” Ming kembali berteriak menyebut nama Kit.

 

Ming akhirnya terjatuh dari kursinya. Ada seorang wanita yang membantunya duduk dan Kit tidak sadar menumpahkan beberapa wiski di atas meja. Tanpa bertanya atau menunggu apapun. Kit berjalan ke bar dan membawa Ming dari wanita itu.

 

“Maaf, dia adikku.” Kit berkata pada wanita itu.

 

Wanita itu tampak kecewa karena sebelumnya dia berusaha memanfaatkan keadaan Ming.

 

Phana datang untuk membantu Kit menahan Ming. Phana pria yang hebat, tidak mudah membawa Ming ke mobil sementara Kit juga mabuk.

 

“Aku sudah membayar minumannya dan juga Ming.” Phana memberitahu Kit. “Kemana kita harus membawanya? Apa kamu tahu asramanya?” tanya Phana.

 

Kit menggelengkan kepala. Kit hanya tahu kalau asrama Ming ada di sebelah kampus.

 

“Lalu bagaimana? Kita tidak bisa menyerahkannya pada Yo, Yo pasti sudah tidur.” ujar Phana.

 

Phana berkedip dan menata Kit. Kit cemberut, Phana memberi isyarat agar Kit membawa Ming ke kamarnya.

 

Tidak mungkin…
pikir Kit.

 

“Ming! Bangun … Dimana apartemenmu?” tanya Kit mengoyang-goyangkan tubuh Ming.

 

“Mmmm.m..mmmm … mm …. m.” Ming benar-benar tidak sadarkan diri.

 

Kit menarik nafas panjang kemudian menatap wajah Phana dan menyerah.

 

“Oke … kamarku.” seru Kit.

 

Phana tersenyum, sebelum mereka memasukkan Ming ke dalam mobil.

 

Membawa Ming tempat tidur Kit sama sekali tidak mudah. Kit berkeringat banyak akibat membopong tubuh Ming dan karena reaksi alkohol dalam minuman yang diminumnya. Kit melambaikan tangan pada Phana dan mengatakan kepadanya bahwa Kit bisa merawat Ming sendirian sebelum dia pergi.

 

Kit melihat ‘Bulan Kampus’ yang baru itu telah tidur di tempat tidurnya, membentangkan kedua lengan dan kakinya seperti sedang di tempat tidurnya sendiri.

 

Ke mana aku harus tidur malam ini? Mengutuk! Aku ada kelas besok. Ini buruk.
gumam Kit.

 

“Sial! Tidak ada tempat lagi!.”

 

Kit sudah tidak ingin mandi atau menyikat gigi lagi. Kit duduk di tempat tidur dan mencoba mendorong Ming ke sisi lain tempat tidur. Jadi Kit bisa tidur di sisi lainnya.

 

Tidak mungkin Kit tidur di lantai. Ming mulai bergerak sedikit. Hanya sedikit. Hal ini menyebabkan Kit mengalami masalah yang lain.

 

“Ummm .. m …. mm …. KitKat ku yang manis.” Ming mengigau, dia mengangkat tangan Kit dan menggigitnya sedikit.

 

“Sial! itu lenganku, bukan wafer.” Kit memukul Ming keras tanpa ragu-ragu. “Jika kamu berpura-pura mabuk, saya akan menendang kamu keluar dari apartemenku sekarang juga.” seru Kit.

 

Ming mengisap mulutnya dan bukannya menjawab.

 

Kit menarik nafas dalam-dalam sebelum berbaring di samping Ming dan mencoba menggunakan lengan dan kakinya untuk menahan Ming.

 

Kali ini Ming bergerak dengan mudah.

 

Kit mencoba memejamkan mata. Sambil berbaring, Kit melihat punggung Ming. Dan itu membuat Kit sama sekali tidak bisa tidur.
Pada saat yang sama Ming berbalik dan posisinya tepat dihadapan Kit, tapi Ming dalam posisi tertidur. Wajahnya tepat di depan wajah Kit. Kit berusaha untuk tidak bernafas.

 

Tidak! Tidak! kamu tidak akan melakukan adegan drama Korea di sini!
gumam Kit.

 

Cahaya dari balkon adalah satu-satunya sumber cahaya yang membantu Kit melihat wajah Ming dengan jelas. Dia sangat tampan, tapi beda dengan Phana. Kulit Ming lebih gelap. Lebih mirip gaya Thailand. Tajam tampan Alis tebal. Bentuk hidung sempurna, Warna kulit madu, Bulu mata yang tebal berpadu dengan mata nakal yang selalu berkilauan saat menatap ke arah Kit.

 

Kit tidak tahu apa masalah Ming kali ini. Tapi penyebab masalah Kit malam ini adalah dia berbaring di depan Kit. Kit menatap Ming dan melupakan seberapa dekat mereka saat itu.

 

Kit mencoba untuk memalingkan wajahnya, tapi tiba-tiba tangan besar itu meraih tubuh. Kit dan memeluknya erat dan kemudian …
Ming membuka matanya.

 

“Hei..!!.” seru Kit.

 

“Shhhhhh …” Ming menempelkan telunjuknya di bibir Kit.

 

“Kamu tidak mabuk!” seru Kit lagi.

 

“Shhhhhh …” ulang Ming.

 

“Sial! Biarkan aku pergi !!” teriak Kit.

 

“Shhhhhh …” lagi-lagi itu yang keluar dari mulut Ming.

 

Kit mencoba melepaskan diri dari pelukannya.

 

Sial! Berapa kali aku telah tertipu hari ini?
pikir Kit.

 

“Lepaskan aku atau aku akan memukulmu sekarang juga.” ancam Kit.

 

Ming sama sekali tidak melepaskan lengannya, tapi menatap tajam mata Kit dalam kegelapan.

 

Tinjuan Kit goyah. Kit tidak tahu apakah itu karena dia sedang marah atau karena Kit tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Maaf, kumohon maafkan aku.” ujar Ming.

 

Dan kemudian Ming mencium Kit.

 

Kit mendorong Ming dan memukul wajahnya. Tapi pukulan itu tidak keras sama sekali. Kit tidak tahu kenapa, Kit benar-benar bisa memukul Ming keras dari itu.

 

“P’Kit adalah KitKat yang paling enak di dunia. Apa kamu tahu itu?” ujar Ming.

 

Ming sama sekali tidak mabuk.

 

Kit masih bisa merasakan bibir Ming di bibirnya.

 

“Aku sudah memiliki kekuatan untuk ‘bertempur’ sekarang.” ujar Ming.

 


 

 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan