Novel 2 Moons – Chapter 30 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Yo hampir lupa betapa tampan nya Phana.

 

Mereka sedang berada di restoran bubur tradisional yang sama seperti hari ini. Tempat ini begitu ramai oleh gadis-gadis dari setiap tempat dan setiap jurusan di kampus.

 

Yo melihat beberapa gadis ini menatap nya dan Phana bergantian, beberapa di antaranya terlihat wajahnya berseri setelah melihat Phana, beberapa lagi terlihat bertanya-tanya kenapa Yo bisa berada di sini bersama Phana, dan sepertinya satu orang didepan Yo terlihat begitu menikmatinya.

 

“Apa ada masalah?” Phana bertanya pada Yo saat Yo mengambil bubur itu dan mencoba meniup dan mendinginkan nya sedikit sebelum di makan.

 

Lebih dari seminggu sudah setelah kegiatan kampus dimulai. Hubungan keduanya sedang hangat-hangatnya, hanya di kalangan teman dekat bahkan teman baik Yo seperti geng Angel. Mereka masih bertanya kepada Yo tentang pacar rahasianya, apakah dia Ming atau Phana. Mereka juga mengatakan bahwa mereka sangat senang saat Phana datang untuk menjemput Yo dan mereka sudah kehilangan kesempatan mereka setelah melihat hal itu.

 

Hidup Yo masih berjalan dengan normal. Tidak ada perkembangan antara Ming dan Kit, tapi Ming sekarang jauh lebih baik. Yo tidak tahu apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu.

 

“Apa yang sedang Yo pikirkan?” Phana bertanya sambil memakan buburnya.

 

Yo menatap Phana dan tiba-tiba saja pikiran nya menjadi kemana-mana. Yo berpikir bagaimana kalau Phana bukan pacarnya. Bagaimana kalau Yo bukan pacar Phana. Bagaimana jika keduanya bukan sepasang kekasih. Apa yang akan Yo lakukan sekarang…

 

Mungkin Yo akan terbangun sedikit terlambat dan menjalani rutinitas di kelas seperti orang gila karena tidur nyenyak. Atau sedikit terlambat menguntit Phana berjalan turun dari kamarnya sampai ke kampus. Sesuatu seperti itu.

 

Yo hanya ingin berpikir yang manis-manis saja yang bisa membuat Yo tersenyum.

 

Bagaimana dengan Phana? Tentu saja, jika Phana masih lajang, akan ada begitu banyak gadis yang menunggu untuk menjemputnya ke kampus atau menatapnya ketika sedang makan bubur seperti hari ini.

 

Sepertinya semua orang ada di sini karena Phana, dan Phana bahkan tidak menyadarinya. Dia sama sekali tidak mempedulikan gadis-gadis itu.

 

“Hei!” Phana menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Yo dari pikiran itu. “Apa Yo baik-baik saja?”

 

“Ah, tidak. Aku baik-baik saja.” jawab Yo sedikit kaget.

 

“Aneh, apa karena bibi lupa menambahkan telur untukmu?” Phana bercanda.

 

“Dasar…” seru Yo.

 

Tak bisa dibayangkan jika kabar tentang hubungan kediuanya tersebar di sekitar kampus. Apa yang akan terjadi dan apa yang akan Yo alami dan rasakan.

 

“Hei…” ujar Yo.

 

“Hmm?” jawab Phana.

 

“Apa P’ sudah memberitahu semua tentang hubungan kita?” tanya Phana.

 

Yo mencoba bertanya kepada Phana tentang ini. Dan Phana menatap Yo.

 

“Kenapa Yo bertanya tentang ini?” Phana balik bertanya.

 

“Aku hanya ingin tahu.” ujar Yo.

 

“Hanya mengatakan pada mereka bahwa saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang, kebanyakan dari mereka tidak bertanya lagi.” Phana menjawabnya dengan tenang. “Apa yang sedang mengganggu pikiran Yo saat ini?” tanya Phana lagi.

 

“Tidak~ …. aku hanya bertanya.” Yo mengaduk buburnya beberapa kali. “Malu?” ujar Yo.

 

“Malu?” tanya Phana heran. “Apa Yo malu mempunyai pacar seperti P’?” sekarang Phana meletakkan sendok nya dan dengan tatapan penuh tanya menatap ke arah Yo. “Lalu, Apa yang sedang mengganggu pikiran Yo sekarang.”

 

Yo mencoba menyingkirkan pikiran itu karena Phana sekarang terlihat sangat menakutkan.

 

“Hal yang mana yang Yo ingin P’ jelaskan terlebih dahulu?” Phana mulai berbicara. “Ayo kita bahas. Memiliki Yo sebagai pacar P’. Tidak. P’ sama sekali tidak malu mengakui Yo sebagai pacar P’. P’ sangat senang memiliki Yo dan bangga akhirnya kita bisa bersama.”

 

Sekarang Yo tidak bisa melihat wajah Phana yang seperti biasanya. Yo merasa sangat malu sekarang.

 

“Bukan karena Yo sudah terkenal atau Yo adalah ‘Bulan Kampus’, tapi karena kamu adalah Yo, Yo-ku. Sudah P’ katakan sebelumnya bahwa P’ sudah lama merasakan perasaan ini pada Yo. Dan akhirnya P’ pacaran dengan Yo.  P’ sangat bangga sekarang, Kenapa Yo sangat mengkhawatirkan hal ini? ” tanya Phana setelah berkata panjang lebar.

 

“Ehem…” Yo kelihatan sedikit tersedak.

 

Sial! Itu manis sekali dan aku merasa seperti terbang begitu tinggi sekarang. Tapi kenapa ini berlangsung di restoran bubur seperti ini?
gumam Yo dalam hati.

 

“Tentang memberitahu semua orang bahwa kita pacaran” Phana menatap mangkuk bubur nya. “Awalnya P’ pikir itu hanya kita berdua saja, tapi kemudian Yo bertanya kepada P’ membuat P’ jadi memikirkannya.”

 

“Berpikir tentang apa?” tanya Yo.

 

“Apa Yo merasa malu mempunyai pacar seperti P’?.” ujar Phana.

 

Yo berpikir apakah Phana sedang  bercanda mengatakan hal itu. Dia pria yang sempurna. Hanya saja dia memiliki perasaan yang sama dengan Yo. Yo senang bukan kepayang, seperti orang gila. Memalukan? Tidak pernah! Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Yo. Serius. Yo sangat senang sekarang!. Tapi tidak mungkin Yo membiarkan Phana tahu itu. Phana sangat manis dan tampan. Yo tidak ingin memanjakannya.

 

“Tidak apa-apa, Itu Oke…” Yo menjawab.

 

“Hanya Oke?” tanya Phana.

 

“Ya.” jawab Yo singkat.

 

“Hei!” seru Phana. “Bahkan tidak sedikit saja?. Aku sangat tampan, bukan begitu?” lanjut Phana protes.

 

Yo melihat Phana yang sedang salah tingkah karena Yo berkata demikian, Phana tipe orang yang sifat narsis nya keluar hanya didepan orang yang dia cintai.

 

“Tidak.” Yo menggelengkan kepalanya.
Yo sangat senang bisa menggoda Phana.

 

“Hei, aku juga murid yang pintar.” lanjut Phana.

 

“Begitu?” goda Yo.

 

“Keluargaku juga kaya.” Phana terus berpromosi.

 

“Oke, lalu?.” Yo masih betah menggoda Phana.

 

Phana terlalu percaya diri, dia terus membanggakan dirinya untuk membuat hati Yo tertarik, membuat Yo ingin terus menggodanya. Phana tampak sangat serius dengan hal ini dan mencoba untuk berpikir apa lagi yang harus dibanggakan didepan Yo, tapi akhirnya dia menyerah.

 

“Hei … apa Yo punya malaikat dari surga sebagai pacarmu atau apa? Aku barang langka, disini.” protes Phana.

 

Yo tertawa terbahak-bahak saat Phana bertingkah semakin menggila. Phana tidak tahu bahwa Yo sedang menipunya sekarang. Semakin Yo tertawa, semakin Phana menjadi terlihat sangat marah.

 

Phana tidak bisa melakukan apapun lagi sehingga dia berhenti dan meminum Es Teh Thai kesukaan nya dengan wajah murung tapi tetap menawan.

 

“P’ tidak peduli, Yo punya P’ sekarang, Yo tidak punya pilihan lain, kecuali menerima kenyataannya.” Phana menggunakan tangannya untuk mengacak-acak rambut Yo tanpa henti.

 

“Hei … Yo butuh waktu lama untuk menata rambut Yo pagi ini.” Yo protes.

 

“Apa ini hasil yang paling terbaik yang bisa Yo lakukan pada rambutmu?” ledek Phana.

 

“Apa yang baru saja P’ katakan?” tanya Yo.

 

“Tidak, P’ tidak mengatakan apapun.”
Phana menggelengkan kepalanya dan bertanya apa Yo sudah selesai makan atau belum.

 

Phana berjalan meghampiri bibi penjual bubur untuk membayar dan kemudian keduanya pergi.

 

Yo tidak ada kelas pagi hari ini, jadi Yo masih belum memakai seragamnya, tapi Phana selalu sibuk, dia ada kelas sepanjang hari.

 

Tadi saat perjalanan kembali ke tempat parkir apartemen setelah dari kedai bubur, Phana berhenti sejenak.

 

“Apa ada masalah?” Yo bertanya.

 

“P’ tidak ingin pergi ke kampus hari ini.” jawab Phana.

 

“Hei … apa P’ bercanda? Tidak mau pergi ke kampus.” Yo mendorong punggung Phana ke mobilnya.

 

Phana bertingkah seperti anak kecil sekarang.

 

“Tapi P’ ingin bersama Yo.” ujar Phana.

 

“Lagi pula kita akan bertemu lagi nanti.” Yo meyakinkan.

 

“Coba, tidak ada kelas pagi hari ini.” Phana mengeluh.

 

“Berhenti mengeluh, sudah sana pergi ke Kampus.” Yo mendorong Phana ke mobilnya lagi.

 

Phana menolak dan bertingkah seperti anak balita, dan itu membuat Yo tersenyum, sementara Phana menarik nafas panjang. Dia serius tidak ingin pergi ke kampus.

 

“Siapa yang akan mengantar P’ ke kampus hari ini ah?” tanya Yo.

 

“Tote dan Gang …” Yo tersenyum “Mau menunggunya?” tanya Yo menggoda Phana.

 

“Tidak Tidak Tidak … Aku pergi sekarang.” Phana benar-benar takut pada mereka.

 

Phana bergegas masuk ke mobil. Yo tersenyum pada Phana sampai mobilnya tidak terlihat lagi.

 

 

“Yo!.”

 

Seseorang memanggil Yo.

 

“Zup? (what’s up)” tanya Yo.

 

“Zup apanya! bicaralah, siapa yang berkencan?” tanya Imon.

 

Yo berpikir mereka lupa akan hal ini. Geng angel ada di sekitar Yo saat belajar untuk kuis di lab hari ini. Ini bukan kuis yang seperti biasanya. Ini lebih seperti kuis tambahan untuk menambah nilai saja.

 

“Kamu lebih baik fokus pada kuis ini.” jawab Yo.

 

“Temanku pergi untuk makan bubur pagi ini di sekitar apartemenmu.” Imon mulai bercerita. “Dia melihat mu di sana bersama P’Pha.”

 

“Sial! Apa itu benar Yo? Apa dia yang kemarin ke kampus kita?” angel Nomor 1 mengguncang tubuh Yo dengan kencang.

 

Yo terlalu malu untuk mengakui bahwa Phana adalah pacarnya di depan teman-teman Yo.

 

“Kita harus belajar dulu, bukan?” Yo mengalihkan pembicaraan.

 

“Beri aku jawabannya?, jadi aku akan beralih ke ‘Bulan Kampus’ yang lain.” tanya Tote.

 

“Iya katakan?” Imon menambahkan. “Apa kamu tidak tahu, aku hanya bisa mencium gambar P’Pha dan Ming Kwan setiap hari di komputerku.” Imon bertingkah berlebihan seperti aktris terkemuka di Seri Drama TV.

 

“Para ‘Bulan Kampus’ kita tampak sangat menggoda. P’Pha itu indah seperti dewa yunani, dan Mingkwan sangat tampan seperti malaikat, wah…. aku mau mereka berdua !!!” jerit Tote.

 

Terus dan terus membahas tentang pria… Alih-alih melupakan kuisnya.

 

“Aku ke kamar mandi dulu, aku segera kembali.” Yo memutuskan untuk melarikan diri dari mereka untuk sesaat.

 

“Hey Yo! kamu tidak boleh ke mana-mana! Beri aku jawabannya!” Tote memaksa.

 

“Oke… iya iya … dia.” Yo memberi jawaban pada teman-temannya yang sedang penasaran kemudian dan berjalan pergi.

 

“Sial~ Yang mana Yo? Aku butuh nama jelasnya dan detail tentang penampilan fisiknya juga seberapa ‘besar’ dia?.” tanya Imon.

 

“Jadi … dia P’Pha … apa aku benar? Kapan itu terjadi? Bagaimana itu dimulai!?!?” teriak Tote.

 

Teman-teman Yo terus dan terus mengulik rahasia Yo dengan Phana. Alih-alih belajar untuk kuis, sekarang mereka berkomplot untuk berbagi gosip tentang Yo dan Phana dan menganalisis serta mencocokkan semua bukti yang mereka miliki. Mencoba menerka-nerka bagaimana hubungan Yo dan Phana dimulai.

 

“Bagaimana leader dari jurusan Biologi bisa sesantai ini padahal kuis laboratorium akan dimulai?”

 

Seseorang telah berdiri disebelah Yo sekarang.

 

Yo hampir melompat kaget saat Yo sedang berjalan ke kamar mandi karena ada seseorang yang berjalan di sebelahnya.

 

Dia adalah Park. Yo lupa bahwa dia juga ada di Laboratorium Biologi untuk praktik dan kelasnya tepat di sebelah Yo.

 

“Hanya membacanya tapi tidak menjawabnya, apa maksudnya?” tanya Park.

 

Yo mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Park mengirim pesan pada Yo beberapa kali, dia memiliki nomor telepon Yo. Yo membacanya, tapi tidak pernah menjawabnya. Yo sedang berpikir untuk memblokir nomor teleponnya.

 

“Oh ayolah, aku bukan orang jahat.” Park mulai menjelaskan. “Apa kamu tidak ingin punya teman dari jurusan lain?” tanya Park.

 

Yo berjalan masuk ke kamar mandi, sekarang ini Yo merasa butuh Ming berada di dekanya sekarang. Karena Ming bisa membantuku mengusir Park sekarang juga.

 

“Kenapa kamu takut padaku?” tanya Park.

 

“Tidak, aku tidak takut.” Yo harus mengatakan sesuatu. “Tapi kamu sedikit aneh.” ujarYo.

 

“Aneh bagaimana?” tanya Park.

 

“Baiklah … aku sudah katakan padamu, jika aku tidak tertarik padamu. Tapi kamu mendekatiku terus dan terus. Bukankah itu aneh?” jelas Yo sedikit kesal.

 

Park menyeringai.

 

Sementara Yo menarik nafas berat.

 

“Jadi, sekarang kamu tahu bahwa akulah yang meminta nomor teleponmu, bukan teman ku.” ucap Park.

 

Tentu saja Yo tahu, karena Yo bukan orang yang mudah dibodohi.

 

“Aku hanya ingin berteman dengan orang dari jurusan lain.” jelas Park.

 

Yo mengangguk. Yo sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi dan hendak pergi ke kelas. Kemudian Yo memberi Park ucapan selamat tinggal.

 

Yo juga ingin sekali berbicara kepada Park untuk tidak mengganggunya lagi, tapi tidak tahu kenapa Yo tidak bisa mengatakannya pada Park. Yo berpikir apa maksud Park mendekati seseorang yang sudah tidak lajang lagi seperti Yo.

 

Setelah lab selesai, saat Yo sedang berjalan keluar dari gedung Yo langsung saja dikelilingi oleh geng angel, dengan wajah penasarannya, mereka masih bertanya pada Yo secara bertubi-tubi dengan sejuta pertanyaan yang sama. Seperti…

 

“Apa yang P’Pha lihat darimu? Bagaimana kamu bisa mendapatkannya?.”

 

“P’Pha begitu ganteng, Yo juga ganteng, tapi kamu seharusnya tidak mendapatkannya. Apa kamu tahu maksudku?”

 

“Jika P’Pha adalah seorang gay, dia harus mendapatkan seorang wanita cantik seperti ku. Tidak dengan kamu yang kurus dan mulus seperti Anda. Itu tidak benar.”

 

“Bagaimanapun, paling tidak, kamu menyisakan MingKwan untuk ku.”

 

“Hei! aku hanya bercanda, kenapa kamu seperti akan meninjuku. aku bercanda.” ujar Imon seperti takut dengan Yo.

 

“Oh … apa iya?” tanya Yo yang memang sedang mengepalkan tangan.

 

“Oke Oke … aku tidak akan menyentuh priamu. Tapi kamu lebih baik waspada terhadap gadis-gadis di luar sana, posesif akan membunuhmu, Strawberry Yogurt.” Imon membari nasihat pada Yo.

 

“Strawberry Yogurt apanya…” Yo mendorong kepala Imon dengan lembut.

 

“Jadi … bagaimana dia? Apakah dia kekasih yang baik? Bagaimana dengan ‘kepunyaan’nya?” angel lain mendekat dan bertanya.

 

“Bagaimana aku tahu?” jawab Yo.

 

“Apa? kamu masih perawan?” seru nya.

 

“Sialan kalian.” seru Yo.

 

“Tadi malam, saya memperbesar foto P’Pha. Tonjolan besar di selangkangannya itu. Dia pasti sangat baik dalam hal ranjang. Tapi mengapa kamu belum pernah ‘berhubungan’ dengannya?” Imon memang sudah gila.

 

“Apa yang salah dengan kalian? Kenapa kalian begitu terobesi dengannya selama ini?” tanya Yo.

 

“Sial, dia ‘suami’ teman kita, tidakkah kamu tahu bagaimana cara berbagi dengan ku, Yo? tidak hanya gambar online saja.” Tote mengoceh.

 

“Sudah cukup… ayo kita bicara tentang hal yang lain saja.” ujar Yo mulai sedikit kesal dengan teman-temannya.

 

“Tidak, dia terkenal, dan menggali informasi tentang percintaanmu sangat menyenangkan.” ujar Imon.

 

“Tidak! Kalian sialan!!!!” teriak Yo kesal.

 

“Hari ini, kamu tidak bisa meninggalkan kami, kamu harus pergi bersama kami, tidak peduli siapa yang akan menjemputmu nanti.” Imon datang menghampiri Yo lalu berbisik. “Kamu harus pergi bersama kami.”

 

Ming adalah supir Yo hari ini, karena Phana harus mengajar teman-temannya seusai kelas. Ini akan menjadi hari terburuk untuk Ming.

 

“Bingo! Mingkwan ku datang… .” Tote melihat Ming menunggu di bawah tangga di samping tempat parkir. “Bagus, lebih baik dia daripada P’Pha. P’Pha sangat menakutkan, aku tidak berani bercanda dengannya.”

 

Yo memutuskan untuk mengahampiri Ming dan berbicara dengannya sebelum membiarkan para angel itu ‘memakan’ nya hidup-hidup.

 

“Hey Ming… Sudah berapa lama kamu menunggu?” Yo bertanya.

 

Ming tampak sedang dalam suasana hati yang baik hari ini karena dia hanya memberi Yo gerakan pada alisnya.

 

Yo terlihatcsangat penasaran. Apa alasan yang membuat Ming merasa bahagia.

 

“Ada apa? … Oh … tidak … tidak …” Wajah Ming seketika berubah menjadi ketakutan sesaat setelah melihat semua angel itu ‘terbang’ ke arahnya.

 

“Mingkwan … aku merindukanmu …” Imon meletakkan wajahnya di bahu Ming.

 

“Berhentilah jalang!” angel Nomor tiga mulai memperebutkan Ming dengan mengusir Imon pergi. “Kamu tidak bisa memilikinya sendirian saja, kamu harus berbagi.”

 

“Dia juga milikku.” seru Tote.

 

“Hey Gajah, dia juga milikku.”

 

Ming tampak seperti sepotong daging segar di mata para angel dan siap untuk diperebutkan.

 

Yo menjadi mangsa yang disisihkan. Yang bisa Yo lakukan saat itu adalah melihat Ming ‘dimakan’ hidup-hidup. Itu sangat lucu bagi Yo.

 

“Sial Yo! Bantu aku!” Ming hanya bisa berbicara pelan dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara.

 

“Kami akan membawamu ke Honey Toasts di samping kampus, ayo ikutlah dengan kami.” Imon masih menempelkan wajahnya di bahu Ming. “Yo ikut dengan kami, aku sudah memaksanya.”

 

Yo belum pernah mendengar kata-kata ‘Honey Toasts’ dari mulut Imon.

 

Dasar Pembohong!
pikir Yo.

 

“Mmmm… Terserah dia.” jawab Yo.

 

“Tentu saja dia ikut dengan kita.” seru Imon.

 

“Oke.” jawab Yo.

 

Yo tertawa melihat penderitaan Ming.

 

“Lihat? Ikutlah dengan kami … tolong … ikutlah dengan kami … Ayo kita berkencan dengan keempat istrimu  … P’Ming.”

 

Ming berhasil diajak keluar dari kampus oleh para angel dan Yo berjalan di belakang mengikuti kemana mereka akan pergi.

 

Lucu sekali dan Yo tidak bisa berhenti tertawa. Tidak lupa Yo mengirim pesan kepada Phana dan memberitahunya jika Yo akan makan Honey Toast dengan Ming dan keempat istrinya.

 

Bahkan Yo berpikir jika Phana sangat sibuk, tapi Yo tidak akan membiarkan Phana tahu tentang rencana Yo yang kacau hari ini.

 

 

Di kedai kopi kecil di sebelah kampus kami, kedai ini cukup ramai sepanjang hari. Karena ini adalah sore hari ketika semua siswa telah selesai kuliah.

 

Ming dan Yo mencari meja yang tersedia sementara para angel duduk mengelilingi meja memesan menu yang mereka inginkan.

 

Tiba-tiba Ming melihat seseorang sedang duduk di sebuah warung kopi dan terlihat sedang belajar.

 

Kit memakai kacamata besar dan benar-benar fokus pada bacaannya.

 

“Hei!” Kata pertama Ming telahah bangkit dari keterkejutannya.

 

Ming memutuskan untuk segera bersembunyi di belakang punggung Yo, tapi badan Ming jauh lebih besar dari badan Yo, sehingga masih terlihat jelas oleh Kit.

 

“Bagaimana bisa P’Kit ada disini?.” bisik Mimng pada Yo. “P’Pha mengatakan kepada ku bahwa akan ada ujian di akhir minggu ini.” Ming mencoba menatap Kit sambil berdiri di belakangku.

 

Ming beruntung Kit tidak melihatnya karena sibuk membaca lembar kertas belajar dan bukunya.

 

“Ayo kita duduk di sini.” ajak Ming.

 

Yo tahu Ming ingin menyembunyikan diri dari Kit, tapi akhirnya Ming memilih meja yang hanya berjarak dua meja dari Kit.

 

Ming bertindak begitu lucu dan sedikit tidsk memakai otaknya.

 

Setelah para angel selesai dengan pesanannya, mereka ‘terbang’ mengelilingi Ming lagi. Mereka ingin berbicara keras, tapi mereka tidak bisa melakukannya di sini. Karena ada begitu banyak orang sedang belajar di warung kopi ini, jadi mereka hanya bisa berbisik kepada Ming.

 

“Kamu tahu pria itu? kamu selalu menatapnya dari sini, kami tahu itu.” Tote angel bertubuh gemuk itu mulai bertanya.

 

“Memperhatikan dia? Tidak … aku hanya mencoba berkencan dengannya.” jawab Ming sambil tersenyum.

 

Para angel  itu sangat terkejut dan tertegun.

 

Yo tertawa lucu melihat ekspresi teman-temannya.

 

Rasakan! Pria yang kalian puja-puja sekaran ternyata sedang mengejar orang lain.
gumam Yo dalam hati.

 

“Mencoba? Saya tidak melihat Anda melakukan apapun.” ujar Tote. “Ayo ayo ayo… Bicaralah padanya, bagaimana kamu bisa berkencan dengan nya jika masih ada disini bersama kita?”

 

Yo kaget dan berhenti tertawa. Para angel itu membuat Yo menganga. Yo mengira jika mereka menginginkan Ming nyata tidak, mereka hanya iseng saja menggoda Ming. Dan hanya untuk menghibur orang-orang disekeliling mereka saja.

 

“Dia sedang belajar.” Karena Kit, akhirnya Ming akrab dan mulai mengobrol dengan teman-teman Yo itu. “Jika berbicara dengannya sekarang, aku akan diusir.” lanjut Ming.

 

“Awwww..w …. w … Tuanku yang malang … Kamu baik sekali dan bijaksana …” Imon semakin memuja Ming. “Kami mempunyai rencana.” Imon menarik Ming untuk mendekatinya dan berbisik.

 

Lalu terlihat Ming mengangguk dan setuju dengan rencana Imon.

 

“Hei … terima kasih.” ujar Ming.

 

Ming meninggalkan meja untuk sesaat.

 

Yo menatap teman-teman angel nya dan bertanya-tanya apa yang mereka sarankan kepada Ming untuk dilakukan sahabatnya itu.

 

Tapi Yo tidak begitu memperhatikannya karena makanan Yo sudah disajikan, terlihat sangat lezat. Honey Toast dengan Vanilla Ice Cream.

 

“Apa yang kamu lakukan?” Yo bertanya pada Ming.

 

“Biarkan aku bersembunyi sebentar, saat pelayan membawa itu ke P’Kit, Kamu beritahu aku bagaimana reaksinya, Oke? aku ke kamar mandi dulu.” ujar Ming.

 

Ming menepuk pundak Yo dan berlari ke kamar mandi. Meninggalkan Yo yang terlihat bingung dan penasaran di antara teman-teman angel nya. Mereka tertawa pelan.

 

Ming memesan beberapa hidangan untuk Kit. Yo melihat pelayan menyajikan beberapa hidangan pencuci mulut dan minuman. Hidangan itu terlihat menakjubkan dan membuat Honey Toast milik Yo terlihat biasa-biasa saja.

 

Kit terlihat sangat bingung dan menolak hidangan dan minuman itu, sampai dia melihat sesuatu di piring.

 

Yo melihat wajah Kit berubah super merah dan menengok ke kiri dan kanan seperti mencari sesuatu atau seseorang.

 

Apa yang kamu lakukan? Ming. Ada apa di piring itu?
Yo penasaran.

 

Kit terlihat sudah tidak terkejut lagi sekarang dan kembali fokus belajar, sambil memakanan hidangan penutup itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia terlihat sudah tidak tegang lagi dari sebelumnya dan begitu santai saat ini.

 

Ming kembali dan duduk tepat di samping Yo.

 

Kit mengangkat kepalanya, tapi masih memusatkan perhatian pada lembar kertas dan bukunya.

 

“Bagaimana reaksinya?” Ming bertanya.

 

“Dia terkejut dan ingin tahu siapa yang menyuruh pelayan itu, dia akan membunuh ayah orang itu, dia terlihat sangat marah.” jawab Yo.

 

“Apa?” Ming kaget.

 

“Aku bercanda.” Yo berbicara dengan biasa. “Wajahnya sangat merah.” lanjut Yo.

 

“Benar, aku juga melihatnya, terlihat sangat bahagia.”

 

“Jadi, apakah kamu sudah mencoba berkencan dengannya atau mencoba membawanya ke tempat tidur mu?.”

 

Ming batuk.

 

“Kencan … Kencan …”

 

“Apa yang kamu tulis? katakan, aku sangat ingin tahu sekarang.” tanya Yo sambil mengunyah makanannya.

 

“Tidak apa-apa, hanya menulis sesuatu saja di Pancake-nya dengan cokelat, aku menulisnya sendiri.” jawab Ming.

 

Yo tahu sekarang, karena itulah tadi Ming pergi begitu lama untuk melakukan hal itu.

 

“Apa yang kamu tulis?” Yo penasaran.

 

“Su Su na, Dari Ming” jawab Ming.

 

“Hanya itu?” tanya Yo.

 

“Iya, hanya Itu saja.” jawab Ming.

 

“Sialan, aku pikir kamu menyembunyikan cincin kawin atau semacamnya.” Imon nampaknya sangat kecewa. “Tapi ya, itu lucu dan bagus.”

 

Serentak Yo, Mingdan teman geng angel melihat ke arah Kit dan pada saat bersamaan Kit sedang melihat kearah yang sama.

 

Yo menatap Kit, kemudian mengucapkan salam, sementara teman-teman geng angel bergantian mencium pipi Ming.

 

Ming duduk dengan santai dan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

 

“Pergilah sekarang … sapa dia.” bisik Yo.

 

“Haruskah?” tanya Ming.

 

“Berhenti menjadi pengecut sekarang. Ayo Ayo Ayo.” Imon memberi Ming semangat.

 

“Apakah P’Beam ada di sekitar sini?” Ming melihat ke kiri dan kanan tentang.

 

“Tidak, P’Kit di sini sendirian, aku sudah mengeceknya, pergi saja.” ujar Yo.

 

Ming sepertinya tidak begitu percaya diri.

 

Yo hanya bisa melihat dan memberi Ming semangat dari jauh. Sementara geng angel bertingkah seperti kehilangan hadiah yang paling berharga.

 

 

Di meja Kit…

 

“Hey P’…” sapa Ming.

 

“Hey Hey apanya…!.” seru Kit ketus.

 

“Kenapa P’ masih marah padaku? Aku membayar mahal untuk hidangan ini.” sepertibiasa Ming memasang ekspresi andalannya.

 

Kit terlihat diam seperti sedang memikirkan sesuatu.

 

“Kenapa P’ diam saja. Apa maksud P’? Kenapa? P’ masih marah padaku?.” tanya Ming terus dan terus.

 

“Kamu … Mmmm kamu tidak membalas pesan ku.” Akhirnya Kit menjawab.

 

“Apa?! Sungguh?! P’ mengirim pesan padaku? Kapan? Kapan P’ mengirimkannya?.” Ming terlihat antusias dan sangat senang.

 

“Tadi malam.” jawab Kit singkat.

 

“Hey benarkah? Sebentar… izinkan aku memeriksa ….” Ming merogoh saku celananya.

 

“Hey! kenapa kamu harus duduk sedekat ini denganku? Pergi dariku … Duduklah di sana … Dan sejak kapan kau menjadi pusat perhatian para angel itu?.” tanya Kit.

 

“Tidak. Kami hanya berteman .. Oh wow…. P’ memang mengirim pesan padaku! Yes!!! Yes!!! Aku sangat bahagia sekarang…” seru Ming.

 

Kit hanya terdiam melihat tingkah konyol Ming.

 

“Aku benar-benar minta maaf tidak membalasnya. Aku sudah tidur. Dan lihat pesan P’ Ha Ha Ha ‘Dimana kamu?’ Ha Ha Ha … Ah-hah. P’ memang merindukanku !!!.” Ming berteriak sambil tertawa.

 

“Diam!.” Kit kesal.

 

“Aku senang P’ mengirim pesanpadaku untu yang pertamakali nya. Apakah P’ tahu betapa sulit dan malaunya aku untuk bertemu denganmu, tepat setelah saya mencium P’ malam itu, tidak berbicara dengan P’ semenit saja, itu menyiksaku.” ujar Ming.

 

“Ssshhh … Kenapa kamu harus berbicara dengan keras?.” Kit protes.

 

“Ssshhh … maaf.” Ming memelankan suaranya.

 

“Ngomong-ngomong … kenapa kamu harus memesan makanan sebanyak ini?.” tanya Kit.

 

“Aku melihat tumpukan buku-buku dan lembaran kertas belajar itu. Ini tugasku untuk mendukung dan menyemangati P’ semampuku.” jawab Ming.

 

“Sini…” Kit meminta Ming mendekat.

 

“Apa?.” tanya Ming.

 

“Bantu aku untuk menyelesaikannya. Aku tidak bisa makan semua ini sendirian.” ujar Kit sambil menunjuk semua makanan yang tadi dibelikan oleh Ming.

 

“Sangat boleh sekali…. dengan senang hati.” jawab Ming terlihat sangat senang.

 

“Ya….” ujar Kit seraya tersenyum.

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.