Novel 2 Moons – Chapter 31 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Yo” ujar Phana menelepon Yo.

 

“Hm?” tanya Yo.

 

Yo sedang bersama siapa?” tanya Phana.

 

“Angel… ” jawab Yo singkat.

 

Malaikat?” tanya Phana kaget.

 

“Geng Angel…” Yo menjelaskan

 

Oh iya ingat.” Phana memotong perkataan Yo. pendek.

 

“Kenapa?” tanya Yo.

 

Tidak ada.” jawab Phana singkat.

 

“P’Pha, apa yang terjadi?” tanya Yo penasaran.

 

Hanya saja P’ ada kelas sepanjang hari, P’ tidak bisa menemui Yo dan menjagamu hari ini.” jawab Phana.

 

Yo terdiam sesaat ketika sedang berjalan mengikuti geng angel ke kantin.

 

Phana sedang istirahat makan siang juga, jadi dia punya waktu untuk menelepon Yo.

 

Sejujurnya, saat Phana mengatakan itu, Yo merasa sedikit sedih. Yo tidak sedang drama, tapi karena mereka berdua adalah sepasang kekasih, Yo tidak pernah berpikir sedetik pun bahwa Phana adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Phana selalu menjaga Yo dengan baik, dia adalah tipe pacar yang sempurna, dan Yo tidak ingin Phana berpikir seperti apa yang Yo pikirkan.

 

Pada siang hari, mereka berdua ada kelas, bagaimana keduanya bisa bertemu di siang hari? Khususnya kampus utama fakultas kedokteran, yang beberapa kali kelasnya berakhir cukup larut malam. Yo benar-benar mengerti situasinya.

 

Phana juga sangat bijaksana dan peka. Dia selalu menjaga Yo dengan baik dan tidak pernah membalas pesan Yo lebih dari 10 menit, kecuali saat dia berada di Laboratorium Anatomi. Dan dia selalu memberitahu Yo di mana atau apa yang dia lakukan dengan rinci.

 

Phana adalah tipe pacar yang sangat baik yang diimpikan oleh siapa pun, tapi kenapa Phana selalu mengkhawatirkan hubungannya dengan Yo dan selalu berpikir yang bukan-bukan.

 

“Jangan terlalu dipikirkan, Yo di sini baik-baik saja.” lanjut Yo memberi tahu.

 

P’ tidak tahu, Yo. ini akan semakin sulit nantinya dan P’ juga akan selalu sibuk.” ujar Phana terdengar sedih.

 

“Kedepannya akan jadi seperti apa, tidak perlu dipikirkan sekarang.” Yo menghibur Phana sebisa mungkin. “Kenapa P’ mengkhawatirkan hal ini secara tiba-tiba?” Yo bertanya.

 

Suara rendah Phana terdengar aneh.

 

Salah satu teman sekelas P’ baru saja putus dengan pacarnya, karena dia tidak punya waktu lagi untuk pacarnya.” jelas Phana.

 

Yo hanya bisa mendengarkan dan diam saja.

 

Dia sangat terpukul, P’ tidak ingin terluka seperti itu.” ujar Phana.

 

Yo terdiam.

 

Yo…” Phana memanggil.

 

Yo masih terdiam.

 

“… Apa pun yang terjadi, jangan putus dengan P’ ya~…” lanjut Phana.

 

Yo bingung harus berkata apa.

 

P’ merasa P’ tidak punya cukup waktu untukmu, tapi Yo punya seluruh hati P’.” lanjut Phana.

 

Yo tersenyum … Yo baru saja tiba di kantin dan semua orang yang berjalan berlawanan arah dengan Yo semua melihat senyum manis dari Yo. Hati Yo begitu hangat dan tenag dengan percakapan nya dengan Phana.

 

“Sungguh?” Yo menggoda Phana.

 

Tentu, Tentu saja. Sungguh, P’ tidak sedang bercanda.” Phana berteriak pada Yo di telepon.

 

Sen dan geng angel mulai menatap Yo dengan wajah iri setelah mereka mendapatkan meja di kantin.

 

Yo berbicara dengan Phana di telepon sejak mereka keluar dari lab sampai di kantin. Itulah sebabnya geng angel memberi Yo wajah-wajah itu. Khususnya, ketika mereka tahu bahwa Yo sedang berbicara dengan Phana, mereka juga mencoba menuangkan makanan mereka ke kepala Yo.

 

“Buktikan saja” Yo bercanda lagi.

 

Apa saja yang Yo mau, katakan? .” tanya Phana.

 

“10 Milyar Baht untuk mas kawin” jawab Yo asal.

 

Phana terdiam tidak ada tanggapan.

 

“Ha Ha Ha P’Pha aku bercanda.” Yo tertawa.

 

Oh, Oke baiklah, P’ akan pergi ke mobil dan pergi ke bank sekarang juga.” ujar Phana terdengar serius.

 

Phana memang begitu, Yo lupa bahwa Phana adalah seorang yang jenius dan suka mengerjai dan menggoda Yo.

 

Sayang sekali Yo hampir saja mendapatkan uangmu. Sayang sekali, Yo bilang tadi hany bercanda.” goda Phana.

 

“Hi hi hi. P’Pha Yo harus makan siang dulu.” ujar Yo.

 

Dimana?” tanya Phana.

 

“Kantin fakultas.” jawab Yo.

 

Oke, nikmati makan siang Yo, ya~….” ujar Phana.

 

“P’Pha tidak perlu khawatir.” Yo menghibur Phana lagi. “Yo sudah mencintai P’ selama bertahun-tahun, jauh darimu juga sudah bertahun-tahun. Jadi P’ tidak perlu khawatir tentang apapun.”

 

Phana terdiam. PhanaYo bisa menebak jika Phana sedang tersenyum.

 

P’ tahu Yo tidak mungkin bercanda tentang hal ini.” ujar Phana percaya.

 

Yo tersenyum sebelum menutup telepon.

 

Tiba-tiba pernyataan sarkastik dari Tote si angel Gajah mulai hinggap ke telinga Yo. Diikuti oleh Craw angel nomor 2 yang memiliki kulit yang gelap, jadi nama itu cocok untuknya. Dan Chicken, Yo tidak tahu mengapa orang memanggilnya seperti ini, tapi angel Nomor 3 sekarang memiliki julukan nama panggilan.

 

“Sial Yo … Aku cemburu… aku berharap ada ‘Bulan’ yang tampan datang untuk mencintaiku di kehidupan berikutnya.” angel Gajah mulai berdoa.

 

“Tapi aku mencintaimu~.” Yo menggoda.

 

“Berhenti menjadi ‘stroberi’ jika nanti aku memutuskan untuk tidur denganmu, kita hanya akan berakhir dengan tidur saja. Tidak melakukan apa-apa, kita menjadi lesbian, Tuhan akan menghukum kita karena salah secara moral. NO!.” Tote mengoceh.

 

Catatan:
Strawberry
(adj) : berarti berbohong, dipalsukan, tidak tulus, berwajah dua, dll.
Ini adalah bahasa gaul Thailand untuk tahun 2016 – 2017.

 

“Lesbian? Sial?” umpat Yo.

 

“Yo, kamu adalah bottom dan P’Pha adalah top, bukan?” angel Chicken bertanya.

 

“Kami belum tahu.”

 

Mereka membahas tentang sesuatu di bawah sabuk Phana lagi. Setelah melihat seberapa besar ‘sesuatu’ di dalam celana Phana malam itu, Yo tidak berani memikirkan hal ini lagi. Takut. Takut sakit.

 

“Dasar nakal! sedang berpikir kotor apa kamu? Sial. Lihatlah wajah Yo memerah sekarang.” angel Craw membuat wajah menggoda Yo.

 

“Aku sangat kasihan pada fansclub penggemar wanita mu. Apa yang akan mereka katakan jika mereka tahu bahwa idolanya seperti ini?” Imon menambahkan.

 

Dengarkan kosakata yang mereka gunakan sangat kasar sekali.

 

“Hey lihat, dia berbicara di telepon. Senyum lebar, senyum kecil, berjalan-jalan, memutar-mutar benda … Sial! dia seperti aku saat kelas 10.” angel Gajah menambahkan perkataan angel Craw.

 

“Aku akan membeli makan siang, aku segera kembali.” ujar Yo.

 

Yo harus meninggalkan meja sekarang. Berada di sekitar mereka, yang bisa Yo dengar hanyalah godaan atau keluhan dan bisa-bisa selangkangan Yo disentuh oleh angel Gajah.

 

Jika Yo membandingkannya dengan tawa dan persahabatan yang Yo dapatkan dari mereka, kebiasaan aneh seperi itu tidak ada artinya bagi Yo.

 

Tapi satu hal yang tidak bisa Yo tangani saat ini adalah cerita tetang Under The Belt antara Yo dan Phana karena wajah Yo akan menjadi memerah super cepat jika membahas tentang hal itu.

 

Sementara Yo menunggu Nasi Ayam nya, Yo bermain dengan teleponnya, Yo tidak mendapat jawaban dari Phana. Yo membayangkan Phana, Kit dan Beam ketiga nya sedang makan siang sambil belajar dalam waktu bersamaan. Karena ujian akan segera tiba. Mereka mempunyai banyak tes, kuis, dan ujian, karena itulah Phana sangat khawatir dengan hubungannya dengan Yo.

 

Phana dan Yo bertemu hanya di pagi dan sore hari, dan malamnya mereka menghabiskan waktu berdua sampai larut malam.

 

Tapi itu lebih dari 10 menit. Yo berpikir apa yang Phana lakukan sampai tidak membalas pesannya.

 

“Hey Hey Lihat … P’Pha!”

 

“Dimana dia? Dimana dia?”

 

“Dia datang bersama teman-temannya … Oh astaga!”

 

Yo menengok karena gadis-gadis itu membicarakan kekasihnya dan melihat Phana, Kit dan Beam telah berdiri di kantin dan terlihat bingung.

 

Saat ini, semua orang melihat ketiga Mahasiswa jurusan kedokteran itu tengah berdiri di kantin Fakultas Sains.

 

Yo segera menghampiri Phana dan meninggalkan pesanan nasi ayam nya, tapi malah menjadikannya lebih buruk lagi. Karena sekarang mereka menjadi pusat perhatian seluruh kantin.

 

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Yo.

 

“Sayangku …” Phana mencoba berbicara manis dengan saya dengan suara pelan dan wajahnya yang dingin. “P’ ingin melihat Yo, dan juga mengganti tempat untuk makan siang? kntin fakultas P’ makanannya membosankan.” jelas Phana.

 

“Apa P’ bercanda? Berapa lama istirahat makan siang P’?” ujar Yo.

 

“Pertemuan di fakultas dan kelas akan terlambat 30 menit.” Phana mengangkat bahunya sebelum menarik Yo berjalan untuk minum.

 

Beam dan Kit menyapa Yo sebelum pergi mencari meja untuk duduk. Dan tentu saja, geng angel telah memberi tanda dan memanggil Kit dan Beam untuk bergabung di meja mereka.

 

Sebaiknya Kit dan Beam harus berhati-hati pada geng angel.

 

Seseorang yang tidak peduli dengan siapapun di depan umum seperti Phana sedang memilih minuman di depannya, sementara Yo masih mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang. Karena keduanya baru saja mengobrol di telepon dan sekarang Phana ada di samping Yo sedang memeluk lehernya.

 

Sebenarnya, Yo sangat senang melihatnya di sini.

 

“Satu Es Susu Pink dan Satu Es Teh Thai.” Yo memesan minuman sebelum kembali bertanya kepada Phana. “Kapan P’ akan ujian?”

 

“Lusa. Tolong jangan menyinggung soal ujian lagi.” Phana menatap Yo. “P’ mencoba melepaskan diri dari stres untuk melihat kebahagiaan P’ disini. Beri P’ senyuman.”

 

“Apa P’ sedang menggodaku, seperti P’ mencoba mengajakku berkencan? Itu tidak mempan.” ujar Yo.

 

“Ini yang disebut dengan ‘penyegaran’ cinta kita.” Phana tersenyum.

 

Biasanya pernyataan Phana terdengar seperti kalimat dari seorang Playboy. Tapi dengan wajah dinginnya yang tampan dan dengan suara beratnya, tingkat kegenitan itu turun sekitar 10 tingkat. Tapi tetap membuat Yo malu dan tersipu.

 

“Apa P’Kit dan P’Beam ingin minum?” Yo membawa dua gelas minuman itu dan bertanya kepada Phana.

 

“Tidak apa-apa, biarkan mereka membelinya sendiri.” Phana masih memegang bahu Yo. “Begitu banyak siswa sains di sini, tapi Yo yang paling menonjol di antara mereka, P’ melihat Yo di depan toko Chicken Rice ketika P’ datang. Yo terlihat imut~.” Salah satu tangan Phana yang besar bergerak untuk mencubit lembut pipi Yo dan itu membuat kedua tangan Yo sedikit gemetar.

 

Yo merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitar nya.

 

Phana dan Yo sampai di meja dan geng angel itu memasang wajah menangis. Mereka menangis bukan karena sedih, tapi lebih seperti ekspresi kebahagiaan. Tiga mahasiswa tingkat dua yang tampan sedang duduk di meja makan dan makan siang bersama mereka. Dari dekat dan pribadi.

 

“Hey… Ladies” Phana melambaikan tangannya untuk menyapa mereka.

 

Mereka membalas dengan desahan pada Phana pada tingkat kepuasan tertinggi mereka.

 

“Ladies? P’Pha menganggap kita sebagai ladies?.” IMon menunjuk pada dirinya sendiri. “Kalau begitu … bisakah kamu membuat kita hamil? Aku mohon padamu.” ujar IMon asal.

 

“Diam.” Yo benar-benar bermaksud untuk mengatakan sesuatu seperti ‘Dasar Jalang’ kepada IMon.

 

“Aku rasa aku akan bisa, mencoba untuk membuat Yo hamil sudah menghabiskan seluruh energ. Aku terus mencobanya berkali-kali, tapi sepertinya dia belum hamil juga.” Phana menjawab dengan bermaksud untuk bercanda dan tersenyum.

 

Hal itu membuat wajah Yo memerah dan terasa panas dan juga membuat para angel seakan kembali ke surga. Tidak yakin apakah mereka dengan senang hati pergi ke surga karena senyum Phana atau cerita yang baru saja dia ceritakan.

 

Yo menyikut perut Phana tepat setelah itu.

 

Sejak kapan dia melakukan itu padaku?
pikir Yo.

 

“Aduh.” erang Phana.

 

“Makan siang.” seru Yo.

 

“Tidak. Duduk saja di sini. Kedua pria ini akan membelikan makan siang untuk kita.” Phana menunjuk pada Kit dan Beam yang akan membelikan Phana dan Yo makan siang.

 

“Hei … kenapa begitu? … tidak, tidak, aku tidak mau merepotkan mereka.” Yo menghentikan Kit dan Beam agar tidak membelikannya makan siang.

 

“Tidak apa, Nong Yo … Karena …” Beam memperlihatkan wajah murung pada Phana. “… Pha menantang kita untuk menjawab pertanyaan saat kita mengulang pelajaran hari ini. Dan kita salah, jadi kita harus menjadi pelayannya hari ini.”

 

“Itu benar, tidak apa-apa, Yo” Kit juga memasang wajah murung pada Phana. Lalu mereka berdua berjalan untuk membeli makanan.

 

Setelah keduanya pergi, Phana menjadi satu-satunya ‘daging segar’ yang tertinggal di atas meja untuk santapan para angel. Yo harus menghalangi niat mereka untuk ‘memakan’ kekasihnya.

 

“Wajah P’Pha sangat bagus dan mulus. Produk wajah apa yang kamu pakai?.” tanya Imon.

 

“Apa P’Pha belajar dengan giat? P’Pha, Kami mengambil matakuliah Dasar-dasar Biologi di semester ini, bisakah P’ mengajari kami?” tambah angel Chicken.

 

“Sayang sekali P’ jatuh kepelukan Yo. Dia tidak pantas untuk P’. Dia sama sekali tidak mempunyai pantat yang montok dan dadanya rata.” ujar angel Gajah.

 

Sialan kamu Tote!
gumam Yo dalam hati.

 

Sebaliknya, Phana terlihat sangat bahagia dan ceria dari biasanya.

 

“Apa ada Hal baik tentang Yo? …” lanjut Tote.
Phana terlihat sedang berpikir untuk menjawabnya.

 

“… tidak ada …”

 

Hey Hey Hey … Tunggu sebentar.
Yo terlihat kesal dengan jawaban Phana.

 

“… Tapi aku akan mencintainya dalam kondisi apapun.”

 

Jawaban dari Phana barusan membuat para angel terlihat seperti ingin membunuh Yo saat itu juga di atas meja.

 

Yo memberi mereka wajah menggoda.

 

P’Pha sepertinya sedang menggoda mereka, jadi kenapa aku tidak melakukannya juga?
pikir Yo.

 

“Huhuhu… aku ingin menangis.” angel Craw berpura-pura menyeka air matanya. “Bagaimana dengan kedua temanmu P’Pha?.”

 

“Bagaimana aku tahu? aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.” jawab Phana. “Aku pikir kita harus cepat-cepat menyelesaikan makan siang kita. Dan…”
Phana mendekatkan Gelas Es susu pink tepat ke mulut Yo.

 

“Tadi Yo menawarkan Es Tea Thai pada P’ tapi kenapa Es susu pink punya Yo, tidak Yo minum. Lihat? Esnya hampir mencair.” Protes Phana.

 

Akhirnya Yo meminumnya dan kemudian memindahkan gelas Es Tea Thai ke hadapan Phana. Yo bisa mendengar beberapa suara tendangan kaki di bawah meja. Yo bisa merasakan perasaan iri dan cemburu dari teman-temannya.

 

“Mereka tampak keberatan, P’ akan membantu mereka, P’ segera kembali.” ujar Phana.

 

Phana mengusap lembut kepala Yo sebelum dia berjalan ke arah Kit dan Beam untuk membantunya.

 

Tentu saja, orang-orang melihat aura Phana dalam setiap langkahnya.
‘Bulan Kampus’ tahun lalu itu masih menjadi ‘Bulan Kampus’ idola. Selalu tampak bersinar dimanapun berada.

 

“Ini membunuh ku, Yo. Kamu membawakanku sebuah harapan tapi kamu mengambilnya lagi dariku. Rasa cemburu ini membakar ku hidup-hidup.” angel Gajah mengipas dengan kertas ke wajahnya.

 

“Sial Yo. P’Pha sangat tergila-gila padamu.” IMon meyakinkan Yo. “Sengaja datang langsung dari kampusnya untuk makan siang dengan mu di sini. Tidak hanya itu, dia juga menunjukkan kepada semua orang bahwa dia adalah pria spesialmu, bukan hanya sekedar seorang senior ‘Bulan Kampus’ yang menemui juniornya.”

 

“Apa yang telah kamu lakukan padanya?” angel Chicken menusuk garpu di pipi Yo dengan lembut.

 

Berapa kali Yo harus tersipu di depan teman-teman dan orang yang ada diditu.

 

“Aku tidak melakukan apapun …” jawab Yo.

 

Kemudian Yo meminum Es Susu Pinknya dengan cepat. “… Sungguh.”

 

“Kalau begitu, kamu harus mulai melakukan sesuatu.” IMon menambahkan.
“Tunjukkan padanya bahwa kamu mencintainya sama seperti dia mencintai mu.” angel Chicken menambahkan juga.

 

“Bagaimana?” tanya Yo.

 

“Kapan-kapan kamu harus pergi menemuinya…” angel Gajah berbicara sambil mengunyah makanannya. “…di fakultas kedokteran. Lakukan hari ini tepat setelah kelas.”

 

“P’Pha selalu datang menjemputmu, tapi hari ini kamu yang harus pergi menemuinya.” angel Craw tidak mau ketinggalan, jadi dia juga berbicara.

 

“Aku akan memberimu tumpangan.” IMon bertingkah seperti seorang ratu di atas takhta.

 

“Percayalah, dari sekadar cinta, dia akan menjadi tergila-gila karena cintamu. Seorang pria seperti P’Pha, jika kamu harus menggunakan guna-guna atau melakukan sesuatu yang gila untuk mendapatkannya pun, 100% aku mendukung mu. Jangan pernah membiarkan dia pergi. ” angel Gajah terus dan terus membahas tentang P’Pha.

 

Yo melihat ketiga pria tampan itu sedang menunggu makanannya. Yo sendiri tidak tahu apakah teman-teman angel nya benar, tapi Phana dengan jelas menunjukkan perasaan cintanya kepada Yo langsung di depan umum.

 

Saat Yo menatap Phana dan Phana tahu jika dia sedang diperhatikan. Dia melambaikan tanganya pada Yo.

 

Phana terlihat agak malu karena orang-orang melihat tepat ke arahnya.

 

‘Sial Yo. P’Pha sangat tergila-gila padamu …’
suara Imon berulang kali terngiang-ngiang di kepala Yo.

 

Aku juga tergila-gila dengannya…
gumam Yo dalam hati.

 

Menunjukkannya rasa cinta pada orang yang dicintai, jauh lebih baik bukan? dari pada diam.
pikir Yo.

 

 

Di fakultas kedokteran…

 

Yo berdiri sendirian. Imon memberinya tumpangan dan kemudian pergi dengan teman-teman ke tempat Karaoke.

 

Yo menghela napas dan mencoba turun untuk mencari Phana. Siswa di fakultas kedokteran tidak terlalu banyak seperti di fakultas Sains.

 

Yo harus memberi Phana kejutan hari ini karena Phana juga melakukannya untuk Yo saat makan siang.

 

Yo bingung bagaimana caranya melakukannya. Phana mungkin berada di ruang kuliah yang berbeda sejak terakhir kali saya bertemu dengannya bersama Ming, tapi yang mana.

 

Yo seperti orang asing disitu, dia tidak tahu denah ruangan. Yang bisa Yo lakukan hanyalah berdiri melihat orang-orang yang menatapnya.

 

Tiba-tiba Yo melihat Suthee … Bulan Kampus’ fakultas kedokteran.

 

“Oh Hey Yo … apa yang kamu lakukan di sekitar sini?” Suthee segera menyapa Yo. “Datang untuk menemui P’Pha?” tanya Suthee.

 

Sepertinya Suthee memiliki pemikiran yang sangat bagus.

 

Yo tersenyum dan mengangguk.

 

“Aku lihat dia ada di perpustakaan di sana, lantai 4 di ruang belajar pribadi Apa kamu tahu di mana letaknya?” tanya Suthee setelah menjelaskan.

 

“Tidak, bisakah kamu mengantarku ke sana?” Yo meminta tolong pada Suthee.

 

“Tentu saja.” jawab Suthee.

 

Suthee adalah malaikat yang sangat berharga yang dikirim dari surga untuk Yo sekarang. Dia sangat tampan dan super baik. Yo percaya bahwa Suthee akan menjadi dokter yang sangat baik di masa depan.

 

Yo dan Suthee mengobrol tentang banyak hal. Beberapa matakuliah dasar yang mereka ambil. Sampai keduanya tiba di lantai berikutnya lantai 4 perpustakaan di zona bagian studi umum. Yo mengucapkan terima kasih pada Suthee karena telah sudi mengantarnya sampai ke tempat itu, dan kemudian Suthee pergi.

 

Ruang pribadi ini memiliki begitu banyak ruangan. Ada yang besar dan ada yang kecil lengkap dengan papan tulis. Ruangan-ruangan itu penuh dengan banyak kelompok Mahasiswa kedokteran dan itu membuat Yo merasa canggung berada di situ.

 

Yo sama sekali tidak mengenal orang-orang di situ sampai Yo mengenali model gaya rambut Phana di sudut ruangan.

 

Yo tersenyum bahagia dan berjalan menuju ruangan itu, tapi …
Rambut Phana terlihat hampir menyentuh rambut lainnya yang berwarna sedikit cokelat keriting dan cukup panjang dari seorang gadis. Pring.

 

Yo terdiam dan mencoba berjalan pelan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Kepalanya sangat dekat satu sama lain. Tidak, Yo harus mengatakan bahwa kepala mereka menyentuh satu sama lain di ruang belajar pribadi berukuran kecil itu.

 

Ada beberapa tawa datang dari ruangan besar lainnya dan Yo melihat Kit dan Beam, dan 3 sampai 4 temannya, mereka belajar dan mengobrol di ruang sebelah.

 

Yo berusaha tidak mencoba memikirkan apa yang barusan dia lihat, tapi Yo juga tidak bisa menghentikannya.

 

Yo memutuskan untuk mundur tapi langkahnya tertahan oleh Kit. Yo menabrak dadanya.

 

“Aduh” Kiit menggosok dadanya. “Hey Nong Yo? Apa yang kamu lakukan di sin?.” tanya Kit.

 

Perasaan Yo campur aduk sekarang. Yo tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Kit.

 

“Datang untuk menemui Pha? Sebentar.” kemudian Kit berjalan ke ruangan dimana Phana berada.

 

Tiba-tiba Yo menghentikannya. “Tidak apa-apa, Yo lebih suka membiarkannya belajar.”

 

“Hei … tidak apa-apa …” seru Kit.

 

Yo memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari tempat itu, mencoba menenangkan emosi nya sebisa mungkin. Dan juga menghentikan pikirannya yang sekarang ‘berlari’ lebih cepat darinya.

 

Tidak … Berhenti bersikap begitu posesif.
Wayo. Tidak ada apa-apa. P’Pha mencintaimu. Kamu harus mempercayainya … Wayo …. Tentu saja … Tidak terjadi apa-apa di sana. Hanya sedang mengajari dan belajar bersama. Di ruangan pribadi berukuran kecil … Hanya berdua saj. Tanpa ada teman-teman lain … Dekat satu sama lain. Baik. Aku menyerah. Aku sangat posesif. Sial!
berbagai pikiran berkecamuk dalam hati Yo.

 

Yo sangat mengerti saat Phana bersikap posesif terhadapnya. Itu jelas bukan apa-apa, tapi Yo tidak bisa berhenti perpikir. Bagaimana dia bisa merasakan hal seperti itu.

 

Yo berjalan ke lantai tiga dan kemudian Yo tidak bisa menahan diri untuk tidak menelepon Phana.

 

Telepon berdering dua kali dan telepon Yo diputus oleh Phana. Sekarang, Yo terlihat sangat marah. Yo harus berbicara dengan Phana. Yo tidak peduli apa yang telah terjadi.

 

Yo berjalan ke lantai empat lagi untuk menemui Phana secara langsung.

 

Phana masih terlihat bersama wanita itu. Posisi yang sama, aktivitas yang sama, dan tidak ada yang berubah.

 

“Nong Yo” Beam mendekati Yo. “Wajahmu merah karena marah sekarang. Mmm…” Beam menarik napas dan kemudian mengetuk jendela tempat dimana Phana berada. “Bos … istrimu ada di sini.”

 

Phana melihat ke arah Beam dan kemudian melihat Yo. Phana terlihat sangat terkejut melihat Yo ada di sana, lalu meninggalkan semua yang ada di ruangitu termasuk Pring, wanita yang tadi bersama Phana dan berjalan keluar dari ruangan untuk melihat Yo.

 

Yo tidak tahu harus berbuat apa. Hanya berjalan pergi …

 

“Yo … bagaimana kamu bisa sampai disini? P’ sangat merindukanmu …” seru Phana.

 

Kata-kata Itu meredakan sedikit rasa marah Yo, tapi tidak cukup. Yo terus berjalan dengan cepat sementara Phana berlari, wajahnya terlihat bingung.

 

“Ada apa? Kenapa kamu kabur dariku?”
Phana mencoba berhenti dengan meraih tangan Yo. “Yo…” panggilnya.

 

Yo terdiam tidak merespon.

 

“Yo… ” Phana benar-benar menggenggam erat tangan Yo. “Bicara pada P’, apa yang terjadi?”

 

Yo pikir diam adalah sebuah jawaban.

 

Phana mendapat sebuah ide.

 

“Cemburu?” tanya Phana.

 

Itu membuat Yo semakin marah.

 

“Ha Ha Ha sekarang Yo Possessive dan menjadi gila.” Phana menarik kedua pipi Yo dan mengayunkan kepala Yo ke kiri dan ke kanan. “Baru pertama kali P’ melihatmu bisa seperti ini. Oh astaga.”

 

“Tidak lucu.” Yo memegangi wajahnya.

 

“Yo sangat imut ketika sedang marah seperti ini? Yo tahu itu?” ujar Phana lembut.

 

Menurut Yo bukan saatnya untuk memberinya rayuan manis.

 

“Tadinya… P ‘tidak mau mengajarinya, tapi P’ tidak punya pilihan, dia tidak mau bergabung dengan kelompok belajar, dia terus mengganggu P’ dan P’ tidak bisa menghentikan kebiasaan P’ menolong orang lain. Jadi P’ memutuskan untuk mengajarinya dengan cepat. itu saja.” Phana menjelaskan.

 

Yo tidak tahu mengapa namanya terdengar begitu menyebalkan bagi Yo sekarang.

 

“Tapi Yo jangan khawatir, kita sudah selesai dan pindah ke ruangan besar sekarang.” ujar Phana.

 

“Kenapa P’ memutus telepon ku?.” Yo bertanya kepada Phana karena itu paling menyakitkan perasaan Yo sekarang.

 

Tidak seharusnya Phana melakukan itu. Hanya karena dia sedang bersama wanita itu. Yo merasa sudah bukan menjadi prioritas utama bagi Phana. Tidak penting lagi baginya.

 

“Memutus telepon Yo?” Phana terlihat heran. “Sebentar…” Phana mencoba mencari ponselnya.

 

Sekali lagi … Phana selalu meninggalkan ponselnya di mana-mana.

 

“P’ lupa membawa ponsel…”

 

Sekarang Yo tahu di mana ponsel Phana.

 

Pring.

 

Yo mendesah berat. Sekarang emosinya sudah turun ke tingkat normal.

 

“Kenapa terlalu sulit untuk tidak bersikap posesif? Yo benar-benar mengerti perasaan P’ sekarang.” Yo menepuk pundak Phana.
“Kembalilah ke tempat belajar, Yo hanya ingin bertemu dengan P’ sebelum kembali ke asrama.”

 

“Tidak, Tunggu aku, kita akan pulang bersama.” Phana meraih tangan Yo dengan erat, “Malaikat penyemagatku’ sudah ada di sini untuk memberiku semangat. P’ sangat bahagia saat ini.” Phana benar-benar terlihat bahagia.

 

“Bukankah P’ harus mengajari mereka? Tidak Tidak Tidak, Yo tidak ingin mengganggunya.”

 

“Apa Yo ingin melihat P’ bersama Pring lagi?.” Phana memberi kode dengan alisnya. “P’ akan membuat Pring kembali ke ruangan ini.”

 

Yo menatap Phana ragu-raguu, berpikir selama beberapa detik, dan mengangguk.
Yo pasti telah terkontaminasi kebiasaan dan pikiran nakal itu dari semua teman-teman angel nya.

 

Phana tidak memberitahu Yo bagaimana cara untuk bisa membalas Pring.

 

Phana baru saja membawa Yo kembali ke ruang belajar pribadi yang luas, yang semua orang sedang belajar di sana. Dan mengenalkan Yo sebagai…

 

‘Pacarnya’…

 

Semua orang yang ada di ruang belajar itu bersorak nyaring dan menggoda keduanya. Tapi Pring tidak ada di ruangan itu. Sekarang Yo menjadi pusat perhatian di ruangan itu.

 

“Umm … Jangan pernah menghitung hari-hari dimana hubungan kita dimulai, sepertinya aku tidak merasa bahagia melihatmu sekarang. Jadi aku harus menghitungnya, aku tidak suka ide itu.” celetuk teman Phana menggoda mereka berdua.

 

“Pha, aku baru saja putus dengan pacar ku, kamu membawa pacarmu ke sini pada hari dimana pacarku memutuskanku. Terima kasih, tapi kamu sialan, teman.” Sebuah godaan datang dari sudut ruangan itu.

 

“Maafkan aku, Bung.” Phana mencoba meminta maaf. “Haruskah kita lanjutkan?”

 

Yo ingin menghindari dan menjauh dari tatapan mata dan bisikan-bisikan di ruang itu. Yo ingin pergi ke kamar mandi saja, tapi tangan besar Phana menariknya untuk duduk di pangkuannya.

 

“Yo tidak boleh ke mana-mana.” Phana menunjukkan kemesraannya lagi di depan teman-temannya.

 

“P’Pha … Kamu brengsek. Biarkan aku pergi.” Yo merasa sangat malu sekarang.

 

Seorang pria kecil kurus seperti Yo duduk di pangkuan Phana.

 

“P’ tidak ingin kehilangan Yo.” ujar Phana.

 

Phana saat itu tidak memberi Yo suara atau mata yang manis atau semacamnya. Dia hanya menjadi dirinya sendiri. Menjadi Phana. Wajah cool dan santai seperti biasa. Tapi tetap memiliki efek mendalam pada perasaan Yo.

 

“Hanya ke kamar mandi?.” tanya Yo. “Sungguh?”

 

“Ya” jawab Phana datar. “Tanpa Yo, P’ seperti tidak mempunyai kemampuan untuk mengajari mereka apa-apa.”

 

Semua orang diruangan itu berteriak histeris mendengar rayuan Phana, sementara seseorang membuka pintu.

 

Pring.

 

Dia sangat terkejut melihat Yo duduk di pangkuan Phana dan sedang dipeluk erat-erat olehnya.

 

Sekarang. Yo mengerti kenapa Phana mengajaknya kembali ke ruangan. Ya, untuk ini. Memunjukkan pada wanita ini.

 

“P’Pha~ aku ke kamar mandi dulu.” Yo mencoba berpikir seperti IMon dan Tote sekarang. Ditambah dengan bertingkah manis ala angel Craw. Dan bertindak seperti angel Chicken dengan memeluk leher Phana. “Hanya sebentar saja, Sweetie … aku pergi dulu~.”

 

Phana terlihat kaget. Tentu saja Yo tidak benar-benar bermaksudcuntuk melakukannya. Phana dia benar-benar kaget. Dia tidak pernah melihat Yo dengan sifat nakal seperti itu.

 

Sementara Phana terkejut dan masih melongo, akhirnya Yo bisa berdiri dan mencoba pergi ke kamar mandi. Tentu saja, Yo tidak berani menatap siapa pun diruangan itu.

 

Phana meraih tanganku Yo.

 

“Cepatlah… Sayang.” ujar Phana lembut.

 

Benar-benar tanpa perencanaan, Tapi Phana sudah bisa membaca permainan Yo dengan begitu cepat. Dan akting yang begitu bagus, berbicara halus ditambah remasan tangannya di tangan Yo. Yo tidak bermaksud menjadi orang lain, tapi ini benar-benar sudah diluar batas dirinya yang sebenarnya.

 

Membuat Pring cemburu. Itu Bagus.
Sungguh.
Pikir Yo.

 

Yo tidak memikirkan kata-kata Tote si angel Gajah sama sekali. Sungguh. Yo tidak memikirkannya sama sekali. Tapi untuk seorang pria seperti Phana, jika Yo harus melakukan sesuatu yang terdengar gila, maka Yo akan melakukannya…

 


 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan