Novel 2 Moons – Chapter 32 (KIT)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

Sekarang dia sudah pergi dari hidupku selama berapa hari.

 

Tidak, sebenarnya, seharusnya aku tidak merindukannya … jangan memikirkannya. Seorang playboy seperti dia seharusnya tidak ada hubungannya denganku. Dia seseorang yang harus aku lupakan.

 

Seharusnya aku tidak peduli di mana dia berada atau apa yang sedang dia lakukan. Dan kenapa dia tidak mengirim SMS sama sekali?

 

Tunggu sebentar. Aku tidak mencoba memikirkannya, tapi kenapa aku selalu memikirkannya sekarang? Hentikan, Kit !!!
Ini benar-benar salahnya. Mencuri-curi kesempatan untuk menciumku dan menghilang seperti ini.

 

Bahkan dia membelikanku beberapa makanan pencuci mulut, tetap saja tidak berarti dan bisa-bisanya dia bersikap tenang setelah itu seperti tidak terjadi apa-apa. Ini tidak benar.
Kit sedang melamun saat itu.

 

Kit berniat akan memukul wajah Ming saat dia nati melihatnya lagi karena Ming telah diam-diam meciuman Kit.

 

Sial!
umpat Kit.

 

Kit merasa frustrasi. Apapun yang Kit lakukan atau dimanapun Kit berada, Kit masih bisa merasakan bibir Mig di bibir nya Makan siang, makan malam, menyikat gigi atau bahkan mengoleskan lip balm anti-dehidrasi di bibirnya. Ciuman itu masih terasa dan terbayang.

 

Kit menghela napas berat, matanya menatap pada tumpukan lembaran kertas belajarnya.

 

Kit menatap dua sahabatnya… Tidak… tunggu… hanya satu, yang sedang berkonsentrasi. Kenapa hanya satu? harusnya dua. Karena yang lain sedang berada dikamar ‘istri’nya.

 

Kit dan Beam tidak ingin bersikap kasar dengan mengganggu mereka dengan pergi belajar di kamar Yo, tapi, inilah ceritanya.

 

Biasanya malam sebelum ujian, mereka bertiga selalu datang keckamar Phana. Phana adalah Dewa, Dia tidak perlu belajar lagi. Dia begitu jenius. Kadang-kadang Phana hanya memainkan permainan VDO saat Kit dan Beam sedang belajar. Jadi jika keduanya memiliki pertanyaan, bisa langsung bertanya pada Phana. Tapi setelah dia punya pacar, dia tidak lagi bermain VDO. Dia memutuskan untuk memainkan ‘permainan’ lain dengan pacarnya di tempat tidur. Jadi Kit dan Beam tidak enak datang ke kamar Yo untuk belajar diantara keduanya. Tetap saja Phana memaksa untuk belajar di kamar Yo.

 

Tidak peduli di mana pun dia berada. Dia sudah jenius, tidak perlu belajar lagi. Ketika Kit dan Beam bertanya kepadanya, dia bisa memberikan jawaban dengan sangat jelas. Dia benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan pada saat perkuliahan. Karena itu Kit dan Beam sangat membutuhkannya.

 

“Apa yang sedang terjadi denganmu? Iri pada Pha?” Beam masih membaca lembaran kertas belajarnya, tapi dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kit.

 

“Iri apanya… .” Kit berteriak pada Beam.

 

Tentu saja, mereka berdua merasa iri. Sebagai fakta, Yo hanya sekedar membaca Manga dan terbaring telungkup di tempat tidurnya dengan tenang karena dia tidak ingin mengganggu mereka belajar. Itu salah Kit dan Beam sebenarnya. Keduanya merasa menyesal ada di situ.

 

Tapi yang memulai menggoda adalah dia, Phana.

 

Jika Kit dan Beam tidak berada di kamar Yo, keduanya yakin Phana sudah terbaring di atas Yo pasti. Tapi karena Kit dan Beam ada di situ, jadi Phana tidak bisa melakukan tindakan nakalnya pada Yo di depan kedua sahabatnya itu.

 

Jadi yang bisa dilakukan oleh Phana hanya duduk di sana di ranjang Yo dan menggodanya, mencolek, menyentuhnya di mana-mana.

 

Sementara Yo terlihat agak kesal, dia malu kepada Kit dan Beam atas perlakuan Phana padanya. Tentu saja, Phana tidak ingin membiarkan Yo sendirian. Phana nampaknya benar-benar tergila-gila dengan Yo.

 

Kit ingat hari-hari dimana dia tidak ingat dengan Yo. Kit bisa membayangkan bagaimana hidupnya hari ini, jika dia masih tidak ingat denga Yo.

 

Sekarang Kit harus mengingat semua materi itu untuk ujian besok.

 

“Hei Pha…” seru Kit.

 

“P’Pha sudah, kembali belajar sana.” ujar Yo.

 

“Tidak … P’ masih ingin bersamamu … Berikan P’ kata-kata manis seperti saat kita di ruang belajar tadi sore lagi, P’ suka sekali.” rayu Phana.

 

Sebenarnya Kit bisa berkonsentrasi belajar walaupun Yo dan Phana sedang berbicara. Tapi kadang kala Kit merasa ingin juga dan ingin mendengarkan pembicaraan mereka. Karena Kit belum pernah melihat Phana menjadi konyol seperti itu terhadap siapa pun sebelumnya.

 

“Apa yang P’ bicarakan? Aku tidak pernah memberimu kata-kata manis.” protes Yo pada Phana.

 

“Banyak saksi yang bisa P’ tanya, apa Yo ingin P’ memanggil semua orang dari ruang belajarit itu?” tanya Phana. “Ya.. Ya.. Ya.. tolong … sekali lagi … itu sangat lucu … P’
suka…”

 

Tentu saja itu imut sekali. Setelah Kit melihat Yo melakukan itu pada Phana pada hari itu, dia juga ingin Yo duduk di pangkuannya dan melakukan itu pada Kit juga. Tapi Kit tidak yakin apakah dia bisa mengatasinya, karena Yo lebih besar darinya. Kasihan Kit.

 

Hanya memohon untuk pergi ke kamar mandi, cukup imut untuk membuat Phana menjadi gila seperti ini. Kit berani bertaruh, Yo bisa mengemis mobil atau kapal pesiar dari Phana, dan Phana dengan senag hati akan membelinkan untuknya segera.

 

“Tidak. tidak mau. P’ masih bisa terus memintanya dan Yo akan terus mengatakan jika Yo tidak pernah melakukannya.” Yo hampir berbisik, tapi masih terdengar suaranya.

 

Terdengar seperti Yo ingin berteriak pada Phana. Mungkin karena ada Kit dan Beam ada di kamar itu, tepat di sebelah mereka. Tapi ya. Yo memang sangat menggemaskan.
Tak heran mengapa Phana begitu tergila-gila dengan Yo.

 

“Katakanlah… Ayo katakan sekarang…” Phana merengek.

 

“Tidak.” jawab Yo.

 

“Hanya sskali saja, P’ janji, dan kemudian P’ akan kembali belajar dengan kedua orang di sana.” Phana memohon sambil menunjuk ke arah Kit dan Beam berada.

 

Seperti yang sudah Phana katakan, Kit dan Beam harus berpura-pura fokus dengan lembar kertas belajar tidak memperdulikan aktifitas Phana dan Yo. Tapi dasar Kit dan Beam, mereka sangat penasaran dan kembali untuk mengamati apa yang akan dilakukan Yo pada Phana.

 

“Apa yang P’ ingin Yo katakan?” taya Yo lembut.

 

Ayolah Yo! Kamu terlalu lembut kepada raksasa nakal itu.
Kit geregetan dibuatnya.

 

“Bilang pada P’ untuk kembali belajar.” Phana meminta.

 

“Kembalilah belajar.” ujar Yo.

 

Itu terlihat sangat lucu. Yo mengatakannya tidak manis sama sekali.

 

“Aku akan kembali belajar, Sayang~. tapi aku ingin mendengar sesuatu yang lebih manis seperti tadi sore.” Phana merayu Yo.

 

Kit geleng-geleng kepala mendengar ucapan Phana. Dokter nakal itu benar-benar juara dalam merayu. Kit akan menaruh hashtag #TeamPhana untuk yang satu ini.

 

Kit juga ingin bisa bicara manis seperti Yo. Cukup menggemaskan bahwa Phana tidak mengizinkan siapa pun melihatnya.

 

Jika Kit adalah Phana, Kit akan melakukannya juga.

 

“Kenapa P’ suka pilih-pilih?” Yo menggaruk kepalanya bertingkah seperti kesal.

 

Sementara Phana hanya menatap Yo.

 

“Berhenti menatap.” seru Yo.

 

“Kalau begitu cepatlah, mereka telah menunggu untuk melihat Yo.” ujar Phana.

 

Phana memang benar-benar seorang Dokter nakal.

 

Sepertinya Yo ingin menggigit kepala Phana karena kesal. Yo yang malang. Dia harus menghadapi pacar diktator seperti Phana.
Tapi Yo tetap terlihat senang.

 

Rahasia Yo bukan terletak pada nada suaranya, tapi aktingnya. Dia duduk dan meletakkan kedua tangannya di leher Phana seperti yang dia lakukan di perpustakaan. Phana sudah ‘mati’ disana.

 

Phana menatap mata Yo, dia terlihat gugup dan ‘sekarat’ dengan tingkah Yo padanya.

 

“P’Pha …” Yo mendesah manja.

 

Itu cukup untuk ‘membunuh’ Phana hidup-hidup. Phana terlihat melongo dan diam tanpa kata hanya tterdengar dari dengus napasnya.

 

Suara paling manis yang pernah ada.

 

Sial!

 

Kit harus mengganti hashtag menjadi #TeamWayo. Karena dia benar-benar ‘menusuk’ hati ‘raksasa’ itu.

 

“Kembalilah belajar ya~… Untuk masa depan kita nanti…” Yo memulai aksinya.

 

Meski kata-kata Yo tidak ditujukan untuk Kit dan Beam, tapi punya cukup kekuatan untuk membuat Kit dan Beam ‘meleleh’ mendengarnya.

 

Begitupun Phana sekarang. Dia menatap Yo seperti dia ingin melakukan sesuatu padanya di kamar itu sekarang juga, tapi tidak bisa karena Kit dan Beam masih berada disitu.

 

“Ahem …” Kit dan Beam harus menyela saat itu sebelum Phana melakukan sesuatu pada Yo dan lalu mengusir Kit dan Beam dari kamar.

 

Lalu Kit dan Beam pura-pura berkonsentrasi pada lembar kertas belajarnya masing-masing.

 

Tiba-tiba Kit dan Beam mendengar tawa yang berasal dari tempat tidur dan keduanya serentak melihat ke arah tempat tidur. Yo tersipu dan memukul Phana, sementara Phana tertawa dan tersenyum.

 

Apa yang baru saja terjadi? Kit dan Beam penasaran.

 

Jelas sekali sepertinya Phana mencium Yo di balik bantal yang dia pasang untuk menutupi wajahnya, tidak yakin apakah Yo dicium di pipi atau di bibir, karena wajah Yo sekarang sangat sayu.

 

“Hei … kalian berdua, sedang berkonsentrasi membaca, bukan?” Phana dan Yo mengubah mood nya menjadi biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.

 

Kemudian Phana berjalan mendekati Kit dan Beam seraya berkata… “Kita menggunakan kamar Nong Yo, jadi sebaiknya kita belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghargai niat baiknya meminjamkan kamar ini.”

 

Sebenarnya kata-kata itu hanya pantas dikatakan pada Phana sendiri. Kit dan Beam berada disitu untuk belajar hampir satu jam 30 menit, tapi Phana menghabiskan satu jam 15 menit bukan untuk belajar malah asik dengan Yo di tempat tidur itu.

 

Tapi Kit dan Beam sangat senang melihat Phana begitu bahagia seperti ini. Sekalipun cerita cinta Kit masih samar atau ambigu.

 

Phana memulai mengajari Kit dan Beam. Sementara Yo terus membaca Manga dan akhirnya tertidur. Phana bangun untuk menyelimuti Yo dan menyuruh Kit dan Beam pergi karena mereka sudah hampir selesai belajar.

 

Ketiganya belajar sebentar dan kemudian mendengar dering telepon di ponsel Yo.

 

Yo bangun untuk mengangkat telepon.

 

“Hmmm … Oh … Ming, ada apa? tanya Yo.

 

Kit hampir menjatuhkan penanya saat sedang menulis beberapa catatan. Tapi untungnya tidak ada yang melihatnya.

 

Konsentrasi, Kit. Konsentrasi. Itu hanya nama seorang pria. Orang yang mencuri ciuman darimu dan tidak pernah menghubungi mu lagi.
pikir Kit.

 

“Besok? Tentu, jam berapa?” lanjut Yo, entah apa yang sedang Ming bicarakan.

 

Kit mencoba untuk tetap tenang dan mencoba untuk tidak mendengar percakapan itu. Tapi entah kenapa telinga Kit bisa mendengar setiap kata dari percakapan Yo dengan Ming.

 

“Sialan Ming. Jika kamu terlalu banyak waktu luang, kenapa tidak bermain sepak bola, bola basket, atau apapun yang bisa kamu lakukan?” seru Yo.

 

Pena di tangan Kit agak goyah. Yo mengatakan bahwa Ming mempunyai banyak waktu luang.

 

Lalu kenapa kamu tidak menelepon ku atau mengirim sms pada Ku?
tanya Kit dalam hati.

 

“Film? Tentu, yang mana? Oh itu … Baik, geng angel juga ingin melihatnya. Mau ikut?” tanya Yo.

 

Akhirnya Kit sadar, dia mengakui kalau dia mendengarkan setiap percakapan antara Yo dan Ming.

 

“Tidak? apa apaan kamu? kamu juga teman baik mereka. Kenapa? mau makan setelahnya? Aku tidak tahu, aku harus bertanya dulu pada P’Pha. Umm… Ok….” Yo berpaling menatap Phana dan Beam kemudian terakhir menatap Kit.

 

Kit kaget dan berpura-pura seperti sedang belajar.

 

“… siapa yang dia berada di apartemen itu? mereka ada di kamarku, kemari, kemarilah… ” seru Yo.

 

Kit bahkan tidak bisa mendengar suara Phana yang sedang mengajari Beam. Suaranya hanya seperti suara serangga yang berdengung di telinga Kit. Sementara setiap kata dari Yo pada percakapan itu menjadi terdengar keras dan jelas.

 

“Tidak? Hhmm… Sial Ming. Um, tidak ingin bergabung dengan kami? Oke aku mengerti, aku sangat menyesal, sobat, tidurlah, berhentilah memikirkannya.” Yo menutup teleponnya.

 

Tapi pikiran Kit kosong, pikiranya melayang entah kemana.

 

Akhirnya Phana selesai mengajari Beam dan mengajak keduanya untuk kembali ke tempat masing-masing.

 

Yo mengantar Kit dan Beam keparkiran. Sementara Phana ingin mandi karena sudah larut. Sudah lewat tengah malam, sebelum tidur dengan Yo malam ini.

 

Beam dan Kit membawa mobil sendiri-sendiri malam ini. Jadi Beam pergi ke duluan karena dia sangat mengantuk dan ingin tidur.

 

Sekarang, hanya ada Kit dan Yo yang berbicara.

 

“P’Kit” Yo memanggil sebelum Kit berjalan ke mobilnya.

 

“Ada apa?” tanya Kit.

 

“Mmm… Ming.” Yo berhenti sejenak setelah melihat wajah Kit. “…mmm… Dia agak kesal, sedih, dan gila akhir-akhir ini.” lanjut Yo.

 

“Gila?” Kit terlihat bingung.

 

“Iya, dia tidak akan serius kepada siapapun kecuali aku, karena kita sudah saling mengenal. Tepat setelah dia jatuh cinta pada P’, dia kehilangan kepercayaan dirinya. Hidup dan pikirannya menjadi tidak menentu. Khususnya sekarang Dia merasa tidak enak pada P’ karena telah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Jadi dia sangat takut untuk melangkah lebih jauh lagi. Sekarang aku sangat mengkhawatirkannya.” Yo menjelaskan panjang lebar.

 

Kit tidak sadar tangannya memegang selempang tasnya dengan sangat erat.

 

“Bisakah aku meminta sesuatu?” ujar Yo.

 

“Apa itu?” tanya Kit.

 

“Bisakah P’ berbicara padanya dulu? Dia sangat takut, khawatir dan tidak tahu apa-apa tentang P’. Dia merasa seperti orang bodoh saat memutuskan untuk berhubungan dengan P’.” ujar Yo.

 

Kit terdiam sebelum menjawab Yo “Bukan urusan saya, kan? Dia bisa saja takut, tapi bukan urusan saya.”

 

“Mmm… Benar, P’ benar, aku sangat menyesal. P’Kit, berhati-hatilah dijalan.” ucap Yo.

 

“Aku minta maaf juga, jangan sampai masalah ini mengganggu waktumu dengan Pha.” ujar Kit.

 

“Kalian berdua akan selalu disambut, Aku sangat beruntung bisa memiliki kalian berdua di sini hari ini. Jika tidak, P’Pha akan melakukan lebih dari apa yang dia lakukannya tadi.” Yo menggaruk kepalanya lagi.

 

Yo, Anak laki-laki yang menggemaskan itu melambaikan tangannya pada Kit sebelum Kit pergi.

 

Kit kembali ke asramanya, sementara Kit tidak bisa berhenti memikirkan Ming.

 

Persetan dengan ketakutanmu, Ming. Jadi teruslah takut … Selamanya …
Akulah yang dirugikan karena ciuman itu. Bagaimana bisa aku harus menyapanya terlebih dahulu? Jika aku melakukannya, berarti aku biasa saja dengan ciuman itu.
pikir Kit.

 

‘Bulan Kampus’ sebelumnya tidak berarti bagi Kit karena dia adalah temannya, tapi ‘Bulan Kampus’ tahun ini sangat mengganggu perasaannya saat ini.

 

Sementara Kit memikirkan Ming, Kit hampir saja menabrakkan mobilnya pada seseorang di jalan di depan asramanya. Itu sangat mengejutkan Kit.

 

Tapi itu … Mingkwan !!! Sedang memegang es krim berjalan di seberang jalan yang hampir saja Kit menabraknya.

 

Kit tidak tahu harus berbuat apa. Sampai Ming mengetuk jendela. Awalnya Kit tidak mau membukanya, tapi Ming mengetuk lagi, jadi Kit terpaksa harus membukanya.

 

Kit menatap wajah Ming dan tidak berbicara apa-apa. Kit sudah tidak pernah melihat wajah Ming selama beberapa hari. Tidak ada yang berubah. Tapi kenapa Kit merasa aneh saat melihatnya. Detak jantung Kit rasanya mengangkat.

 

Ming memegang es krim Magnum di tangannya. Dia menatap Kit dengan mata mengantuk.

 

“Pulag terlambat.” Ming mulai berbicara.

 

“Apa katamu?” tanya Ming ketus.

 

“P’ pulang terlambat hari ini, P’ kemarin pulang cepat.” jelas Ming.

 

“Pha membantu kita mengulang beberapa matakuliah di kamar Yo. Tapi … Tunggu sebentar … Bagaimana kamu tahu kemarin aku pulang cepat?.” tanya Kit.

 

“Aku …” Ming berubah pikiran “… Itu tidak penting, pokoknya P’ sekarang cepatlah pulang, tidur, besok ada ujian, bukan?”

 

Kamu adalah satu-satunya alasan aku tidak bisa tidur …
gumam Kit.

 

Kit memarkirkan mobilnya di depan asramanya. Berjalan keluar dari mobil dan masih melihat Ming duduk di jalur pejalan kaki dari kejauhan.

 

Jika Kit tidak berbicara dengannya malam ini, Kit tidak akan tidur dengan nyenyak.

 

Jadi Kit memutuskan untuk berjalan ke arah Ming dan berdiri di depannya. Ada beberapa orang di sekitar situ, karena sudah lewat tengah malam. Hanya beberapa siswa yang masuk dan keluar dari asrama membeli makanan. Semua orang menatap Ming dengan rasa ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh seirang ‘Bulan Kampus’ di jalan.

 

Ming duduk di trotoar tepat di depan asrama Kit dan makan es krim yang dibelinya dari mini market.

 

Kit harus tahu, Ming harus menjelaskan semuanya.

 

“Darimana saja kamu?” seru Kit bertanya.

 

“Apa?” Ming berpaling pada Kit.

 

“Kenapa kamu tidak pulang saja?” Kit bertanya dan duduk di sebelah Ming.

 

Ming tampak terkejut dengan mata terbelalak lebar dia melihat Kit duduk tepat di sebelahnya di trotoar.

 

“… P’… P’ belum masuk ke asrama.” dengan bahasa terbata-bata Ming berkata.

 

“Kamu bilang aku terlambat, tapi kamu sediri masih ada di sekitar sini.” ujar Kit.

 

“Aku baik-baik saja, aman di sekitar sini.” jawab Ming.

 

“Jadi aku juga akan baik-baik saja, karena aman di sini.” balas Kit.

 

“Tapi P’ terlalu kecil, nanti ada yang bisa menyakitimu.” ujar Ming.

 

“Apa katamu?” Kit tidak suka apa yang baru saja didengarnya.

 

“Es krim ini enak sekali.” Ming mengubah topik pembicaraan.

 

“Kamu ini…” Kit tidak yakin harus berkata apa. Hanya melihat Ming dari samping.

 

Sepertinya Ming sedang mennikmati es krim itu. Kit berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Haruskah Kit bertanya langsung pada Ming.

 

“Kemana saja kamu selama ini?” Kit berpura-pura menepuk nyamuk. Benar-benar berpura-pura.

 

Ming menarik napas berat.

 

“Aku … mmm… aku takut … kurasa.” jawab Ming.

 

“Takut?” Kit heran.

 

“Aku tidak tahu, aku sangat takut, P’ bisa memanggil ku pengecut, aku tidak peduli, karena perasaan ku untuk P’ terlalu besar. Aku sangat serius dengan P’Anda….” Ming menatap bibir Kit.

 

Dan itu membuat Kit tersipu malu.

 

“…. Aku melakukan sesuatu yang salah kepada P’. Jika aku berani berbicara kepada P’ lagi, mungkin P’ akan merasa terganggu, bahkan aku berpikir, aku akan berjuang mengorbankan segalanya untuk P’. Aku tidak tahu … Aku merasa telah berjalan mundur untuk menguatkan diri terlebih dahulu sebelum melangkah maju. Aku…” jelas Ming.

 

Apa yang telah Kit tanyakan pada Ming, Kit tidak benar-benar ingin mendengar semuanya, tapi …

 

“Pokoknya, aku sudah ‘mundur’ jauh dari awal …” Ming memutuskan untuk melanjutkan bicaranya tanpa khawatir dengan Es krimnya akan meleleh.

 

Kit menengok sekitar dan melihat begitu banyak orang berbisik dan menatap Ming. Tapi Ming sepertinya mengabaikan orang-orang itu. Wajahnya tampak kesal dan sedih.

 

“Aku harus tidur.” Kit berdiri dan begitu juga Ming. “Ada ujian besok pagi.”

 

“Semoga berhasil P’, aku tahu P’ bisa menyelesaikannya.” Ming memberi Kit jempol.

 

“Aku akan kembali ke asrama, Kamu bisa pulang sekarang.” ujar Kit.

 

“Tidak, Aku harus melihat P’ masuk ke dalam asrama dulu.” ujar Ming.

 

“Bukankah itu terlalu berlebihan?” tanya Kit.

 

“Tidak. sekarang pergilah…” Ming mendorong Kit untuk masuk.

 

Kit mencoba untuk menolak sedikit tapi akhirnya masuk ke dalam asrama. Kit merasa seperti lega, yang tadinya merasa telah terjebak dengan sesuatu yang ada kepalanya, akhirnya telah bebas. Kit juga tidak mengerti dirinya sendiri.

 

Kit tidak tahu apakah sudah melakukan yang benar atau tidak. Jika Ming masih menjadi seorang pengecut, maka Kit tidak tahu lagi harus berbuat apa.

 

“Jangan ‘mundur’ terlalu lama Ok?”
Kit berbicara dengan Ming dan langsung cepat-cepat masuk ke asramanya.

 

Kit tidak tahu bagaimana Ming bereaksi terhadap perkataannya. Bahkan tidak yakin apakah Ming bisa mendengarnya dengan jelas atau tidak.

 

Apa yang baru saja aku lakukan? Apa yang membuatmu melakukan ini? Kit.
pikir Kit.

 

Tiba-tiba ponsel Kit bergetar. Ada pesan dari Ming. Pesan pertama setelah beberapa hari Ming menghilang. Mungkin jika Kit tidak berbicara dengannya, maka Kit tidak akan mendapatkan pesan apapun. Hanya roti bakar pancake dengan madu hanya itu.

 

Ming :
Selamat malam P’…

 

Kit tersenyum sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya, dan ponsel itu kembali bergetar.

 

Ming :
Bisakah P’ mengajak ku menonton film setelah ujian besok?

 

Kit :
Biarkan aku memikirkannya dulu.

 

Itulah satu-satunya pesan yang Kit kirim untuk Ming.

 

 

Sepanjang pagi di ruang ujian membuat Kit merasa sangat stres. Ujian itu menghabiskan semua energi dan jiwanya.

 

Kit dan Beam duduk dan bersandar di depan ruang ujian.

 

“Beam … Sial Beam! Ini dia.” Phana berjalan dengan santai dan meraih leher Beam. “Profesor ingin berbicara dengan kita, ayo temui dia bersamaku.”

 

Phana menarik Beam bersamanya dan bahkan tidak bertanya kepada Kit.

 

Dasar sahabat sialan! Meninggalkan aku di sini sendirian.
seru Kit dalam hati.

 

Setelah Phana pergi. Kit melihat sekeliling dan melihat seseorang berdiri di depan gedung.

 

Ming dengan pakaian kasualnya, kaos hitam, celana jins dan kacamata. Dia terlihat sangat tampan. Dia menjadi pusat perhatian bagi banyak wanita di Fakultas kedokteran. Banyak dari mereka menunjukkan dengan jelas betapa terkesannya mereka.

 

Kit tertegun sejenak, karena tidak mungkin Kit bisa menggunakan gaya seperti itu. Biasanya Kit belum pernah hatinya bergetar oleh pria tampan sebelumnya. Karena Kit pikir Kit sendiri tidak lah jelek. Tapi orang ini berbeda. Dia membuat Kit merasa aneh.
Ini bukan iri hati, tapi rasa malu. Benar-benar malu.

 

Apa yang kamu lakukan padaku? Ming.
pikir Kit.

 

Tiba-tiba saja Ming muncul tepat di depan Kit.

 

“Bagaimana ujiannya?” Ming tersenyum dan melepaskan kacamatanya dari matanya yang sipit. “Bisakah P’ menyelesaikannya?.”

 

“Mmm.. itu… tidak apa-apa.” Kit menjawab. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Kit.

 

“Menjemput P’ pergi untuk nonton film.” jawab Ming.

 

“Akuxtidak pernah mengatakan bahwa akuxakan pergi denganmu.” ujar Kit.

 

“Makan siangnya nanti saja.” ujar Ming. “Ayo pergi.” ajak Ming.

 

“Hei!!!” Kit berteriak setelah Ming merengkuh bahunya untuk berjalan. “Tunggu sebentar.”

 

“Ada apa lagi P’?” tanya Ming.

 

“Teman-teman ku.” jawab Kit.

 

“Apa maksud P’ adalah P’Beam?” Ming terdengar agak sedih.

 

Ming memang belum tahu yang sebenarnya…

 

“Mmmm…” Kit bingung.

 

“Ayo kita pergi sebelum dia kembali.” Ming meraih tangan Kit dan berjalan ke tempat parkir dengan sangat cepat.

 

“Hei!!!” seru Kit.

 

“Mencuri hati seseorang, apakah salah?” tanya Ming.

 

“Ming … Sialan!” umpat Kit.

 

“Tapi aku mencuri hati milikku, harusnya tidak salah.” ujar Ming.

 

“Bukankah ini terlalu cepat? kamu mengatakan bahwa kamu harus ‘berdiri teguh’ dulu?” tanya Kit.

 

“Aku telah berdiri lama, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi tanpamu.” jawab Ming.

 

“Ming …” wajah Kit memerah karena malu.

 

“Bagaimana bisa wajah seseorang yang baru saja menyelesaikan ujian menjadi seimut ini?” Ming berbicara sambil menarik Kit ke mobilnya.

 

Kit tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Membiarkan Ming memegang tangannya dan menariknya seperti itu. Kit berpikir seharusnya Kit tidak berbicara dengan Ming seperti itu tadi malam.

 

Kit suka filmnya. Menyenangkan dan yang pasti gratis. Dan tentu saja makan siang juga gratis…

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.