Novel 2 Moons – Chapter 33-A (PHA)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

“Jadi, kita akan berkeliling ke Pasar untuk meminta donasi kali ini. Oke kalian harus benar-benar berkonsentrasi pada tugas ini karena kita tidak punya banyak waktu lagi dan khusus untuk…” Pemimpin tugas kelompok menjelaskan.

 

Wanita jenius dengan nilai tertinggi difakultas ternyata sedang menatap geng Dokter.

 

“Kit, Beam dan kamu, Pha. Kalian harus bergabung dengan ku, kali ini karena kamu melewatkan perkuliahan terakhir, kalian harus menyelesaikan tugas ini dengan baik. Kalian mengerti kan, tugas kalian adalah menarik semua wanita yang ada di pasar untuk berdonasi.” lanjutnya.

 

Mata Phana melihat kesekelilingnya.

 

“Membosankan” gumam Phana.

 

Biasanya, Phana bertindak sebagai salah satu panitia, bukan staf seperti saat ini.

 

Sial!
umpat Phana dalam hati.

 

Tadinya Phana berniat untuk mengajak Yo ke tempat hot pot, tapi sekarang Phana tidak bisa.

 

Phana tidak tahu apa yang terjadi dengan teman-temannya.

 

Kit sedang bermain dengan ponselnya sepanjang hari dan sepanjang malam. Seseorang mengiriminya pesan tanpa henti. Kit terlihat kesal tapi membalas semua pesannya. Sampai akhirnya mereka ngobrol ditelepon.

 

Ming. Jadi, mereka sudah baikan. Tentu saja semua perhatian Kit tercurah pada anak Teknik itu.

 

Dan yang lainnya, Beam. seperti sedang marah dan murung tanpa alasan. Sepanjang hari dan sepanjang malam juga. Beam terlihat sedang marah besar sampai-sampai Kit dan Phana tidak berani bertanya padanya.

 

Beam melempar teleponnya pada Kit dan meminta untuk membawakannya. Phana melihat ada begitu banyak panggilan tak terjawab yang muncul di layar ponselnya.

 

Phana penasaran, apa yang sedang terjadi.

 

“Hei … Beam … apa kamu baik-baik saja?” Phana meraih lengan Beam setelah dia berjalan aneh seperti akan pingsan. “Apa yang terjadi dengan mu? apa ada yang salah? Terluka saat latihan atau semacamnya?” tanya Phana.

 

“Sesuatu seperti itu.” Beam masih bersikap murung.

 

“Kudengar kamu pergi minum bersama Forth dan teman-temannya. Seharusnya kamu mengajakku juga.” Kit mengeluh.

 

Beam hanya terdiam, wajahnya terlihat lebih marah lagi.

 

Kit dan Phana saling memandang, heran.

 

Mereka membawa papan pajangan bertajuk ‘Sumbang Cinta Anda kepada Anak-Anak’ ke gedung kampu.

 

Tiba-tiba Phana melihat jaket Teknik biru dari kejauhan. Dia berjalan ke arahnya begitu dia melihat Kit, Phana dan Beam.

 

Forth tidak pernah datang kemari. Apa yang dia mau?
pikir Phana dalam hati.

 

“Hei Forth …” Kit menyapa ‘Bulan Kampus’ tingkat 2 dari Fakultas Teknik itu.

 

Tapi Forth seperti tidak peduli dengan sapaan dari Kit. Sebagai gantinya, dia berjalan sangat cepat ke arah Beam …

 

“Kenapa kamu tidak mengangkat telponku?” tanya Forth.

 

“Aku sedang berada di kelas.” Beam mencoba untuk menghindar.

 

“Tapi, setidaknya kamu bisa mengirim pesan atau apa.” ujar Forth.

 

“Pergilah, aku tidak perlu membalas apapun juga.” seru Beam.

 

“Harus… , Aku mengkhawatirkan mu.” ujar Forth.

 

APA-APAAN INI?!!!!

 

Kit dan Phana melongo. Seseorang perlu menjelaskan hal ini.

 

Phana melihat Kit dan tahu bahwa keduanya harus mengajukan pertanyaan yang sama di sini. Sungguh … apa yang sedang terjadi di antara kedua orang ini.

 

“Apa yang kalian berdua lakukan? Cepat.” pemimpin tugas memanggil ketiganya.

 

Beam berjalan menjauh dari Kit dan Phana dan tentu saja menjauh dari Forth.

 

Tiba-tiba Forth mengejar Beam.

 

Kit dan Phana seperti dua orang bodoh, saling menatap dengan ekspresi sangat bingung.

 

“Aku akan membantumu.” Forth mencoba mengambil barang dari tangan Beam.

 

“Hei … kembalikan!.” seru Beam.

 

“Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya, bagaimana keadaanmu?” tanya Forth.

 

“Aku tidak akan baik-baik saja karena kamu, berikan itu padaku.” jawab Beam.

 

“Tidak!” Forth mengambil kembali kotak sumbangan dari Beam.

 

“Tuhan… sialan kamu!.” umpat Beam.

 

“Apa kamu ingin aku memapahmu? kamu bisa berjalan?” tawar Forth.

 

“Tinggalkan aku sendiri.” seru Beam.

 

“Apa kamu yakin sudah minum obat tadi malam?” tanya Forth.

 

“Aku tidak mau bicara apa pun denganmu.” Beam terus saja berteriak pada Forth.

 

“Tapi kamu mahasiswa kedokteran, kenapa kamu tidak bisa mengurus diri sendiri? Bagaimana kamu bisa sembuh?” tanya Forth.

 

“Aku tanya, siapa penyebab semua ini?” seru Beam.

 

Sekarang keduanya sedang berada di dunia mereka sendiri sekarang.

 

Sedangkan Phana dan Kit berada di dunia yang membingungkan. Tidak ada yang berani bertanya apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, Forth dan Beam sekarang sudah sangat dekat satu sama lain.

 

Phana dan Kit bingung. Bagaimana ini terjadi. Apa karena mereka pergi untuk minum bersama.

 

Biasanya Forth lebih dekat dengan Phana daripada dengan Kit ataupun dengan Beam. Tapi tepat setelah Yo menjadi pacar Phana, keduanya mulai menjauh satu sama lain.
Bagaimanapun, Forth dan Beam seharusnya tidak sedekat ini.

 

“Hei … apa kita harus bertanya pada Beam tentang ini?” tanya Kit pada Phana.

 

“Tidak perlu, lebih baik tunggu dia yang bicara duluan.” jawab Phana.

 

“Tapi … apa menurutmu dia akan bicara?” tanya Kit.

 

“Bagaimana aku tahu? Tapi, sepertinya Forth tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.” jawab Phana.

 

Forth mengikuti kemana pun Beam pergi. Berjalan atau naik Bus Universitas. Forth terus mengikuti Beam seperti bayangan. Forth tidak peduli Beam terus berteriak dan berbicara kasar padanya. Forth terus saja bertanya dan bertanya. Sangat mengganggu. Tidak heran mengapa Beam menendangnya. Phana dan Kit bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu dari mereka.

 

Akhirnya mereka sampai di Pasar.

 

Forth membiarkan Beam membawa kotak sumbangan itu kembali. Beam melangkah mundur untuk berdiri di samping kelompoknya.

 

Saat yang tepat untuk Phana mengajukan pertanyaan pada Beam, tapi Phana harus sabar menunggu karena mereka harus mendengarkan terlebih dahulu tentang cara ‘bagaimana mendapatkan donasi’ dari pimpinan tugas.

 

“Kenapa Forth mengikutimu seperti ini?” Kit mulai bertanya.

 

Phana berdiri di tengah antara Kit dan Beam sekarang.

 

Beam menarik dafas berat sebelum mengatakan “Kalian berdua harus membantuku, melepaskan dia dariku.”

 

“Kenapa?” tanya Kit.

 

“Dia …” Beam berhenti sebentar sebelum mengucapkannya dengan murung. “…menggangguku.”

 

“Tapi biasanya kamu sangat menyukai dia.” Kit mengambil kesimpulannya dari pengamatannya. “Kameu selalu mengaguminya mengatakan bahwa dia baik, tampan, cerdas, dan sempurna daripada Pha.” lanjut Kit.

 

“Hei … aku berpura-pura hanya untuk menggoda Pha.” Beam berpendapat.

 

“Kurasa tidak.” Phana menambahkan “Aku masih ingat, kamu begitu serius saat mengatakannya.”

 

“Tutup mulutmu.” Beam mengeluh. “Jika kalian berpikir kita adalah teman terbaik, jauhkan dia dariku.”

 

“Kami harus tahu alasannya.” Kit dan Phana serius dengan hal ini.

 

“Dia menyakitiku.” jawab Beam.

 

Kit dan Phana saling tatap. Keduanya belum sempat membahas tentang makna dari ‘menyakiti’ tersebut, pemimpin tugas mulai berjalan menuju ketiganya untuk memeriksa apakah siap untuk bekerja atau tidak. Dia ingin ketiganya terlihat tampan, agar bisa mendapatkan banyak donasi hari ini.

 

Tidak butuh waktu lama untuk mengisi kotak sumbangan. Uang lembaran baht dan koin-koin itu langsung terisi di sini. Phana membungkuk dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Sama seperti kotak Kit dan Beam. Tapi ada sesuatu yang aneh…

 

Phana berpikir jika Beam akan menyukai pria yang imut dan lucu seperti Yo, Beam selalu tersenyum dan menggodanya.

 

Dan pada saat ada tipe pria seperti Yo tapi lebih muda sedikit dari Yo berjalan ke arah Beam berniat memberikan donasi, Forth selalu dengan cepat menghampiri pria tersebut dan mencegahnya untuk menyumbang dan mengganti dengan uangnya sendiri. Sepertinya Forth tidak ingi Beam melihat tipe pria seperti Yo. Sementara Beam dan Phana sedang menghitung uang, berulang kali hal itu dilakukan oleh Forth.

 

Itu terlihat sangat tidak normal. Itu bukan cara yang harus dilakukan pria sejati.

 

Forth tidak peduli berapa banyak Beam marah, dia tetap bersikap tenang.

 

Persetan! serius, kita perlu berbicara bertiga.
gumam Phana.

 

“Pha, kenapa kamu tidak membantuku mengusirnya?” Beam mengeluh.

 

“Mengusir apanya… dia menyumbang, jadi kamu harus membiarkannya, dia memberikan 1.000 baht setiap saat.” jawab Phana.

 

1.000 baht adala uang pecahan terbesar yang ada di Thailand. Pemimpin tugas sangat senang melihat uang kertas berwarna abu-abu itu di dalam kotak.

 

Catatan:
kamu bisa membeli 5 set menu makan siang di restoran dengan harga 1.000 baht.

 

“Sialan kamu Pha…” umpat Beam.

 

“Baiklah … Baiklah … aku akan mengusirnya, tapi kamu harus berjanji untuk menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi antara kalian berdua.” ujar Phana.

 

Beam terdiam dan tersipu sedikit. Kit dan Phana menatap Beam dan masih bertanya-tanya.

 

Tidak perlu menunggu lama karena donasi masih berlangsung tanpa henti.

 

Tidak lama dari itu, Phana melihat seseorang mendekati Forth. Sepertinya kedua orang itu hanya menyapa Beam biasa saja, tapi bagian yang tidak biasa adalah salah satunya …

 

Wayo, pacarku!
teriak Phana dalam hati.

 

“Sial!.” hampir saja Phana mberikanan kotak donasinya pada temannya dan lari menghampirin Yo, tapi…

 

Yo menoleh pada Phana dan tersenyum. Dia melambaikan tangannya pada Phana.

 

Posesif? Tentu saja, tapi dengan senyuman itu, Phana menganggapnya sebagai kode. Yo harus membayar sisa malam ini dengan ciuman.

 

Yo tidak ingin mendekati Phana. Dia ingin Phana berkonsentrasi pada tugasnya. Yo hanya berdiri di sana sambil makan bola-bola ikan dan mencoba membaginya dengan Forth, tapi Forth menggelengkan wajahnya.

 

Tentu saja, disebelah Yo adalah Ming. Dia tidak makan apa-apa, tapi berdiri tegak bertindak seperti pengawal Yo.

 

Sekarang Phana tahu mengapa ada sesuatu yang bergerak di punggungnya. Karena Ming ada disini, maka Kit menggunakan punggung Phana untuk bersembunyi.

 

“Apa yang kamu lakukan?” Phana mengeluh “Kenapa kamu bersembunyi?”

 

“Aku tidak tahu kenapa, dia menatap ku.” jawab Kit.

 

“Itu terlihat biasa saja, bukan tatapan.” seru Phana.

 

“Aku tidak tahu, aku hanya ingin bersembunyi. Hey … Sial Pha Jangan melihatnya.” seru Kit.

 

“Apa yang sedang terjadi di sini?” Phanabingung.

 

Sepertinya Phana satu-satunya yang tampak biasa-biasa saja di situ.

 

Ming, ‘Bulan Kampus’ yang baru berjalan ke arah Kit, Phana dan Beam dan membuka dompetnya sebelum mengeluarkan satu lembar uang kertas 1.000 baht.

 

“Apa?” Phana menggoda Ai Ming.

 

“P’Pha … dimana P’Kit?” Ming menggoda balik.

 

“Dia sedang memegang erat punggung saya seperti Parasit yang menempel.” jawab Phana.

 

Kit harus menunjukkan wajahnya pada Ming daripada melakukan hal bodoh bersembunyi dibalik punggung Phana. Itu Iebih memalukan daripada melihat Ming secara langsung.

 

“Tidak.” seru Kit.

 

“Ayo ke sini.” ujar Ming.

 

“Aku bialang tidak. ya tidak.” jawab Kit.

 

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak mau melihatnya?” Phana sedikit kesal.

 

“Aku… aku mengirim stiker yang salah.” jawab Kit.

 

Akhirnya Phana menengok ke arah Kit yang masih berdiri di belakangnya.

 

“Apa yang kamu kirim?” tanya Phana.

 

Kit terdiam tidak menjawab.

 

“Apa?” tanya Phanalagi.

 

“Stiker Love You…” jawab Kit malu-malu.

 

“Ha Ha Ha Ha Ha …” Phana tertawa geli.

 

“Diam…” ujar Kit.

 

“Bisakah P’ memberitahunya untuk muncul? aku ingin menyumbang.” ujar Ming.

 

“Kamu bisa memasukkannya ke dalam kotak.” Phana membela sahabatnya yang sedang merasa malu.

 

“Tapi…” ujar Ming.

 

“Keluarkan lagi uang yang lain, pasti Kit akan muncul.” goda Phana.

 

Ming menatap Phana lemas. Phana memberi kode pada Ming dengan alisnya. Phana berpikir itu menyenangkan buatnya mengerjai Ming dan Kit. Dan dia bisa mendapatkan lebih banyak donasi.

 

Ming menyeringai. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Phana, kemudian dia mengeluarkan 1.000 Baht lagi.

 

Dasar orang kaya…

 

 

Phana menggunakan salah satu siku untuk mendorong Kit untuk keluar dari persembunyiannya dan menerima donasi dari Ming. Tapi Kit sepertinya menolak dengan bergerak dan tidak mau keluar.

 

“Kalau begitu katakan saja kepadanya jika kamu telah mengirim stiker yang salah.” ujar Phana.

 

“Aku sudah memberitahunya, tapi dia mengirim banyak stiker Love dan mengirim balasan ‘Love You Too’.” jelas Kit.

 

“Oh begitu… Jadi karena hal itu kamu merasa malu?” tanya Phana.

 

“Hhmmm…” jawab Kit sambil menganggukkan kepalanya.

 

“Sial… itu hanya stiker .” tanya Phana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

 

“Aku tidak tahu, aku tidak mau, aku sangat malu.” ujar Kit.

 

Phana bisa melihat wajah temannya sekarang memerah karena malu. Kini Phana merasa menjadi orang yang paling maskulin di antara gengnya. Phana kini harus menjaga dan menahan setiap pria yang datang dan ingin berkencan dengan teman-temannya.

 

Phana meraih lengan Kit untuk maju ke depan dan menerima donasi itu. Ming juga terlihat malu dan tersenyum kepada Kit. Ming sepertinya sedang menggoda Kit dan dia hampir ‘mati’ dibuatnya.

 

“Kenapa kamu terus menatapku? Sumbangkan uangmu.” seru Kit setengah berteriak pada Ming.

 

“Kapan P’ selesai? Kembali ke asrama denganku, ya…. .” Ming berbicara dengan Kit.

 

“Tidak, dia akan pulang ke asrama bersamaku.” Phana bertingkah layaknya seorang sahabat yang melindungi sahabatnya yang lain.

 

Kit menatap Phana seperti seorang pahlawan, sementara Ming menatap Phana dengan rasa ingin tahu.

 

“Aku pikir P’Pha akan mengantar Yo pulang. Yo mengatakan kepadaku sebelumnya bahwa dia ingin makan di Hot Pot, dia menunggumu, P’.” ujar Ming.

 

” Sungguh?” Phana melihat Yo berdiri tepat di sebelah Forth.

 

Apa dia masih ingin makan di Hot Pot? Dia sudah makan bola-bola ikan.
pikir Phana.

 

“Oke… Kit … kamu pulang ke asrama bersama Ming.” ujar Phana.

 

Kit terkejut dan mulutnya menganga.

 

“Jangan khawatir, terima kasih P’Pha, kami tunggu kalian di sana.” ujar Ming senang.

 

Setelah Ming berjalan pergi, Phana memberi Kit senyuman tertahan untuk meminta maaf atas apa yang telah Phana lakukan. Phana tidak mau menjadi penghalang hubungan Kit dan Ming. Disamping itu Ming adalah orang baik.

 

Dapatkan dia, ajak dia kencan, sobat.
Gumam Phana dalam hati, menyemangati Ming.

 

Tiba-tiba Phana mendengar Beam terengah-engah tepat di sampingnya, dia tampak kelelahan.

 

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Phana khawatir.

 

“Aku baik-baik saja.” jawab Beam.

 

“Wajah mu pucat, sepertinya kamu akan pingsan.” ujar Kit.

 

Beam pasti benar-benar sakit. Phana mencoba agar Beam berhenti dan beristirahat, tapi dia mengatakan bahwa dia ingin mengisi kotak donasi terlebih dahulu.

 

Tidak butuh waktu lama. ‘Raksasa’ berjaket biru itu muncul lagi. Kali ini dia mendekati Beam dari belakang.

 

“Permisi, aku akan membantunya.” Forth mencoba mengambil kotak donasi dari tangan Beam, tapi Beam tidak memberikannya.

 

“Tidak … kamu sangat mengganggu.” jawab Beam.

 

“Ini ….” Forth menyerahkan sebotol air minum dengan sedotan pada Beam. “Minumlah.”

 

“Tidak…” seru Beam.

 

“Aku melihatmu menjilati bibir beberapa kali, kamu pasti haus.” ujar Forth lembut.

 

“Pergi.” seru Beam.

 

“Minumlah.” ujar Forth masih berusaha.

 

“Tidak.” Beam tetap menolak.

 

“Atau apakah kamu ingin aku memberi minum dengan mulutku?” ujar Forth.

 

SIAL…
SIAL…
SIAL…

 

Apa Phana tidak salah dengar?…
Phana dan Kit benar-benar terkejut mendengar semua itu.

 

Apa yang terjadi dengan kalian berdua?
gumam Phanadalam hati.

 

“Ahem…” Phana pura-pura batuk.

 

Phana kemudian menarik Beam ke belakang punggungnya dan menatap tajam pada Forth. Sekali lagi, Phana berperan sebagai pelindung untuk sahabatnya.

 

“Dia bilang tidak mau.” ujar Phana datar.

 

“Jika kamu tahu apa yang telah terjadi padanya, aku yakin kamu akan membiarkan aku untuk menjaganya. Tapi kenyataannya kamu tidak tahu apa-apa.” ujar Forth.

 

“Kenapa aku tidak tahu?” Teriak Phana. Tapi memang benar Phana sama sekali tidak tahu apa-apa.

 

Kenapa kamu tidak memberitahuku apa yang sedang terjadi di sini?
pikir Phana.

 

“Jika kamu sudah tahu, maka kamu harus membiarkan akucbertanggung jawab.” jawab Forth.

 

Phana merasa dia tahu apa yang telah terjadi di antara keduanya, tapi jika Phana mengatakannya, mungkin Phana akan mendapat pukulan dari Beam.

 

Phana melihat sahabatnya, Beam. Dia terus menatap Phana.

 

Jadi … aku harus menjadi orang yang menghalangi setiap orang yang mencoba mendekati kalian berdua, bukan?
gumam Phana.

 

“Jika kamu ingin bertanggung jawab, lakukan lebih dari sekedar bertanggung jawab, baru aku akan membiarkan kamu untuk melakukannya.” ujar Phana.

 

Phana menatap Forth dengan tatapan tajam dan serius. Phana sangat berharap Forth mengerti apa yang dia maksud. Keduanya sudah berteman satu tahun ini. Jadi Forth bisa membaca apa yang Phana maksud.

 

Melakukan lebih dari sekedar bertanggung jawab, berarti memberikan hati Forth kepada sahabat Phana, Beam. dan menjaganya dengan baik.

 

Forth bukan orang bodoh. Dia tersenyum dan menjawab.

“Kamu bisa melihatku sekarang, Kamu tahu ini berbeda, kepada Yo aku tidak pernah seperti ini.” ujar Forth.

 

Jadi, dia tidak lagi menginginkan Yo.
ujar Phana dalam hati.

 

Phana menatap mata Forth mencoba mendapatkan jawabannya. Dan ya, Forth bisa menjawab Phana dari matanya.

 

“Lalu …” Phana mengangkat bahunya. “Dia tidak akan pernah meminumnya. Berikan padaku.” lanjut Phana.

 

Phana mengambil botol air minum dari Forth dan memberikannya kepada Beam. Awalnya, Beam tidak mau meminumnya, tapi dia tidak punya pilihan. Meski sudah sore, tapi masih panas sekali. Beam pasti benar-benar haus.

 

“Air?” tiba-tiba Ming muncul dan menyerahkan air minum pada Kit dengan sedotan.

 

Seperti yang dilakukan Forth. Ming hampir saja membuat Kit melompat kaget sama seperti pertama kali Ming muncul di hadapan Kit.

 

“Aku …” Kit seperti Beam. Haus, tapi malu-malu kucing.

 

“P’Pha~.”

 

Itu dia … Wayo-ku yang manis.
wajah Phana berbinar melihat Yo berlari ke arahnya.

 

Yo mengambil satu bola ikan dengan tusukan bambu itu.

 

“Buka mulutmu … ahhhhh …”

 

Hi Hi Hi. Kami adalah pemenang di sini. Bos akan selalu menjadi bos. Pasangan paling manis di dunia ada di sini.
pikiran Phana merasa menang.

 

PPhana tersenyum pada Yo seraya membuka mulutnya dan memakan bola ikan dari Yo. Yo terlihat sangat senang melakukannya pada Phana.

 

“Para angel akan menjemput Yo untuk menyelesaikan laporan lab. Yo akan menemui P’ di apartemen malam ini, ya~.” ujar Yo.

 

Phana terdiam sejenak.

 

“Apa? P’ pikir Yo ingin makan Hot Pot, P’ berencana mengantarmu ke sana setelah ini.” tanya Phana.

 

“P’Pha sendiri yang bilang ingin makan disitu. Yo tidak pernah bilang Yo ingin makan disitu.” jawab Yo.

 

Phana melirik ke arah Ming.

 

Wajah Ming seperti tidak pernah mengatakan apa-apa.

 

Lupakan Kit. Ming bocah sialan.
umpat Phana dalam hati.

 

“Kit … kemarilah.” Phana menarik tangan Kit untuk berdiri tepat di sebelahnya.

 

Ming menatap Kit dengan sedih.

 

“Pulanglah bersamaku.” ujar Phana.

 

“Yakin!” Kit terlihat sangat bahagia.

 

“Aku juga.” Beam bergabung.

 

Phana berpikir mungkin dia merasa sudah gila dan menjadi pengganggu hubungan kedua pasangan yangbelum jelas statusnya.

 

“Baik Beam, Kit kita akan pulang bersama, kalian berdua bisa pergi.” ujar Phana.

 

Phana masih pemenang di sini. Itu sangat menyenangkan mengerjai pria-pria dari teknik. Hari ini seharusnya menjadi hari biasa ketiganya.

“Hei …” Yo memukul Phana dengan lembut.

 

“Kenapa memukul P’?” Suara Phana berubah dari biasa menjadi imut.

 

“Dasar tukang ganggu.” jawab Yo cemberut.

 

“Tidak P’tidak mengganggu.” ujar Phana lembut.

 

“P’ jahat pada temanku dan P’Forth.” lanjut Yo.

 

“Kenapa? aku juga suka teman-temanku.” jawab Phana.

 

“P’ berlebihan.” seru Yo.

 

“Tidak, P’ tidak berlebihan.” ujar Phana.

 

Yo terdiam, wajah nya cemberut.

 

“Yo marah pada P’?” tanya Phana.

 

Yo masih cemberut.

 

“Apa Yo marah pada P’? Ayolah… Yo …” Phana mulai panik melihat Yo tidak menjawab pertanyaannya.

 

“Kenapa P’ harus berteriak padaku?” protes Yo.

 

“Apa?” Phana bingung.

 

“P’ berteriak pada Yo.” ulang Yo.

 

“Apa? Kapan? Tidak, P’ hanya sedang menjelaskan kepada Yo.” jawab Phana.

 

“Lihat? P’ melakukannya lagi.” protes Yo.

 

“Apa?” Phana semakin bingung.

 

“Ha Ha Ha Ha Ha”

 

Tiba-tiba Yo tertawa terbahak-bahak dan Phana tahu Yo berhasil mengerjainya.

 

Ketika sedang berbicara dengan Yo, Phana seperti tidak peduli lagi dengan sekitarnya termasuk semua teman saya sekarang.

 

Di sebelah kiri, Kit ditarik oleh Ming menuju ke Pasar. Di sebelah kanan, Beam didorong oleh Forth untuk keluar dari Pasar.

 

Sudah terlambat untuk membuat mereka berdua kembali karena mereka pergi ke arah yang berbeda dan Phana tidak bisa pergi ke dua arah dalam waktu bersamaan.

 

Semoga sukses, kawan.
gumam Phana.

 

Phana tersenyum kepada Yo dan berpura-pura mengeluh padanya. “Kamu, memang penjahat imut.”

 

 

“P’Kit … aku tahu kamu lapar … apapun yang kamu mau makan P’ bisa memilih apapun yang kamu mau.” tawar Ming.

 

“Kamu sangat keras kepala.” seru Kit.

 

“Aku tidak ingin P’ berpikir kalau aku melakukannya berbeda dari apa yang aku katakan kepada P’ di stiker.” ujar Ming.

 

Kit terdiam, pipinya mulai memerah.

 

“Suka ya Suka … Cinta ya Cinta. Apa kamu mengerti?” tanya Kit.

 

 

“Bagaimana keadaanmu? Apa kamu ingin aku membopongmu ?” tawar Forth.

 

“Sialan… Biarkan aku berjalan sendiri, aku tidak sedang hamil.” seru Beam.

 

“Aku harus memegangimu.” ujar Forth.

 

“Tidak!” teriak Beam.

 

“Bagus … berteriak lebih keras … Woo Hoo … aku suka itu …” Forth tersenyum nakal.

 

“SIALAN KAMU!!!!.”

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.