Novel 2 Moons – Chapter 33 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

“Hei, apa kamu tahu gosip terpanas? orang-orang mengatakan kalau di universitas kita memiliki ‘Bulan Kampus’ yang saling pacaran.”

 

“Apa itu seri baru Thailand?”

 

“Bukan, itu ‘Star Courting the Moon’ (Bintang memacari Bulan) ini ‘Bulan berpacaran dengan ‘Bulan’ lain!”

 

“Apa ini permainan fakultas?”

 

“Ini adalah kisah nyata! Ini adalah kehidupan nyata! ‘Bulan’ berkencan dengan ‘Bulan’ yang lain! Gadis-gadis bahkan tidak punya kesempatan, mereka itu ‘barang premium’ mereka mencintai satu dengan yang lainnya…”

 

“Siapa itu? Apa dia murid tingkat dua, Forth dari fakultas kita?”

 

“Girl! Jangan terlalu keras, dia duduk di sana … gosipnya adalah Pha yang sangat tampan itu dengan ‘Bulan Kampus’ tingkat 1 dari salah satu fakultas.”

 

“Nong Mingkwan?”

 

“Apa kamu sudah gila? Bagaimana bisa Pha memacari Nong Ming? Mereka berdua itu Top, tidak mungkin mereka pacaran.”

 

“Jadi, siapa dia?”

 

“Aku pikir dia dari Fakultas Sains, Nong Wayo. Pria dengan wajah menggemaskan yang mirip bintang Jepang yang lucu itu. Aku melihat keduanya makan bersama di depan universitas tadi pagi.”

 

Semua gosip itu adalah gogip yang sedang hangat dibicarakan oleh hampir semua mahasiswa di universitas.

 

Teruslah mengingatkanku! Teruslah melakukannya … Teruslah mengingatkanku jika aku tertarik dengan seseorang yang sudah memiliki kekasih.
Pikir Forth. Dia kesal dengan semua keadaan itu.

 

Forth memang salah, karena terlambat masuk ke dalam kehidupan Yo. Sejauh yang Forth tahu, Yo dan Phana telah lama saling mencintai walaupun satu dengan yanglain tidak saling mengetahui.

 

Sekarang Forth telah berada pada titik di mana dia tidak punya hak apa-apa lagi, tidak leluasa lagi untuk hanya sekedar bercengkrama dengan Yo.

 

Forth tahu Phana adalah seirang pria yang baik. Forth tidak bisa merebut Yo dari nya karena Forth tahu diri, dia pasti kalah bila dibandingkan dengan Phana. Hati Yo hanya untuk Phana saja.

 

Aku sudah kalah.
pikir Forth.

 

Dan Forth adalah tipe orang yang tidak suka mengambil sesuatu milik orang lain. Bahkan meski awalnya sangat sulit sekali pun, tapi sekarang Forth sudah terbiasa ketika melihat Yo bersama Phana.

 

Bahkan jika Forth mendengar kedua nama ini disebut-sebut, dengan catatan tidak melihat wajah manis Yo, itu membantu Forth untuk perlahan bisa melupakannya.

 

Forth baru saja bertemu Yo dan Phana belum lama ini, Forth harus bisa move on. Apalagi saat tahu kekasih Yo adalah pria yang baik dan dia juga seseorang yang bisa diandalkan untuk menjaganya, ada baiknya Yo berpacaran dengan seseorang seperti Phana.

 

Tapi jika Phana membuat Yo sedih … Forth masih akan siap membela dan melindungi Yo dan tidak akan membiarkan Phana begitu saja. Apalagi Forth sering mengancam Phana karena beberapa kali membuat Yo menjadi sedih.

 

“Kita minum malam ini, jangan lupa,” temannya mengingatkan Forth setelah kita duduk lama, sampai-sampai mendengar para senior bergosip.

 

“Di tempat Lam, jam 6 sore.” Forth tidak akan melewatkannya.

 

Forth tidak punya kekasih, inilah kehidupan seorang pria lajang. Forth selalu bebas.

 

“Hei guys, lihat disana, malaikat …” teman Forth mengganti topik pembicaraan saat melihat seorang gadis berjalan ke arah gedung.

 

Forth melihat semua temannya menatap gadis itu dengan mata berbinar, gadis itu memang seksi. Bagian atas seragamnya terlihat pas, menonjolkan lekuk tubuhnya, dipadukan dengan roknya yang ketat dan super pendek. Sampai-sampai teman-teman Forth meneteskan air liur.

 

Forth hanya melihat gadis itu lewat, gadis dengan tipe seperti itu sudah sering datang dan pergi dalam kehidupannya. Bisa dikatakan jika Forth sudah banyak bergaul dengan banyak gadis seoerti itu, dia juga sudah pernah bersama pria. Meskipun sudah pernah bersama pria, Forth tidak perah mau menjadi bottom.

 

Setelah mengungkapkan perasaannya pada Yo, dan ditolak, Forth belum pernah bersama siapa pun lagi. Forth belum merayu, belum menggoda orang lain lagi. Hanya sepi, sesuatu yang dimilikinya sekarang hanyalah alkohol dan teman-temannya.

 

Forth tahu bahwa yang akan dilirik oleh gadis-gadis semacam itu bukan seseorang yang biasa saja tapi dia harus kaya dan tampan. Para gadis selalu ingin merasa nyaman, duduk manis di dalam mobil tanpa merasa kepanasan. Sedangkan Forth hanya punya motor biasa, bukan motor mahal.

 

Forth sedang menunggu untuk melihat gadis itu bersama siapa.

 

Gadis itu terlihat sedang menunggu seseorang.

 

Kemudian seorang Pria berjalan mendekati gadis itu, tinggi, putih, berkilau, dengan celana panjang hitam dan jam tangan biru, cocok dengan warna kulitnya yang terang, khas orang Cina, rambutnya hitam dan sedikit panjang menutupi sebagian keningnya. Wajahnya terlihat tidak asing lagi untuk Forth. Dia sering ikut minum dengan Forth.

 

Ya… Dokter Beam.

 

Beam adalah orang yang layak menjadi pasangan gadis itu, dia tampan, memiliki ayah dari keturunan orang kaya, dan cukup populer, meski dia tidak bisa dibandingkan dengan Phana.

 

Forth melambaikan tangan untuk menyambutnya saat dia menggandeng gadis itu untuk berjalan bersama. Mereka mungkin baru saja dari ‘surga ke-7’.

 

Begitu dia mengantar gadis itu pergi, salah satu anggota geng dokter nakal itu berjalan ke arah Forth. Dia menyapa semua orang di meja, semua teman Forth mengungkapkan rasa iri mereka pada Beam.

 

“Bagaimana bisa…? ‘Melakukan’ nya di siang hari?.” tanya Forth seraya tersenyum pada Beam.

 

“Aku baru saja selesai ujian.” Beam mengangkat bahunya.

 

Beam sepertinya mempunyai beberapa masalah, Forth pernah melihatnya di bar dan ikut minum bersama Forth.

 

Forth sendiri tidak tahu apa masalahnya, tapi Forth tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Sampai saat ini pun Forth belum berani bertanya.

 

“Kami akan minum di tempat Lam malam ini, ajaklah anggota geng dokter nakal mu yang lain.” Ajak Forth.

 

“Yang satunya sulit dipisahkan dari istrinya, dia tidak bisa bebas pergi kemana pun dan yang satunya lagi …” Beam terdiam sebelum akhirnya menjawab. “… Dia mungkin ‘terikat’ pada seorang bocah.”

 

“Wow, hidupmu menyedihkan. Temanmu mencampakkanmu, ayo, kita akan membuatmu merasa lebih baik.” ujar Forth.

 

“Haruskah aku ikut?.” Beam tersenyum. “Oke, di tempat Lam? aku akan kesana.”

 

“Pukul 6 sore.” seru Forth.

 

Beam melambaikan tangan kepada semua orang termasuk Forth saat dia berjalan pergi.

 

Mahasiswa senior yang sedang bergosip, berpaling untuk melihat Beam. Mereka mulai berbisik ‘dia temannya Nong Pha’…

 

 

Sepertinya pesta minum biasanya semuanya terlihat normal.

 

Tapi setelah hari itu, hidup Forth tidak akan sama lagi. Forth tidak pernah tahu sebelumnya bahwa hidupnya akan berubah.

 

Forth bersyukur Beam pergi menemui gadis itu, membawanya ke fakultas teknik dan juga menerima undangan minum dari teman-temannya.

 

Forth ingin benar-benar berterima kasih padanya.

 

Forth telah berkumpul di rumah Lam. Forth telah mengatakan jam 6 sore, tapi Beam datang lebih awal. Begitu teman-teman dan Forth tiba, Beam sudah minum dan mukanya sudah merah. Sepertinya dia akan mengalami beberapa masalah besar.

 

Begitu Forth sampai, Forth duduk di sebelah Beam dan membawa gelas Beam ke tangannya.

 

“Sial, kenapa kamu tidak menungguku?” Tanya Forth pada Beam.

 

“Berikan gelas itu padaku.” seru Beam.

 

Kata-katanya terputus saat Beam mencoba mengambil gelas itu dari Forth.

 

Beam benar-benar sedang mengalami beberapa masalah besar.

 

“Sial!,” Forth memarahi Beam.

 

“Jika kamu tidak bisa tenang, tidurlah.” seru Forth.

 

“Tidak! Aku akan minum sampai mati!.” Beam mengambil gelas itu dan meminum minuman yang tersisa dari gelasnya.

 

Alih-alih bisa minum dengan tenang, Forth harus menjaga Dokter Beam. Kondisinya buruk, semakin ia banyak minum semakin buruk pula yang dilakukannya.

 

Beam mulai menimbulkan masalah dengan orang-orang disekitarnya. Forth harus memegang kedua kaki dan lengannya karena Forth duduk paling dekat dengan Beam. Itu membuat Forth harus memegangnya erat. Forth merasa hari itu dia tidak menikmati acara minum-minumnya.

 

“Kamu pikir … aku menyukainya?!.” Beam mulai meracau tidak terkendali.

 

Masalahnya mulai terungkap.

 

Forth mendengar teman-temannya yang lain mengeluh, tapi tetap berkosentrasi memasang telinganya agar bisa mendengar apa yang Beam ucapkan. Kini kepala Beam tepat berada di bahu Forth. Forth sedikit lebih tinggi dari Beam, sekitar 5cm, jika sekilas, tidak akan tahu bedanya.

 

“Suka? suka dengan siapa?.” Forth bertanya karena sangat ingin tahu apa masalah Beam.

 

“Sialan itu, Kit.” jawab Beam.

 

Forth kaget, ini berita paling panas! Forth belum pernah mendengar tentang hal ini sebelumnya.

 

“Hah?”

 

“Apa aku menyukainya?” Seru Beam.

 

“Bagaimana aku bisa tahu?” Forth tanpa terasa bertanya pada Beam.

 

“Sial! aku hanya ingin temanku bersama dengan orang yang baik, itu saja.” jawab Beam.

 

“Ya?”

 

“Dulu saya khawatir tentang dia saat dia pergi dengan orang lain selain Pha. Aku tidak tahu mengapa aku sekarang sangat mengkhawatirkannya.” lanjut Beam.

 

“Kamu suka dengannya?.” tanya Forth.

 

“Aku bingung, sebenarnya saat itu …ooa…” Beam bersendawa keras, tidak sesuai dengan mukanya. “… saat aku bilang aku menyukainya, aku tidak tahu. Baru-baru ini aku mulai bertanya-tanya apakah aku menyukainya atau tidak. ”

 

Jadi, inilah kegalauan yang menyebabkan Beam sering pergi keluar minum pada saat Forth melihatnya di bar. Forth menarik nafas panjang, mengulurkan tangan dan menepuk bahu Beam seraya menariknya mendekat.

 

“Jadi, apakah aku menyukainya?” tanya Beam lagi.

 

“Mungkin,” jawab Forth.

 

“Sungguh…? Saya pikir … tidak… bukan… atau aku… ?.” Beam terus meracau.

 

Forth pikir sudah waktunya Beam untuk berhenti minum dan tidur.

 

Beam terus membuat Forth bingung. Forth ingin memastikan, harus ada seorang pria yang menerima Beam. Tapi di negara bagiannya sekarang, nampaknya tidak mudah menerima pasangan sesama jenis.

 

Beam masih sangat bingung. Dia bahkan lebih bingung dalam keadaan mabuk seperti itu.

 

“Aku pikir … teman mu tidak akan bertahan lama lagi … Kamu bisa membawanya ke kamarku. Kita masih akan berada di sini untuk waktu yang lama. “Lam memberitahu Forth.

 

Forth berpaling untuk melihat Beam yang masih bertumpu pada bahunya, kepalanya terjatuh tepat dipangkuan Forth. Forth menarik napas dalam-dalam, Forth mengerti betapa menyedihkannya Beam saat ini.

 

Forth membawa Beam ke kamar, keduanya berjalan melewati tubuh-tubuh temannya yang tergeletak mabuk di lantai ruang tamu rumah Lam.

 

Forth sering datang ke rumah itu, mereka sering mabuk dan minum-minum di situ. Beam, yang terlihat tinggi dan besar tidak berat sama sekali, ia sebenarnya ringan.

 

Tidak lama kemudian, Fort sampai di kamar Lam. Biasanya, Lam tidak akan membiarkan satu orang pun tidur di kamarnya, tidak peduli seberapa mabuknya mereka. Beam mungkin adalah teman VIP.

 

“Tidur yang nyenyak,” Forth menarik selimut untuk dipakaikan pada Beam.

 

Baru saja Forth akan kembali untuk minum lebih banyak, lalu ia ingin menyanyi untuk meluapkan isi hatinya, tapi …

 

Tiba-tiba Beam, si pembuat onar itu menarik lengannya.

 

“Kemana kamu akan pergi?” racau Beam.

 

“Aku akan ke bawah.” jawab Forth.

 

“Tinggal lah di sini bersamaku.” Pinta Beam.

 

“Yeah, baiklah.” jawab Forth bingung.

 

Forth berpikir kenapa Beam memintanya untuk tetap tinggal menemaninya. Tapi Forth merasa itu karena Beam sedang kacau saat ini.

 

Aku bisa tinggal bersamanya, tidak masalah.
Pikir Forth.

 

Tapi anehnya, kenapa Beam tidak melepaskan lengan Forth.

 

“Lepaskan lenganku, aku tidak akan pergi ke mana-mana,” ujar Forth.

 

Ketika Beam memegang Forth seperti itu, tiba-tiba membuat bulu-bulu tangannya merinding. Sebuah ruangan gelap dan kelembutan bola lampu berwarna oranye dari teras, romantis sekali.

 

“Sungguh?” tanya Beam.

 

“Ya…” jawab Forth.

 

Bahkan saat itu Beam masih tidak mengizinkan Forth untuk pergi.

 

“Benarkah?” tanya Beam lagi.

 

“Iya… ada apa denganmu?” Forth mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Beam dengan tangannya yang lain.

 

Dan pada saat itulah Beam memutuskan untuk memakai tangan Forth untuk menggaruk tubuhnya. Itu otomatis membuat Forth ditarik untuk lebih dekat dengan tubuh Beam.

 

Kini posisi keduanya patut untuk dipertanyakan, posisi itu akan membuat orang yang melihatnya bisa jadi salah paham.

 

Wajah Forth dan wajah Beam hanya terpaut beberapa senti saja, napasnya yang lembut menghembus ke wajah Forth. Dan hal lain yang berada di luar dugaan Forth adalah …

 

… Hatinya berdegup kencang.

 

“Apa-apaan ini?” Forth mencoba menjauh.

 

Keduanya memang sedang mabuk sekarang, jadi apapun bisa terjadi. Terutama, ketika Forth merasa baik-baik saja apakah itu dengan wanita atau pria, itu tidak akan menjadi masalah baginya. Tapi Forth berpikir sekali lagi, apakah itu justru akan menciptakan lebih banyak masalah nantinya.

 

Beam tidak membiarkan Forth pergi, Beam mulai meracau lagi. “Lihat? kamu akan meninggalkanku! kamu tidak mau tinggal bersamaku! ”

 

“Lepaskan! Biarkan aku pergi.” seru Forth.

 

Semakin Beam menarik lenganku, semakin tubuh Forth bersentuhan dengan tubuh Beam. Tubuh Forth mulai merasa …

 

Sial!
seru Forth dalam hati.

 

“Aku bilang jangan tinggalkan aku!” Beam terus merengek seperti anak kecil.

 

“Aku tidak akan pergi! Aku di sini!.” Teriak Forth.

 

Beam akhirnya berhenti berguling-guling, dan membiarkan lengan Forth lepas.

 

Akhirnya Forth bisa menarik napas lega, tapi Beam hanya melepaskan satu lengan saja, dia masih memegang lengan Forth yang yang lain.

 

“Lepaskan lenganku …” seru Forth.

 

Forth berpikir apakah Beam benar-benar mabuk tapi kenapa tenaga Beam begitu kuat atau dia hanya berpura-pura saja.

 

“Hari ini, aku sudah ‘melakukan’ nya sekali.” ujar Beam.

 

“Hah !?” teriak Forth kaget saat Beam mengeluarkan kata-katanya.

 

“Kamu sedang berkata apa …?” tanya Forth.

 

“Aku ‘melakukan’ nya dengan Susu … satu kali.” ulang Beam.

 

Forth bingung kenapa Beam memberitahu tentang masalah seperti itu padanya.

 

“Tidak perlu memberitahuku … dan biarkan aku pergi.” seru Forth.

 

“Sial, dia tidak memuaskanku, rasanya aneh…” ujar Beam.

 

Forth kaget dan terdiam.

 

“Biasanya aku suka payudara besar, tapi tidak kali ini.” lanjut Beam.

 

“Karena kamu memiliki orang lain dalam hati mu,” ujar. Forth. “Kamu memiliki seseorang di dalam hati dan kamu memikirkan orang itu saat kamu sedang ‘melakukan’ nya … bukan?” tanya Forth.

 

Beam terdiam … lalu dia berbicara. “Aku tidak punya siapa-siapa di hatiku.”

 

“Apa katamu?”

 

“Aku tidak punya siapa-siapa.” ulang Beam.

 

“Kamu baru saja membicarakannya,” ujar Forth.

 

Forth pikir kenapa dia bisa meladeni omongan seseorang yang sedang mabuk seperti itu.

 

“Dia temanku.” jawab Beam.

 

“Yeah … aku tidak percaya padamu.” ujar Forth.

 

“Sialan.” umpat Beam.

 

“Aku bena-benar tidak mempercayaimu!” Forth berteriak.

 

Jika saja Forth tidak sedang mabuk, mungkin bisa berkata dengan lebih baik dari ini.

 

Tangan Beam memegang lengan Forth semakin kencang, Forth bisa merasakan itu.

 

“Aku bisa ‘melakukan’ nya dengan siapa saja … karena aku tidak memiliki seseorang di dalam hatiku.” ucap Beam.

 

“Yeah … kamulah yang bilang jika kamu merasa tidak puas.” ujar Forth.

 

“Kamu mau aku membuktikannya?” tantang Beam.

 

Forth bahkan tidak menyadari kapan dia ditarik ke arah tubuh Beam, dan Forth sama sekali tidak tahu jika Beam sedang mabuk, tindakannya akan sulit untuk ditebak. Forth bahkan tidak menyadari bahwa dia benar-benar degdegan ketika berada di dekat Beam. Kini wajah Beam hendak menyentuh wajah Forth.

 

 

“Hei! …” Fort akan bangun.

 

Aku sedang mabuk, apapun bisa terjadi sekarang juga!
pikir Forth

 

“… Sial! Ini tidak lucu!” seru Forth.

 

“Lakukan saja…” ujar Beam.

 

Sial!
sekali lagi Forth berseru dalam hati.

 

“HEI!!!!!!” Teriak Forth.

 

“Lakukanlah… aku bisa melakukannya dengan siapa pun… aku tidak punya siapa-siapa di hatiku.” kembali Beam berkata.

 

Forth tidak menyangka akan seperti itu, Forth menelan ludah dengan susah payah saat menatap orang yang berada di bawahnya sekarang sedang menantangnya.

 

Seolah semuanya sudah siap, suasana romantis dan emosi terpendam keduanya.
Semua seperti memanggil naluri binatang keduanya naik ke ubun-ubun… dan yang paling siap adalah orang di bawah Forth saai ini.

 

Beam terus menantang Forth, dia terus saja meracau dan dia terus berusaha menarik Forth mendekat ke arahnya.

 

“Lakukan…” desah Beam.

 

Forth menggigit bibirnya sendiri, wajah Beam tidak jauh darinya, jika keduanya sedikit saja bergerak, bibir keduanya akan bersentuhan satu sama lain.

 

“Beam … aku pikir …” Forth berujar.

 

“… cepatlah.” potong Beam.

 

“Kamu mabuk dan aku juga …” lanjut Forth.

 

“Lakukanlah …” ujar Beam.

 

“Beam.” suara Forth perlahan mulai pelan.

 

“Tidak ada hal yang buruk.” ujar Beam.

 

Maksud Forth btukan itu … tapi saat Forth hendak berbicara, Beam mendorong bibirnya untuk menyentuh bibir Forth. dan karena alkohol yang sudah merasuk di dalam tubuh Forth, dia menjadi mudah terhanyut. Pada gilirannya Forth mulai mencium Beam karena Forth kini berada di atasnya.

 

Beam pencium yang handal, lebih baik dari yang Forth kira, Beam melakukannya di awal, tapi pada akhirnya Forth lah yang kini mengambil alih kendali.

 

Yang dimaksud Forth bahwa Beam menjadi pencium yang hndal adalah ketika respon balik dari Beam terasa menggebu-gebu dan penuh gairah, sesuatu yang tidak pernah Forth bayangkan sebelumnya.

 

Tidak lama kemudian, kesadaran keduanya benar-benar telah lenyap saat hasrat seksual mereka berdua mengambil alih. Dengan cepat Forth menanggalkan pakaian Beam seolah ada yang menyalakan api pada mereka berdua.

 

Keduanya ‘mendidih’, itulah yang mereka rasakan. Rasa panas di seluruh tubuh. Nafas keduanya memburu sama memburunya seperti erangannya yang keluar dari mulut keduanya.

 

Segalanya lenyap dari pikiran Forth, kecuali satu hal, bagaimana Forth bisa benar-benar memuaskan orang yang kini berada di bawahnya.

 

Forth mabuk, begitu juga dengan Beam. dia terbakar gairah, jadi Forth harus bisa mengimbangi ritme permainannya.

 

Otot Beam lebih kecil dari Forth, tapi Beam memilikinya. Beam lebih putih dan kulitnya lebih halus daripada yang Forth kira.

 

Forth menyerah dan menyentuhnya berkali-kali. Dengan lembut Forth membelai dengan tangannya, dan juga dengan mulutnya. Dan saat Forth melanjutkan, Forth sudah tidak tahan lagi, tangannya tidak hanya tinggal di kulit Beam yang lembut, tapi setelah itu ….

 

“Beam…” ujar Forth lirih.

 

“Ya…?” jawab Beam.

 

“Kamu… percaya padaku, bukan?” tanya Forth lembut.

 

“Aku percaya kamu.” jawab Beam.

 

“Aku juga memercayaimu … kalau begitu aku akan …” lanjut Forth.

 

“Ah, sial, sakit sekali !!!!!!!” teriak Beam.

 

Bagian dari Beam adalah yang paling ketat yang pernah Forth temui, Beam mempercayai Forth, dia adalah orang pertama yang Forth ‘pakai’ dengan tidak menggunakan kondom.

 

Forth merasa benar-benar kehilangan dirinya selama beberapa saat. Forth merasa melayang, sampai dia lupa apa yang sedang terjadi sebenarnya, dan lupa jenis hubungan seperti apa yang mereka miliki. Seolah-olah Forth ttrsihir oleh tubuh yang berada di bawahnya. Tangisan yang Beam buat, wajahnya menunjukkan tingkat emosional tertinggi. Segala sesuatu tentang Beam membuat Forth merasa gila.

 

Forth menginginkan Beam. Tidak ada habisnya rasa ‘lapar’ Forth akan tubuh Beam.

 

Forth tidak pernah menyangka semuanya akan berubah seperti ini. Forth tidak memikirkan konsekuensi yang akan menyusul setelah apa yang telah dia lakukan.

 

Setelah Forth selesai melakukannya, Forth melihat Beam dengan aura yang berbeda, sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.

 

Itu kesalahan ku…
Forth menyesal.

 

 

Pagi tiba…

 

Forth terbangun lebih dul, Forth sadar apa yang telah dilakukannya tadi malam dan dengan siapa. Jadi Forth bangun dan duduk telanjang di tepi ranjang dengan selimut yang menutupi bagian pribadinya saja.

 

Tempat tidurnya benar-benar berantakan, pakaian Forth dan Beam berserakan dimana-mana. Beam masih tertidur. Ada banyak tanda merah di sekujur tubuhnya, itu menunjukkan tentang malam penuh gairah yang telah mereka lalui.

 

Forth berpikir, setelah kejadian tadi malam, apa yang akan terjadi di antara keduanya. Forth takui bahwa diamerasa jauh lebih baik. Beam memberinya sebuah pengalaman yang tidak akan pernah Forth lupakan selama hidupnya.

 

Hanya saja, itu seharusnya tidak terjadi. Itu tidak benar, bahkan jika itu terjadi karena keduanya sedang dalam kondisi mabuk dan meskipun keduanya sama-sama pria, itu seharusnya tidak terjadi.

 

Forth mengambil sebungkus rokok dari laci samping meja Lam. Forth merokok saat menunggu Beam bangun. Sudah rokok keenam yang Forth hisap saat Beam akhirnya mulai bergerak.

 

Forthcsiap untuk apapun itu yang akan terjadi.

 

Saat melihat kondisi ruangan dan Forth yang masih telanjang, Beam perlahan bangkit untuk duduk. Dia mengeluarkan erangan yang menyakitkan setiap kali dia pindah. Dia membungkuk dan mengambil pakaiannya dan mulai berpakaian sendiri.

 

“Beam …” panggil Forth.

 

“Iya.” jawab Beam.

 

“Apa kamu tidak akan mengatakan apa-apa?” Tanya Forth sangat hati-hati.

 

Tadi malam, Forth sama sekali tidak memperlakukan Beam dengan lembut. Forth berpikir dia adalah orang yang mengerikan.

 

“Apa yang bisa kukatakan?” ujar Beam.

 

Forth tidak tahu harus berkata apa. Sudah jelas bahwa di antara keduanya sudah terjadi sesuatu, kami tidak lagi sedang minum dan mabuk. Tiba-tiba saja menjadi sangat aneh.

 

“Kamu bisa meneriakiku, kamu bisa melakukan apapun kepadaku, jangan diam saja seperti ini,” ujar Forth.

 

Sejak Forth mengenaln Beam, Forth tidak pernah berbicara dengan nada suara yang lembut.

 

“Matikan rokoknya …” katanya dengan suara kaku.

 

“Hah?” Forth heran.

 

“Aku tidak suka rokok.” jawab Beam.

 

Forth lupa Beam adalah seorang calon Dokter. Forth meletakkan rokoknya di tempat yang semestinya. Kemudian menatap Beam yang sekarang sengaja menghadap ke arah lain.

 

“Maafkan aku.” ujar Forth.

 

“Tidak apa-apa,” suaranya Beam kembali normal.

 

“Apa itu menyakitkan…?” Forth bertanya hal yang sangat bodoh.

 

“Tentu sakit, kamu sialan! Kamu tidak berhenti ‘mengerjai’ saya, apa kamu sangat kelaparan?.” seru Beam.

 

Forth lega, kini Beam sudah kembali ke sifat aslinya yang bawel.

 

“Aku benar-benar minta maaf,” hanya itu yang bisa Forth katakan.

 

“Lupakan saja, akulah yang menyuruhmu melakukan itu untuk ku,” Beam berbicara sambil memakai pakaiannya.

 

Forth berdiri dan mencoba membantu Beam, tapi Beam menarik lengannya beberapa kali, tapi Forth tidak akan berhenti.

 

Forth merasa seperti seorang suami yang sedang mencoba minta maaf kepada istrinya.

 

“Jika kita menyalahkan siapa pun, kita berdua tetap salah …” ujar Beam.

 

Beam akhirnya mengenakan pakaian yang kemarin dipakainya. Dia mulai berjalan dengan susah payah dan Forth benar-benar khawatir. Forth menatap dengan cemas dan khawatir.

 

“Lupakanlah.” jawab Beam dengan mudahnya.

 

Beam berjalan keluar kamar, pergi meninggalkan Forth sendiri di sebuah ruangan yang tampak seperti baru saja mengalami perang.

 

Lupakan saja…
Lupakan saja …
Lupa…

 

Mungkin itu yang ada di benak Beam sekarang, hanya dua orang yang bersenang-senang di malam hari. Begitu mereka bangun, kemudian berpisah begitu saja. Keduanya bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang salah.

 

Tapi kenapa Forth tidak bisa menganggapnya seperti itu saja. Dan Forth juga tidak ingin Beam menganggapnya seperti itu. Forth tidak ingin Beam berpikir seperti itu.

 

Dengan cepat Forth berpakaian dan mengejar Beam. Beberapa teman Forth yang baru saja terbangun menunjuk ke arah pintu untuk menunjukkan bahwa Beam sudah pergi. Salah satu dari mereka bertanya apa yang saya lakukan dengan Beam sepanjang malam di kamar Lam.

 

Forth tidak menyia-nyiakan waktu nya hanya untuk menjawab pertanyaan itu. Forth sedang tergesa-gesa.

 

Forth tidak bisa mengejar mobil Beam, jadi Forth berinisiatif untuk meneleponnya. Tapi Beam tidak menjawab teleponnya, akhirnya Forth menelepon Phana.

 

Phana terdengar kesal dan akhirnya mengakhiri teleponnya. Phana bersikap terlalu protektif meski Forth bermaksud meneleponnya bukanmenelepon Yo. Jadi Forth menghubunginya lagi dan Phana bilang Beam tidak datang ke kelas.

 

Jadi itu berarti, dia berada di asramanya.
Forth ingat mereka mengatakan bahwa Beam tinggal di asrama yang sama dengan Kit, itu tidak jauh dari asrama Phana.

 

Forth ingat asrama Phtana karena dia tinggal di asrama yang sama dengan Yo. Tapi Forth tidak tahu di mana asrama Beam dan Kit berada.

 

Forth berpikir apa yang harus dia lakukan. Forth berkeliling ke hampir semua tempat parkir asrama untuk mencari mobil Beam. Sepertinya Beam tidak akan menerima telepon dari Forth. Forth mencoba menelepon Kit dan teleponnya juga dimatikan! Jadi yang bisa Forth lakukan hanyalah berkeliling untuk mencari Beam.

 

Untung mobil Beam itu berbeda, tapi Forth sial karena dia masih belum bisa menemukannya. Lalu akhirnya Forth bertemu dengan seseorang yang dikenalnya sedang berada disebuah mini market di depan sebuah asrama.

 

Ming …

 

“Hei!” Forth memanggil juniornya dari fakultas yang sama. “Apa yang kamu lakukan di sekitar sini?” tanya Forth.

 

“Aku sedang mencoba mencari seseorang.” jawab Ming.

 

“Apa kamu tahu dimana asrama Beam dan Ki? Aku tidak tahu yang mana itu.” tanya Forth.

 

Ming berdiri diam dan wajahnya tanpa ekspresi sebelum menunjuk lurus ke depan.

 

“Yang itu.” jawab Ming.

 

Forth berbalik begitu cepat sehingga leherku terasa mau copot, lalu akhirnya Forth melihat mobil Beam diparkir jauh-jauh di belakang. Itulah sebabnya Forth tidak menemukannya tadi.

 

Forth melambaikan tangan pada Ming lalu pergi ke parkiran di depan asrama.

 

Forthcberdiri dan mengumpulkan keberaniannya, menarik napas dalam-dalam sebelum berlari ke petugas jaga. Forth mengatakan pada penjaga bahwa Beam sedang sakit, dan dengan mudahnya petugas itu membukakan pintu agar Forth bisa masuk dan memberitahukan kamar Beam.

 

Begitu sampai di sana Forth mengetuk pintunya beberapa kali.

 

“Kit? Taruh saja di pintu, nanti akan aku makan nanti.” seru Beam dari dalam kamar.

 

Forth melihat kantong plastik putih berisi bubur yang tergantung di kenop pintu. Dari hangatannya kantong plastik itu jelas bahwa baru saja digantung disitu. Forth memutuskan untuk mengetuk lagi, dan orang yang dia cari akhirnya membuka pintu untuknya.

 

Dan begitu Beam melihat wajah Forth, kemudian Beam akan menutup pintunya, dengan cepat Forth menahan dengan kakinya. Forth masuk dengan paksa ke dalam kamar Beam tanpa ada undangan darinya. Dilihat dari pakaian dan wajahnya, sepertinya Beam langsung tidur begitu dia sampai di asrama.

 

Rasa bersalah itu muncul lagi.

 

“Aku punya sesuatu untuk dibicarakan dengan mu,” Forth mulai berbicara.

 

“Aku tidak mau.” jawab Beam.

 

“Beam…” Forth memohon.

 

“Forth Bodoh! Tidak bisakah kamu melupakannya? Tidak bisakah kamu bertindak seperti itu tidak pernah terjadi? Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu lagi!” Beam meringis. Ini adalah ekspresi paling serius yang pernah Forth lihat darinya.

 

Forth menarik nafas sebelum menjawab dengan tegar, “Aku tidak bisa melupakan yang telah terjadi.”

 

“Sial!” Beam marah, “Orang lain yang sudah kamu ‘pakai’ kamu biasa saja, tapi kenapa kamu tidak pergi dan mengganggu mereka seperti setelah ‘memakai’ ku?!”

 

“Kamu … temanku, kan?” Suara Forth menjadi lebih lembut.

 

Alasan itu saja tidak cukup untuk Forth. Forth mempunyai perasaan lain yang lebih besar dari itu.

 

“Teman, itu karena kita teman, kita masih berteman, jangan khawatir, jangan terlalu banyak memikirkannya! Berhenti dan pulang saja,” Beam mencoba mengakhiri pembicaraan.

 

“Tidak bisa.” seru Forth.

 

“Sial!” umpat Beam.

 

“Kamu ‘rusak’ karena aku.” ujar Forth.

 

“Aku bukan wanita!” Beam membentak.

 

“Tapi aku benar-benar merasa seperti itu.” lanjut Forth.

 

“Bisakah kamu berhenti membuatku merasa lebih buruk daripada sebelumnya?” Wajah Beam menunjukkan bahwa dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.

 

Ini mungkin yang mereka maksud dengan; Pikirkan sebelum kamu melakukan sesuatu.

 

Forth merasa telah menghancurkan tubuh Beam secara fisik sampai pada titik di mana dia terlihat lelah. Pada saat yang sama Forth merasa bersalah dan khawatir terhadap orang yang berada di depannya. Forth tidak dapat melakukan apapun agar Beam bisa merasa sedikit lebih baik.

 

“Beam…” ujar Forth.

 

“Keluarlah, jangan membuatnya lebih buruk dari sebelumnya.” seru Beam.

 

“Aku … aku …” Forth terbata-bata.

 

“Pergilah, aku ingin sendiri, aku telah melakukan sesuatu yang buruk, jangan membuatnya menjadi lebih buruk dari sebelumnya.” seru Beam lagi.

 

Apa yang telah mereka lakukan. Segala sesuatu yang normal sekarang benar-benar hancur hanya karena satu keputusan cepat, Itu tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman, khawatir dan mengkhawatirkannya.

 

Forth tidak bisa meninggalkannya seperti ini. Inilah yang ada di hatinya.

 

Sebelum Forth membuka pintu untuk pergi, dia menoleh untuk melihat wajah Beam, wajahnya menunjukkan bahwa dia telah melakukan kesalahan yang mengerikan.

 

Semua hal yang telah Forth lakukan pada Beam, Forth rasa tidak semua sama buruknya. Forth tidak pernah khawatir kepada siapa pun. tidak pernah ‘lapar’ untuk seseorang dan ingin melihat wajah mereka sesering ini sebelumnya. Mungkin baru saja berlangsung selama satu malam yang benar-benar singkat. Tapi itu benar-benar mengubah cara berpikir Forth. Itu benar-benar menghapus bagaimana Forth menatap Beam seperti biasa.

 

Sekarang Forth hanya tahu dari sudut pandangannya, bahwa sekarang Forth telah memiliki Beam, dan itu tidak akan sama lagi seperti sebelumnya.

 

“Kamu boleh berpikir tidak ada yang salah dengan apa yang telah aku lakukan, tapi aku pria yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Forth berbicara lagi.

 

Beam berbalik untuk menatap Forth dalam kebingungan.

 

“Ini jujur dari hatiku. Beam … mulai hari ini dan seterusnya… aku akan menjagamu.”

 


 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan