Novel 2 Moons – Chapter 35 (WAYO)

Novel by Chiffon_cake

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

“P’Pha…” ujar Yo.

 

Phana masih saja menunjukkan ekspresi dingin diwajahnya.

 

“P’Pha~.” panggil Yo berusaha selembut mungkin.

 

“Hmmm?” hanya itu yang keluar dari mulut Phana.

 

“Tolong lihat Yo…” Yo memohon.

 

Yo tidak bermaksud untuk mengganggu Phana. Tapi begitu Phana masuk ke kamar Yo, wajahnya terlihat seperti sedang tertekan. Atau bisa dibilang lebih mirip marah. Yo mencoba berbicara dengannya beberapa kali, tapi Phana sama sekali tidak memperhatikan Yo. Yo mengerti bahwa jika siapapun terkena masalah seperti ini, tentu saja akan berusaha keras menemukan pelakunya. Tapi semakin Phana berpikir, semakin dia mulai kesal dan marah. Yo tidak ingin melihatnya seperti itu.

 

“Maafkan P’…” ujar Phana.

 

Dadanya menjadi tempat bersandar yang nyaman untuk Yo. Kedua tangannya berada dipundak dan satu lagi berada dikepala Yo, mengusap kepala Yo dengan lembut berulang kali, tapi pikiran Phana berada di tempat lain.

 

“Apa yang sedang P’ pikirkan?” tanya Yo lirih.

 

“Berpikir tentang keparat itu, P’ ingin tahu siapa dia.” jawab Phana kesal, itu terdengar dari nada suaranya yang berat.

 

“Apa P’ tidak memikirkan Yo sama sekali?” tanya Yo.

 

Phana menatap Yo dengan wajah penasaran.

 

“Apa maksud Yo?” tanya Phana.

 

“P’Phaaaaaaaaaaaaaa” Yo menangis sedih. “Yo benar-benar mengerti jika P’ sangat marah, P’ mungkin juga ingin membalas perbuatan orang itu, tapi …”

 

“… P’ tidak marah seperti itu.” potong Phana.

 

Yo berhenti sejenak. Jika Phana tidak marah karena hal itu, jadi apa yang membuatnya semarah itu.

 

“P’Pha tidak marah tentang masalah itu?lalu apa?.” tanya Yo heran.

 

“Satu hal yang pasti membuat P’ sangat marah adalah… orang itu suka atau bahkan mencintai Yo.” jawab Phana.

 

Yo meletakkan kertas belajarnya dan duduk tepat disebelah Phana, melepaskan pelukannya seraya menatap matanya.

 

“P’ marah karena itu?” tanya Yo tidak menyangka.

 

“Tentu saja” Sekarang giliran Phana yang berteriak. “Dia pengecut. Jika menyukai seseorang dan ingin mendapatkannya, tidak perlu merusak mobil orang lain. Bertarunglah secara sportif. Berjuang untuknya!”

 

Phana berteriak cukup keras dan Yo yakin Pring bisa mendengarnya. “… dan jika pengecut psiko itu memiliki perasaan pada Yo, maka Yo harus benar-benar berhati-hati. Dia mempunyai kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berbahaya bagi Yo juga. Dia bisa melakukan pada mobil P’, dia juga bisa melakukan sesuatu pada Yo.”

 

“Tunggu … Tunggu …” Yo mencoba menenangkan Phana. “Dia mungkin tidak menyukai atau bahkan tidak mencintai Yo.”

 

“P’ tidak tahu.” Phana menggigit kukunya.

 

Yo menarik tangan Phana.

 

Phana menatap Yo dan berkata, “Bagaimana jika P’ tidak kuliah di fakultas kedokteran lagi? Jadi P’ bisa lebih leluasa menjaga Yo sepanjang waktu.”

 

“Konyol, P’ selalu bersama Yo sepanjang waktu. Tidak apa-apa, P’ tidak usah khawatir.” jawab Yo seraya tersenyum.

 

“Tetaplah bersama geng cantik mu jangan jauh-jauh dari mereka, oke?.” ujar Phana mengingatkan.

 

Phana selalu memanggil para angels dengan sebutan geng ‘cantik’. Pertama kali Yo memberi tahu mereka tentang julukan itu, mereka berteriak bahagia dan membelikan semua orang makan siang gratis.

 

“Tentu saja.” jawab Yo.

 

“Dan jika Yo tidak membalas pesan dari P’…” Phana menatap celana boxer abu-abu yang dipakai Yo, saat Yo duduk dengan tidak semestinya. “… maka hal yang sudah P’ nantikan mungkin akan terjadi lebih cepat dari perkiraan Yo.”

 

Yo berkedip. “Apa yang sedang P’ nantikan?” tanya Yo tidak mengerti.

 

Phana terbatuk… “Sini, biar P’ aku lihat apa yang sedang Yo pelajari.” Phana tidak menjawab malah mengalihkan pokok pembicaraan.

 

“Katakan pada Yo… ” Yo masih penasaran.

 

“Apa Yo lupa menyalakan AC? kenapa panas sekali di sini?” Phana lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Yo.

 

“P’Pha!” seru Yo seraya menatap Phana. “Apa yang sedang P’ nantikan dari Yo?.”

 

“Yo sedang dalam keadaan seperti ini, Bagaimana P’ bisa menjawab pertanyaan Yo?” Phana menggaruk kepalanya frustrasi. “Teman-teman P’ bilang jika P’ telah menjadi ‘Kasim’ sekarang.”

 

Catatan:
Kasim adalah pria yang bekerja di Kota Terlarang di dalam istana dan telah dikebiri agar membuat mereka kehilangan kemampuan melakukan hubungan seksual dengan perempuan.

 

Kurasa Yo mulai mengerti apa yang Phana maksud. Seharusnya Yo tidak memulai ini.

 

“P’ benar, cuacanya panas di sini.” Yo mencoba bangun dari tempat tidur dan mengganti suhu AC. “Seberapa dingin yang P’ inginkan?”

 

“Yo …” ujar Phana.

 

Yo terdiam.

 

“Kapan?…” lanjut Phana.

 

Yo faham apa maksud Phana. Yo sangat faham. Tapi Yo tidak berani membicarakannya. Yo berpikir apakah dia seorang pria atau apa. Mengapa Yo tidak malu sama sekali di hadapan geng angel, tapi dengan Phana, ini menjadi topik yang sangat aneh yang tidak pernah Yo bicarakan.

 

Wajah Yo terasa panas sekali. Jauh lebih panas saat teman-temannya menggoda tentang Phana.

 

“Apa maksud P’ dengan ‘kapan’?.” tanya Yo pura-pura tidak mengerti.

 

“Kapan … Yo… akan … menjadi milik P’?.” jawab Phana canggung.

 

Saat ini Yo bukan satu-satunya orang yang bersikap canggung. Phana juga tergagap canggung ketika mengatakannya barusan.

 

“Umm …. apa sudah cukup dingin?” tanya Yo.

 

“Sudah cukup, sekarang P’ merasa kedinginan.” jawab Phana.

 

“Nanti juga hangat.” ujar Yo.

 

“Tolong jawab P’…” Phana kembali ketopik awal.

 

Tidak bisakah dia mengganti topik pembicaraan? awalnya dia terlihat sangat stres. Dari wajah marah sampai wajah ternganga. Bagaimana dia bisa menjadi ‘rollercoaster’. ok, dramatis.
pikir Yo.

 

“Sebenarnya, P’ … sudah … hampir … melakukannya pada Yo beberapa kali. Tapi P’ tidak membiarkan Yo tahu.” ujar Phana.

 

APA?!

 

“Terkadang saat P’ mencium dan memeluk Yo… Tidakkah Yo tahu jika P’ akan segera keluar meninggalkan ruangan tepat setelah itu?.” lanjut Phana.

 

Yo tidak mengerti maksud Phana. Yo hanya terdiam mencoba mencerna apa yang telah dikatakan Phana.

 

“P’ takut P’ tidak bisa mengendalikan diri dan memaksakannya pada Yo.” lanjut Phana.

 

Yo masih terdiam tidak bisa berkata apa-apa.

 

“Dan jika P’ melakukannya, tapi Yo belum siap, maka P’ akan menjadi pacar berengsek dan orang terjahat untuk Yo.” Phana terus bicara.

 

Yo benar-benar merasa bahwa ini adalah percakapan tercanggung dengan Phana. Tapi Yo lebih senang karena Phana begitu menghargai dan menghormatinya. Tapi sebelum Phana berhenti bersikap hormat dan bertanya kapan kita akan melakukannya.

 

“Jadi kapan kita akan melakukannya?” Phana memohon.

 

Phana menggunakan trik dengan mata yang tampak tidak bersalah seperti anak kecil yang sedang meminta permen. Dan dengan nada suaranya yang manis.

 

Bagaimana bisa ‘Bulan’ yang paling terkenal melakukan tindakan seperti ini?
pikir Yo.

 

“Kenapa P’ harus megeluarkan suara polos itu?” Yo bertanya.

 

“Mungkin Yo akan membiarkan P’ melakukannya malam ini.” jawab Phana.

 

Sebenarnya Yo bersumpah, Yo sangat senang melihat Phana bertingkah seperti itu.

 

“Yo akan menginap di kamar Ming malam ini.” Yo melambaikan tangan pada Phana. “Bye Bye”

 

Phana terlihat sangat terkejut melihat Yo melakukan itu.

 

“Yo … Yo … maafkan P’…. P’ tidak akan melakukannya malam ini, tapi P’serius ingin tahu kapan kita bisa melakukannya.” Phana masih berharap.

 

Berada dalam suatu hubungan, kita perlu saling menghormati satu sama lain dan saling berbicara seperti ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Phana melakukan ini dengan benar dan sangat indah. Tapi menolak untuk berbicara dan menunda lama juga bukan hal yang tepat untuk dilakukan.

 

Yo adalah seorang pria dan Yo benar-benar tahu bagaimana perasaan Phana. Yo juga tidak berbeda dengannya.
Ketika Phana mengatakan kepada Yo jika dia ingin melakukannya lebih dari sekadar mencium dan memeluk, terkadang Yo juga memikirkannya.

 

Ralat.
Yo selalu memikirkannya setiap saat.

 

Yo selalu berpikir mengapa keduanya tidak bisa melakukan hal-hal lain juga.

 

Tapi … tunggu … aku tidak ingin memanjakannya.
pikir Yo.

 

“Apa yang sedang Yo pikirkan? Apa yang membuat Yo menjawab begitu lama?” Phana terlihat serius, namun berbeda tingkat keseriusannya dari sebelumnya.

 

Jadi, P’Pha merasa lebih baik sekarang. Ini pertanda yang baik kan?
gumam Yo.

 

“Yo membuat P’ kehilangan kepercayaan diri. P’ adalah bos dari geng dokter.” ujar Phana.

 

“Kenapa? Apa P’ sedang pamer bahwa P’ ahli dalam hal ini?” Yo berbicara dengan sinis.

 

“Yo harus mengetahuinya sendiri.” jawab Phana tersenyum nakal.

 

“Tidak terima kasih.” Yo menggelengkan kepala.

 

“W A Y O” seru Phana.

 

“Hmmm?” ujar Yo.

 

“Apa Yo tidak mencintai P’ lagi?” rengek Phana.

 

Mau bermain denganku? Baik!

 

“Tidak!.” seru Yo.

 

Aku harus menang.

 

“Wayooooooooooooooo” Phana bergerak untuk menarik Yo ke tempat tidur bersamanya dan membiarkan Yo berbaring di pangkuannya.

 

“Itu terdengar sakit, lebih buruk daripada disemprotkan ke kap mobilku.” Phana cemberut.

 

“Ha Ha Ha Ha” Yo tertawa.

 

“Tolong jawab P’?” Phana memohon.

 

“P’ masih ingin tahu jawabannya?” goda Yo.

 

Phana menggunakan jari-jarinya untuk menutup lubang hidung Yo. “Jawab P’ atau mati”

 

“Apa P’ mau membunuh Yo?.” Yo melawan.

 

Phana tertawa sebelum melepaskan jari-jarinya. Kekanak-kanakan.

 

“Jika P’ bertanya kepada Yo kapan waktu yang tepat, Yo tidak begitu tahu …” Yo berbicara saat Phana sedang berkonsentrasi. “Itu karena Yo sudah banyak membaca tentang Pantip dan sering menonton The Club Friday Stories. Jadi…”

 

“Apa itu?” tanya Phana bingung.

 

“Hmm?.”

 

“Hal yang baru saja Yo katakan. Pantip? Dan apa itu The Club Friday Stories?.” Yo menatap Phana seperti tidak mempercayainya.

 

Apa dia benar-benar seorang mahasiswa kedokteran? kenapa tidak tahu semua itu?.
pikir Yo.

 

“P’ harus berpikir keras” Phana menjelaskan. “Apa itu serial drama? Yang menceritakan kisah tentang seseorang yang menemukan cintanya lewat telepon?.”

 

“Ya, itu dia.” jawab Yo.

 

Phana tahu itu tapi tidak tahu pasti namanya, begitu Phana.

 

“Kehidupan nyata bisa lebih buruk dari cerita-cerita dalam novel.” lanjut Yo.

 

Karena diam-diam mencintai Phana, Yo harus menonton semua drama BL sendirian.

 

“Apa hubungannya dengan cerita cinta kita?” tanya Phana masih belum mengerti.

 

“Tentu saja ada.” Yo mencoba untuk menjelaskan.

 

Phana benar-benar tertarik dengan cerita yang Yo ceritakan. “Hubungan cinta seperti kita tidak cukup stabil. Pria dengan Pria. Flirtatious and Flirtatious. Apa P’ tahu maksud Yo?” tanya Yo.

 

Phana menggelengkan kepalanya, jadi Yo harus menjelaskannya lagi.

 

“Begitu banyak pasangan yang Yo kenal. Mereka cenderung memiliki hubungan yang sangat rapuh. Putus begitu saja dan sangat mudah berkencan dengan yang lainnya. Sekarang ini teknologi berkembang begitu cepat, begitu juga dengan kita .. Beberapa orang bahkan bisa putus sebelum saling bertemu.” Yo menjelaskan panjang lebar.

 

“Yo terlihat cukup serius dengan hal ini.” Phana menggoda Yo dan tersenyum.

 

“Ini sangat berhubungan dengan kita, karena Yo …” Yo cemberut dan menarik napas panjang. “… Yo khawatir P’ akan meninggalkan Yo setelaht kita berhubungan badan.”

 

“Haa Ha Ha Ha Ha apa?.” Phana tertawa.

 

“Apa yang P’ tertawakan?” Sekarang Yo merasa menyesal memberitahunya tentang hal itu.

 

“Ini benar-benar lucu.” ujar Phana.

 

“Ini tidak lucu, saya serius.” seru Yo.

 

“Ini berarti Yo benar-benar serius dengan P’….” Phana menggunakan tangannya untuk menyentuh wajah Yo dengan lembut. “…Jadi Yo bisa memikirkan cerita yang cukup rumit ini dan menghubungkan nya dengan cerita cinta kita. Hei … sepertinya Yo bisa menulis novel.” Phana masih bercanda.

 

“P’Pha, Yo tidak bercanda, apa P’ pernah melihat MV itu? Saat seseorang putus dan sedih itu sangat menyebalkan dan tidak ada lucu-lucunya sama sekali.” seru Yo.

 

“Tenanglah, siapa yang mengatakan bahwa kita akan putus setelah kita berhubungan badan? P’ tidak akan putus dengan Yo, P’ sangat yakin itu.” jawab Phana.

 

Yo sangat senang mendengarnya.

 

“Satu-satunya orang yang memikirkan hal itu adalah Yo. Apa Yo berniat memutuskan P’ setelah kita berhubungan badan?” Phana membungkuk dan menggunakan mulutnya untuk menggigit hidung Yo.

 

“Apa P’ sudah gila?” seru Yo.

 

Bagaimana bisa Phana membalikkan semuanya pada Yo.

 

“Bagaimana P’ bisa berpikir seperti itu?” tanya Yo.

 

“Seharusnya P’ yang bertanya pada Yo, bagaimana Yo bisa berpikir seperti itu pada P’?” Phana berpaling dari Yo. “P’ bukan pria genit yang hobi bercinta, P’ sangat takut AIDS, P’ sudah belajar tentang ini, apa Yo tahu?” ujar Phana.

 

“Yo ingat P’ seperti itu sebelumnya.” Yo berbicara perlahan.

 

“Sebelumnya P’ memang begitu, tapi tidak lagi, tidak lebih, P’ bersumpah.” Phana mulai membuat alasan setelah Yo menyipitkan mata padanya. “P’ hanya ‘bermain-main’ sebentar, tapi setelah melihat Yo… tidak bisakah Yo melihat jika P’ mencoba menuruti Yo dan sangat tergila-gila padaYo.”

 

Yo tersipu lagi …

 

“Yo jangan khawatir.” lanjut Phana.

 

“Yo tidak tahu.” Yo masih ingin menang dari Phana. “Yo bukan pria gampangan.”

 

“Aah…”

 

“Yo benar-benar tidak ingin P’ berpikir jika Yo terlalu gampangan.” ujar Yo.

 

“Percayalah … ini sudah cukup sulit.” Phana menyerah dan menggosok pelipisnya dengan jari. Dia tidak tahu bahwa Yo juga harus bersabar.

 

“Anggap saja P’ tahu kapan Yo sudah siap.” ujar Yo.

 

“Kapan?” tanya Phana antusias.

 

“Itu…”

 

“Katakan pada P’… kapan? kapan?” Phana seperti seekor serigala yang sedang kehausan.

 

“Yo yang akan memintanya duluan.” jawab Yo.

 

(Knock) Phana memukul kepala Yo.

 

“Oyyy …. sakit sekali!” seru Yo.

 

“Yo bahkan tidak bisa mulai mencium P’ duluan. Bagaimana Yo bisa meminta hal itu pada P’ Ha Ha Ha Ha …” Phana tertawa.

 

“Umm … Yo tahu bagaimana … Jangan khawatir, Ming sering membagikan video ‘itu’ padaku.” jawab Yo.

 

“Pria dan wanita?” tanya Phana.

 

“Tentu saja … Boobs … Yo suka Boobs …” jawab Yo.

 

Tunggu! Apa yang sedang kita bicarakan?
pikir Yo.

 

“P’ pikir Yo mencintai P’.” Phana berbaring di tempat tidur dan melakukan sesuatu yang tak terduga.

 

Phana menangkap Yo untuk duduk di atas tubuhnya. Phana mendongak dan tersenyum.

 

Yo benci diri sendiri karena Yo terlalu lemah untuk Phana. Yo selalu menuruti apapun keinginannya.

 

“Ayo kita lihat … Tunjukkan gerakanmu… Sedikit saja.” goda Phana.

 

Tidak! Tidak mungkin.
jerit Yo dalam hati.

 

“Tidak mau!.” Yo berdiri, tapi Phana dengan sigap menangkap Yo.

 

“Lihat, Yo tidak tahu caranya, kan?.” ujar Phana.

 

“Yo bisa.” seru Yo.

 

“Yakin?” tanya Phana nakal.

 

“Y.. Ya… Yakin!” jawab terbata-bata.

 

Jujur? AKU TIDAK TAHU BAGAIMANA CARANYA!!!

 

“Silakan, Yo bisa melakukan apapun yang Yo inginkan, P’ milik Yo seutuhnya.” ujar Phana.

 

Ketika Phana tahu jika Yo tidak bisa bergerak, Phana memutuskan untuk meletakkan kedua tangannya ke belakang lehernya, memejamkan mata, berbaring di sana, dan tersenyum.

 

Sial!

 

Yo menggigit bibirnya, Yo sedikit marah karena sekarang dia bukan pemenang dalam permainannya ini. Sepertinya Yo sudah kalah. Keduanya terdiam tidak ada lagi kata yang terucap, dan suasana ruangan yang cukup romantis.

 

“Hanya contoh saja.” ujar Yo.

 

“Yo bisa melangkah lebih jauh lagi jika Yo mau. Kondom ada di dompet P’. Tapi … ” Phana membuka satu matanya. “…. itu untuk P’”.

 

Baiklah … aku tahu bahwa aku akan menjadi seorang Bottom untukmu. Dokter mesum.
pikir Yo.

 

“… tidak sejauh itu!” seru Yo.

 

Setelah mendengar Yo mengeluh Phana memejamkan matanya lagi. Detak jantung Yo berdegup dengan sangat kencang. Seharusnya Yo tidak menantang Phana seperti itu. Sekarang Yo harus menunjukkan kepadanya jika Yo bisa menjadi orang yang memulai pertamakali.

 

Bagaimana aku bisa bergerak dari sana … ke sini … Bagaimana?
Yo mulai bingung.

 

Yo terlihat gemetar. Yo mulai membungkuk pada Phana.

 

…tapi bagaimana? Aku merasa sangat canggung. Dan jika dia membuka matanya sekarang juga. Dia akan tahu bahwa aku takut.
Yo tambah bingung.

 

Tapi Phana tidak melakukannya, sepertinya Phana sudah tahu. Karena tiba-tiba Phana mulai mendorong tubuh Yo mundur dan sekarang berada di atas Yo. Phana melakukannya seperti seorang profesional. Dan itu bahkan membuat detak jantung Yo berdetak lebih kencang lagi.

 

“Biarkan P’ melakukannya, ini tugas P’.” ujar Phan lembut.

 

Setelah mengatakan itu, Phana membungkuk untuk mencium bibir Yo dan menggunakan lidahnya yang lembut dan manis melumat mulut Yo. Beralih dengan berciuman dan menghisap mulut Yo. Rasanya Phana seperti mengisap seluruh energi Yo karena sekarang Yo tidak punya kekuatan untuk bergerak sama sekali.

 

Dari mulut ke pipi, leher, telinga, bagian belakang telinga Yo. Phana tahu apa yang sedang dia lakukan. Dia tahu bagaimana menggunakan bibir dan lidahnya. Dia tahu bagaimana menyenangkan Yo.

 

Yo tidak bisa berbaring diam. Tubuh Yo menggelinjang dari sentuhan yang Phana berikan pada Yo. Yo mengerang tanpa sadar saat Phana menciuminya. Dan itu berakhir seperti biasa.

 

Phana berhenti saat Yo berbaring. Yo ingin Phana terus tapi … tidak … Phana tidak meneruskannya.

 

Phana melangkah menjauh dari Yo. Duduk dan mulai mengancingkan bajunya. Yo tidak sadar seejak kapan keduanya membuka kancing baju. Itu terjadi sangat cepat. Atau Phana yang melakukannya…

 

“P’Pha …” panggil Yo lembut.

 

“Hm?” jawab Phana.

 

“Apa P’ marah denganku?” tanya Yo.

 

“Tidak… kenapa Yo berpikir seperti itu pada P’?.” Phana balik bertanya.

 

“Karena …”

 

Yo berteriak di dalam hatinya untuk membiarkan Phana melanjutkan. Tapi…

 

“Hmm? Bagaimana Yo bisa berpikir jika P’ gila?.” Phana menghibur Yo. “Kita belum pernah membicarakan ini sebelumya, dan …” Phana tersenyum “… Yo juga bukan orang yang memulai semua ini.”

 

Yo tersenyum pada Phana.

 

Phana megusap kepala Yo dan meraih barang-barangnya.

 

“Apa P’ akan pergi?” tanya Yo.

 

“Umm … sudah larut malam.” jawab Phana.

 

Yo menatap Phana dan bertanya-tanya, Phana bahkan tidak terlihat marah pada Yo. Tapi … Apa yang Yo takutkan adalah… Yo akan membuatnya menunggu terlalu lama.

 

Hanya berhubungan badan saja kenapa aku harus ini takut?
pikir Yo.

 

Sementara Phana sedang membuka pintu. Yo memanggil namanya…

 

“P’Pha!” panggil Yo.

 

“Hm?” Phana berpaling menatap Yo.

 

“Tunggu sedikit lagi …” ujar Yo.

 

Phana terdiam.

 

“Segera… Yo janji.” lanjut Yo.

 

Phana berhenti sejenak dan mengangguk kemudian tersenyum pada Yo.

 

“P’ tahu itu akan segera terjadi, karena P’ bisa melihat ‘Yo Junior’ juga sepertinya kecewa.” ujar Phana.

 

Seharusnya Yo tidak harus mengatakannya … Tapi bagaimanapun Yo tidak khawatir dengan ‘Yo Junior’ Yo hanya peduli dengan perasaan Phana.

 

Sangat sangat peduli…

 

Yo bangkit dari tempat tidur dan menarik lengan Phana agar kembali ke tempat tidur dan kemudian Yo memeluk leher Phana.

 

“Yo serius.” ujar Yo.

 

“Mulai … Trik membunuh mangsa” Phana mengoceh. “… P’ tahu.”

 

“Sungguh … benarkah …” tanya Yo.

 

“P’ tahu …” Phana menutup mulut Yo dengan ciumannya … ciuman … ciuman … Lebih mirip ciuman menggoda.

 

“Bisakah P’ menunggu?” tanya Yo.

 

“Tentu saja” jawab Phana.

 

“Tidak marah?” tanya Yo lagi.

 

“Tidak marah” jawab Phana.

 

“Yo tidak percaya.” ujar Yo.

 

“Tidak maraaaaaahhhh” Phana memeluk pinggang Yo. Sebelum mengangkat Yo dan menempatkannya di tempat tidur dengan lembut.

 

Yo tidak pernah tahu bahwa Yo akan menjadi ‘cahaya’ bagi Phana.

 

“Tidurlah … Yo penggoda.” ujar Phana.

 

“Apa P’ berani memiliki orang lain lagi….” Yo berbicara saat Phana berjalan menuju pintu dan membukanya.

 

“Tentu saja tidak.” jawab Phana.

 

Yo terdiam kemudian tersenyum.

 

“P’ hanya punya tangan dan istriku yang bernama Yo.”

 


 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan