Novel 2 Moons – Chapter 50 (PHA&FORTH)

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

[Phana POV]

 

Aku tidak ingin melepaskannya!
Kenapa aku melakukannya?
Aku lebih baik mati daripada melepaskannya.

 

Sekarang Phana sedang duduk di luar resort sambil meminum bir di pantai menatap laut. Walaupun sudah malam, tapi airnya tampak tenang. Di dalam sana, semua orang sedang berkumpul, tapi Phana tidak ingin bergabung dengan mereka, Phana memutuskan tinggal di luar saja.

 

Akulah yang harus disalahkan di sini.

 

Phana tahu itu, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.

 

Tiba-tiba terdengar pintu di belakang Phana terbuka. Terlihat Yo keluar dari pintu itu bersama Ming. Yo menatap Phana sebentar kemudian membuang muka.Yo berbalik menyeret Ming pergi bersamanya.

 

Kemana mereka akan pergi? Ini sudah lewat jam 10 malam!

 

“Yo, Kamu mau pergi kemana?” Phana bertanya.

 

Yo sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Phana, Yo terus saja berjalan pergi.

 

“Aku tidak tahu P’” Ming menjawab dan langsung mengikuti Yo.

 

Dengan cepat Phana menghabiskan bir yang ada ditangannya, lalu masuk kedalam untuk mencari kunci motor yang sebelumnya sudah di sewa.

 

“Hey Pha, mau pergi kemana?” Tanya Forth.

 

“Mengikuti Yo!” Phana menjawab dan bergegas keluar.

 

Phana mengendarai motor lalu mengejar Yo dan Ming hingga sampai di kedai kopi yang berada di pantai dekat pelabuhan. Kedai kopi itu sudah diketahui oleh Phana sejak mereka sampai di tempat itu. Nama yang tertulis di papan berbentuk hati juga menarik.

 

Ma-ha-rak
(datanglah dan temukan cinta)

 

Yo berjalan masuk untuk memesan, meninggalkan Ming sendirian di depan kedai.

 

Ketika Ming melihat Phana, dia sepertinya tidak terkejut melihat Phana di situ seolah-olah Ming sudah menduga jika Phana akan mengikuti Yo.

 

Apa yang harus aku bicarakan dengan bulan kampus tahun ini?
Aah! Aku tahu!

 

“Hey Ming, setahuku Kit sedang diare!” ujar Phana berbohong pada Ming.

 

Tepat setelah Phana mengucapkannya, tidak perlu menunggu lebih lama, Ming bergegas kembali menuju resort, menjauh dari kedai dan dengan cepat meninggalkan Yo.

 

Phana memasuki kedai dan perlahan berjalan menuju Yo yang sepertinya sedang mencari sesuatu di sakunya. Phana tersenyum. Sepertinya Yo lupa membawa dompetnya.

 

Sebelum Yo berbalik untuk meminta bantuan dari Ming, yang mungkin sudah pergi jauh sekarang, Phana menyerahkan dompetnya pada Yo.

 

Phana berdiri sangat dekat dengan Yog, tapi saat Yo menatap Phana dengan penuh Rti, Phana tahu dan kemudian berjalan sekitar dua setengah langkah ke belakang.

 

“Baiklah … jadi?” Pegawai di toko bertanya sambil bergantian menatap kearah Phana dan Yo.

 

“Satu gelas lagi yang seperti ini!” ujar Yo dan kemudian berjalan keluar dari kedai untuk mencari tempat duduk yang berada diluar.

 

Setelah menyelesaikan pesanan, Phana mengikuti Yo menuju kursi di luar. Phana bisa merasakan angin sepoi-sepoi yang lembut berhembus diwajahnya. Phana berpikir dua kali untuk duduk tepat di samping Yo, Phana merasa cemas dan sedikit takut. Phana tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan dengan Yo. Jadi Phana memutuskan untuk memilih meja lain, dan duduk menghadap Yo.

 

Wow! disini luar biasa!

 

Phana melihat ke kiri dan kanan. Matanya berkeliling menatap pemandangan dari kedai dengan saksama. Meski agak gelap, lampu yang berasal dari toko menerangi setiap detail tempat itu. Tempat itu terlihat menakjubkan. Sepertinya cocok untuk fotografer pemula sepertinya.

 

Phana ingin mengambil foto, terutama Yo.
Untungnya Phana membawa kameranya, kamera (bayi) Yo dan Phana.

 

Suara Shutter tampaknya menarik perhatian Yo, jadi dia berbalik menatap Phana dengan alis berkerut. Phana langsung pura-pura memotret objek yang lain, jadi Yo berbalik lagi. Setelah Yo berbalik, Phana mengambil fotonya lagi. Tapi setelah yang ketiga kalinya, Yo meraih bantal dari tempat duduknya dan menutupi wajahnya.

 

“Aoowww!” Hanya itu yang bisa Phana katakan.

 

Phana mendengar Yo tertawa cekikikan di balik bantal. Untung saja Phana bisa menghindari mengumpat. Jika tidak, Phana akan mendapat masalah lebih besar lagi karena Yo tidak akan memaafkannya. Tapi satu-satunya yang terpenting untuk Phana adalah Yo sedang tersenyum sekarang.

 

Ketika pegawai mendekati meja Yo dan menyajikan minuman yang tadi dipesan olehnya. Phana bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kesempatan untuk pindah ke meja Yo dan duduk disana.

 

Yo terlihat kaget saat menurunkan bantalnya ke bawah.

 

“Hei!” seru Yo.

 

Phana memberi senyuman manis sambil menyodorkan segelas minuman yang dia pesan lebih dekat pada Yo.

 

“Apa kamu sendirian di sini?” Phana bertanya.

 

Yo menatap Phana, dan sepertinya Yo sangat siap memainkan permainan konyol itu bersama Phana.

 

“Aku yakin pacarmu pasti khawatir karena orang imut sepertimu menghabiskan waktu sendirian di sini.” goad Phana.

 

“Tidak masalah, MANTAN pacarku sudah meninggal.” jawab Yo sambil memberi penekanan pada kalimatnya.

 

Phana merasa tiba-tiba seluruh dunia seolah-olah berhenti. Seluruh tubuh Phana tiba-tiba merinding.

 

“Jika memang begitu, Aku pikir Kamu memerlukan seseorang untuk diajak bicara.”
Phana melanjutkan permainan.

 

Apakah dia akan meneriakiku?

 

Yo berpaling sebelum menatap Phana lagi.

 

“Aku khawatir aku tidak bisa berbicara denganmu, aku sudah berjanji padanya jika aku tidak akan berbicara dengan orang lain.” ujar Yo.

 

Perlahan, Phana meraih tangan Yo dan meremasnya dengan lembut. Phana hanya bisa menunggu Yo mengatakan dan menunjukkan betapa Yo sangat marah.

 

“Tolong lepaskan, aku masih mencintai Mantan pacarku.” seru Yo.

 

Phana menarik napas dalam-dalam sebelum mencengkeram tangan Yo lebih erat.

 

“Yo… P’ minta maaf.” Phana akhirnya merajuk.

 

Yo mencoba melepaskan genggaman tangan Phana, tapi Phana tidak mau melepaskannya.

 

“Ini salah P’…” Phana mulai menjelaskan pada Yo.

 

“P’Pha, Apa yang sebenarnya coba kamu perbuat?” Yo bertanya tidak sabar.

 

Ini dia yang aku tungu-tunggu…

 

“P’ kalah melawan kedua Mahasiswa Teknik itu” Phana mulai menjelaskan.

 

Yo terdiam.

 

“Sebagai konsekuensinya, mereka mengatakan pada P’, jika P’ harus berpura-pura menjadi single sepanjang malam.”

 

Yo masih terdiam.

 

“P’ tidak ingin mereka berpikir jika P’ seorang pengecut, jadi P’ menerima hukumannya.” lanjut Phana.

 

“Jadi, apa P’ senang?” Yo bertanya.

 

“Tentu saja tidak.” jawab Phana dengan cepat.

 

Bagaimanabisa? Itulah yang benar-benar aku rasakan di dalam hatiku.

 

“P’Pha!” Yo menatap Phana, dan menggunakan nada suara yang berbeda, Yo berkata …”Kenapa P’ membiarkan mereka menang?”

 

Phana tidak begitu yakin dengan apa yang didengarnya.

 

Akhirnya!!
Istriku sekarang mempercayaiku.
Aku benar-benar ingin berjingkrak sekarang.

 

“P’ tidak berpikir jika P’ akan mendapatkan masalah” ujar Phana. Dan itulah yang sebenarnya dipikirkan oleh Phana.

 

“Jadi P’ berlomba melawan mereka?” tanya Yo lagi.

 

“P’…”

 

Yo pasti berpikir Phana benar-benar kekanak-kanakan karena telah melakukan permainan konyol dengan Forth dan Ming.

 

“P’ menyetujuinya” Hanya itu yang bisa Phana katakan. Kemudian meraih tangan Yo lagi.

 

“Malam ini, Yo tidak akan single lagi seperti P’!” suaraku Phana terdengar terlalu kencang.

 

“Baik, baiklah, bisakah P’ melepaskan tangan Yo sekarang?” tanya Yo.

 

Phana tidak ingin melepaskan tangan Yo dengan mudah, tapi karena duduk di depan Yo, akhirnya Phana membiarkan tangan Yo lepas.

 

“Apa P’ tidak takut mereka akan menggodamu dan memanggil P’ pengecut?” Yo bertanya dengan nada bercanda.

 

“Jadi bagaimana jika mereka memanggil P’ gay? P’ memang ganteng dan yang terpenting… P’ bisa membuatmu mendesah sepanjang malam.” jawab Phana santai.

 

“P’Pha !!” teriak Yo. Suaranya terdengar sedikit malu-malu dan senang.

 

“Maaf~…” Phana meminta maaf.

 

Tiba-tiba Yo mengambil kamera dari tangan Phana. Phana bisa mendengar dengan jelas bunyi shutter. Yo mengambil foto Phana tanpa sepengetahuan Phana.

 

“Para penggemar P’ di Cute Boy Fan Page selalu mengeluh, karena P’ tidak pernah memasang foto terbaru disana.” ujar Yo.

 

Yang benar saja… sempat-sempatnya dia memikirkan hal itu, bukannya memikirkan tentang kita berdua…

 

Phana masih mendengar bunyi shutter terus dan terus.

 

“Yo mohon… sapalah penggemar P’.” ujar Yo lagi.

 

Sekarang Yo mengeluarkan ponselnya untuk mengambil video dari Phana sambil terus mengambil foto menggunakan ‘bayi’-nya.

 

“Apa Yo serius, P’ bukan selebriti.” Phana mengatakannya pada Yo.

 

Phana terkejut, matanya tertuju pada foto lama dirinya dihalaman cute boy fan page yang diunggah admin. Rambut Phana terlihat sedikit gondrong, saat itu Phana ingat, dia belum sempat memotong rambutnya.

 

Wow! 15.000 orang menyukai foto itu!

 

Pria paling hot se-universitas.” Yo seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri sambil terus mengambil video Phana, tapi kali ini Yo juga ikut di dalam video yang diambilnya.

 

Apa ini sebuah balasan?

 

“Aku sekarang sedang bersama dengan ‘Bulan Kampus’ paling tampan se-universitas sekaligus pria paling hot se-Thailand. Tuan, tolong katakan pada semuanya dimana kita sedang berada sekarang.” Yo bersikap seperti seorang pembawa acara talkshow profesional.

 

Disamping Wayo!.” jawab Phana.

 

Katakan pada semuanya, dimana tepatnya.” tanya Yo lagi.

 

Kami sedang berada di kedai kopi bernama ‘Come and Find Love’ (Datang dan temukan cinta)…” Phana berhenti sejenak.

 

Phana melihat bayangan Yo dari ponsel. Yo terlihat tersenyum sedikit.

 

Tidak, Bukan… tapi bernama ‘Come to Make Love’ (Datang untuk Bercinta).” lanjut Phana.

 

Tiba-tiba Yo menghentikan kegiatannya mengambil video.

 

“Kenapa Yo tidak memposting video itu?.” tanya Phana.

 

“Apa P’ sudah gila? Yo tidak ingin memposting vidio ini di urutan paling depan.” jawab Yo.

 

“Kenapa? Apa Yo malu?.” tanya Phana lagi.

 

“Tidak, Yo tidak malu.” jawab Yo.

 

Keduanya sedang menuju jalan kembali ke resort, tapi secara tiba-tiba Phana menarik Yo untuk bersembunyi disemak-semak ketika melihat seorang pria yang akan melakukan pembunuhan.

 

Seorang pria yang sedang melakukan pembunuhan?
Hahaha… bercanda!

 

Phana melihat Forth sedang berbicara dengan Beam.

 

Dengan suasana seperti itu, langit malam yang cerah, ditambah angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Suasananya bertambah romantia mana kala ada cahaya dari lilin-lilin.

 

Tunggu! aku pikir lilin-lilin itu membentuk kata…
Forth ❤️ Beam

 

“Apa yang ada dipikiran mereka? Apa mereka ingin membakar seluruh tempat ini?” seru Phana.

 

P’Pha… Yo mohon diamlah.” suara Yo terdengar seperti sedang kecewa.

 

“Kenapa Yo bertingkah seperti itu?.” tanya Phana setengah berbisik.

 

Phana terkejut dengan sikap Yo, sepertinya Yo terlihat marah dengan kedua orang yang sedang dilihatnya.

 

Aku benar-benar tidak mengerti…

 

“Jangan konyol. Yo tahu P’ tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.” jawab Yo dengan nada ketus.

 

Phana merasa Yo sedang menyindirnya dengan kata-kata Yo barusan.

 

“Dengan wajah P’ yang seperti ini, P’ tidak perlu melakukan hal itu.” ujar Phana dengan penuh percaya diri.

 

“Ssshhh… Sekarang, bisakah kita melihat P’Forth disana? P’ jangan berisik.” ujar Yo.

 

Apa-apaan?!!!!

 

Apa Yo penggemar Forth?.” tanya Phana kesal.

 

“Yup! dia idola Yo.” jawab Yo mantap.

 

“Apa Yo sudah gila? Pria seperti itu idola Yo? P’ yang seharusnya menjadi idola Yo.” Phana protes.

 

“Tidak, terima kasih.” jawab Yo.

 

“Wayo! P’ akan akan menciummu!.” Phana mengancam Yo.

 

“Apa P’ mau ditinju?.” Yo mengancam balik. “Jangan berisik dan tetap bersembunyi.” tambah Yo.

 

 

[Forth POV]

 

10 menit sebelumnya….

 

Forth menarik napas dalam-dalam. Forth membutuhkan keberanian agar sanggup melakukan semua itu dan Forth tidak tahu berapa lama lilin-lilin itu akan bertahan.

 

Sekarang Forth sudah berada di depan kamar dimana Beam berada. Beam sedang berada di dalam bersama Kit dan Ming. Saat Forth mengintip dari kaca kecil dipintu, mereka tampak sudah tertidur. Perlahan Forth memutar gagang pintu dan membukanya. Kaki Forth berjinjit memasuki kamar dan mendekati ranjang dimana Beam berada. Forth menggoyangkan badan Beam dengan perlahan untuk membangunkannya.

 

“Hey…” ujar Forth seraya berbisik.

 

“Ya?.” tanya Beam tapi belum membuka matanya.

 

“Bangunlah.” -Forth.

 

“Tidak mau.” -Beam.

 

“Bangunlah, Forth mohon… sebentar saja, Forth ingin menunjukkan sesuatu apada Beam.” Forth mencoba meyakinkan Beam.

 

“Tidak mau, Aku sangat lelah.” jawab Beam.

 

“Ini tidak akan lebih dari 10 menit.” ujar Forth sedikit memaksa. “Beam, Forth mohon. Lakukan demi Forth.” Forth memohon.

 

Akhirnya Beam membuka matanya dan menatap Forth. Kemudian dia bangun dari tempat tidurnya.

 

“Tutup mata Beam.” ujar Forth lembut.

 

“Apa lagi?.” Beam sedikit mengeluh.

 

“Tutup saja. Forth mohon.” jawab Forth.

 

Pertamanya mata Beam belum menyesuaikan, Beam terlihat mengucek-ngucek matanya. Tapi sesaat kemudian Beam memejamkan matanya seperti yang diperintahkan Forth.

 

Tangan Forth berada dibahu Beam sementara Forth berada dibelakangnya, menuntun Beam melangkah perlahan menuju ke pantai. Forth telah menyiapkan sesuatu untuk Beam.

 

F❤️B

 

Tidak perduli terlihat sesederhana apapun itu, Forth telah menghabiskan tenaga untuk membuatnya. Forth berusaha menyembunyikan lilin-lilin itu dari Beam sejak mereka berangkat dari Bangkok.

 

Forth melepaskan tangannya dari bahu Beam, sementara mata Beam masih tertutup. Forth berjalan mengelilingi Beam dan pada akhirnya berlutut dihadapan Beam dengan satu bucket mawar ditangannya.

 

“Sekarang, Beam boleh membuka mata.” Forth berbisik.

 

Beam belum bisa membuka matanya. karena baru saja bangun dari tidurnya. Tiba-tiba Beam tertawa terbahak-bahak melihat apa yang ada dihadapannya. Beam terlihat terkejut, napasnya sampai terengah-engah.

 

“Kamu melakukan semua ini sendiri?.” Beam bertanya.

 

“Ya!.” seru Forth.

 

“Ada apa denganmu?.” tanta Beam.

 

“Forth melihatnya di film. Maukah Beam menerima bunga-bunga ini? Lutut Forth mulai kesemutan.” tanya Forth, mulutnya sedikit meringis.

 

“Bisakah aku menolaknya?.” tanya Beam bercanda.

 

“Tidak!.” seru Forth.

 

Beam menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sebelum menerima bunganya.

 

Kemudian Forth berdiri dan membersihkan pasir dilututnya.

 

“Kenapa tanganmu merah?” tanya Beam, wajahnya terlihat penasaran melihat tangan Forth.

 

“Lilin-lilin ini jatuh saat Forth menyalakannya.” jawab Forth.

 

Beam terlihat serius dan mengerutkan dahinya, kemudian mengangkat tangan Forth dan mendekatkannya untuk melihatnya secara seksama.

 

“Bisa kamu jelaskan kegilaan apa lagi ini?.” tanya Beam.

 

“Apa Beam menyukainya?.” Forth balik bertanya.

 

“Aku tidak tahu, ini terlihat lucu, tidak terpikirkan olehku sama sekali.” jawab Beam. Raut wajahnya terlihat berubah menjadi tersipu malu, Bahagia dan senang sekali.

 

“Lalu? Beam menyukainya?.” tanya Forth meyakinkan lagi.

 

Beam hanya tertawa. Sementara Forth merasa bahagia karena Beam terlihat bahagia. Kemudian Beam mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memotret lilin-lilin itu.

 

“Apa Beam akan mempostingnya di instagram?.” tanya Forth.

 

“Tidak.” jawab Beam singkat.

 

“Ayo postinglah…” Forth memohon.

 

“Tidak. Apa kamu sudah gila.” seru Beam.

 

“Postinglah… lalu tandai Forth.” Forth merengek.

 

“Aku hanya ingin memotret hatinya.” ujar Beam.

 

Forth tidak bisa memaksa tapi Forth tersenyum dan sudah cukup bahagia karena telah berhasil membuat orang yang dicintainya bahagia.

 

Tiba-tiba saat momen itu, cahaya kecil mengarah ke Forth dan Beam.

 

Itu cahaya dari sebuah kamera!

 

“Wayo… kamu lupa mematikan cahaya kameranya! Ayo cepat matikan!.”

 

Teriak seseorang dari balik semak-semak. Dua ‘Bulan Kampus’ bersembunyi dibalik semak-semak. Mereka melihat semuanya antara Forth dan Beam. Mereka Phana dan Yo.

 

Beam tersenyum dengan apa yang dia dengar, tapi tidak menghentikannya untuk tetap memotret lilin-lilin itu.

 

“Forth.” ujar Beam sambil memegang tangan Forth. “Selfie…”

 

“Baiklah, Tuan.” jawab Forth dengan senang hati.

 

Forth berdiri disamping Beam dengan latar belakang lilin-lilin yang telah disipakannya.

 

“Ayo siapa takut, Jika Yo ingin sesuatu yang sweet, P’ akan menjadi sweet. P’ juga bisa melakukannya!.” Phana bicara pada Yo.

 

Yo berjalan disamping Phana.

 

Forth masih khawatir dengan apa yang telah mereka lakukan pada Yo. Hukuman yang diberikan pada Phana sepertinya merusak sedikit hubungan keduanya. Tapi Forth harus menyingkirkan rasa khawatir itu karena sekarang Forth sudah tidak boleh punya perasaan lagi pada Yo.

 

“Yo, Tunggu dan lihat saja nanti. P’ akan melakukan hal yang lebih sweet lagi dari itu!.” seru Phana.

 

“Hey! jangan menjadi peniru. Kamu harus meminta ijin dulu jika ingin melakukan hal yang sama!.” seru Forth.

 

Forth mendekati Yo seraya berkata… “Yo, kami minta maaf, kami tidak bermaksud untuk menyakitimu.”

 

Yo terlihat tidak lagi marah, Yo memberi hormat sebagai tanda dia menerima permintaan maaf dari Forth.

 

“Yo, lupakan saja. Pha tidak akan bisa bersikap manis padamu.” ujar Forth suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh Phana.

 

Akhirnya mereka meniup semua lilinnya dan membersihkan area pantai. Forth berterimakasih pada Phana dan Yo karena sudah membantunya membersihkan pantai sebelum kembali ke resort.

 

Ketika sampai di depan kamar, sepertinya bukan hanya Forth yang merencanakan sesuatu kepada istrinya. Tampaknya Ming juga demikian, ketika melihat tulisan di kertas A4 didepan pintu berbunyi…

 

‘Bisakah kalian tidur diluar malam ini, jangan ganggu P’Kit dan aku’

 

“Sial Ming!.” seru Yo.

 

Dengan cepat tangan phana menutup mulut Yo yang sebentar lagi mengeluarkan kata-kata untuk mengumpat Ming.

 

“P’Pha lihatlah. Apa kita akan tidur diluar malam ini?.” Yo mengeluh sambil menunjuk kertas yang berada di depan pintu kamar.

 

Beam dan Forth hanya bisa menghela napas, mereka berdua benar-benar ingin mendobrak pintu dan segera masuk, tapi mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam kamar. Karena mereka yakin di dalam akan lebih nyaman, tapi mereka tidak punya pilihan lain selain menerima nasib untuk tidur diluar kamar.

 

Phana dan Forth saling membantu menggeser kursi yang ada didepan kamar, kursi-kursi itu terlihat sempit, Forth berpikir mana bisa mereka berempat tidur dikursi sekecil itu.

 

Forth dan Beam berbaring bersebelahan, sementara Yo tidur diatas badan Phana. Tangan Phana memeluk tubuh Yo sambil mencium kepala Yo.

 

Forth pikir itu sama sekali terlihat tidak nyaman untuk Phana dan Yo, tapi Phana terlihat santai dengan posisi seperti itu sambil mengelus dan mencium rambut Yo.

 

Beam sudah terlelap tidur, Forth berdiri dan berjalan menuju teras untuk mengambil lotion anti nyamuk dan memberikannya satu pada Phana. Forth mengusapkan lotion di badan Beam, tapi Beam tidak bereaksi apa-apa sepertinya Beam tidur dengan lelap, seperti yang Forth dengar Beam tidak punya waktu tidur yang cukup saat ujian.

 

Setelah memastikan tidak ada lagi nyamuk yang mengganggu Beam. Forth merebahkan diri dikursi pantai disebelah Beam.

 

Sementara Yo juga sudah tertidur, tapi tangan Phana masih mengotak-atik ponselnya, dia masih terjaga.

 

“Aku tahu jika kamu gay.” ujar Forth.

 

“Coba sendiri bagaimana rasanya menjadi single dihadapan pacarmu sendiri.” Phana menelaskan. “Aku menerima tantangannya, dan hukumannya aku serahkan padamu dan Ming. Makan siangmu aku yang bayar selama liburan disini.” Phana menambahkan.

 

“Yes! Kamu memang terbaik!.” seru Forth.

 

Forth berbalik menghadap Beam dan menggenggam tangannya.

 

“Sial!.” Tiba-tiba Phana berseru dan itu membuat Forth kaget.

 

“Apa ada masalah?.” Forth menatap Phana dan bertanya.

 

Phana terlihat stres ketika melihat sesuatu di ponselnya.

 

“Tidak ada.” Phana menaruh ponselnya kemabali dan memeluk Yo dengan erat. “Hanya sebuah cerita lama.” Phana berbisik.

 

“Hey, kamu bisa bercerita padaku. Kamu sahabat dari istriku.” Forth mencoba meyakinkan Phana.

 

Beam meremas tangan Forth memberi tanda untuk tidak lagi berisik.

 

Sekarang Forth tahu, Pria setampan Phana pun pasti punya masalah.

 

“Ayah dan Ibuku akan bercerai.” suara Phana sedikit bergetar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.