Novel 2 Moons – Chapter 51 (WAYO)

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

[Wayo POV]

 

Kami berbaring dan tertidur dipantai sejak semalam karena sahabatku yang brengsek
Mingkwan.

 

Sumpah!

 

Aku akan membunuhnya jika saja dia bukan teman baikku. Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan orang-orang ini. Lagipula, sepertinya mereka baik-baik saja walaupun beristirahat di atas pasir pantai.

 

Jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Yo tiba-tiba terbangun dan menyadari dirinya ada dalam situasi tersebut. Yo tidak yakin dengan apa yang terjadi antara Ming dan Kit di dalam kamar.

 

Semalam, Yo bisa tertidur dengan mudah karena mengantuk dan tentu saja karena Yo tahu seseorang yang ia cintai berada dekat dengannya dan juga tidur dengan memeluk Yo sepanjang malam.

 

Setelah beberapa jam ketika semuanya telah bangun, mereka pergi bersama dan memutuskan untuk bermain olahraga pantai pagi itu karena mereka tidak ingin bermain di saat panas terik matahari.

 

Yo tau mereka semua tampan, dan semuanya memiliki kulit yang sempurna bahkan lebih baik dari wanita kebanyakan, dan Yo juga salah satu dari mereka.

 

Tapi sebelum pergi bermain, Yo mengajak semuanya untuk sarapan dulu di resort.

 

Sesaat mereka sampai, perhatian semua orang di resort tertuju pada mereka. Yo sebenarnya masuk dalam grup itu, tapi Yo kurang beruntung memiliki level populer yang sama dengan pria-pria didepannya.

 

Satu hal yang orang-orang belum ketahui adalah semuanya sudah memiliki pacar. Walaupun begitu, pesona mereka tetap menonjol terutama bagi anak-anak muda.

 

Aku sangat iri!
Aku tidak bisa mengalahkan kejantanan mereka!

 

 

Di Restoran…

 

“Sial Ming! Kamu mengusir kami dari kamar dan memaksa kami tidur diluar!” seru Yo.

 

Yo mengambil kesempatan untuk memarahi sahabatnya sambil mengambil makanan.

 

“Jika kamu hanya ingin menjahiliku tidak masalah, tapi bagaimana dengan yang lain?” lanjut Yo.

 

“Mana aku tahu! P’Forth juga menjahiliku!” Ming membela diri.

 

Ok! Jadi mereka merencarakan liburan ini untuk bersenang-senang atau hanya untuk menjahili satu sama lain?

 

“Dijahili?!” Apa aku tidak salah dengar?” tanya Yo.

 

“Kamu ingat ketika aku kembali ke kamar dari Kedai kopi? Aku mencoba masuk kamar, tapi P’Forth tidak memperbolehkanku masuk, itu membuatku menunggu berjam-jam diluar.” jelas Ming.

 

“Ha?!” Yo melongo.

 

“Dia menyuruhku tidur diluar.” seru Ming.

 

Mengapa pria-pria gila ini termasuk P’Pha senang bersaing satu sama lain, dan tidak ada yang berani mengaku ketika kompetisi dimulai?

 

“Kenapa kamu membuat keributan? Lihat, tidak ada yang perduli dengan itu!” Ming menunjuk menggunakan sumpit yang digenggamnya ke meja dimana yang lain sedang duduk.

 

Dia benar.

 

Semuanya sepertinya baik-baik saja dan tersenyum, kecuali salah satu dari mereka.

 

….Pacarku.

 

Yo baru menyadarinya sekarang. Yo berjalan ke arah Phana sambil berfikir bagaimana cara menanyakan apa yang sedang
dipikirkannya.

 

“Ada masalah apa P’Pha?” Tanya Yo.

 

“Semuanya baik-baik saja! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan” jawab Phana.

 

“Aku rasa tidak!” Yo mengkerutkan alisnya.

 

Katanya dia baik-baik saja, tapi aku rasa ada yang sesuatu yang sedang terjadi.
Ada apa?
Kenapa aku tidak boleh tahu?

 

Yo meletakkan piringnya disamping piring Phana. Walaupun Yo khawatir, Yo tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, yang bisa Yo lakukan hanya menunjukkan senyum diwajah untuk pacarnya yang sekarang sedang memandangi ponselnya dengan cukup lama.

 

“Ada apa diponsel itu?” Yo bertanya lagi pada Phana.

 

“Dia tidak bisa mendekati seseorang tadi malam!” Kata Kit tanpa berfikir dan dia cukup cepat menutupi wajahnya dengan tangan untuk menyembunyikannya dari Phana.

 

Setelah apa yang dilakukan Kit, Phana secara otomatis memukul kepala Kit.

 

“Aku hanya bercanda! Ada apa denganmu? Apa kamu khawatir ibumu akan mengetahuinya?” ujar Kit.

 

“Ya” Jawab Phana singkat. “Aku tidak tahu apakah ibuku tahu atau tidak.”

 

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kit.

 

“Tidak usah pikirkan aku. Pikirkan saja Ming yang tidak membiarkan kita tidur di kamar semalam!” seru Phana.

 

“Apa yang kamu katakan?!” Suara Kit sedikit keras. “Kamu tidak tidur dikamar?” Tanya Kit lagi.

 

Semuanya menolehkan kepala ke arah Ming yang sedang makan dan tidak peduli sama sekali.

 

Tidak perlu kata-kata. Dengan sekali melihat, semua mengerti apa yang masing-masing pikirkan. Kesimpulannya, tidak terjadi apa-apa diantara Kit dan Ming dan alasan mengapa dia membuat kami tidur diluar adalah balas dendamnya kepada Forth yang menjahilinya.

 

Phana menggaruk kepalanya.

 

Kenapa tidak ada yang memikirkannya sampai ke arah situ (aku juga)?

 

Mereka masih melihat Ming menunggu penjelasan darinya, tentu saja yang bisa diterima.

 

Ming menatap dengan angkuh.

 

“Apa? Aku hanya mengerjai P’Forth karena dia melakukan yang sama kemarin malam!” Ming berusaha memberikan alasan, kali ini langsung melihat Forth.

 

“Kamu berisik semalam saat Beam akan tidur!” Forth membela dirinya.

 

“Aku juga perlu menjaga pacarku! Dia diare.” Ming sedang dalam suasana menantang.

 

Semuanya menolehkan kepala melihat Kit. Kit terlihat bingung, dengan alis mengkerut dia berkata “Diare? apa yang kalian bicarakan? Kapan itu terjadi?”

 

“P’Pha bilang padaku!” Jawab Ming cepat.

 

Yo menggaruk kepalanya. Sekarang Yo tidak tahu apa yang terjadi. Semuanya melihat kearah Phana yang sepertinya tidak peduli dengan pembicaraan itu sama sekali dan bahkan tidak mengatakan apapun. Kemudian, dia tiba-tiba berdiri dan pergi meninggalkan meja. Semua orang tiba-tiba berubah dan menjadi dingin.

 

“Apa yang terjadi?” Yo bertanya pada semuanya.

 

“Tidah usah pikirkan Yo! Itu masalah keluarga.” kata Kit.

 

Kaluarga P’Pha.

 

Yo hanya tahu sedikit mengenai hal itu karena keduanya jarang membicarakan hal pribadi seperti masalah keluarga. Ayahnya seorang dokter di rumahsakit terkenal, dan ibunya seorang pengusaha wanita yang sukses. Yo hanya tahu sejauh itu. Yo pernah melihat mereka sebelumnya. Ketika sekolah menengah.

 

Saat itu ketika akhir tahun sekolah dan mereka datang ke sekolah untuk melihat anak lelaki mereka melakukan pertunjukan di pentas untuk penampilan bakat.

 

“Aku sering melihat orangtuanya bertengkar!” Kata Beam.

 

“Aku tidak pernah mendengar apapun tentang itu darinya” ujar Yo.

 

Yo tahu jika keluarga adalah masalah yang sensitif untuk dibicarakan. Tapi ketika Phana bersikap seperti itu, Yo jadi tidak yakin.

 

“Dia juga tidak memberitahuku apapun mengenai itu. Dia menolak menjawab pertanyaan dari kami, dan setiap kali kami bertanya, dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan menghindari pertanyaan kami, jadi kami tidak bisa mencari tahu apa yang yang sedang terjadi!” -Kit.

 

“Kali ini kami yakin ini berat bagi dia karena kami tidak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya!” ujar Beam.

 

“Apa yang kalian bicarakan?” Phana kembali dan dia menatap Kit dan Beam bergantian.

 

Keduanya diam ketika Phana duduk.

 

Yo menatap Phana, dan Phana juga menatap Yo.

 

“Apa?” tanya Phana.

 

“Apa ada yang ingin P’ ceritakan pada Yo?” Tanya Yo.

 

Phana terlihat sedikit terkejut, jadi dia bertanya kepada yang lain.

 

“Apa yang kalian beri tahu pada Yo?.” Phana bertanya sambil memainkan makanannya.

 

“Ada apa dngan P’? Jika ada sesuatu, pacarmu ada disini!” Yo memberitahu Phana.

 

“Yo tidak perlu tahu tentang ini!” Phana mengusap kepala Yo dengan lembut.

 

“Tidak ada yang serius?” Yo bertanya lagi dan mulai tidak percaya pada Phana.

 

Phana memberikan senyuman diujung mulutnya dan mengangguk. “Uhm!”

 

Yo merasa sedikit lega. Yo tahu Phana belum mau mengatakannya, jadi Yo memutuskan berhenti bertanya. Yo akan menunggu sampai Phana siap.

 

Aku harap begitu.

 

 

Setelah suasana canggung selama sarapan, mereka memutuskan untuk pergi sesuai rencana untuk bermain di pantai.

 

Phana, Ming dan Forth belum juga menghentikan sikap bodohnya.

 

“Kamu curang!” seru Phana

 

“Apa?” -Forth.

 

“Kamu menarik celanaku!” -Phana.

 

“Tidak, aku tidak melakannya!” -Forth.

 

Aku bisa beri tahu bahwa peperangan antara P’Pha dan P’Forth benar-benar tidak bisa dihindari, apalagi ketika mereka sedang bersama. Setelah mengundi untuk bagi tim, mereka mulai saling berteriak dan menendang ketika permainan dimulai.

 

Yo tidak mengerti mengapa mereka sangat serius.

 

“Kamu menarik celanaku!” Phana marah. “Jangan bohong!”

 

“Aku melihatmu menarik celanamu sendiri!” teriak Forth.

 

“Apa yang kamu bicarakan?!”

 

“Kenapa aku berbicara padamu?”

 

Sangat dewasa, kan?

 

“Hey, kamu mau pergi kemana?”

 

Yo baru menyadari Ming pergi dan sepertinya tidak tertarik melanjutkan permainan. Ming mulai meninggalkan permainan karena pusing melihat Forth dan Phana, tapi Forth sepertinya ingin melanjutkan permainan, jadi dia mengejar Ming seperti polisi mengejar pencuri.

 

Ketika Forth berlari ke arah Ming, Forth tidak sengaja menendang pasir dan mengenai Phana yang sedang berdiri didekatnya. Karena itu, Phana berlari mengejar Forth.

 

“Mereka sangat menghibur!” Beam sepertinya tidak terkejut dengan semua ini. Dia hanya bermain dengan bola dan melemparnya ke arah Kit.

 

“Tidak juga!” Kit tidak setuju.

 

Yo rasa Yo bukan orang paling na’if disini. Yo mencoba bermain bola, tapi malah memantul jauh. Yo tidak begitu pandai bermain bola.

 

Apakah aku terlahir tanpa bakat? menyebalkan!

 

Yo berjalan ke arah Kit dan Beam yang hanya berdiri di pinggiran menonton ketiga orang yang saling mengejar dan mengejek satu sama lain.

 

“Aku rasa aku menjadi lebih stress melihat apa yang terjadi!” Kit berkata pada Beam.

 

“Tenang saja dan anggap tidak terjadi apa-apa!” Beam melirik Yo. “Pha orang yang kuat terutama sekarang dia mempunyai Wayo!”

 

“Aku takut orang tuanya akan berpisah.” Jelas Kit. “Walaupun dia tidak pernah membahasnya, tapi kita tahu betapa penting keluarganya baginya!”

 

“Dia bilang tidak apa-apa! Itu masalah orang tuanya.” -Beam.

 

“Aku tidak tahu! Aku hanya khawatir.” -Kit.

 

..Sedekat apa mereka dengan P’Pha sampai khawatir seperti ini?
Jadi cerita yang kudengar benar!

 

Ini masalah yang besar, bahkan Yo tidak tahu bagaimana cara untuk menanyakannya atau menghiburnya. Ketika Yo menatap Phana, Phana tersenyum saat memegang leher Forth yang juga sedang memegang Ming.

 

Tapi Yo tidak yakin apa Yo juga harus tersenyum bahagia melihat semua itu.

 

“Sial Kit! Kamu membuat Nong Yo stress!” seru Beam.

 

“Oh! Maafkan aku Nong Yo!” -Kit.

 

“Aku tidak apa-apa P’! Aku tidak akan membahas itu dan berpura-pura tidak tahu
kecuali P’Pha sendiri yang mengatakannya padaku” ujar Yo.

 

“Kami tidak ingin kamu merasa tidak tenang gara-gara ini!” Kata Beam.

 

“Bagaimana aku bisa membantunya?” tanya Yo.

 

“Tidak perlu dipikirkan!” Kata Kit. “Aku yakin Pha tidak senang jika melihatmu khawatir!”

 

Yo hampir lupa jika ponsel Phana ada di kantong celana Yo.

 

Ponselnya berdering.

 

Yo melihat ke arah kedua dokter didepannya dengan ragu-ragu terutama ketika Yo melihat nama orang yang menelepon.

 

Ibu P’Pha.

 

“Ayo jawab Yo!” seru Kit.

 

Yo mengangguk dan mengangkat telepon walaupun merasa canggung memiliki perasaan bercampur aduk dalam pikirannya untuk menjawab panggilan ibunya Phana.

 

“Halo, Khrab?” sapa Yo sopan.

 

Dimana kamu Pha? Bisakah kamu pulang kerumah sekarang?” Suara ibu Phana yang sedang mengeluh terdengar seperti akan menangis.

 

Disamping itu, Yo bisa mendengar suara ayahnya Phana tidak jauh dari ibunya dan mereka sepertinya sedang bertengkar.

 

Aku harus menenangkan diriku…

 

Anakku Pha, cepat pulang kerumah dan kemas barangmu. Kita akan pergi keluar dari rumah!”

 

“…” Yo terdiam membisu. Yo tidak tahu bagaimana harus menjawabnya karena Yo bukan Phana.

 

Kamu punya visa?”

 

Visa?
Apa maksudnya?
P’Pha membutuhkan visa untuk apa?

 

Pha, kamu harus memilih tinggal dengan ayahmu atau ibu. Tapi aku percaya kamu akan tinggal dengan ibu kan?”

 

“…”

 

Amerika punya banyak sekolah kedokteran yang bagus!”

 

Yo terkejut. Yo sangat bingung.

 

 

Yo duduk sendiri diluar tidak jauh dari yang lain.

 

“Kenapa Yo tidak duduk di dalam? Panas disini!” Phana berjalan ke arah Yo dan menarik Yo masuk.

 

Sebenarnya Yo tidak merasa kepanasan. Terlalu banyak hal dipikirannya yang membuat suhu panas sama sekali tidak mengganggu tubuh Yo.

 

“P’ harus menelepon balik ibu P’.” ujar Yo.

 

“Kenapa?” Phana membuka kulkas dan mencari minuman.

 

“Ibu P’ menelepon!” jawab Yo.

 

Phana menatap Yo kemudian berkata. “Terus?”

 

“P’ mau menelepon atau tidak, simpan ini!” Yo memberikan posel Phana.

 

Phana menyimpan kembali botolnya dan berjalan perlahan ke arah Yo.

 

Yo khawatir melihat Phana resah seperti ini.

 

“Apa yang terjadi?” tanya Phana.

 

“Yaa..” Yo tiba-tiba saja sangat susah mengatakannya. “Ayah dan Ibumu akan…”

 

“Tunggu!…” Phana tiba-tiba memotong apa yang akan Yo katakan.

 

Phana tidak mau mendengarkannya lebih lanjut. Dia berjalan keluar dengan ponsel ditangannya. Tentu saja, Yo rasa Yo perlu pergi bersamanya, jadi Yo berdiri.

 

“Yo tidak perlu pergi kemana-mana! Tidak perlu mengkhawatirkan P’!” seru Phana.

 

“Tapi..”

 

“Percayalah pada P’! P’akan baik-baik saja.” Phana mengusap kepala Yo.

 

Sikapnya sangat hangat, tapi Yo melihat ketidakpastian di mata Phana. Yo tahu Phana tidak ingin Yo khawatir, jadi Phana menyembunyikan perasaannya dari Yo.

 

“P’ mungkin tidak memiliki keluarga yang sempurna, tapi… P’ tahu bahwa P’ memiliki Yo.” ujar Phana lirih.

 

“…”

 

“Yo keluarga P’. Yo alasan dibalik senyum P’ dan P’ ingin selalu ada disamping Yo.”

 

“…”

 

“P’ akan baik-baik saja!”

 

Hening.
Keheningan yang canggung.

 

Panggilan telepon ke Ibunya Phana terasa sangat lama bagi Yo. Yo tidak tahu apa dan bagaimana pembicaraan mereka karena tidak bisa ditebak dari ekspresi wajah Phana.

 

Setelah itu, Phana berjalan ke arah Yo, dan saat itu yang lain memutuskan untuk berkumpul. Dengan ekspresi wajah datar, Phana menghadap dan mengatakan bahwa dia harus pulang ke rumah secepatnya.

 

Semuanya sepertinya tiba-tiba terlihat lelah. Walaupun Phana menyuruh untuk bersenang-senang, tidak ada yang ingin bersenang-senang saat itu. Semuanya terdiam dan punya pikiran di kepala masing-masing. Bagaimanapun juga Yo merasa Yo-lah yang paling banyak memiliki pertanyaan.

 

Phana menyuruh Yo untuk tetap tinggal dan bersantai di pantai dan berhenti mengkhawatirkannya, tapi bagaimana bisa Yo melakukan itu sementara Phana harus pulang dan Yo harus tetap tinggal.

 

Kata Amerika terus terngiang dikepala Yo berulang-ualng. Tidak bisa lepas. Ketika Yo mendengar kata itu, Yo merasa sangat takut.

 

Aku takut.
Aku tidak pernah berfikir akan terjadi seperti ini. Aku lelah menunggu, dan hampir menyerah.

 

Yo menunggu lebih dari satu tahun untuk mengambil tes penerimaan di universitas hanya untuk kembali melihat Phana.

 

Aku tidak lagi punya ruang untuk rasa sakit dan kerinduan dalam hatiku.

 

Seberapa banyak lagi sekarang? Seberapa sakit yang harus kudapatkan?

 

Hari ketika semua mimpiku terwujud, dan dia sekarang menjadi pacarku, aku ditampar oleh berita mengejutkan ini.

 

Apa ini? Apakah aku pantas mendapatkan tantangan lain? Apakah aku ditakdirkan untuk gagal dalam percintaan?

 

Seberapa banyak rasa sakit yang harus kuderita jika dia meninggalkanku sekarang?

 

Dan bagaimana jika dia meninggalkanku tidak hanya untuk satu tahun? Bisakah aku terbiasa untuk sendiri?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu sepertinya tidak memiliki jawaban untuk saat ini.

 

“Yo ikut dengan P’!” ujar Yo kepada Phana.

 

“Tapi P’ tidak memesan trip ini hanya untuk satu malam!” jawab Phana.

 

“Biarkan yang lain tinggal!”

 

“Apa Yo yakin dengan ini?”

 

“Ya! Ayo pulang!”

 

Phana berfikir sejenak sebelum menjawab. “Baiklah!”

 

Yo buru-buru balik ke dalam kamar dan mengemasi barang-barang dengan cepat bahkan Yo selesai sebelum Phana.

 

Keduanya hanya memerlukan dua menit untuk menunggu kapal. Anggota geng yang lain terdiam ketika mereka menyadari apa yang terjadi terutama kedua dokter yang lain yang juga ingin ikut pulang, tapi Phana memaksa mereka untuk tinggal dengan pacar mereka, dan dia akan baik-baik saja.

 

Phana selalu mengatakan itu walaupun sebenarnya ekspresinya memperlihatkan bahwa dia sedang membawa beban yang sangat berat dipundaknya.

 

Ketika keduanya berada di atas kapal, Phana tetap tersenyum dan mengambil foto Yo seperti yang selalu dilakukannya sepanjang liburan.

 

Pikirian Yo menyuruh tersenyum, tapi Yo tidak bisa memaksakan diri. Pikiran itu ada dikepala Yo, membuat Yo menyimpulkan banyak hal yang membuat khawatir dan takut, semua bercampur menjadi satu.

 

Yo tahu jika Phana tersenyum hanya karena dia takut kalau Yo tidak tersenyum juga.

 

P’Pha… tunjukkan saja perasaanmu yang sebenarnya.

 

“Keren!” Phana terlihat kagum ketika melihat mobil Yo yang akan membawa keduanya pulang. Mobil yang biasa Yo gunakan ketika dirumah.

 

Yo meletakkan barang-barangnya dibelakang dan duduk disana. Phana melakukan hal yang sama. Yo terdiam sepanjang waktu ketika berada di mobil bersama Phana. Yo melihat keluar jendela sementara Phana menghadap arah sebaliknya melakukan hal yang sama.

 

Ketika Yo berbalik menghadap Phana, Yo tidak bisa menahan diri kemudian meraih tangan Phana. Membuat Phana tahu bahwa Yo akan berada disampingnya walau apapun terjadi.

 

Phana meremas tangan Yo kembali dengan lembut dan tersenyum.

 

Yo menatap wajah Phana yang tampan dengan khawatir.

 

“P’Pha… Kamu tahu?”

 

“Hmm?”

 

“Jika P’ tidak tahu, Yo beritahu P’ jika Yo akan tetap sama!”

 

“….”

 

“Yo akan tetap menyukai P’ seperti apa yang selalu Yo lakukan selama bertahun-tahun!” Yo tersenyum pada Phana.

 

“Yo mengatakan itu seperti P’ tidak menyukai Yo selama tertahun-tahun juga…”

 

Ordinary guy.

Tinggalkan Balasan