Novel 2 Moons – Chapter 52 (WAYO)

Trans Indo oleh CappuccinoMilk

 

 

<<< Daftar Is i>>>

 

 

[Wayo POV]

 

Yo berharap bisa ke masa dimana dia mulai mencintai Phana. Masa dimana Yo tidak perduli tentang berita miring ataupun berita baik yang menerpanya. Masa dimana Yo tidak takut Phana akan meninggalkannya. Tapi kenyataannya sekarang ketakutan Yo bertambah ketika mendengar orang tua Phana akan bercerai. Yo tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat Phana bersedih.

 

Yo selalu mengirim pesan melalui LINE sekedar menanyakan apa yang sedang dilakukan Phana, tapi jawabannya selalu singkat. Terkadang Phana hanya mengirim stiker LINE dengan emotikon yang menunjukkan wajah stres dan itu sekaligus cara Phana memberitahu perasaan yang sedang dirasakannya saat itu.

 

Ketika Phana mengangkat telepon dari Yo, Yo bisa mendengar orang tua nya sedang beradu argumen, Yo tahu Phana tidak ingin Yo mendengar semua itu. Jika Phana berkata pada orang tuanya bahwa Phana ingin pergi keluar sebentar, orangtuanya tidak memperbolehkan sebelum pertengkarannya selesai.

 

Cara satu-satunya agar Yo tetap merasa dekat dengan Phana hanya lewat pesan LINE. Yang harus Yo lakukan hanya menunggu Phana membaca pesannya dan membalasnya. Dan itu semua dimulai saat semester akan berakhir.

 

“Sial! sakit!.” teriak Yo.

 

Yo mengeluh pada Ming saat Ming melemparnya dengan tempat CD ketika keduanya menonton film. Yo sama sekali tidak bisa fokus menoton film nya karena memikirkan pacaranya.

 

Yo bahkan mengajak Ming pergi ke Mal Siam untuk mencari sesuatu yang bisa menghibur hati dan melupakan sejenak masalah yang ada dipikirannya. Tapi itu tidak membantu, apa pun yang Yo lakukan, Yo tidak bisa berhenti memikirkan Phana.

 

“Kamu memanfaatkanku Yo!.” balas Ming.

 

“Tidak seperti itu. Aku hanya stres memikirkan hidupku.” ujar Yo.

 

Ming menarik napas sambil menggelengkan kepalanya kemudian menepuk-nepuk punggung Yo kemudian berkata…

 

“Aku tahu, jika P’Kit mempunyai masalah yang sama seperti P’Pha, aku akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan saat ini.”

 

“Aku tidak takut jika aku harus jauh darinya, yang aku takutkan apa yang akan dilakukannya sekarang. Aku berharap dia mau berkata jujur tentang apa yang dirasakannya, bukan hanya berkata ‘Jangan khawatir’, ‘Selamat malam’, atau ‘P’ mencintai Yo’ saja.” Yo mengeluh.

 

“Sial! itu sangat manis.” Ming berusaha menghibur dengan menggoda Yo.

 

“Kamu masih saja bisa bercanda pada saat situasi seperti ini.” seru Yo sedikit kesal.

 

“Oke, tenanglah…” ujar Ming.

 

“Aku tahu itu masalah pribadi, dan itu urusan keluarga, tapi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan P’Pha. Aku ingin tahu jika dia baik-baik saja.” Yo mencoba menjelaskan pada Ming.

 

Ming terlihat menggaruk kepalanya.

 

“Dia tidak melarangmu pergi kerumahnya kan?.” tanya Ming.

 

Kata-kata Ming membuat Yo berpikir. Yo menatap Ming.

 

Ya benar! otaknya terkadang pintar juga…

 

“Kamu bilang jika aku harus pergi kerumahnya, walaupun aku tahu situasinya tidak tepat?.” tanya Yo. “Jika aku pergi ke rumahnya, bukankah akan menambah masalah, jika orang tuanya tahu anaknya memacari seorang pria sepertiku?.”

 

“Bukan hanya kamu yang akan dilarang menemuinya, tapi juga teman-temannya yang lain.” ujar Ming. “…tapi kurasa kamu bisa menemui P’Pha dirumahnya tanpa sepengetahuan dia.” Ming memberi saran.

 

Sekarang saja kamu bicara, Ming….

 

Yo menyukai ide Ming. Ternyata Ming tidak terlalu bodoh seperti yang selama ini Yo pikirkan. Yo menyetujui saran dari Ming.

 

“Sejujurnya, aku ingin tau juga bagai mana keadaannya sekarang, seperti yang kamu tahu aku dan P’Forth adalah pacar dari sahabat-sahabatnya.”

 

Menurut Yo Ming benar, semuanya menjadi kebih dekat satu sama lain setelah mereka pergi ke Koh Lan. Apalagi, tiga dari enam orang adalah geng Dokter nakal. Yo berharap bisa pergi kesana bersama-sama lagi dengan yang lain. Terakhir kali pergi ke Koh Lan, Phana mengacaukan rencana karena dia pergi meninggalkannya.

 

 

Saat ini Yo berada di mobil Ming, Keduanya dalam perjalanan menuju ke rumah Phana.

 

Yo ingat dengan jelas di mana dia tinggal, karena sejak dulu Yo selalu mengikuti Phana saat pulang sekolah waktu di SMA.

 

Rumahnya sangat besar, tapi tidak mempunyai penjaga.

 

Dulu, diam-diam Yo pergi ke rumah Phana dan itu membuat Yo merasa bahagia. Bahkan saat sedang hujan, Yo terus memotret disekitar rumah Phana seperti orang gila. Yo berpikir jika Yo juga ingin melihat apa yang dilihat Phana setiap hari.

 

Ya.. Aku tahu.. Aku memang tergila-gila padanya.
Begitulah… aku sangat mencintai P’Pha-ku.

 

Saat keduanya tiba, Yo bisa melihat mobil Phana diparkir di depan rumah. Ada mobil lain di sampingnya, tapi Yo tidak mengenalinya. Yo tidak tahu apakah itu milik mereka atau orang lain. Yo melihat dengan tenang. Yo merasa duduk di dalam mobil saja tidak akan berguna. Yo benar-benar ingin menemui Phana.

 

Aku harus melakukan sesuatu.

 

“Aku akan pergi.” Yo mengambil keputusan.

 

Sudah sejauh ini dia pergi kesitu. Yo benar-benar ingin melihat orang yang sangat dirindukannya.

 

“Baiklah, aku berpikir orang tuanya tidak akan terus-terusan bertengkar jika di depannya ada seorang tamu.” ujar Ming.

 

Yo setuju dengan sahabatnya. Tapi Yo tidak tahu kenapa dirinya merasa lebih gugup sekarang.

 

Aku harus melakukan ini. Untuk P’Pha.

 

“Oih… wanita sialan itu….!” Ming tidak bisa menahan diri untuk mengutuk sambil menunjuk pintu masuk rumah.

 

Yo berpaling ke tempat dimana Ming menatap.

 

Sialan!

 

Seolah Yo tengah melihat hantu. Kedua orang yang keluar rumah itu tidak lain adalah pacarnya dan…

 

cocok sekali…
Pring!

 

Yo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yo bahkan tidak bisa berkedip.

 

Ini keterlaluan!

 

“Yo, tenanglah!” seru Ming.

 

“Sialan!” Yo tidak bisa menahan emosi.

 

“Kendalikan emosimu! Tenang. Mungkin ini tidak seperti apa yang kau bayangkan.” Ming mencoba menenangkan Yo.

 

“Sepanjang hari aku menunggu pesannya, namun dia disini menikmati waktunya dengan gadis lain?” Seru Yo keras-keras.

 

Depresi dan stres menyelimuti pikiran Yo saat itu, Yo tidak bisa berpikir jernih. Yo pikir dia baru saja kehilangan kepercayaannya pada Phana.

 

Yo marah.

 

Tapi Yo sangat marah pada dirinya sendiri karena meyakinkan diri bahwa Yo berada di sini untuk Phana, namun yang disaksikan dengan mata kepala Yo sendiri, Phana sedang bersama Pring.

 

“Menurutmu, mereka akan pergi kemana?” Ming bertanya saat matanya masih terpaku pada Phana dan Pring.

 

“Bagaimana aku bisa tahu?” Yo membalas dengan suara tidak peduli.

 

“Tunggu, tarik napas dalam-dalam! Kita akan mengikuti suamimu dan simpanannya!” ujar Ming.

 

“Apa?!” seru Yo.

 

“Sialan! Whatever!” Kata Ming dan melanjutkan mengendarai mobil dengan diam-diam mengejar Phana dan Pring.

 

Ming menjaga jarak dengan mobil Phana. Ming tidak ingin dilihat oleh mereka. Yo bahkan tidak tahu kapan Yo mulai mengepalkan tangannya. Yo merasa kepalanya akan meledak.

 

Jika Yo tidak memutuskan untuk menemui Phana, mungkin Yo tidak akan tahu jika Phana sedang bersama orang lain.

 

Jadi karena itulah dia tidak membalas pesan ku?

 

Kemarahan mengaburkan penilaian Yo sekarang.

 

Dia menolak menemuiku, tapi sekarang dia bersama gadis ini.

 

Berengs*k!! Playboy tetap saja Playboy!

 

Mobik Phana berhenti di sebuah taman, jadi Ming juga melakukannya. Ming dan Yo menemukan tempat yang bagus untuk memarkir mobil.

 

Ketika Yo melihat Phana, Phana seperti tidak menjadi dirinya sendiri. Pring satu-satunya yang terus berbicara.

 

“Aku cukup yakin, kamulah satu-satunya yang ada di hati P’Pha. Sialan!” Kata Ming sambil memandang ke arah Phana dan Pring berada.

 

Yo menggertakkan giginya saat mencoba mengendalikan diri dan mencoba berpikir untuk menjauhkan Phana dari Pring.

 

Tapi Yo berpikir ulang, jika Yo melakukan itu, Yo tidak akan bisa melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Yo terus mengawasi gerak-gerik Phana dan Pring karena keduanya terus berjalan memilih tempat untuk duduk dan mengobrol.

 

“Kemarilah dan duduklah dengan tenang.” Ming menarik kedua tangan Yo saat keduanya harus bersembunyi di balik semak-semak

 

Dua orang yang diikuti Yo dan Migng akhirnya menemukan tempat untuk diduduki sementara waktu.

 

Yo bisa melihat wajah Phana. Wajahnya terlihat kelelahan dan kurang tidur. Phana terlihat stres.

 

“Jangan pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang gila! Tetaplah bersembunyi.” Ming memperingatkan Yo.

 

Ming danYo terus berpindah dari satu semak ke semak yang lain sampai benar-benar menemukan tepat yang tepat yaitu di belakang dimana Phana dan Pring sedang duduk.

 

Untungnya mereka tidak melihat kita.

 

“Pha, apa kamu tidak punya apa-apa untuk diceritakan padaku?” Pring mulai berbicara lagi.

 

“Kurasa tidak ada.” jawab Phana datar.

 

“Aku merasa sangat khawatir melihatmu seperti ini, aku minta maaf jika aku mampir tanpa memberi tahu kamu terlebih dahulu.
Aku tidak tahu jika sesuatu seperti ini sedang terjadi.” ujar Pring.

 

Yo bisa Mendengar mereka berbicara. Kedengarannya seperti Pring Sudah tahu tentang masalah Phana.

 

“Tidak apa-apa. Bukan masalah lagi.” Phana menjawab.

 

Mendengarkan suara Phana yang berat dan tegang, membuat Yo hanya bisa menggigit kukunya. Yo merasa kasihan pada Phana.

 

“Aku minta maaf jika kita harus pergi keluar, kami tidak menerima tamu saat ini.” Phana menjelaskan.

 

“Apa rencanamu sekarang? Jangan bilang kamu akan pergi ke rumah Nong itu?”

 

“Nong yang kamu bicarakan adalah pacarku” ujar Phana.

 

Yo kaget dengan apa yang baru saja Phana katakan.

 

Ming menatap Yo kaget seolah bertanya bagaimana bisa, Phana dan Yo belum bertemu lagi sejak mereka kembali dari Koh Lan.

 

“Apa? Kamu mampir ke rumahnya setiap hari tapi tidak berani menemuinya?.” Suara Pring terdngar kesal.

 

Yo tersentak. Yo tidak tahu jika sesuatu seperti itu telah terjadi.

 

Phana menjawab… “Aku hanya ingin merasa dekat dengannya. Bagiku, cukup untuk mengetahui jika kami bahagia, kami merasa nyaman satu sama lain dan kami saling mencintai.”

 

“Itu tidak benar! Jika dia benar-benar mencintaimu dan bisa membuatmu nyaman, di mana dia sekarang? Dia bahkan tidak datang dan berbicara denganmu! Apakah kamu yakin dia adalah orang yang bisa membuatmu bahagia? Bahkan dia tidak memiliki keberanian untuk berbicara denganmu dan bertanya bagaimana keadaan mu.” seru Pring.

 

Tuduhan Pring membuat Yo mengepalkan tangan. Tapi sekarang, Yo mengerti mengapa Phana tidak mau berbicara dengannya atau bahkan menunjukkan dirinya kepada Yo.

 

“Kamu tidak akan mengerti, Aku yang menghindarinya. Aku khawatir jika aku menceritakan masalah ini kepadanya, dia akan stres sama sepertiku.” ujar Phana.

 

Phana kemudian bangkit dan berjalan menjauh dari bangku, meninggalkan Pring sendirian dan berteriak.

 

“Sial Yo!” Suara Ming memuat Yo sadar.

 

“Apa?” tanya Yo tanpa berpikir.

 

“Bukankah kita harus pergi sekarang? Aku yakin P’Pha sekarang menuju ke rumahmu” seru Ming.

 

Sial!!

 

Ming dan Yo berlari kesetanan seolah-olah keduanya adalah atlet olimpiade tanpa peduli apakah Pring akan melihat atau tidak.

 

Keduanya harus sampai di rumah sebelum Phana sampai. Yo pikir itu tidak akan mudah karena Phana masih harus menunggu taksi, Ming dan Yo harus menunggu sampai Phana berangkat.

 

Begitu taksi sampai, Ming dan Yo bergegas ke mobil dan kabur.

 

 

Di halaman depan rumah Yo…

 

Hari sudah gelap saat Yo dan Ming sampai dirumah Yo, Yo bisa melihat Phana sedangberdiri di luar sambil berusaha tetap tersembunyi.

 

Ketika para penjaga melihat mobil Ming, mereka segera membuka gerbang karena mereka sudah mengenalnya. Mereka mengenal Ming karena keduanya sering bersama.

 

Yo turun dari mobil dan berjalan menuju orang yang sedang bersembunyi.

 

Phana tampak terkejut. Yo berbalik untuk berpaling, tapi Yo meras betapa senangnya saat ini melihat wajah kekasihnya.

 

Phana cepat meraih tangan Yo menariknya untuk menjauh dari rumah. Keduanya menemukan tempat yang tenang untuk berbicara disebuah taman yang bagus dengan bangku dan ayunan.

 

“P’ minta maaf Yo, jika P’ datang ke rumah Yo setiap hari tapi tidak pernah menunjukkan diri di hadapan Yo.” ujar Phana lirih.

 

Keduanya memilih ayunan, dan mulai berbicara.

 

“P’ benar-benar minta maaf, P’ tidak ingin Yo stres karena masalah P’.” Phana menjelaskan.

 

Suaranya benar-benar pelan dan menyesal.

 

Yo menatap Phana, meski Phana terlihat benar-benar letih, dia masih terlihat sangat tampan.

 

“Ini tidak mudah” Yo mulai berbicara.

 

Phana menarik napas dalam-dalam sebelum berkata… “Mereka bertambah parah”
Akhirnya Phana membuka diri. “…Mereka membuatku percaya jika mereka masih hangat satu sama lain, jika mereka masih saling mencintai, tapi P’ sudah tahu yang sebenarnya sejak saat itu.”

 

Mata Phana terpaku saat melihat sungai di depan kami sementara wajah Yo terpaku di wajah Phana.

 

“Sekarang, ibuku tidak tahan lagi, jadi dia minta bercerai, ayahku tidak mau, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi” jelas Phana. “Dengar … tentang pergi ke Amerika, mereka masih membiarkan P’ yang memutuskannya.”

 

Kedengarannya Phana seperti tidak ingin membicarakannya, tapi Yo percaya itu adalah waktu terbaik untuk mendegar penjelasan dari Phana.

 

Kita tidak bisa membiarkan ini menggantung.

 

“P’ bilang kepada mereka jika P’ memilih untuk tetap tinggal dan menyelesaikan kuliah di sini, P’ percaya jika P’ masih memiliki kesempatan bagus untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.”

 

Phana berhenti sejenak.

 

“Ketika P’ bertemu dengan Yo…” Phana menatap Yo.

 

Yo menelan ludah dengan sangat susah. Yo tidak tahu apa yang akan Phana katakan selanjutnya.

 

“P’ sudah menceritakan semuanya tentang kita berdua.” lanjut Phana.

 

Mulut Yo menganga.

 

“Dan… P’ memilih tinggal di sini untuk menjaga Yo dari orang lain.”

 

“…”

 

Phana kemudian bangkit dari ayunan dan duduk di depan Yo.

 

Yo cepat-cepat berpaling karena Yo tahu jika berkedip saja maka air mata Yo akan jatuh.

 

“Dengar, ini alasan kenapa P’ bersikeras tidak memberitahu Yo tentang semua ini.
Karena P’ tahu Yo akan seperti ini!.” ujar Phana

 

Phana menggunakan jarinya untuk menyeka air mata di pipi Yo.

 

“Bagaimana aku bisa jauh darimu, Yo?”

 

“P’Pha, Yo pikir P’ harus mendengarkan ibu P’ untuk menghindari masalah lagi.” ujar Yo.

 

“Yo!” Phana mencoba menghentikan Yo untuk berbicara.

 

“Sungguh… Yo tidak apa-apa jika Yo harus berpisah dengan P’Pha… Yo mengerti… dan Yo akan baik-baik saja…”

 

“Kamu tidak mengerti, Yo… apa Yo tidak melihat betapa menariknya dirimu? Jika P’ pergi dan meninggalkan Yo sendiri… Yo akan menjadi mangsa predator yang hanya menunggu kesempatan untuk melahap Yo.”

 

Phana meraih tangan Yo.

 

“Tapi P’Pha …”

 

“Jangan keras kepala, oke? P’ akan mencari jalan keluar untukmu, Yo.”

 

“Tapi bagaimana dengan orangtua P’? Ibu P’, ayah P’? Pikirkan lagi!” seru Yo.

 

Phana melepaskan tangan yo, lalu wajahnya mulai terlihat tegang lagi. Phana bangkit dan berjalan perlahan seperti tanpa tujuan. Berpikir keras.

 

“Yo, P’ mohon jangan seperti ini!”

 

“…”

 

“Jangan memaksa P’ untuk pergi… apa Yo tahu? P’ tidak bisa melawan apa yang hati P’ inginkan.”

 

“Bukan itu maksud Yo.” ujar Yo saat Yo bangun dan berjalan kearah Phana. “…Keluarga adalah hal yang paling penting dalam hidup kita, jadi Yo bisa mengerti jika P’ tidak memiliki pilihan selain meninggalkan Yo.”

 

“Tapi Yo, kamu juga keluargaku” Sekarang Phana terdengar kekanak-kanakan.

 

“Jangan khawatir tentang Yo… Karena tidak peduli apapun yang terjadi, Yo akan tetap sama. Yo tidak akan pernah berhenti jatuh cinta pada P’… Yo akan selalu menjadi orang yang mencintai P’.”

 

“Wayo …” suara Phana terdengar dalam dan suram. “Jika kita berpisah, kita tidak tahu masa depan kita.”

 

“Yo berjanji tidak akan pernah melupakan  semua tentang ‘Kita’.”

 

“Apa kamu tidak mempercayai P’, Yo?”

 

“P’Pha…”

 

“Cobalah untuk mengerti P’.”

 

“…”

 

“P’ mengerti jika Yo harus menahan diri, tapi Yo juga harus mengerti jika P’ tidak bisa menangani masalah ini tanpamu, Yo!”

 

“Yo harap P’ juga bisa mengerti itu.”

 

 

Phana menghabiskan malam dikamar Yo. Keduanya melanggar peraturan ayah Yo. Yo menyerahkan diri seutuhnya pada Phana untuk membiarkan Phana merasa Yo peduli dengannya dan Yo sangat mencintainya.

 

Yo ingin segera terbebas dan lari dari semua masalah yang sedang dihadapi. Yo hanya ingin Phana bisa melupakan kepedihan yang Phana rasakan saat ini, dan membebaskannya semua hal yang berkecamuk didalam kepalanya.

 

Saat ini, Yo ingin Phana merasakan seluruh cinta Yo untuk Phana. Yo akan melakukan apapun agar Phana merasa nyaman. Yo hanya ingin Phana tahu, jika Yo melakukan semuanya untuk Phana. Hanya untuk Phana.

 

Yo tidak yakin apakah dia sedang bermimpi atau tidak. Bangun atau terjaga, tubuh Yo bisa merasakan setiap sentuhan yang dilakukan Phana padanya. Yo pikir Phana tidak ada tanda-tanda akan berhenti.

 

Keduanya tetap terdiam tidak ada suara. Keduanya hanya menikmati deburan gairah dari apa yang mereka lakukan.

 

Hanya mereka berdua yang sedang menyelesaikan ‘urusan’nya.

 

Yo merasakan setiap inci dari tubuhnya menikmati dorongan Phana. Yo merasa bahagia, tidak ada sedikit pun penyesalan di dirinya. Yo ingin malam itu menjadi malam yang selalu diingat tidak hanya untuk Yo, tapi untuk keduanya.

 

Kesenangan itu tiba-tiba harus terhenti ketika Yo mendengar dering ponsel milik Phana.

 

Ada pesan LINE dari ibunya Phana…

 

Foto sebuah visa dan tiket pesawat

 

…dengan sebuah pesan yang berbunyi…

 

‘Ibu sudah tidak tahan lagi dengan ayahmu… Ayo kita bicarakan lagi tentang niat kita untuk pergi dari sini. Ibu mohon pulang sekarang. Kamu dan Ibu, kita pergi bersama’.

 

Setelah melihat pesan itu, Yo mencoba menjauh dari Phana yang berbaring disampingnya. Yo tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yo melihat Phana tertidur, tapi Yo yakin Phana merasakan apa yang telah dilakukannya tadi, sedikit menjauh dari Phana, dan itu sedikit mengganggunya.

 

Phana tidak ingin Yo menjauh darinya. Phana menggenggam tangan Yo dengan satu tarikan tubuh Yo kini sudah berada di atas tubuh Phana dengan tangannya yang memeluk erat tubuh Yo.

 

Phana tersenyum, dan menarik Yo untuk lebih dekat lagi dengannya. Bibir keduanya terkunci. Saling bertukar napas. Merasakan setiap jengkal rongga mulut masing-masing. Jantung keduanya berdebar kencang. Tidak ada yang berani bergerak.

 

Yo tidak tahu berapa lama keduanya berada dalam posisi seperti itu. Sangat lama.

 

Aku tidak ingin membiarkannya pergi lagi…

 

Aku tahu ini adalah ciuman terakhir kita.

 

Entah bagaimana… aku merasa puas bisa menghabiskan malam dengannya… Malam ini milik kita.

 

Meskipun tidak akan ada lagi hari esok menunggu kita berdua…

 

Aku meyakini satu hal saat ini

 

Wayo akan selamanya jatuh cinta pada P’Pha…

 

Dan… tidak akan ada lagi yang bisa merubahnya….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.